
DM2 – Kedatangan Kinanti
Mia menuntun Gadis keluar dari rumah sakit
menuju parkiran tempat Pak Yanto sudah menunggu mereka.
Mereka menyempatkan berhenti di depan
warung rujak, Mia turun memesan rujak yang diinginkan Gadis. Ia juga memesan
untuk mb Minah dan mb Roh. Setelah pesanannya selesai, Mia kembali masuk ke
dalam mobil.
“Kamu mau makan apalagi, Gadis?”tanya Mia.
“Itu aja, mah. Pengen yang asem sich. Tapi
rujak dulu dech.”
Mia tersenyum, meminta Pak Yanto jalan
lagi. Tak lama, mereka segera sampai di rumah Alex lagi.
“Kamu taruh Kaori dulu, trus istirahat ya.
Nanti mama panggil kalau makan siang sudah siap.”kata Mia.
“Iya, mah.”saut Gadis.
Gadis membawa Kaori yang masih tidur ke
lantai atas. Ia masuk ke kamarnya dan melihat Rio sedang duduk di tempat
biasanya. “Rio.”panggil Gadis. “Kamu sendirian dari tadi?”tanya Gadis berharap Rio
menjawab pertanyaan. Tapi Rio hanya menatapnya saja.
Gadis menidurkan Kaori di atas ranjang
mereka. Ia menahan tubuh Kaori dengan bantal sebelum berbalik menatap Rio.
Gadis duduk di samping Rio, menggenggam tangan suaminya dengan lembut.
“Rio... Rio, aku hamil.”bisik Gadis pada
Rio.
“Ha...mil?”kata Rio seperti bertanya.
Gadis mengangguk, ia menunggu reaksi Rio.
Gadis berharap, kabar baik ini benar-benar mengejutkan bagi Rio hingga ia bisa
kembali sadar seperti semula. Tapi penantian Gadis belum juga membuahkan hasil.
Gadis menarik tangan Rio, memeluknya dengan erat.
“Sampai kapan kamu begini, Rio? Aku sudah hamil
sekarang. Aku membutuhkanmu, Rio. Aku gak kuat begini terus sendirian.”
Gadis menangis dalam pelukan Rio, ia
menumpahkan semua perasaannya yang terpendam selama ini. Gadis terus bicara
sampai ia kelelahan dan tertidur tetap dalam pelukan Rio. Rio memeluk Gadis,
pelan-pelan menjatuhkan dirinya diatas ranjang mereka. Sesekali Gadis terisak
dalam tidurnya. Rio tetap memeluk Gadis sampai ia juga ketiduran.
Mia masuk ke kamar Rio, ia tadi ingin
memanggil Gadis untuk makan siang bersama. Tapi Mia malah mendengar Gadis
curhat sambil menangis di pelukan Rio. Mia menatap kedua anak dan menantunya
itu, ia mengusap air matanya. Betapa berat beban yang dibawa Gadis selama ini. Gadis
memang tidak pernah berkeluh kesah pada Mia. Ia memendamnya sendiri semua
kesusahannya. Gadis menutupi semuanya dengan senyuman.
Mia mengangkat baby Kaori, lalu membawanya
keluar dari kamar Rio. Ia akan membiarkan Gadis dan Rio istirahat dulu untuk
sekarang. Sampai dibawah lagi, Mia membawa Kaori ke kamarnya, menidurkannya
disana. Kaori mulai terbangun, ia mencari-cari sesuatu. Mia dengan cepat
mendekatkan botol susu ke mulut Kaori.
“Kasian mamamu ya, nak. Oma kira kabar kehamilannya
bisa membuat papamu terkejut dan sadar. Tapi tidak juga. Oma harus gimana,
sayang?”
Mendengar suara orang bicara, Kaori membuka
mata jernihnya. Ia tetap menyedot susu dengan tangan meraba-raba memegang botol
susunya.
“Eh, malah bangun sekarang. Kaori sayang.
Kaori cantik.”
Kaori tersenyum mendengar namanya
dipanggil. Ia tergelak dengan botol susu masih di bibirnya. Mia mengelus pipi
Kaori lembut, “Kaori cantik bantu papa Rio ya. Biar cepet sehat lagi. Nanti Kaori
bisa main sama papa Rio juga.”kata Mia. Mia asyik bermain dengan bayi Kaori
sampai Gadis mencarinya.
“Mah?”panggil Kaori sambil membuka pintu
kamar Mia. Ia masuk ketika melihat Kaori juga ada di dalam sana.
“Kamu dah bangun, makan dulu sana. Rujakmu
mama taruh di kulkas.”ujar Mia.
“Iya, mah. Mama udah makan? Ayo, makan
sama-sama. Rio juga udah turun.”
Mereka makan siang bersama dengan Kaori
dijaga mb Roh.
*****
pintu depan diketuk seseorang. Ia sedang menggendong Kaori ketika beranjak ke
depan untuk membuka pintu. Alex tertegun melihat siapa yang datang. Kinanti dan
Endy juga tertegun melihat Kaori yang bengong menatap kosong di depannya.
“Kalian...”Alex hampir berteriak karena
kaget melihat mereka berdua di depan pintu rumahnya.
“Eh, sudah datang ya.”kata Mia yang
menyusul ke depan. “Silakan masuk. Mas, aku yang mengundang mereka datang.”kata
Mia menjelaskan pada Alex yang bingung sekaligus kesal juga melihat Kinanti dan
Endy.
Kinanti masih menatap Kaori yang mulai
menguap lebar. Alex menepuk-nepuk punggung Kaori, mencoba menidurkannya. “Mas,
bawa Kaori ke dalam dulu ya. Kasi mb Roh biar diboboin. Uda waktunya dia tidur.”
Mereka menatap kepergian Alex ke dalam
rumah.
“Ayo, masuk dulu. Kinanti, Endy. Silakan
duduk.”kata Mia ramah.
Kinanti melangkahkan kakinya masuk ke ruang
tamu rumah Alex. Ia melihat sekeliling yang masih sama seperti dulu. Keduanya
duduk berdampingan di sofa panjang.
“Mau minum apa?”tanya Mia.
“Gak udah, tante. Sebenarnya kenapa tante
mengundang kami kesini ya?”tanya Kinanti.
“Sebentar ya, tunggu om Alex gabung disini.”kata
Mia.
Alex segera kembali ke ruang tamu dan Mia
memintanya duduk di sofa. “Mia, ada apa ini?”tanya Alex.
“Mas, aku cuma mau kita selesaikan
masalah Kaori. Aku gak mau dimasa depan
nanti, Kinanti, kalian datang untuk mengambil Kaori. Biar bagaimanapun Kaori,
anak kandung kalian, kan?”tanya Mia menegaskan hal yang sudah mereka ketahui
bersama.
Kinanti menatap Endy sebelum mulai bicara, “Tante.
Om. Saya minta maaf atas kesalahan saya dulu. Saya tahu kesalahan saya gak
mudah dimaafkan. Dan untuk Kaori, kami sudah sepakat untuk tidak mengambil
Kaori dari Gadis. Bukan karena dia gak sempurna, tapi sejak awal, bayi itu
memang berjodoh dengan Gadis. Saya yakin kalau kehadiran Kaori juga yang membantu
Gadis bisa hamil.”
“Gadis hamil?! Yank, kamu kayaknya lupa
cerita sama aku ya.”kata Alex menatap Mia.
“Ehe, mas kan baru dateng juga. Aku mana
sempat ngasi tau mas. Lagian Gadis yang pengen cerita sendiri kalo dia lagi
hamil. Kembar pula.”cerocos Mia.
Kinanti tersenyum menatap Endy lagi. “Saya
juga sedang hamil anak kedua kami, om. Sama seperti saya yang sedang berbahagia,
saya berharap Gadis dan Rio bisa bahagia juga. Meskipun keadaan Rio masih belum
pulih.”
“Darimana kamu tahu tentang kondisi Rio?”tanya
Alex curiga.
“Apa om lupa siapa saya? Sangat mudah kalau
saya ingin mengetahui tentang keadaan Rio.”saut Endy.
Alex menghela nafasnya, ia masih belum bisa
percaya Kinanti tidak akan berusaha mengambil Kaori. Tapi bukti kuat akta
kelahiran Kaori bisa membuatnya sedikit tenang. Alex juga tidak ingin menekan
Kinanti. Kalau sampai Endy tersinggung, entah apa yang bisa terjadi dengan
keluarganya nanti.
“Saya berharap kedepannya, kalian tidak
muncul di depan Kaori lagi. Di depan kami juga. Kita bisa pura-pura tidak
saling mengenal. Bagaimana?”tanya Alex.
Kinanti dan Endy hanya mengangguk. Saat
Kinanti ingin berpamitan, ia tercengang melihat seseorang yang tiba-tiba muncul
dari ruang keluarga Alex.
“Kau!! Ngapain kamu kesini?!”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.