Duren Manis

Duren Manis
Cemburu


Alex menggendong Mia keluar dari gedung bioskop dan mendudukkannya di bangku depan bioskop.


Rara : "Mama gak pa-pa kan?"


Mia : "Cuma kesemutan, bentar lagi juga ilang."


Santi : "Oh, cuma kesemutan ya bisa jalan kan? Ayo, katanya mau makan siang."


Rara mulai sebal dengan tante Santi, tiba-tiba dateng dan gabung dengan gak tahu malu. Rara juga sebal sama papanya yang cuma nurutin maunya tante Santi. Padahal Mia ada disini juga.


Rara : "Tante kalo mau makan, duluan aja!"


Alex yang mendengar nada suara Rara, tersenyum tipis. Ia melihat reaksi Mia yang


terlihat senang karena Rara membelanya.


Santi : "Alex, ayo kita makan. Rio, Riri, ayo makan sama tante."


Mia yang berpikir kalau Alex akan menunggunya sampai bisa jalan, terkejut melihat Alex pasrah ditarik Santi menuju ke sebuah restaurant.


Rio dan Riri sempat bimbang memilih antara Mia atau tante Santi. Tapi mereka tidak


mau membiarkan Alex makan siang berduaan sama tante Santi. Akhirnya mereka memilih mengejar Alex dan tante Santi.


Suara Mia tercekat melihat kenyataan di depannya. Bahkan status mereka masih


bertunangan, Alex dengan gampangnya meninggalkan ia sendirian.


Rara : "Mah, mama nangis?"


Mia : "Hah?! Nggak kok, kakiku sakit. Kita ke toilet bentar yuk."


Rara membantu Mia berjalan menuju toilet. Mia melihat matanya yang sembab karena


menahan tangisannya. Dengan cepat ia mengusap matanya dengan tissu, agar tidak


jadi menangis.


Rara : "Mah, kita makan di tempat lain aja ya. Rara sebel liat tante Santi."


Mia : "Terserah kamu aja."


Akhirnya mereka makan siang di salah satu food court di mall itu. Mia dan Rara mengobrol dan mengabaikan panggilan telpon Alex ke ponsel mereka berdua.


Mereka menghabiskan waktu berdua saja sampai maghrib menjelang. Barulah Mia mau


mengangkat telpon dari Alex.


Alex : "Kemana saja kalian? Aku mencarimu keliling mall."


Mia : "Ngapain cari aku lagi mas? Temani saja tante Santi, teman kesayanganmu itu." kata Mia dingin.


Alex : "Aku kan cuma menjamu temanku. Sekarang kamu dimana?"


Mia : "Aku di depan mall, nunggu ojol. Nih uda datang."


Klik! Mia menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Alex. Sudah habis kesabarannya hari


ini, yang ia inginkan hanya mengantar Rara pulang dan balik ke rumahnya sendiri.


---------


Taxi online membawa Rara dan Mia pulang, mobil Alex sudah terparkir di depan rumah.


Mia dan Rara turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi Mia menghentikan langkahnya,


Mia : "Ra, aku pamit dulu ya. Uda malam juga. Salam buat yang lainnya."


Rara : "Iya, mah. Hati-hati di jalan ya."


Mia berjalan menyusuri pekarangan rumah Rara menuju gerbang. Saat melewati mobil


Alex, sebuah tangan membekap mulutnya.


Mia : "Mmpphhh... mas?!"


Alex : "Ikut aku..." kata Alex tegas


Mia : "Aku mau pulang, lepas..."


Alex : "Ikut aku atau kubawa kamu ke kamarku sekarang!"


Mia hanya mengangguk, ia takut Alex benar-benar melakukannya. Dia akan sangat malu


kalau Rara memergokinya.


Mia duduk di kursi penumpang, memandang ke samping jendela mobil. Ia tidak mau tahu


kemana Alex akan membawanya.


Ia sangat lelah karena menahan marah dan kecewa sejak siang tadi. Ia terlalu cemburu melihat Alex bersama wanita lain.


Mobil berhenti di sebuah motel yang cukup private di kota itu. Jantung Mia mulai


berdebar kencang, gak lucu kalau dia takut sekarang. Kan dia yang lagi marah.


Alex membuka pintu untuk Mia, dan menarik tangannya masuk ke motel. Setelah check


in, Alex membawa Mia masuk ke salah satu kamar.


Mia berjalan masuk dan duduk di sofa yang ada disana, memasang wajah jutek.


Tangannya menyilang di depan dadanya.


Alex tersenyum geli melihat Mia ngambek. Pake sikap sok berani lagi, Alex jadi ingin


mengerjai Mia sekarang.


Alex : "Kamu kenapa?"


Mia : "Mas mau apa? Cepetan bilang!"


Alex : "Kamu kok galak gitu? Emang aku salah apa?"


Mia : "Masi gak tau salahnya mas? Aku mau pulang."


Mia beranjak bangun dari sofa, hampir berjalan ke pintu kamar, tapi Alex sudah


menariknya hingga jatuh di pangkuan Alex.


Mia : "Aduch!"


Alex : "Apa kamu cemburu?"


Mia : "Siapa yang cemburu, dia kan cuma temen mas."


Alex : "Siapa yang kamu maksud?"


Lagi-lagi kata-kata Mia membuat Alex tersenyum tipis. Alex masih menahan dirinya, melihat wajah Mia yang memerah menahan cemburu.


Alex : "Aku sudah bilang dia hanya teman SMA."


Mia : "Trus kenapa om gak jelasin kalo aku tunangan om? Dia kira aku temennya Rara."


Alex : "Emang kamu temennya Rara kan, sekaligus calon mamanya."


Mia : "Hmmmppp..." Mia mendengus kesal, memalingkan wajahnya dari Alex.


Alex : "Aku suka liat kamu begini. Cemburu dan berusaha menarik perhatianku."


Mia : "Om stress ya..."


Alex : "Jangan panggil aku om atau akan kulakukan sekarang..."


Mia : "Om gak akan berani. Aku mau pulang sekarang!"


Alex menarik tengkuk Mia dan melumat bibirnya, menghisap seluruh bibir Mia tanpa


terlewatkan. Mia yang tiba-tiba dicium, gelapagapan sendiri tapi tidak bisa


mendorong Alex yang memeluknya erat.


Ciuman Alex turun ke leher Mia,


Mia : "Uugh.. lepas..."


Alex : "Lepas apa, sayang."


Tangan Alex berpindah ke belakang tubuh Mia, menarik retsleting gaun yang dipakainya.


Mia : "Ja... jangan... lepas..."


Mia tidak bisa bicara dengan jelas karena menahan desahannya. Ia tidak ingin


memancing gairah Alex untuk melahapnya sekarang.


Tapi melawan Alex yang sedang khilaf, agak sudah. Apalagi Alex mengetahui beberapa


titik sensitif pada tubuh Mia.


Tubuh Mia lemas jatuh memeluk tubuh Alex yang sudah melepas kancing kemejanya. Alex


mendorong Mia ke samping, membuatnya duduk di sofa masih dengan nafas tersengal.


Alex : "Sayang, ayo kita mandi bareng..."


Mia : "Gak mau..."


Alex tidak menerima penolakan Mia, ia menarik tubuh Mia hingga berdiri dan berusaha meloloskan dress yang dipakainya. Mia mencoba mendorong Alex yang melucuti pakaian di tubuhnya.


Mia : "Mas, jangan lakukan ini. Aku gak mau..."


Alex : "Sayang, lihat aku. Aku sangat menginginkanmu malam ini."


Mia : "Mas, tolong berhenti. Aku gak mau mas pergi setelah ini."


Alex : "Apa maksudmu?"


Mia : "Mas pasti pergi setelah mendapatkan aku..."


Alex tertegun, ia melepaskan tubuh Mia yang langsung menarik dressnya, menutupi tubuh bagian atasnya.


Alex : "Jadi segitu brengseknya aku dipikiranmu?"


Mia : "Aku takut, mas. Aku mulai ragu kalau cintamu benar-benar karena aku


atau karena aku bisa membuat nyaman anak-anakmu."


Alex : "Tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu, Mia. Saat pertama kali kita


ketemu. Aku tidak pernah merasakan hasrat terhadap wanita setelah kepergian


Selvi. Tapi aku berhasrat padamu."


Mia : "Tapi lihat kamu juga nyaman dengan tante Santi. Kamu bisa bayangkan


perasaanku? Perasaan Rara?"


Alex : "Aku melakukan kebodohan tadi, aku kira membiarkan Santi dekat denganku


akan memancing rasa cemburumu. Aku memang berhasil tapi aku tidak memikirkan


akibat perbuatanku."


Mia : "Perasaanku dan Rara bukan permainan, mas."


Alex : "Apa kau tahu, aku sangat cemburu pada anak-anak. Bahkan mereka


mendapatkan perhatian yang lebih banyak darimu. Kau tidak adil, Mia."


Mia : "Mas! Apa kau sadar dengan pikiranmu? Kita masih belum resmi menikah.


Bagaimana bisa aku melakukan itu di depan anak-anak?"


Alex : "Apa setelah menikah nanti, kau akan menyayangiku seperti kau menyayangi


mereka?" Alex berlutut memeluk pinggang Mia yang masih berdiri.


Mia : "Mas, kau persis seperti Rio."


Alex : "Aku papanya, dia yang mirip aku."


Mia : "Mas, aku akan menyayangimu seperti menyayangi mereka. Tolong


bersabarlah."


Alex mulai meraba tubuh Mia lagi, meresapi aroma tubuhnya yang manis. Tiba-tiba


suara ponsel Alex mengagetkan mereka.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini,


jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan


IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------