
Mia cemberut sepanjang perjalanan pulang setelah mereka makan malam bersama. Masalahnya Alex dan Violet mengobrol sepanjang makan malam tentang masa lalu mereka waktu di SMA.
Dan Mia dicuekin Alex selama mereka ngobrol. Alex terlihat senang sekali karena bisa ketemu dengan salah satu sahabat gokilnya. Banyak aib yang keluar dari mulut Violet membuat seluruh keluarga tidak menyangka dengan kelakuan Alex.
Alex yang tahu kalau Mia sedang cemburu cuma senyam-senyum gak jelas. Ia mengendarai mobilnya menuju rumah mereka. Nenek tampak duduk dibelakang setengah mengantuk. Sementara si kembar satu mobil dengan Rara dan Arnold.
Keith benar-benar menjamu keluarga Alex sampai kekenyangan dan tentu saja diskon besar-besaran. Alex tetap memaksa membayar pada Violet dengan ancaman gak mau temenan lagi.
Mereka berdua juga bertukar nomor kontak agar tetap bisa saling berhubungan dan bertukar cerita. Violet sempat cerita kalau ia tinggal terpisah dari suaminya karena bisnis mereka berbeda negara. Violet hanya tinggal dengan Keith.
Ketika mereka sampai di rumah, Mia menuntun nenek turun dari mobil dan menemaninya ke kamar. Cukup lama Mia berada di sana sampai Alex menyusulnya.
Alex : "Mia?" Ia melongok ke dalam kamar ibunya.
Mia : "Sstt... Jangan berisik, ibu sudah tidur."
Alex melihat Mia memijat kaki mertuanya sampai ibunya tertidur pulas. Pelan-pelan Mia menyelimuti nenek dan berjingkat keluar dari kamar itu.
Mia berjalan cepat masuk ke kamar mereka dan menutup pintu sebelum Alex masuk.
Alex : "Mia... Buka pintunya dong. Mia...??"
Mia : "Aku mau mandi, jangan masuk."
Alex : "Kamu masih marah?"
Mia : "Uda tahu kan, pergi sana."
Alex : "Mia, buka pintunya sekarang atau kutelpon Violet."
Pintu terbuka sedikit, Alex menggunakan kesempatan itu untuk mendorong pintu terbuka lebih lebar. Mia yang terkejut karena pintu tiba-tiba terbuka, menatap Alex dengan tampang kesal.
Alex : "Jangan marah, sayang."
Mia : "..."
Alex menghela nafas berat, ia berjalan mendekati lemari dan mengambil piyama tidur. Dengan cepat Alex mengganti pakaiannya dan berbaring diatas ranjang.
Ia merasa lelah menghadapi kelakuan Mia. Entah bagaimana lagi untuk membujuknya agar tidak cemburu pada orang yang tidak salah.
Mia yang masih marah, masuk ke kamar mandi dan membanting pintu menutup. Setelah berselang 10 menit, Alex bangun dari ranjang dan berjalan mendekati kamar mandi.
Alex : "Sayang, aku kebelet nich. Buka pintunya."
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, saat Alex masuk ia bisa melihat dengan jelas tubuh polos Mia yang penuh busa sabun.
Hasrat Alex menggelora, ia menghitung sudah lewat sebulan lebih dari kepulangan Mia dari rumah sakit. Ia menginginkan jatahnya sekarang tapi ia ingat kalau sudah janji tidak akan minta jatah duluan.
Wajah Alex memerah menahan hasratnya, ia ingin menuntaskannya tapi gak mungkin disini karena Mia masih mandi. Alex kembali menatap Mia yang masih anteng sabunan, seolah Alex gak ada disana.
Akhirnya Alex berjalan mendekati Mia sambil melepas piyamanya. Ia memeluk Mia dari belakang, mencium lehernya. Alhasil wajah Alex jadi penuh sabun,
Mia : "Aarrgghh... Maasss...!!"
Alex : "Aaduduhh... Mataku perih!!"
Mia panik, ia ingin mengambil handuk tapi tubuh Alex menghalanginya. Akhirnya Mia menarik Alex mendekat dan menghidupkan shower. Air hangat mengalir membasahi tubuh keduanya.
Mia membantu mengusap wajah Alex yang penuh sabun, ia sudah melupakan rasa kesalnya. Alex memegangi tubuh Mia karena dia tidak bisa melihat apapun.
Tapi bukan hanya memegang tubuh Mia, tapi Alex juga mulai menggerayangi tubuh istrinya itu. Mia yang merindukan sentuhan suaminya, juga meraba tubuh Alex.
Alex : "Sayang, aku merindukanmu..."
Mia : "Aku... belum... boleh hamil..."
Alex : "Aku pakai pengaman, sayang."
Tubuh Mia terhimpit ke dinding kamar mandi, Alex membuatnya melenguh sampai tubuhnya hampir jatuh karena lemas.
Alex tidak memaksakan dirinya pada Mia setelah puncak kenikmatan sudah mereka raih bersama, Alex membopong tubuh Mia ke luar kamar mandi. Mia duduk di ranjang, ia mengeringkan tubuh dan rambutnya yang basah.
Mia : "Mas, tumben gak minta lebih."
Alex : "Aku dah kapok, yang. Mungkin itu juga yang bikin Selvi pergi..." Mia melihat kesedihan dalam raut wajah Alex, bagaimanapun Selvi tetap pernah jadi bagian dari hidup Alex.
Alex : "Aku gak mau hal buruk terjadi padamu karena keegoisanku. Sudah cukup peringatan yang kuterima."
Mia memeluk Alex yang sedikit gemetar, ia bisa merasakan kesedihan Alex lagi. Mereka akhirnya tidur berpelukan sampai pagi.
-----
Keesokan harinya,
Si kembar sedang merapikan buku-buku SMA yang mereka miliki untuk disimpan di gudang. Dua dus tanggung sudah mereka siapkan untuk masing-masing dari mereka.
Mia yang sudah selesai masak sarapan, ingin memanggil si kembar untuk sarapan. Ia naik ke lantai atas dan melihat kamar keduanya terbuka lebar dengan tumpukan buku di depan pintu masing-masing.
Diantara buku-buku itu ada beberapa album foto si kembar waktu kecil. Mia mengambilnya, ia duduk di kamar Riri dan mulai membuka album foto itu.
Riri yang melihat Mia membuka album foto, ikut duduk di sampingnya. Mia tersenyum melihat foto bayi kembar yang sangat menggemaskan. Riri menepuk keningnya melihat foto dirinya yang masih pakai popok tampak anteng di kasur sementara Rio berkeliaran di ujung kasur.
Riri : "Kata nenek, dari kecil Rio gak bisa diem. Beberapa kali sampai jatuh dari kasur."
Mia : "Uda dari kecil aktif, ampe sekarang juga gitu."
Keduanya terkikik geli dan melanjutkan melihat satu persatu foto bayi di dalam album itu.
Mia : "Kalian punya foto papa waktu kecil?"
Riri : "Ada kok, ntar mah. Kita harus bongkar tumpukan buku ini dulu. Soalnya nenek bilang jangan sampai papa tahu, bisa ngamuk ntar."
Tak lama terdengar suara tawa keras dari dalam kamar Riri, Rio yang mendengar suara mamanya sejak awal membantu mereka membongkar tumpukan buku untuk mengambil album foto Alex.
Nenek memberikan album foto itu pada si kembar untuk membuat mereka melihat sisi lain dari papanya terutama saat papanya marah. Selama ini Alex tidak terlalu akrab dengan si kembar karena kesibukannya bekerja.
Suara tawa ngakak mereka bertiga terdengar sampai ruang bawah dan menarik perhatian Alex. Ketika Alex naik ke lantai atas dan membuka pintu kamar Riri, mereka langsung diam sambil menyembunyikan album foto Alex kecil.
Tampak dalam salah satu foto itu, Alex kecil telanjang dengan tubuh penuh lumpur sampai di kepala menatap kamera sambil tersenyum lebar. Foto itu yang membuat mereka ngakak.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------