Duren Manis

Duren Manis
Kesal sekali


Sehari sebelum operasi, Arnold diwajibkan berpuasa dan menginap di rumah sakit. Ronald, orang tua Rara, Jodi, dan Rara tampak menemaninya di dalam kamar.


Mia dan Rara duduk sambil bersandar. Sesekali Rara mengurut pinggang Mia, demikian juga sebaliknya.


Jodi tampak berbicara dengan tim dokter dan mengecek persiapan operasi besok pagi. Sementara Arnold sudah mulai di infus dan melakukan beberapa cek awal untuk mengetes alergi dan sejenisnya.


Sementara Ronald dan Alex berbincang masalah bisnis. Sesekali mereka fokus pada HP masing-masing sekedar membalas e-mail dan chat.


Arnold menatap semua orang yang sibuk masing-masing. Rara yang melihat suaminya celingukan, menghampirinya, duduk di sampingnya.


Rara : "Mas, mau makan?"


Arnold : "Emang boleh ya?"


Rara : "Boleh kok. Makan nasi biasa. Nanti malem baru mulai puasa."


Arnold mengusap perut Rara, ia hampir mau menangis lagi memikirkan bagaimana jadinya besok.


Rara : "Mas pasti sembuh. Aku akan selalu ada disamping mas sama anak kita."


Arnold : "Peluk aku, Ra."


Arnold dan Rara berpelukan dengan erat seolah itu pelukan terakhir mereka. Isak tangis mulai terdengar dari mereka berdua, membuat terharu siapa pun yang ada di ruangan itu.


Jodi memilih keluar dari kamar rawat inap itu. Ia hampir menangis juga mengetahui kemungkinan yang akan terjadi besok.


Hanya dirinya dan Arnold yang tahu apa yang akan terjadi dengan Arnold besok sesuai dengan prediksi dari dokter.


Ponsel Jodi berbunyi, Katty menelponnya.


Katty : "Kamu dimana?"


Jodi : "Di rumah sakit."


Katty : "Kamu sakit?"


Jodi : "Temanku mau operasi besok. Kau sibuk?"


Katty : "Sekarang? Iya. Aku masih kerja."


Jodi : "Pulang cepat. Temani aku minum."


Katty : "Ok. Tapi kamu gak boleh minum banyak."


Jodi : "Aku tahu. Kau cerewet sekali."


Katty : "Demi kebaikan dompetku."


Jodi : "Hais. Aku sudah transfer kan?"


Katty : "Ya sich. Dan kapan kau akan melakukannya?"


Jodi : "Apa sekarang kau tidak sabar?"


Katty : "Aku?! Tidak!!"


Jodi tersenyum membayangkan wajah Katty merona di seberang sana.


Jodi : "Jadi itu yang kau pikirkan tiap kali kita bicara?"


Katty : "Aku hanya ingin bilang, aku juga bisa datang bulan, jadwalku sebentar lagi. Aku gak mau kamu kecewa."


Jodi : "Dan kapan tepatnya jadwalmu itu?"


Katty : "Minggu depan awal."


Jodi : "Kita bisa melakukannya nanti."


Katty : "...Ok."


Jodi : "Hanya itu? Kenapa kau pasrah sekali?"


Katty : "Aaa... Jangan menggodaku. Sampai jumpa di rumah."


Jodi tersenyum menatap layar ponselnya. Ia iseng mengirimkan screen shot foto model yang memakai lingeri yang seksi pada Katty yang membalasnya dengan emoji ngambek.


Jodi mengirim chat pada asistennya minta dikirim beberapa botol miras dan lingeri ke rumah Katty. Ia akan meminta Katty memakai lingeri dan menemaninya minum.


Jodi baru akan masuk ke kamar Arnold lagi saat Ronald dan Alex keluar dari sana.


Ronald : "Jodi, dimana tim dokternya?"


Jodi : "Mereka sedang ada di ruang dokter, om."


Alex : "Antar kami kesana."


Jodi mengantar kedua orang tua itu ke ruang dokter di pojok lorong. Ia memperkenalkan Ronald dan Alex pada tim dokter dan menemani mereka bicara pada dokter.


Wajah Ronald langsung pucat mengetahui kemungkinan anaknya tidak akan bangun lagi. Sementara Alex menggebrak meja.


Dokter Kevin : "Hanya masalah waktu kalau pun Arnold ikut terapi. Dia hanya akan semakin menderita."


Alex tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia sama terlukanya dengan Ronald.


Ronald : "Dan Arnold tahu kemungkinan ini?"


Dokter Kevin : "Iya, pak. Dia menerima semuanya dengan senyuman. Saya belum pernah melihat pasien setegar itu."


Ronald : "Apa dia mengatakan sesuatu lagi?"


Dokter Kevin : "Katanya dia sudah tenang karena ada sahabat yang akan menjaga istrinya."


Ronald dan Alex spontan menatap Jodi yang cuma bisa menunduk sedih. Matanya sudah memerah menahan tangis tapi ia tidak mau menangis di depan semua orang.


Ronald : "Apa dia sudah gila? Aku harus memukulnya untuk menyadarkan Arnold."


Alex : "Arnold tidak mungkin berpikir menyerahkan Rara pada... dia."


Kedua orang tua itu menatap tajam pada Jodi yang ingin mengubur dirinya sendiri saat itu. Yang paling mengesalkan dia sudah berjanji pada Arnold untuk menjaga Rara.


Meskipun dengan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun dia harus tetap menjaga Rara. Jodi menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun yang akan dianggap sebagai pembelaan diri didepan kedua orang tua itu.


Ia hanya menunduk berpura-pura dirinya hanya patung pajangan yang tidak akan mengganggu siapapun.


Kedua orang tua itu akhirnya kembali ke kamar Arnold, meninggalkan Jodi yang galau sendirian.


🌺🌺🌺🌺🌺


Katty menutup pintu rumahnya. Ia baru saja sampai, sedikit terlambat sich dari waktu pulang kerjanya karena tadi ia mampir membeli beberapa bahan makanan yang habis.


Sejak melunasi cicilan rumah Katty dan melengkapi perabotan di rumah itu, Jodi menginap setiap hari disana dan Katty harus memasak untuknya.


Mereka memang tidur di tempat tidur yang sama, tapi setelah menggoda Katty, Jodi memilih tidur tanpa melakukan apa-apa lagi padanya.


Padahal sebelumnya ia terlihat sangat berminat ingin tidur bersama wanita itu.


Tek! Katty menghidupkan lampu di ruang tengah dan terkejut melihat keadaan ruang tengah yang berantakan. Kaleng minuman kosong tampak berserakan di bawah meja.


Jodi duduk di sofa, menatapnya dengan tatapan tajam.


Jodi : "Darimana kau?!"


Katty : "Aku habis belanja."


Jodi melihat dua kantong belanjaan di tangan Katty.


Katty : "Ada apa? Katamu mau minum denganku. Kenapa malah minum sendirian?"


Katty meletakkan barang bawaannya diatas meja dan duduk di samping Jodi.


Jodi : "Aku kesal!"


Katty : "Katakan kenapa?"


Jodi mendekatka gelas minuman ke mulutnya tapi Katty menghentikannya.


Katty : "Jangan minum lagi."


Jodi : "Aku sangat kesal. Kenapa aku mau berjanji menjaga Rara? Dia punya orang tua, punya saudara. Kenapa harus aku yang menjaganya?!"


Katty : "Siapa Rara?"


Jodi : "Aku mencintainya. Dia adik kelasku, aku jatuh cinta padanya."


Entah kenapa hati Katty sakit mendengarnya, ia mulai meneguk minuman di gelas Jodi.


Jodi : "Aku mencintainya dan hampir memperkosanya. Sekarang suaminya memintaku menjaganya. Sialan!!"


Katty benar-benar gak ngerti apa yang dibicarakan Jodi tapi yang ia tahu, Jodi mencintai Rara.


Jodi ingin minum lagi, ia mengambil gelas yang dipegang Katty, tapi Katty menjauhkan gelas itu.


Katty : "Jangan minum lagi. Kau harus istirahat."


Katty menarik Jodi agar bangkit dan membawanya ke kamar. Ia sedikit tertatih karena tubuh Jodi lebih besar sedikit darinya. Untung saja kamarnya berada di lantai 1 jadi ia tidak perlu susah payah membawa Jodi ke dalam kamarnya.


Bruk! Jodi terjatuh diatas ranjang. Katty membantu melepas sepatunya.


Saat Katty ingin mengelap keringat di kening Jodi, pria itu menarik tangannya hingga terjatuh diatas tubuh Jodi. Jodi membalik tubuh mereka dengan cepat. Katty menatap mata Jodi yang semakin mendekatinya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲