Duren Manis

Duren Manis
Amukan Rara


Amukan Rara


 Alex :  “Kenapa?”


Mia : “Kenapa, Gadis? Kamu takut?”


Gadis : “Pak Alex gak marah?”


Alex : “Oh, kalau Rio sudah mau tanggung jawab, gak masalah. Tapi kalo gak mau, ntar papa yang hajar dia.”


Gadis : “Maaf, pak Alex. Seharusnya saya bisa lebih menjaga diri saya waktu kejadian itu.”


Alex memperhatikan perbandingan tubuh Rio dan Gadis. Ia maklum saja kalau Gadis gak bisa melawan tubuh kekar Rio.


Alex : “Yang sudah terjadi gak bisa kita cegah. Sekarang fokus pada pernikahan kalian saja. Besok, boleh kami ke rumahmu untuk ketemu dengan orang tuamu?”


Gadis : “Mama saya masih di luar negeri. Baru kembali seminggu lagi. Saya cuma punya mama, kalau papa sudah menikah lagi.”


Mia menatap Gadis, ia melihat dirinya yang dulu


pada wanita itu. Berusaha menghadapi masalahnya sendiri tanpa menyusahkan orang


lain. Mia bergerak mendekat dan memeluk Gadis yang balas memeluknya. Gadis


perlahan tersenyum merasakan ketulusan pada sikap Mia.


Mia : “Gadis, makan dulu rotinya. Pak Alex gak galak kok. Uda ada pawangnya.”


Alex : “Iya, makan yang banyak. Jangan panggil pak, panggil papa saja. Minggu depan kami ke rumahmu ya.”


Gadis : “Iya, pak...pah.”


Rio : “Pah, Gadis boleh tinggal disini ya, biar mama bisa jagain juga. Sebulan ini dia kost sendiri di belakang kantor.”


Gadis : “Darimana kamu tahu?”


Gadis heran bagaimana Rio mengetahui tempat kost-nya dan tiba-tiba muncul di sana.


Rio : “Aku menguntitmu. Kamu sich jutek banget. Diajak ngomong baik-baik malah pergi.”


Gadis : “Kamu nguntit aku?”


Rio : “Ya. Aku mau bilang kalau aku mau tanggung


jawab. Ada gak ada anakku di perut kamu. Aku sudah berbuat salah sama kamu,


jadi aku mau menebusnya meski harus seumur hidup.”


Gadis diam tak bergeming mendengar kata-kata Rio


yang terdengar tulus. Hatinya menolak menerima niat baik Rio. Gadis tidak


berharap seumur hidup Rio, hanya sampai anak ini lahir dan mereka bisa berpisah


jalan. Anak mereka hanya perlu tahu kalau papa dan mamanya sangat menyayangi


dia.


Alex : “Ya, Gadis bisa tinggal disini. Tapi Rio juga harus tinggal disini. Gadis sudah jadi tanggung jawab kamu juga sekarang.”


Rio : “Ya, pah. Rio ngerti. Barang-barangmu di kost sudah semua, kan?”


Gadis mengangguk dan mengatakan besok ia akan mengembalikan kunci pada tuan rumah sekalian berpamitan.


Alex : “Kalian juga harus ke dokter kandungan besok. Nanti papa kasi nomor dokternya mama. Rio sudah kenal kan?”


Rio : “Iya, pah. Kamu mau ke dokter kandungan yang lain?”


Gadis : “Dokternya gak kepo, kan? Kalo uda kenal, ntar ditanya macem-macem.”


Rio : “Kenapa? Kamu mamanya, aku papanya. Mau kepo apalagi?”


Gadis : “Tapi kan belum nikah.”


Rio : “Kamu mau nikah sekarang, ayo. Ada KUA, masi buka jam segini.”


Gadis melirik judes pada Rio, terlihat sekali ekspresi


wajah cemberut Gadis yang kesal. Mia menyikut Alex agar mendamaikan keduanya. Tapi


Alex balik menoleh padanya sambil mengangkat kedua pundaknya.


Mia : “Sudah-sudah. Lanjut makan lagi, Gadis. Habiskan rotinya. Kamu mau makan apalagi?”


Gadis mengambil mangga muda di depannya dan menghabiskan semuanya. Rio dan Alex auto meringis membayangkan asemnya buah itu.


Alex : “Hari ini makan malamnya apa, sayang?”


Mia : “Hmm... sup kepala ikan?”


Gadis : “Ikan? Hummpphh. Hummpphh.”


Gadis berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Rio


mengejarnya sambil membawa minyak kayu putih. Mia langsung putar otak lagi


harus masak apa, tapi Alex mengatakan untuk sementara Gadis bisa makan di


lantai 2 bersama Rio.


Alex : “Ngidamnya parah ya.”


Mia : “Hmm... Ntar aja tanya Gadis mau makan apa.”


Rio memijat tengkuk Gadis untuk meredakan


muntahnya, tapi Gadis menepis tangan Rio. Ia meminta Rio jangan sembarangan


menyentuhnya dan jangan terlalu dekat. Rio masih berdiri di belakang Gadis


sampai wanita itu mendorongnya keluar dari kamar mandi.


Gadis : “Aku gak suka baumu. Jauh sana!”


Mia mendekati mereka dan mengendus baju Rio. Ia


cuma dia, papanya juga memakai parfum tapi Gadis gak masalah dekat-dekat dengan


Alex.


Mia : “Gadis itu lagi ngidam. Mama juga waktu


ngidam ada masanya gak mau deket-deket papamu. Sudah sana mandi.”


Mia membantu Gadis mengoleskan minyak kayu putih ke


tengkuk dan punggungnya. Setelah memuntahkan semua potongan mangga dan roti


yang dimakannya tadi, Gadis merasa lebih baik. Pelan-pelan ia berjalan dituntun


Mia kembali duduk di meja makan.


Mia : “Kamu mau makan sesuatu? Nasi? Mama punya


bakwan jagung.”


Gadis : “Ma, maaf, makanannya keluar lagi.”


Mia : “Gak pa-pa, Gadis. Yang penting kamu harus


makan. Ayo bilang mau apa?”


Gadis : “Mau makan batagor yang dijual deket


kantor.”


Alex : “Emang ada? Ntar kutanya Romi, biar dilihat


penjualnya ada gak.”


Alex menelpon Romi, ia hampir keceplosan mengatakan


kalau yang hamil Gadis. Untung saja mereka masih punya Rara yang tinggal


bersama mereka, jadi bisa dijadikan kambing hitam. Rara yang merasa di


panggil-panggil, jadi kepo. Ia baru saja datang dengan baby Reynold dan Arnold.


Rara : “Kenapa manggil Rara?”


Alex sibuk memberi kode agar Rara diem dulu. Ia


bingung melihat Gadis duduk di samping Mia. Mia menarik tangan Rara agar


menjauh dari Alex. Mereka bisik-bisik, sampai Rara berteriak karena mendengar


kehamilan Gadis,


Rara : “Apaaa??!!”


Arnold yang menggendong baby Reynold, hampir


menjatuhkan bayinya karena kaget. Untung saja mb Roh sudah siap siaga mengambil


bayi itu dari tangan Arnold. Rara ikutan panik melihat baby Reynold hampir


jatuh.


Arnold : “Kamu ngapain teriak sich, yank. Bikin aku


kaget.”


Rara : “Itu, Rio hamilin anak orang.”bisik Rara.


Arnold : “Apaaaa!!!”


Rio yang baru turun dari lantai 2, tampak ganteng


dengan baju kaos hitamnya, menatap kakak dan kakak iparnya yang kompak berlari


mendekat padanya. Keduanya menyudutkan Rio ke dinding dan mulai


menginterogasinya. Rio dibuat gelagapan karena ulah Rara dan Arnold.


Gadis menatap ketiganya dengan bingung. Reaksi


orang tua Rio bahkan sangat tenang menghadapi kabar kehamilannya. Mereka tidak


memojokkan dirinya ataupun Rio, tapi bertanya baik-baik. Bahkan


memperlakukannya dengan baik.


Rio : “Kak, nanya apa marahin sich? Galak banget!”


Rara : “Kamu ngapain anak orang!!”


Arnold : “Cepet bilang! Kok bisa gitu?!”


Rio : “Rio uda mau tanggung jawab. Aduch, jangan


cubit! Sakit, kak!! Ampun!”


Rio jadi bulan-bulanan Rara yang ngamuk-ngamuk


padanya, memukulinya tanpa ampun. Arnold ikutan mencubit Rio sampai Rio


terbungkuk-bungkuk di dekat tangga.


Mia : “Waduh, jangan dipukulin Rio-nya. Rara, Arnold, stop!”


*****


Rara : "Ntar mah, mau vote dulu baru stop."


Mia : "Oh, mau vote. Lanjut dech."


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).