Duren Manis

Duren Manis
Tidak akan kubiarkan


Tidak akan kubiarkan


Gadis : “Mama gak marah?”


Aira : “Mama sudah berhenti marah sejak papamu


pergi, nak. Mama gak mau kamu pergi juga. Sendirian dan kesepian itu gak enak


rasanya.”


Gadis memeluk mamanya dengan erat. Meskipun mereka


jarang bertemu, karena kesibukan mamanya. Saat mereka berdua saja seperti ini,


Gadis bisa mencurahkan semua perasaannya pada mamanya tanpa ditutupi apapun.


Gadis : “Besok Rio mau datang sama orang tuanya.


Gadis harus jawab apa, mah?”


Aira : “Jawab sesuai kata hatimu, nak. Apapun yang


membuatmu merasa nyaman. Bagaimanapun memaksakan seseorang mencintai kita hanya


akan membuat kalian menderita.”


Gadis : “Apa Gadis egois kalau mau bersama Rio,


mah. Gadis sangat mencintai dia.”


Aira : “Kalau dia mencintai orang lain, biarkan dia


bersama orang itu. Pengorbanan seperti itu juga bentuk cinta yang tulus,


Gadis.”


Gadis : “Tapi Kaori sudah meninggal, mah. Masa Rio


harus nyusul Kaori juga.”


Aira : “Oh, dear. Masalahmu sungguh rumit ya.


Dengar, kamu mau makan apa sekarang?”


Gadis : “Kenapa tiba-tiba bahas makanan, mah?”


Aira : “Mama laper nich. Baru juga dateng belum


sempat makan uda denger curhat putri mama yang cantik ini.”


Gadis : “Oh, maaf mah. Mama makan aja dulu. Gadis


masih mual. Gak bisa makan lagi.”


Aira meninggalkan Gadis untuk makan dan ganti baju


dulu. Ia ingin tahu detail hubungan cinta segitiga antara Gadis, Rio, dan juga


Kaori sebelum menjawab pertanyaan Gadis lagi.


*****


Siang itu, Alex, Mia, dan Rio datang ke rumah Gadis.


Aira menyambutnya dengan baik, dan menghidangkan teh dan cemilan untuk mereka


semua.


Alex : “Ibu Aira, kedatangan kami kemari untuk


melamar putri ibu, Gadis untuk anak kami, Rio. Apalagi dengan kondisi Gadis


saat ini, kami berharap pernikahan bisa dilaksanakan secepatnya.”


Aira : “Saya sudah mengerti maksud bapak dan ibu.


Tapi saya tetap tidak setuju Gadis menikah dengan putra bapak dan ibu.”


Rio : “Tapi kenapa?!”


Kali ini Rio yang ngegas, ia tidak bisa


mengendalikan dirinya dan mulai bernafas dengan sangat cepat. Aira menatap


tajam pada Rio yang bersuara keras tanpa ia sadari.


Rio : “Tante, saya mau bertanggung jawab pada


Gadis.”


Aira : “Saya hargai niat baik kamu, tapi itu masih


belum cukup. Kalian tidak saling cinta dan anak itu hanya sebuah kesalahan.”


Rio : “Saya tidak menganggap anak itu sebuah


kesalahan. Anak itu anak saya... bukan, anak itu anak kami. Dia tidak salah.”


Gadis sangat terkejut mendengar kata-kata Rio yang


mengakui kalau anak di perutnya itu adalah anak mereka, bukan hanya anak Rio


yang ia akui sebelumnya.


Aira : “Dengar, Rio. Dalam sebuah pernikahan,


kalian harus memiliki dasar yang kuat agar pernikahan bisa berlangsung


selamanya. Dasar itu disebut cinta. Dan kalian berdua tidak saling mencintai.


Pernikahan ini hanya akan menghancurkan kalian berdua.”


Rio : “Kalau kami tidak menikah, anak itu akan


lahir tanpa ayah, tante.”


Aira : “Kita semua tahu kamu ayahnya, tapi kalau


sampai pernikahan ini berakhir dengan perceraian, Gadis akan berstatus sebagai


janda. Saya tidak mau anak saya berstatus sama seperti saya.”


Rio : “Saya tidak ingin bercerai, tante. Tapi


Gadis...”


Gadis : “Bisa kau pikirkan lagi dengan kepala


dingin. Aku gak mau jadi bebanmu seumur hidup. Apalagi kamu gak cinta sama aku.


Anak ini, anak kita, kita bisa menjaganya tanpa perlu menikah.”


Rio tetap bersikeras ingin menikah dengan Gadis,


tapi Gadis mulai menolak pernikahan itu. Apalagi dengan dukungan mamanya, Gadis


lebih berani melawan Rio. Mia dan Alex yang melihat putranya mendebat Gadis,


menyuruh Rio diam dulu.


Rio : “Tapi, pah. Dia...”


Alex : “Seharusnya kau bisa lebih sabar. Gadis


sedang hamil, jangan menekannya seperti itu. Kamu harus mengalah.”


Rio : “Nggak, kalau dia mau pergi sama anak Rio!”


Rio bangkit dengan cepat dan menarik tangan Gadis.


Ia membawa Gadis keluar dari rumahnya dan mendorong paksa Gadis masuk ke


mobilnya. Alex, Mia, dan Aira terlambat mengejar Rio dan Gadis.


Gadis : “Rio!! Kamu gila!”


Rio : “Diam!!”


Rio mengemudikan mobilnya entah kemana sampai


mereka berhenti di pinggir pantai. Gadis hanya diam saat Rio menoleh padanya.


Rio : “Kenapa kau berubah pikiran?”


Gadis : “Sejak kematian Kaori aku sudah berjanji


pada Kaori untuk tidak mengejarmu. Aku nggak mau kamu menikahiku hanya karena


anak ini. Kita akan menderita sepanjang hidup kita kalau itu terjadi.”


Rio : “Jadi menurutmu begitu?”


Gadis : “Iya, Rio. Kamu nggak cinta sama aku. Aku


pernah mencintai kamu dan aku hampir melupakan perasaanku sekarang.”


Rio : “Gak akan kubiarkan.”


Gadis : “Apa?”


Rio : “Gak akan kubiarkan kamu melupakan aku.”


Rio mendekat pada Gadis, menekan tubuh wanita itu


sampai menempel pada pintu mobilnya. Gadis mencoba mendorong Rio, tapi


tenaganya kalah. Bibir mereka hampir bersentuhan, saat Gadis memalingkan


wajahnya.


Deg! Deg! Debaran jantung Gadis mulai tidak bisa


dikondisikan, ia merutuki dirinya yang masih berdebar kencang di dekat Rio.


Tapi Gadis menoleh saat ia merasakan debaran yang sama di depannya. Debaran di


dada Rio bersahutan dengan debaran jantungnya.


Rio : “Kasi aku kesempatan...”


Gadis : “Sudah, kan?”


Rio : “Kasi aku kesempatan untuk mengejarmu.”


Gadis : “Apa?!!”


*****


Sementara itu Alex menunggu dengan gelisah di rumah


Gadis. Ia beberapa kali meminta Mia untuk menelpon Rio. Dirinya bahkan tidak


bisa duduk seperti Mia dan Aira yang terkadang mengobrol tentang putra dan


putri mereka.


Aira menanyakan tentang ngidam Gadis, yang dijawab


dengan baik oleh Mia. Mereka sama-sama melihat hasil USG janin di dalam perut


Gadis yang masih berbentuk bulatan kecil. Mia menjelaskan kalau selama seminggu


ini Gadis sudah tinggal di rumah mereka karena Rio tidak mau Gadis nge-kost


sendirian. Mereka berdua mengobrol seperti saat itu adalah kunjungan santai


antar sesama besan.


Alex : “Belum ada kabar juga? Kemana perginya


mereka?”


Mia : “Tenang aja, mas. Rio akan menjaga Gadis


dengan baik. Mereka hanya perlu waktu berdua.”


Alex : “Tapi, aku khawatir sama Gadis. Kalau Rio


kasar, gimana?”


Mia : “Aku yakin Rio gak gitu, mas. Dia memang


pernah melakukan kesalahan sama Gadis, tapi aku tau anak itu gak akan menyakiti


Gadis lagi.”


Aira : “Mia pengertian sekali ya. Pantas saja Rio


jadi sangat bertanggung jawab seperti itu.”


Mia : “Jadi, mbak setuju dengan pernikahan mereka?”


Aira : “Biar mereka yang memutuskan apa yang


terbaik untuk mereka. Saya hanya bisa mendukung anak saya. Menikah ataupun


tidak, anak dalam kandungan Gadis adalah calon cucu kita juga, kan?”


Mia : “Ya. Tapi kalau mereka menikah, rumah kami


akan bertambah ramai lagi.”


Aira : “Sepertinya mereka sudah kembali.”


Ketiga orang tua itu menatap ke pintu masuk. Rio


dan Gadis masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat semula. Wajah keduanya


memerah, membuat Mia tersenyum sambil menatap Aira yang juga tersenyum tipis.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.