Duren Manis

Duren Manis
Extra part 21


Extra part 21


Melda bangkit dari tidurannya, menatap X dengan


mulut cemberut. X tersenyum melihat Melda marah-marah membuat Melda semakin


kesal dibuatnya.


“Kenapa senyum-senyum?! Aku serius! Lagi nggak


pengen bercanda!” ketus Melda.


“Iya aku tahu. Tapi makan dulu ya. Habis itu kamu


boleh tidur,” kata X sabar.


Melda diam tidak menjawab, X mengambil kotak pizza


dan membawanya ke dekat Melda. X membuka kotak pizza itu di depan Melda yang


melirik potongan daging diatas pizza yang masih sedikit beruap.


“Baunya enak banget. Dagingnya juga banyak. Gimana


rasanya ya?” tanya X mencoba menggoda Melda.


Diliriknya wajah istrinya yang masih pasang tampang


manyun mirip bebek. Melda mencuri lihat lagi potongan pizza hangat di tangan X.


Ia meneguk salivanya membayangkan gurihnya daging memanjakan lidahnya. Melda


mengelus perutnya yang lapar, ketika X menyodorkan satu slice pizza ke depan


mulut Melda. Wanita itu langsung menggigitnya dalam satu gigitan besar sampai


mulut Melda menggelembung kepenuhan makanan.


“Pelan-pelan makannya, sayang. Habis makan, baru


kamu boleh tidur,” kata X lagi.


Melda langsung berbaring, lalu menarik selimutnya.


X menahan tawanya melihat Melda ngambek.


“Kalau makanannya habis, aku akan jawab tiga


pertanyaanmu,” kata X membuat Melda tiba-tiba bangun lalu mulai memakan pizza


di tangan X.


Melda juga melihat masih ada makanan diatas meja


sofa. Selain pizza, X juga memesan spageti, potato wedges, dan juga sosis


panggang. Melda turun dari atas tempat tidur. Ia mengambil makanan lainnya


diatas meja lalu mulai berlomba makan dengan X.


X tersenyum senang melihat Melda makan dengan


lahap. Sejak dulu porsi makan Melda memang banyak, bahkan melebihi porsi yang


mampu dihabiskan X. Tapi herannya, bentuk tubuh Melda tetap langsing ideal. Benar-benar


membuat iri kaum hawa yang rata-rata mencium wangi makanan enak aja, auto naik


sekilo.


“Yank, pelan-pelan makannya, nanti kamu tersedak,”


kata X, tapi manjur. Melda keselek dan langsung batuk-batuk. Uhuk! Uhuk! X


cepat-cepat menyodorkan cola tapi Melda malah menyemburkan cola itu ke wajah X.


“Jangan kali... uhuk! cola dong! Tambah keselek...


uhuk! uhuk!” omel Melda membuat X nyengir lagi.


Melda heran dengan suaminya ini, apakah diluar


kamar kelakuannya sama dengan saat mereka berduaan seperti ini. X sangat suka


mengerjainya dan ketika Melda mulai marah dan kesal, ia malah bertingkah lebih


konyol lagi untuk membuat Melda kembali tertawa.


Apalagi kalau Melda sampai mengeluarkan kata-kata


yang keras dan berteriak, X tidak pernah marah padanya. Malah dengan sabar


mencari tahu apa yang membuat Melda marah-marah dan menyelesaikan masalah


mereka dengan tenang.


Setelah mereka berdua menghabiskan makanan di atas


meja, X siap menjawab pertanyaan Melda. Wanita itu duduk di sofa dengan satu


kaki menekuk, menghadapkan tubuhnya ke X.


“Tadi aku lihat di bandara, kamu datang sama anak


laki-laki, siapa dia?” tanya Melda dingin.


“Emangnya kamu ke bandara? Kok aku nggak lihat?”


tanya X dengan ekspresi bingung.


Melda mencebik, memang tubuhnya kurang besar sampai


X tidak melihatnya berdiri di dekat mobil. Tapi X tetap kekeh bilang kalau ia


tidak melihat Melda. X hanya melihat satu mobil hitam dengan sopir yang biasa


menjemputnya.


“Tapi Alvin bilang kamu minta di jemput aku!”


sengit Melda.


“Aku memang minta gitu, tapi aku bilang kalau kamu


nggak sibuk. Alvin nggak bilang kalau kamu bisa datang,” ucap X sabar.


”Fix. Gara-gara Alvin, aku jadi marah-marah sama


X. Besok harus kujewer dia,” batin Melda kesal.


Melda menggerutu dalam hatinya, membuat X gemas


dengan ekspresi ngambek Melda.


“Terus siapa anak laki-laki itu? Jangan mengelak


lagi. Cepetan jawab!” tanya Melda sedikit ketus.


Dia anak sahabatku, Bella,” kata X santai.


Melda memicingkan matanya. Bella? Ia tidak pernah


mendengar nama itu selama mereka berpacaran dulu. X sebenarnya sudah tahu apa


yang dipikirkan Melda, tapi memilih diam agar kesempatan bertanya Melda semakin


sedikit. Ia masih ingin bermain sekali lagi dengan istrinya sebelum tidur.


Melda menimbang pertanyaan selanjutnya, ia


menenangkan dirinya dulu agar tidak gegabah dan bertanya hal yang salah.


“Apa dia anakmu?!” tanya Melda to the point.


**


Sementara itu di rumah Alvin.


Alvin baru sampai di kamar kostnya, ia membuka


pintu lalu masuk dan membuka sepatunya. Dilonggarkannya dasi yang menjepit


lehernya sejak pagi buta sampai malam hari. Alvin tidak langsung mandi, ia


malah selojoran di sofa untuk menghilangkan peluh yang membasahi keningnya.


Teringat sesuatu, Alvin mengambil ponselnya yang


tersimpan rapi di dalam saku celananya. Ia belum melaporkan kegiatan besok pada


X. Jempol Alvin men-scroll chat terakhirnya dengan X, keningnya mengkerut


melihat chat itu bahkan tidak terkirim ke atasannya. Chat yang menjelaskan kalau


Melda akan ikut untuk menjemput X. Alvin melakukan kecerobohan dengan mengirim


chat pada nomor yang salah. Seharusnya ia ingat kalau saat X pulang, ia akan


mengganti kartu SIM-nya agar bisa dipakai di dalam negeri.


Alvin menepok jidatnya, pantas saja X tidak melihat


kehadiran Melda disana. Alvin melepas dasinya dan membantingnya ke sofa. Ia


menyetel video di ponselnya lalu meletakkan ponselnya dengan kamera mengarah


padanya.


“Kakak ipar, maafkan aku. Chat yang aku kirim ke


kak X tidak terkirim. Aku salah nomor, kakak ipar. Seharusnya aku lebih teliti


lagi. Maafkan aku!” ucap Alvin sebelum mulai push up sampai seratus kali.


Kebayang berapa lama durasi video itu, sampai Alvin


tidak bisa mengirimnya lewat WA. Akhirnya Alvin memutuskan untuk memakai


e-mail.


“Kakak ipar bakalan membunuhku atau tidak ya? Apa


mereka bertengkar hari ini?” tutur Alvin mereka-reka.


**


X menepuk jidatnya dengan dramatis mendengar


pertanyaan menjurus Melda, membuat wanita itu semakin curiga padanya melihat


perilakunya.


“Kok kamu bisa tahu?” tanya X dengan ekspresi


serius, tapi dalam hatinya ketawa ngakak.


Mata Melda berkaca-kaca, ia memukul lengan X cukup


keras sampai X kesakitan.


“Addooww!!” jerit X.


“Kamu jahat! Kamu udah punya anak sama wanita lain,


kenapa masih nikah sama aku?! Kamu poligami!” jerit Melda sambil memukuli


punggung X.


“Ampun, yank. Tenagamu udah balik ya? Kita bisa


lanjut lagi satu ronde dong,” kata X menggoda Melda.


“Main sana sendiri!” ketus Melda kesal.


X menerjang Melda diatas sofa, wanita itu ingin


menendang X tapi kalah tenaga. Akhirnya Melda hanya bisa pasrah dibawah


kukungan X. Pria itu ingin mencium Melda lagi, tapi Melda terus berpaling.


Melda kembali ngambek karena mengira X membohonginya.


“Aku cuma bercanda, sayang. Bella punya suami,


tentu saja Alan itu anaknya Bella sama suaminya. Untuk sementara ini, Alan akan


tinggal sama kita. Bella dan suaminya baru saja meninggal. Anak itu sendirian


sekarang,” jelas X sambil menatap Melda.


“Oh, kasihan.” Hanya itu yang diucapkan Melda.


Lalu dengan senyum malu-malu, Melda mencium X, meminta


maaf dan merayu pria itu dengan sangat manis. Sampai X melayang dibuatnya.


“Yank, aku minta maaf ya. Sebelah mana yang sakit?”


tanya Melda imut.


X menunjuk ke bawah sambil meringis, “Kamu sakit


perut?” tanya Melda kuatir sambil menyentuh perut X.


“Dibawahnya, sayang,” kata X lalu menarik tubuh Melda


dan membawanya ke tempat tidur mereka.


**


Sorry agak berantakan. Up lagi setelah pagi ya guys.