Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 31


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 31


“Hadeh, kayaknya sogokannya kurang mahal.


Sana-sana, nggak boleh ngintip kak Kaori ya,” kata Ken mengusir bocah-bocah


kepo itu.


“Ken, kita keluar aja ya. Aku nggak enak sama yang


lain. Kamu sich, nakal banget,” ucap Kaori malu.


“Yah, padahal belum puas ciumnya. Nanti lagi ya.


Ayo, kita makan dulu,” sahut Ken sambil merangkul pinggang Kaori.


Mereka berdua keluar dari kamar Kaori menuju meja


makan. Keduanya tampak sangat mesra satu sama lain. Seperti biasa, Kaori akan


duduk di samping Alex dan kali ini Ken duduk di samping Kaori. Pria itu


membantu Kaori memotong-motong ayam bakar dan memisahkan antara daging ayam


dengan tulangnya. Biasanya Alex yang sangat sibuk melakukan itu, tapi kali ini


Ken melakukan semuanya untuk Kaori.


Alex tersenyum sambil pura-pura sibuk makan.


Sesekali ia melirik Mia yang juga senyum-senyum melihat kemesraan Ken dan


Kaori. Keluarga mereka semakin besar saja setelah kehadiran Ken dalam kehidupan


mereka. Alex hanya berharap mereka akan selalu bahagia bersama-sama.


Usai makan malam, Ken ingin mengajak Kaori mojok.


Tapi ia harus menghadapi Alex dan Rio dulu. Ken mengikuti Alex, Rio, Mia, dan


Gadis masuk ke ruang kerja Alex. Senyum sumringah Ken tidak pernah lepas dari


bibirnya, ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Rio dan Alex.


“Jadi, kapan aku bisa datang membawa lamaran?”


tanya Ken dengan senyum tengilnya.


“Kok aku kesel ya liat mukanya, pah. Papa yakin mau


punya cucu menantu macam dia?” tanya Rio pada Alex.


“Lah, bukannya kamu udah setuju. Mukanya emang


gitu, mirip kamu dulu,” sahut Alex keceplosan.


“Maksud papa?” tanya Rio spontan.


“Muka tengil plus jahil. Kamu inget dulu, kamu


sering masang muka gitu kalo lagi kumat nakalnya,” kata Alex cepat.


Mia menarik nafas lega, hampir saja Rio curiga.


Mereka kembali fokus membicarakan jawaban atas lamaran Ken. Rio mengatakan


persetujuannya atas lamaran Ken pada Kaori. Pernikahan mereka bisa segera


dilakukan tergantung keinginan Kaori.


“Yes!” teriak Ken senang.


“Bisa-bisanya kamu girang gitu. Awas aja kalau kamu


mainin Kaori ya,” ancam Rio.


“Kak, jangan galak-galak. Eh, maksudku, papa


mertua, jangan galak-galak,” sahut Ken sambil meringis jahil.


Pria itu bangkit berdiri sambil mengambil


ponselnya, ia berjalan mendekati jendela besar di ruang kerja itu dan menelpon


seseorang yang sepertinya sangat Ken hormati.


“Selamat malam, kakek. Apa aku mengganggu, kakek?


Aku sudah boleh menikahi Kaori secepatnya kan?” kata Ken dengan sopan.


“Ya, katakan


kapan kakek bisa ke rumah Kaori? Jangan tunggu papamu. Beritahu saja dia,


terserah dia mau datang atau tidak,” sahut kakek Martin santai.


“Aku akan tanya Kaori dulu, kek. Tapi mungkin Kaori


tidak mau ada pesta, kek. Bagaimana menurut kakek?” tanya Ken lagi.


“Loh, kenapa?


Ach, kakek tahu. Dia tidak nyaman kan? Lakukan saja sesuai keinginannya. Kamu


harus menyenangkan calon istrimu, Ken. Kabari kakek, okay. Sampai jumpa,” sahut kakek Martin.


“Salam jumpa, kek.” Ken menutup telponnya. Ia


menghela nafas, sekarang ia harus menelpon Endy dulu.


Ken menoleh menatap keempat orang yang masih


menunggunya itu. Ia mengangguk lalu menelpon Endy. “Halo, pah. Aku akan melamar


Kaori,” ucap Ken tanpa basa-basi.


Endy tidak suka bicara basa-basi kalau bicara di


telpon. Bicara secukupnya dan to the point adalah kebiasaan Endy. Ken menunggu


jawaban Endy, jantungnya sedikit berdebar karena Endy tidak kunjung bicara.


“Bisakah kau


bawa Kaori dan Renata menemui mamamu?” tanya Endy akhirnya.


“Aku harus tanya keluarga mereka dulu, pah. Aku


rasa akan sulit, tapi aku akan mencobanya. Papa mau datang ke acara lamaranku?”


tanya Ken lagi.


“Sebaiknya


papa tidak kesana. Tapi papa dan mama setuju saja. Ken...,” panggil Endy.


“Ya, pah?” tanya Ken menunggu kata-kata Endy berikutnya.


“Semoga kamu


bahagia, nak.” Endy menangis saat ia mengatakan itu pada Ken.


Suara Endy yang tercekat, cukup membuat Ken


merasakan kesedihan pria paruh baya itu. Ken tanpa sadar juga menangis, ia


bingung sendiri kenapa pipinya basah. Endy sudah menutup telponnya tanpa bicara


apa-apa. Untuk sesaat, Ken merasa tubuhnya melemah. Ia hampir jatuh dan


cepat-cepat menahan tubuhnya sebelum terduduk di lantai.


Alex dan Mia segera menghampiri Ken, lalu membantu


pria itu bangkit. Mereka berdua menuntun Ken duduk di sofa besar. Ken masih


menangis entah karena apa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan


kasih sayang Endy yang sesungguhnya. Doa untuk kehidupannya agar selalu


bahagia.


“Ken, kamu kenapa? Endy bilang apa?” tanya Mia


kuatir.


“Gadis, tolong ambilkan minum. Air gula hangat.


Cepat,” pinta Alex ketika merasakan tangan Ken sangat dingin.


Ken menangis terus sampai Gadis kembali membawa


segelas air gula hangat dan minyak kayu putih. Alex menggosokkan minyak kayu


putih ke tangan Ken, sementara Mia mendekatkan air gula ke bibir Ken.


Pelan-pelan Ken mulai tenang, ia meminum air gula itu dan merasa lebih baik.


“Ken, kamu baik-baik saja?” tanya Mia lagi.


“Iya, ma... oma. Aku cuma shock, kaget tadi papa


datang kesini. Aku rasa, papa mertua sudah tahu alasannya,” kata Ken menatap


Rio.


“Hais, bisa-bisanya aku berbesan dengan orang itu.


Yang benar saja. Kamu yakin cuma itu yang dia bilang. Reaksimu terlalu


berlebihan, Ken,” sahut Rio curiga.


“Sebenarnya, baru kali ini papa mengatakan ‘semoga


kamu bahagia, nak’. Papa belum pernah mengatakan hal-hal seperti itu padaku


sebelumnya,” ucap Ken sendu.


Mia menahan perasaannya, ia merasa bersalah karena


tidak bisa menjaga putranya dengan baik. Entah apa yang sudah Ken alami selama


hidup bersama Endy dan Kinanti sampai-sampai pria itu bisa terharu dengan hanya


mendengar sebaris kalimat manis dari Endy.


Alex mengepalkan tangannya menahan emosi, ia ingin


sekali memeluk Ken, tapi Alex tidak bisa melakukan itu dihadapan Rio dan Gadis.


Belum waktunya mengatakan rahasia kelahiran Ken sekarang. Alex akan memberikan


kesempatan itu pada Ken untuk mengatakannya sendiri pada waktu yang tepat


nanti.


Rio dan Gadis hanya bisa saling pandang melihat


kenyataan kehidupan Ken ternyata tidak bahagia. Meskipun hidup dalam keluarga


yang kaya raya, Ken tetap tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup. Pria itu


hanya dijadikan alat untuk mendapatkan harta warisan yang seharusnya menjadi


milik Kaori sebagai cucu kandung kakek Martin.


“Pa, ma, opa, oma, aku ingin minta tolong sesuatu.


Sebenarnya mama Kinanti sedang sakit dan dokter mengatakan kalau Kaori....” Ken


menghentikan kata-katanya ketika melihat Rio menaikkan tangannya.


“Aku tidak akan mengijinkan Kaori bertemu dia.


Wanita kejam itu meninggalkan anaknya ketika tahu Kaori memiliki kekurangan.


Bahkan ketika aku mengantarkan Kaori kembali waktu itu, dia tidak berusaha


meminta anaknya kembali. Cukup, Ken. Jangan bicarakan tentang mamamu itu.


Aku... papa harap, kamu bisa mengerti perasaan papa dan mama,” kata Rio tegas.


“Tapi kalau Kaori menikah dengan Ken, mereka cepat


atau lambat akan bertemu kan?” tanya Mia.


“Tergantung Kaori ingin tinggal dimana, oma. Aku


bisa mengatur agar mereka tidak bisa bertemu secara pribadi. Itu tidak sulit,


apalagi mama Kinanti sedang sakit sekarang,” kata Ken santai.


“Kamu nggak kasihan sama Kinanti?” tanya Gadis


spontan.


Rio menoleh menatap Gadis yang bertanya sesuatu


yang menyebalkan baginya. Gadis juga menatap Rio dengan pandangan bertanya yang


seolah mengatakan ‘apa salahku?’. Rio mendengus kesal, ia tidak ingin berdebat


dengan Gadis sekarang atau jatahnya akan berkurang nanti.


“Aku lebih peduli pada perasaan Kaori, ma. Kalaupun


mereka ketemu, mau bicara apa? Hanya sebatas pembicaraan mertua dan menantu,


kan. Apa hubungannya dengan kesembuhan mama Kinanti juga? Kecuali kalau mama


Kinanti mau bilang kalau Kaori adalah putri kandungnya,” tebak Ken mengejutkan


semua orang disana.


“Itu tambah nggak bisa dibiarin, Ken!” protes Rio.


“Kalau gitu, mungkin Kaori bisa tinggal disini


setelah kami menikah. Aku juga bisa tinggal disini. Kaori juga minta untuk


tinggal disini setelah pernikahan. Dia takut tinggal di rumah sendirian kalau


aku harus pergi keluar kota untuk bisnis.” Ken menyampaikan keinginan Kaori


sebelumnya.


Alex setuju dengan ide Kaori akan tetap tinggal


bersama mereka setelah menikah. Tapi melihat kedudukan kakek Martin, hal


seperti itu akan membuat publik membicarakan Ken dan Kaori. Setidaknya mereka


harus tinggal di rumah besar kakek Martin atau tinggal di rumah mereka sendiri.


“Aku akan memikirkannya bersama Kaori, opa.


Sekarang, boleh aku ketemu Kaori lagi. Kangen berat sampai rasanya mau mati,”


rengek Ken pada Alex.


Melihat Alex mengangguk, Ken segera bangkit tanpa


basa-basi lagi. Pria itu melangkah dengan riang keluar dari ruang kerja itu.


Rio menepuk keningnya melihat Ken begitu tidak sabaran ingin bertemu Kaori. Gadis


itu tentu saja ada di ruang keluarga. Setelah makan malam, Kaori akan berkumpul


dengan saudara-saudaranya yang lain.


Kaori menoleh sedikit ketika merasakan ada


seseorang yang duduk di sampingnya. Ken tersenyum sumringah menatap Kaori, lalu


merangkul pinggang gadis itu.


“Ken? Jangan peluk-peluk, nggak enak diliat yang


lain,” bisik Kaori.


“Nggak apa-apa. Kamu kan calon istriku. Mesra


dikit, boleh kok,” bisik Ken juga.


Kaori jadi tersipu malu mendengar kata-kata Ken. Kemesraan


mereka berdua menimbulkan keinginan untuk iseng dari adik-adik Kaori. Reymond


dan Reyna tiba-tiba bergerak ke belakang Ken lalu menutup mata pria itu dengan


kain hitam.


“Eh, apa-apaan ini? Kalian mau apa?” tanya Ken yang


kelimpungan.


Kedua tangan Ken juga ditahan oleh Riana dan Riani sementara


Roy menarik Kaori dari sisi Ken. “Kak Kaori, ikut aku ya,” pinta Roy.


“Eh, kakak mau dibawa kemana, Roy?” tanya Kaori


bingung.


Kaori dibawa menjauh dari ruang keluarga dan didudukkan


di tangga. Ken yang mencari-cari Kaori di sampingnya, kebingungan karena gadis


itu menghilang.


“Kaori? Dimana kamu?” panggil Ken tapi Kaori tidak


menjawab. “Anak-anak, dimana kakak kalian? Ayo, bilang. Jangan gini dong,” ucap


Ken tidak sabaran.


“Kakak harus main petak umpet dulu sama kita. Ayo,


kak,” kata Kenzo yang tiba-tiba ikut bergabung dengan adik-adik Kaori.