
Setelah Alex dan
Mia beranjak pulang ke rumah mereka, Elo sedang menatap Riri dari kejauhan. Calon
istrinya itu tampak bicara dengan Keith sambil sesekali tersenyum.
Elo : “Kenapa juga
dia harus tersenyum semanis itu sama laki-laki itu?”
Kening Elo
berkerut, jelas sekali Riri sudah berkali-kali mencoba menghindari Keith, tapi
laki-laki itu tetap mengajaknya bicara sambil mengejarnya.
Elo : “Apa aku
kesana aja ya?”
Elo menimbang
sebentar dan akhirnya tidak tahan juga untuk mendekati Riri. Elo berjalan cepat
menghampiri Riri yang sedang tarik-tarikan buku dengan Keith.
Keith : “Ri, bentar
aja. Aku mau ngobrol sama kamu. Apa susahnya sich?”
Riri : “Tapi aku
harus balik ke asrama, kak. Aku masih ada tugas.”
Keith : “Kenapa
kamu selalu menghindari aku, Ri? Salahku apa?”
Riri : “Kakak gak
ada salah, tapi memang aku lagi sibuk. Tolong lepasin bukuku, kak.”
Keith : “Masa kamu
gak kasian sama aku, Ri. Aku cuma mau bicara sebentar.”
Riri : “Ok, ok,
kak. Silakan bicara.”
Keith : “Tapi gak
disini, Ri.”
Riri : “Kalau kakak
gak mau bicara sekarang, aku mau pergi, kak.”
Keith : “Okey,
okey. Dengar, aku cuma mau bilang kalau aku suka sama kamu, Ri. Mau gak jadi
pacarku?”
Riri : “Apa?!”
Riri menoleh
menatap sosok Elo yang sudah berdiri di sebelah mereka, mendengar apa yang
barusan dikatakan Keith. Keith tidak menyadari kehadiran Elo diantara mereka.
Elo : “Riri...”
Tangan Elo
mengepal, ia hampir menghajar laki-laki yang berani mengatakan cinta pada calon
istrinya itu. Tapi Riri memberi tanda untuk tenang dulu. Hubungan mereka memang
belum dipublikasikan karena Riri tidak ingin terjadi kehebohan di kampus itu.
Riri : “Kak, terima
kasih atas perasaan kakak, tapi maaf sekali, aku gak bisa terima perasaan
kakak.”
Keith : “Tapi
kenapa, Ri? Aku tulus sama kamu.”
Riri : “Aku sudah
punya calon suami, kak. Kami akan segera menikah.”
Keith : “Bohong!
Kamu mengatakan ini untuk menolakku, kan?”
Riri : “Aku tidak
pernah berbohong sama kakak, kakak tahu itu kan?”
Keith diam
sebentar, ia mengatur nafasnya yang mulai tersengal karena emosi. Elo masih
menunggu reaksi Keith berikutnya sambil berjaga-jaga kalau Keith ingin
mendekati Riri lebih dari ini.
Keith : “Apa dia
sudah mapan?”
Riri : “Dia sudah
lebih dari apa yang kakak pikirkan. Punya tanggung jawab yang tinggi dan sangat
baik. Dan yang paling terpenting, aku sangat mencintai pria itu.”
Riri tersenyum pada
Elo yang juga tersenyum padanya. Keith akhirnya menoleh dan melihat Elo sudah
menatapnya juga.
Keith : “Siang, pak
Angelo.”
Elo : “Siang,...
Keith.”
Keith : “Iya saya,
pak. Ri, aku pergi dulu ya.”
Riri : “Iya, kak.”
Sepeninggalan
Keith, Elo dan Riri jalan berdua menuju asrama putri.
Elo : “Aku hampir
memukulnya tadi. Mendengar dia bilang cinta sama kamu, pengen banget menghajar
wajahnya.”
Riri : “Mas, kita
tidak harus selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan kan. Hanya perlu
bersikap tegas.”
Elo : “Ini yang membuat
aku semakin mencintaimu.”
Wajah Riri merona,
ia menyembunyikan wajahnya dibalik buku yang sedang dibawanya. Saat itu mereka
berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang menatap kegantengan Elo dengan
takjub.
Riri : “Lama-lama
aku bisa cemburu nich.”
Riri bicara setelah
mereka berdua lagi, Elo tersenyum dan berjalan sedikit membungkuk.
Elo : “Jadi aku
harus apa, tuan putri? Memakai hoddie untuk menyembunyikan wajahku?”
Riri : “Mungkin.
Aku harap bisa segera mengatakan pada semua orang kalau mas milikku.”
Elo : “Apa kau
berani?”
Riri hanya
tersenyum penuh arti. Mereka sudah sampai di depan asrama putri.
Elo : “Masuklah,
mas harus kembali ke kantor.”
Riri : “Mas, apa
mas bisa bolos... sekarang...”
Elo : “Kenapa,
sayang? Kau mau kemana?”
Riri celingukan
melihat sekeliling yang cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat dan tidak
menghiraukan mereka berdua.
Riri : “Ach, gak
jadi dech, mas. Nanti mas dicariin lagi.”
Elo tersenyum, ia
mengambil ponselnya dari dalam saku dan menelpon seseorang,
mobil ke depan asrama putri. Sekarang.”
Riri : “Siapa Lili?”
Elo : “Sebentar
lagi kau akan bertemu dengan dia.”
Sebuah mobil
meluncur mendekati mereka berdua dan berhenti tepat di depan keduanya. Seorang
wanita cantik berpakaian modis, turun dari mobil dan sedikit membungkuk pada
Elo.
Lili : “Mobilnya
sudah siap, tuan muda.”
Elo : “Sayang, ini
Lili. Dia pengawalmu mulai sekarang.”
Riri : “Pengawal??!!”
Lili : “Selamat
siang, nona Riri.”
Tanpa banyak bicara
lagi, Riri dibawa masuk ke dalam mobil oleh Elo dan Lili mengendarai mobil itu
keluar dari areal asrama.
Elo : “Aku sudah
mengirim kontak Lili ke ponselmu. Dia akan menjagamu dari jauh, jadi kamu gak
usah khawatir.”
Riri : “Khawatir
apa tepatnya?”
Elo : “Bisa saja
ada yang ingin mendekatimu seperti Keith tadi.”
Riri : “Ini
pengawal atau mata-mata?”
Elo : “Dua-duanya,
sayang.”
Riri : “Apa mas gak
percaya sama aku?”
Elo : “Aku percaya
sama kamu, tapi aku gak percaya sama laki-laki yang mengincarmu.”
Riri : “Oh, my...
gini amat ya jadi calon istri orang kaya.”
Elo : “Kamu gak
suka?”
Riri : “Hilang
sudah kebebasanku.”
Elo tersenyum penuh
arti, selama ini yang ia tahu, Riri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan
tetap diam di rumah dan membaca buku. Kebebasan apa yang dia maksud?
Elo : “Apa
maksudmu, sayang?”
Riri : “Apa setelah
menikah nanti, aku gak bisa bebas nonton film di bioskop? Atau sekedar ke toko
buku?”
Elo : “Kamu kan
pergi sama aku.”
Riri : “Maksudku
pergi dengan teman-temanku, dengan Kaori.”
Elo : “Apa kamu
lupa setelah kita menikah, kita akan tinggal di negara A?”
Riri : “Oh, iya.
Aku lupa.”
Riri terdiam, ia
sangat mencintai Elo dan bersedia menikah dengannya meskipun baru berusia 18
tahun. Tapi berpisah dengan keluarga dan teman-temannya sepertinya mulai
mengganggu pikiran Riri. Jatuh cinta bisa membuat kita melupakan hal-hal
penting ternyata.
Elo melihat
kebimbangan Riri dan menggenggam tangannya,
Elo : “Dengar, aku
gak akan mengekangmu untuk keluar dengan teman-teman barumu disana. Tapi ingat
untuk selalu memberitahu Lili kemana kau akan pergi.”
Riri : “Lili akan
ikut dengan kita?”
Elo : “Ya, begitu
juga dengan pengawal pribadiku.”
Riri celingukan melihat
sekitarnya, ia tidak pernah melihat siapapun di dekat Elo. Jadi dimana pengawal
pribadi itu?
Elo : “Kamu cari
apa sich?”
Riri : “Pengawal
mas mana?”
Elo : “Jangan
tanyakan dia, dia seperti ninja, bisa menghilang dan muncul tiba-tiba.”
Riri : “Trus Lili
kenapa gak seperti ninja? Maaf, Lili.”
Lili hanya
tersenyum untuk merespon kata-kata Riri.
Elo : “Lili juga
akan seperti itu, hanya saja dia akan lebih sering menampakkan diri.”
Elo mendekati Riri,
menunduk ke dekat wajah Riri dan hampir menciumnya. Riri menghindar, ia tidak
nyaman karena ada Lili yang sedang menyetir mobil. Lili yang melihat gelagat
bosnya yang ingin berduaan, segera menekan tombol untuk menutup kaca antara
penumpang dengan sopir.
Elo : “Sudah aman
sekarang...”
Riri : “Mas, jangan
nakal.”
Elo : “Aku cuma
minta cium calon istriku saja.”
Riri tersenyum
malu, ia merangkul leher Elo yang sudah mulai mencium bibirnya. Di dalam mobil
yang membawa mereka berjalan-jalan di sekitar kampus.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲