Duren Manis

Duren Manis
Pengawal pribadi


Setelah Alex dan


Mia beranjak pulang ke rumah mereka, Elo sedang menatap Riri dari kejauhan. Calon


istrinya itu tampak bicara dengan Keith sambil sesekali tersenyum.


Elo : “Kenapa juga


dia harus tersenyum semanis itu sama laki-laki itu?”


Kening Elo


berkerut, jelas sekali Riri sudah berkali-kali mencoba menghindari Keith, tapi


laki-laki itu tetap mengajaknya bicara sambil mengejarnya.


Elo : “Apa aku


kesana aja ya?”


Elo menimbang


sebentar dan akhirnya tidak tahan juga untuk mendekati Riri. Elo berjalan cepat


menghampiri Riri yang sedang tarik-tarikan buku dengan Keith.


Keith : “Ri, bentar


aja. Aku mau ngobrol sama kamu. Apa susahnya sich?”


Riri : “Tapi aku


harus balik ke asrama, kak. Aku masih ada tugas.”


Keith : “Kenapa


kamu selalu menghindari aku, Ri? Salahku apa?”


Riri : “Kakak gak


ada salah, tapi memang aku lagi sibuk. Tolong lepasin bukuku, kak.”


Keith : “Masa kamu


gak kasian sama aku, Ri. Aku cuma mau bicara sebentar.”


Riri : “Ok, ok,


kak. Silakan bicara.”


Keith : “Tapi gak


disini, Ri.”


Riri : “Kalau kakak


gak mau bicara sekarang, aku mau pergi, kak.”


Keith : “Okey,


okey. Dengar, aku cuma mau bilang kalau aku suka sama kamu, Ri. Mau gak jadi


pacarku?”


Riri : “Apa?!”


Riri menoleh


menatap sosok Elo yang sudah berdiri di sebelah mereka, mendengar apa yang


barusan dikatakan Keith. Keith tidak menyadari kehadiran Elo diantara mereka.


Elo : “Riri...”


Tangan Elo


mengepal, ia hampir menghajar laki-laki yang berani mengatakan cinta pada calon


istrinya itu. Tapi Riri memberi tanda untuk tenang dulu. Hubungan mereka memang


belum dipublikasikan karena Riri tidak ingin terjadi kehebohan di kampus itu.


Riri : “Kak, terima


kasih atas perasaan kakak, tapi maaf sekali, aku gak bisa terima perasaan


kakak.”


Keith : “Tapi


kenapa, Ri? Aku tulus sama kamu.”


Riri : “Aku sudah


punya calon suami, kak. Kami akan segera menikah.”


Keith : “Bohong!


Kamu mengatakan ini untuk menolakku, kan?”


Riri : “Aku tidak


pernah berbohong sama kakak, kakak tahu itu kan?”


Keith diam


sebentar, ia mengatur nafasnya yang mulai tersengal karena emosi. Elo masih


menunggu reaksi Keith berikutnya sambil berjaga-jaga kalau Keith ingin


mendekati Riri lebih dari ini.


Keith : “Apa dia


sudah mapan?”


Riri : “Dia sudah


lebih dari apa yang kakak pikirkan. Punya tanggung jawab yang tinggi dan sangat


baik. Dan yang paling terpenting, aku sangat mencintai pria itu.”


Riri tersenyum pada


Elo yang juga tersenyum padanya. Keith akhirnya menoleh dan melihat Elo sudah


menatapnya juga.


Keith : “Siang, pak


Angelo.”


Elo : “Siang,...


Keith.”


Keith : “Iya saya,


pak. Ri, aku pergi dulu ya.”


Riri : “Iya, kak.”


Sepeninggalan


Keith, Elo dan Riri jalan berdua menuju asrama putri.


Elo : “Aku hampir


memukulnya tadi. Mendengar dia bilang cinta sama kamu, pengen banget menghajar


wajahnya.”


Riri : “Mas, kita


tidak harus selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan kan. Hanya perlu


bersikap tegas.”


Elo : “Ini yang membuat


aku semakin mencintaimu.”


Wajah Riri merona,


ia menyembunyikan wajahnya dibalik buku yang sedang dibawanya. Saat itu mereka


berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang menatap kegantengan Elo dengan


takjub.


Riri : “Lama-lama


aku bisa cemburu nich.”


Riri bicara setelah


mereka berdua lagi, Elo tersenyum dan berjalan sedikit membungkuk.


Elo : “Jadi aku


harus apa, tuan putri? Memakai hoddie untuk menyembunyikan wajahku?”


Riri : “Mungkin.


Aku harap bisa segera mengatakan pada semua orang kalau mas milikku.”


Elo : “Apa kau


berani?”


Riri hanya


tersenyum penuh arti. Mereka sudah sampai di depan asrama putri.


Elo : “Masuklah,


mas harus kembali ke kantor.”


Riri : “Mas, apa


mas bisa bolos... sekarang...”


Elo : “Kenapa,


sayang? Kau mau kemana?”


Riri celingukan


melihat sekeliling yang cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat dan tidak


menghiraukan mereka berdua.


Riri : “Ach, gak


jadi dech, mas. Nanti mas dicariin lagi.”


Elo tersenyum, ia


mengambil ponselnya dari dalam saku dan menelpon seseorang,


mobil ke depan asrama putri. Sekarang.”


Riri : “Siapa Lili?”


Elo : “Sebentar


lagi kau akan bertemu dengan dia.”


Sebuah mobil


meluncur mendekati mereka berdua dan berhenti tepat di depan keduanya. Seorang


wanita cantik berpakaian modis, turun dari mobil dan sedikit membungkuk pada


Elo.


Lili : “Mobilnya


sudah siap, tuan muda.”


Elo : “Sayang, ini


Lili. Dia pengawalmu mulai sekarang.”


Riri : “Pengawal??!!”


Lili : “Selamat


siang, nona Riri.”


Tanpa banyak bicara


lagi, Riri dibawa masuk ke dalam mobil oleh Elo dan Lili mengendarai mobil itu


keluar dari areal asrama.


Elo : “Aku sudah


mengirim kontak Lili ke ponselmu. Dia akan menjagamu dari jauh, jadi kamu gak


usah khawatir.”


Riri : “Khawatir


apa tepatnya?”


Elo : “Bisa saja


ada yang ingin mendekatimu seperti Keith tadi.”


Riri : “Ini


pengawal atau mata-mata?”


Elo : “Dua-duanya,


sayang.”


Riri : “Apa mas gak


percaya sama aku?”


Elo : “Aku percaya


sama kamu, tapi aku gak percaya sama laki-laki yang mengincarmu.”


Riri : “Oh, my...


gini amat ya jadi calon istri orang kaya.”


Elo : “Kamu gak


suka?”


Riri : “Hilang


sudah kebebasanku.”


Elo tersenyum penuh


arti, selama ini yang ia tahu, Riri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan


tetap diam di rumah dan membaca buku. Kebebasan apa yang dia maksud?


Elo : “Apa


maksudmu, sayang?”


Riri : “Apa setelah


menikah nanti, aku gak bisa bebas nonton film di bioskop? Atau sekedar ke toko


buku?”


Elo : “Kamu kan


pergi sama aku.”


Riri : “Maksudku


pergi dengan teman-temanku, dengan Kaori.”


Elo : “Apa kamu


lupa setelah kita menikah, kita akan tinggal di negara A?”


Riri : “Oh, iya.


Aku lupa.”


Riri terdiam, ia


sangat mencintai Elo dan bersedia menikah dengannya meskipun baru berusia 18


tahun. Tapi berpisah dengan keluarga dan teman-temannya sepertinya mulai


mengganggu pikiran Riri. Jatuh cinta bisa membuat kita melupakan hal-hal


penting ternyata.


Elo melihat


kebimbangan Riri dan menggenggam tangannya,


Elo : “Dengar, aku


gak akan mengekangmu untuk keluar dengan teman-teman barumu disana. Tapi ingat


untuk selalu memberitahu Lili kemana kau akan pergi.”


Riri : “Lili akan


ikut dengan kita?”


Elo : “Ya, begitu


juga dengan pengawal pribadiku.”


Riri celingukan melihat


sekitarnya, ia tidak pernah melihat siapapun di dekat Elo. Jadi dimana pengawal


pribadi itu?


Elo : “Kamu cari


apa sich?”


Riri : “Pengawal


mas mana?”


Elo : “Jangan


tanyakan dia, dia seperti ninja, bisa menghilang dan muncul tiba-tiba.”


Riri : “Trus Lili


kenapa gak seperti ninja? Maaf, Lili.”


Lili hanya


tersenyum untuk merespon kata-kata Riri.


Elo : “Lili juga


akan seperti itu, hanya saja dia akan lebih sering menampakkan diri.”


Elo mendekati Riri,


menunduk ke dekat wajah Riri dan hampir menciumnya. Riri menghindar, ia tidak


nyaman karena ada Lili yang sedang menyetir mobil. Lili yang melihat gelagat


bosnya yang ingin berduaan, segera menekan tombol untuk menutup kaca antara


penumpang dengan sopir.


Elo : “Sudah aman


sekarang...”


Riri : “Mas, jangan


nakal.”


Elo : “Aku cuma


minta cium calon istriku saja.”


Riri tersenyum


malu, ia merangkul leher Elo yang sudah mulai mencium bibirnya. Di dalam mobil


yang membawa mereka berjalan-jalan di sekitar kampus.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲