
Rara dibawa ke
ruang operasi setelah Arnold menandatangani surat-surat yang berhubungan dengan
operasi. Alex dan Mia berlari mendekati Ronald dan Arnold yang sudah berdiri di
depan ruang operasi. Tadi mereka bertemu Jodi dan Katty yang sedang mengurus
kamar untuk Rara. Mia sempat memegang tangan Rara sebelum dibawa masuk.
Mia : “Rara,
mas...”
Alex : “Tidak akan
terjadi apa-apa. Tenanglah.”
Alex menuntun Mia
duduk di bangku yang sudah disiapkan di depan ruang operasi. Ronald juga
menuntun Arnold duduk disamping Mia. Baru beberapa saat terdengar tangisan bayi
yang dibawa keluar dari ruang operasi.
Suster : “Bayi ibu
Rara. Bapaknya bisa ikut saya.”
Arnold tidak
beranjak dari duduknya, ia terus menatap ke ruang operasi. Ronald mengikuti
suster yang membawa cucunya ke ruang bayi untuk dibersihkan. Mia memegang bahu
Arnold, sementara Alex menyusul Ronald.
Arnold : “Mah...
Rara, mah.”
Mia : “Tidak akan
terjadi apa-apa. Dokternya sudah keluar.”
Mereka berdiri dan
mendekati dokter yang menangani Rara.
Arnold : “Gimana
Rara, dok?”
Dokter :
“Kondisinya stabil tapi dia belum sadar. Kita tunggu sampai dia sadar ya.”
Arnold : “Saya
boleh melihatnya?”
Dokter : “Dia masih
di ruang observasi. Ayo, ikut saya.”
Arnold dan Mia
berjalan mengikuti dokter ke ruang sebelah. Rara terbaring disana, dengan
selang dan segala macam peralatan yang terus berbunyi. Mata Rara terpejam,
selang oksigen menempel di hidungnya.
Arnold : “Sayang...
Rara, sayang...”
Dokter : “Dia masih
terpengaruh obat bius. Sebentar lagi Rara akan dipindahkan ke ruang ICU. Kamu
sudah lihat bayimu? Sangat tampan.”
Arnold : “Belum,
dokter. Ra, bangun Ra.”
Dokter : “Tolong
biarkan dia istirahat dulu. Kamu harus menunggu di luar.”
Arnold mengikuti
dokter keluar meski sangat berat ia lakukan. Mia menuntun Arnold kembali ke depan
ruang operasi. Alex tampak menunggu disana.
Mia : “Bagaimana
bayinya?”
Alex : “Sehat dan
sangat tampan. Arnold, dia laki-laki.”
Arnold bahkan tidak
menunjukkan reaksi pada wajahnya. Mia menggeleng pada Alex,
Mia : “Rara masih
belum sadar, mas. Dokter minta kita menunggu.”
Alex : “Dimana
Rara?”
Mia : “Masih di
ruang observasi.”
Tiba-tiba Arnold
merasa lemas pada kedua kakinya. Alex spontan menahan tubuh Arnold yang
meluncur turun ke lantai.
Alex : “Arnold!
Kamu kenapa?”
Arnold : “Rara...”
Arnold terlihat
sangat tidak bertenaga, tubuhnya tidak bisa digerakkan seperti Rara saat ini.
Jodi yang sudah melihat mereka, segera berlari mendekati Arnold.
Jodi : “Kenapa
dia?”
Alex : “Gak tau.
Dia seperti ubur-ubur.”
Mia : “Mantu
sendiri kok dikatain ubur-ubur. Jodi, ambilkan kursi roda. Cepat.”
Jodi tidak perlu
melakukannya karena seorang perawat sudah mendorong kursi roda mendekat. Jodi
dan Alex mendudukkan Arnold ke atas kursi roda.
Mia : “Arnold, bersabarlah.
Rara akan baik-baik saja.”
Arnold : “Rara...”
Mia : “Iya, Rara
akan segera sadar. Kamu istirahat dulu ya. Kamu mau lihat bayimu?”
Arnold : “Rara...”
Jodi : “Hei, bro.”
Arnold menoleh
menatap Jodi,
Arnold : “Rara...”
Jodi : “Rara akan
bangun dan bertanya sama kamu, bro. ‘Mas, mana bayi kita? Apa kamu sudah ketemu
dia? Bayi kita, mas’.”
Mia dan Alex
menahan tawanya mendengar Jodi mencoba meniru suara Rara.
Jodi : “Jadi kau
harus ke ruang bayi sekarang, ntar keburu Rara bangun. Dia akan ngambek lagi,
bro. Kau gak akan tenang sampai dia dapat apa yang dia mau.”
Arnold hanya
mengangguk. Jodi mendorong kursi roda menuju ruang bayi dan melihat Ronald
masih ada disana sedang mengambil foto cucunya.
Ronald : “Kenapa
roda.
Alex : “Dia hampir
pingsan tadi. Mana dia?”
Mia : “Oh, lucunya.
Dia terlihat seperti Rara waktu kecil.”
Arnold menguatkan
dirinya dan berdiri di samping jendela ruang bayi. Saat ia menatap bayi itu, ia
kembali teringat Rara. Semua tentang Rara ada pada putranya. Air mata Arnold
menetes, ia ingin menggendong anaknya.
Arnold : “Aku mau
masuk.”
Jodi membantu Arnold
berdiri dan Arnold berjalan sendiri masuk ke ruang bayi. Semua orang di dekat
jendela bisa melihat bagaimana suster memberikan bayi mungil itu ke tangan
Arnold. Saat Arnold mulai mencium bayinya, tangan Rara mulai bergerak di ruang
observasi.
*****
Riri dan Rio masih
menunggu dengan gelisah kabar kondisi keadaan Rara dan bayinya. Rio masih
mencoba menelpon Alex yang tidak mendengar suara dering ponselnya. Apalagi Mia,
entah dimana mamanya meletakkan ponselnya.
Riri : “Gimana,
Rio?”
Rio : “Gak ada yang
angkat telpon. Masa masih dijalan sich?”
Riri : “Semoga mb
Rara gak pa-pa.”
Kaori masih anteng
menimang baby Rava sambil memberinya minum ASI dari botol. Rio yang melihat
pemandangan itu, segera mengarahkan ponselnya dan mengambil beberapa foto
Kaori. Aura keibuan terpancar dari Kaori saat Rio mengambil fotonya.
Melihat Rio
senyum-senyum sambil menatap ponselnya, membuat Riri kepo dan mengintip apa
yang sedang dikerjakan kembarannya itu.
Riri : “Kau ini
disuruh nelpon papa, malah...”
Rio : “Diam. Bawel
banget sich. Aku lagi usaha nich...”
Tring! Tring!
Tiba-tiba ponsel Rio dihujani chat masuk. Alex mengirimkan foto-foto bayi Rara
dengan berbagai ekspresi.
Rio : “Udah lahir,
laki-laki. Dia mirip siapa ya?”
Riri dan Kaori
ingin melihat bayi Rara, Rio akhirnya duduk di samping Kaori yang masih
menggendong baby Rava. Mb Roh yang melihat Rava sudah pulas tertidur, mengambil
Rava dan meletakkannya di dalam boks bayinya.
Kaori : “Oh, dia
lucu sekali. Siapa namanya?”
Rio : “Tunggu aku
scroll chat nya dulu. Papa niat banget ngirimin foto sampe 15 gini. Namanya
Reynold.”
Riri : “Baby Rey.
Ganteng banget sich.”
Rio : “Jadi pengen
kesana liat langsung.”
Riri : “Tapi kok
gak ada foto mb Rara ya? Coba tanya papa.”
Rio mengirimkan
chat balasan menanyakan kondisi Rara dan Alex menjawab kalau Rara belum sadar
setelah operasi cesar.
Riri : “Operasi?
Rio, telpon papa.”
Rio menelpon Alex
tapi gak diangkat.
*****
Alex tampak
berjalan cepat mendorong bed Rara ke ruang ICU bersama perawat. Tampak Jodi,
Arnold, Mia, dan Ronald mengikuti dari belakang. Setelah tangannya bergerak
sebentar, Rara kembali tidak sadar dan tekanan darahnya semakin meningkat.
Dokter memutuskan
membawa Rara ke ruang ICU agar bisa mendapat perawatan intensif. Setelah
disuntik obat, tekanan darah Rara mulai stabil. Tapi ia belum juga sadar. Alex mendekati
Mia,
Alex : “Sebaiknya
kita pulang dulu. Sepertinya dadamu bengkak.”
Mia : “Iya, mas.
Aku harus menyusui si kembar juga.”
Alex : “Ronald,
kami pulang dulu ya. Kabarin kalau ada perkembangan .”
Ronald : “Ya,
pasti.”
Alex dan Mia
berpamitan pada Jodi dan Arnold juga sebelum berjalan menuju tempat parkir.
Jodi : “Aku lihat
Katty dulu ya.”
Ronald : “Jodi,
sebaiknya kamu pulang dulu. Kasihan Katty kalau harus lama-lama di rumah sakit.”
Jodi : “Baik, om.
Nanti saya kembali lagi. Bro, aku balik dulu ya. Kunci kamarnya aku titip ke
suster.”
Arnold hanya
mengangguk, ia tidak fokus lagi karena memikirkan Rara. Ronald menepuk pundak
anaknya, memberinya kekuatan agar tegar menghadapi cobaan ini.
🌻🌻🌻🌻🌻
Rara masih belum
ada kejelasan nich.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).