Duren Manis

Duren Manis
Gak tenang


Alex dan Mia juga baru sampai dikantor Alex. Mereka melihat Bianca dan Ilham sudah duduk di dalam ruang kerja Ilham. Mereka tampak sibuk bekerja.


Mia : "Pagi, Bianca. Tolong bawakan laporan kemarin ke ruanganku ya."


Bianca : "Pagi, ok Mia."


Bianca bangkit berdiri, ia melihat sekeliling meja kerjanya dan tidak menemukan map hijau yang kemarin di berikan Mia. Ia terlihat kebingungan mencari laporan yang diminta Mia.


Ilham : "Cari apa?"


Bianca : "Laporan yang dimap hijau yang kemarin dikasi Mia. Tapi gak ada disini."


Ilham : "Mungkin uda di meja pak Alex. Coba cari disana."


Bianca melangkah ke pintu ruang kerja Alex, mengetuk sebentar dan membuka pintu. Mia menoleh melihat Bianca yang masuk dengan tangan kosong.


Mia : "Mana laporannya?"


Bianca : "Gak ketemu di tempatku. Mungkin sudah diatas meja itu."


Bianca menunjuk meja kerja Alex, ia berjalan kesana dan mulai memilah-milah dokumen diatas meja. Alex melirik sekilas dan kembali fokus pada laptopnya.


Bianca mulai frustasi saat tidak menemukan laporan itu diatas meja Alex. Mia tetap mengawasi dari tempat duduknya di sofa dengan tidak tenang. Masalahnya Bianca semakin mendekat pada Alex.


Alex : "Kamu cari apa sich?"


Bianca : "Laporan penjualan setengah bulan ini. Kemarin sepertinya masih di mejaku. Tapi tadi pagi kan Ilham sudah bawa laporan kesini. Siapa tau nyelip. Mana sich?"


Alex ikutan mencari diatas mejanya. Tiba-tiba Bianca berhenti bergerak saat merasakan sesuatu di sepatunya. Ia menginjak sesuatu dibawah meja kerja Alex.


Ia melihat ke bawah dan melihat map hijau dibawah sana. Bianca spontan berjongkok, membuat Mia dan Alex terkejut. Mia sampai bangun dari duduknya hendak menghampiri Bianca. Ia takut Bianca akan macam-macam menggoda Alex.


Wajah Bianca muncul dari bawah meja Alex membawa map hijau itu.


Bianca : "Nah, ketemu. Kenapa bisa jatuh ya?"


Bianca menatap Mia yang posisinya sudah sampai di depan meja Alex, dan Alex yang masih duduk di kursinya tapi posisinya sudah ada ujung mejanya. Mereka bertatapan dengan canggung.


Bianca : "Ini laporannya. Aku keluar dulu."


Mia menerima laporan itu dan memberi jalan pada Bianca yang berjalan keluar ruang kerja Alex.


Mia : "Hampir aja aku jambak rambutnya. Bikin kaget."


Alex : "Aku juga kaget. Kirain dia mau ngapain ke bawah sana."


Mia : "Mas gak dipegang-pegang kan?"


Alex : "Nggak lah. Aku uda menjauh duluan."


Mia : "Yakin?"


Alex : "Neh, pegang kalo gak percaya."


Alex menarik tangan Mia menyentuh bagian di bawah pusar Alex yang masih tertidur pulas. Tangan Mia menyentuh bagian itu, sambil mengecek ada bekas lipstik gak.


Perbuatan Mia membuat Alex panas dingin, perlahan tapi pasti bagian di bawah pusarnya mulai bangun dari tidurnya. Setelah puas memeriksa, Mia baru menyadari sesuatu.


Ia melihat wajah Alex yang sudah merona menahan gairah.


Mia : "Yang, mau cemilan?" Mia mengalihkan perhatian Alex tapi sudah terlambat. Alex terlanjur panas dan ingin Mia mendinginkannya.


-----


Bianca kembali duduk di meja kerjanya, ia melirik Ilham dan mulai bicara padanya,


Bianca : "Ilham, nanti kamu lembur lagi?"


Ilham : "Mungkin."


Bianca : "Aku temenin ya. Tapi aku pulang bentar masakin makan malam buat kamu."


Ilham : "Gak usah repot. Pesan makanan aja."


Bianca : "Jadi kamu mau kutemani?"


Ilham : "Emang kerjaanmu uda selesai?"


Bianca : "Belum sich."


Ilham : "Ya uda, cepat kerjakan kalau kau punya waktu senggang. Jangan ngobrol aja."


Bianca : "Kok kamu ketus gitu sich. Gak pernah manis ngomongnya."


Ilham : "Kalo gak suka, pergi sana."


Bianca mengambil tas-nya dan pergi dari sana. Ia sedang PMS saat ini dan kata-kata Ilham membuatnya tersinggung. Belum lagi papanya menanyakan kemajuan pengejaran cintanya pagi tadi yang membuat Bianca semakin sakit kepala.


-----


Ilham merenggangkan pinggangnya yang pegal. Sudah hampir jam 8 malam saat ia menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin membuat kopi sebelum pulang, saat berjalan ke pantry, ia melihat sosok Bianca tertidur disana.


Tubuhnya terduduk di kursi dengan kepala bersandar di meja pantry. Ilham mengguncang tubuh Bianca, ia pikir Bianca pingsan.


Bianca menggeliat bangun, ia memegangi kepalanya yang sakit. Ilham memberikan air minum pada Bianca.


Ilham : "Minum dulu, kamu kenapa tidur disini?"


Bianca : "Kayaknya aku ketiduran, perutku sakit."


Ilham : "Kamu sakit?"


Bianca : "Cuma sakit bulanan. Ini jam berapa?"


Ilham : "Jam 8."


Bianca : "Aku pulang duluan ya."


Bianca menunduk mencari sepatunya yang tadi terlepas. Ilham berjongkok, mengambilkan sepatu Bianca dan membantunya memakai sepatu itu kembali.


Ilham membantu Bianca berdiri, tapi kakinya masih lemas. Bianca hampir jatuh kalau Ilham tidak menahannya. Tubuh mereka menempel satu sama lain, sangat dekat.


Deg! Deg! Jantung Bianca berdebar gak karuan, ia mendongak menatap Ilham yang juga menatapnya. Mata Bianca terpejam, mengira Ilham akan menciumnya.


Ilham : "Kamu pusing lagi?"


Bianca : "Iya..."


Ilham hampir ketawa melihat Bianca yang salah tingkah. Jujur, Ilham sedikit tergoda juga melihat bibir sensual Bianca. Tapi ia cukup tahu diri untuk tidak jatuh cinta padanya. Status sosial mereka terlalu jauh dan Ilham tidak memerlukan seorang istri yang manja, meskipun masakannya enak.


Bianca melepaskan tangan Ilham yang memegang lengannya. Ia melepas sepatunya dan memilih berjalan tanpa alas kaki menuju lift.


Ilham : "Yakin kamu bisa pulang sendiri."


Bianca : "Gak usah peduli sama aku." Kata Bianca dingin.


Kepalanya lebih sakit, perutnya juga sama parahnya. Ia berjalan pelan-pelan menuju lift. Tubuhnya gemetar menahan sakit.


Tiba-tiba Ilham menarik tangan Bianca, tepat saat kesadaran Bianca menurun dan hampir pingsan. Ilham menahan tubuh Bianca yang hampir jatuh.


-----


Ilham mendudukkan Bianca diatas ranjangnya. Mereka ada di apartment Bianca karena akhirnya Ilham yang mengantar Bianca pulang.


Ilham menatap sekeliling kamar yang bersih dan rapi. Sejak masuk ke apartment Bianca, ia tidak melihat satu orangpun.


Ilham : "Aku pulang dulu, ada orang yang bisa kupanggil?"


Bianca : "Aku tinggal sendiri. Makasi uda nganter aku pulang, hati-hati di jalan."


Bianca mencoba bangun, ia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ilham terus memperhatikan sampai Bianca mencapai pintu kamar mandi.


Ilham : "Kamu bisa sendiri?"


Bianca : "Iya. Pulang sana, uda malem."


Ilham : "Kamu uda makan?"


Bianca : "Aku aja baru pulang, kapan sempat makan. Ntar aja abis mandi, aku tinggal panesin makan malam aja kok."


Bianca masuk ke kamar mandi, ia mengira Ilham sudah pulang. Setelah selesai membersihkan diri, Bianca keluar begitu saja dari kamar mandi hanya pakai handuk mini.


Ia mengenakan piyama tidur yang cukup seksi menonjolkan lekuk tubuhnya. Sesekali ia meringis menahan sakit perutnya.


Sekarang sakit perutnya karena datang bulan bertambah jadi lapar. Hidungnya mulai halu mencium wangi makanan di dalam kamarnya.


Bianca menoleh ke belakang, disofa kamarnya Ilham sedang duduk manis sambil menatapnya. Ia mengucek matanya dan Ilham masih disana.


Ilham : "Makan dulu, trus minum obat. Malam ini aku akan tetap disini. Kalau kau perlu, aku ada di ruang tamu."


Ilham bangkit dari sofa, ia berjalan mendekati Bianca yang sudah salah tingkah sejak mengetahui kalau Ilham masih ada disini.


Bianca : "Terima kasih. Kalau kamu mau makan, ambil saja di kulkas ya."


Ilham menatap Bianca yang mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Ia tampak tidak nyaman memakai piyama itu.


Ilham : "Aku akan kembali mengambil piringnya."


Bianca : "Iya..."


Wajah Bianca merona, ia senang sekai mendapatkan perhatian Ilham, tinggal hatinya.


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------