
Extra part 64 Riri & Ello
Ello menggendong Riri keluar dari gua, ia membawa Riri
ke kapal pesiar dengan menggunakan perahu motor milik tim penyelamat. Sedangkan
Dion naik ke speed boat yang dikemudikan anak buah Kapten Bonbon. Dokter
pribadi Ello sudah menunggu mereka di kapal. Melihat Riri sudah ditangani
dokter, Dion memerintahkan anak buahnya berjaga-jaga, sementara ia masuk ke
kabinnya sendiri.
Ketua tim penyelamat mengejar Dion untuk menanyakan
tentang ciri-ciri penculik yang berada di kapal. Dion meminta ketua tim untuk
melihat rekaman CCTV kapal sehingga mereka bisa mengindetifikasi dokter yang
menculik Riri. Setelah kepergian ketua tim itu, Dion menelpon Lili.
“Halo, pah,” sapa Lili.
“Mah, mama percaya sama papa kan? Papa tidak akan
menyentuh Riri apapun yang terjadi?” tanya Dion meminta kekuatan pada Lili.
“Tentu saja mama percaya sama papa. Apa yang
terjadi, pah?” tanya Lili mulai kuatir. “Apa Riri baik-baik saja?” tanya Lili
lagi.
“Ya, dia sudah membaik. Tadi...,” Dion menceritakan
semua yang terjadi ketika Riri diculik. Ia menceritakan secara detail semua
kejadian sampai Ello menemukan Dion dan Riri di dalam gua.
Dion menekan tombol speaker untuk bicara dengan
Lili. Ia menceritakan semua itu sambil membuka ikatan kain di tangannya. Tangan
kirinya terluka cukup parah setelah Dion mengorbankan tangan kirinya untuk
digigit Riri. Pria itu harus melakukan itu agar Riri tidak menggigit lidahnya
sendiri.
Entah obat apa yang disuntikkan dokter itu pada
Riri. Reaksi Riri sekilas seperti wanita yang terkena obat perangsang hebat.
Wanita itu tidak berhenti meraba tubuh Dion dan saat Dion mencoba menahan
tangan Riri, wanita itu berusaha menyakiti dirinya sendiri.
“Tanganmu gimana, pah?” tanya Lili kuatir.
“Sepertinya perlu dijahit. Darahnya belum berhenti
keluar. Dokter masih memeriksa Riri tadi. Papa rasa ini bukan akhirnya, mah. Mereka
tidak akan melepaskan Riri dan Ello begitu saja. Firasat papa mengatakan ini
baru awalnya saja,” kata Dion sambil merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.
“Kira-kira siapa yang berani melakukan semua ini,
pah?” tanya Lili.
“Mungkin dia sudah kembali, mah. Bersiaplah untuk
yang terburuk. Papa tutup dulu, ada yang datang,” kata Dion ketika mendengar
langkah kaki seseorang mendekati kabinnya.
Tok, tok, tok! Pintu kabin Dion diketuk seseorang.
Dion bangkit dari atas tempat tidurnya dan membuka pintu. Dokter pribadi Ello
tampak berdiri di depannya.
“Dion, kata tuan muda Ello, kamu terluka. Biar
kuperiksa,” kata dokter itu.
Dion membuka pintu lebih lebar, ia duduk kembali di
pinggir tempat tidurnya. Dokter membuka balutan kain yang penuh darah ditangan
kiri Dion. Ia segera mempersiapkan peralatan medis untuk menjahit luka Dion.
“Bagaimana keadaan nyonya muda?” tanya Dion tanpa
perubahan ekspresi saat dokter menyiramkan alkohol ke lukanya.
Tubuh Dion sudah melewati batas rasa sakit akibat
luka bakar yang dialaminya. Luka terkoyak seperti yang ia alami sekarang tidak
memberikan rasa sakit yang berarti bagi Dion.
“Sepertinya obat yang masuk ke tubuh nyonya adalah
obat perangsang yang sangat kuat. Terlambat sedikit lagi, semua syarafnya akan
rusak. Kenapa kau tidak membantu nyonya, Dion?” tanya dokter juga tanpa
ekspresi.
Dion tahu kalau dokter itu sangat profesional,
segala sesuatu harus bisa dilakukan dengan cepat dan tepat. Tindakan pertolongan
pertama selalu dokter itu ajarkan pada Dion dan juga Lili jika sewaktu-waktu
Riri dan Ello terluka.
“Lebih baik aku mati daripada menyentuh nyonya
muda,” desis Dion dengan tatapan mata dingin.
“Kalau kau tidak menolongnya, bisa saja semuanya
akan terlambat. Apa kau sadar? Mau obat bius?” tanya dokter itu.
Dion menggeleng, ia tidak akan menyentuh Riri
apapun yang terjadi. Pria itu sangat mengenal karakter Riri. Istri Ello itu
akan memilih mati daripada membiarkan tubuhnya dijamah pria lain.
“Nyonya muda akan mati kalau aku melakukannya. Dia
akan lebih senang syarafnya rusak daripada tubuhnya disentuh pria lain selain
tuan muda,” kata Dion tegas.
“Kau sangat berkarakter, Dion. Tapi tindakan yang
tepat harus dilakukan dengan cepat. Kau harus memahami situasi mana yang
darurat dan mana yang tidak. Apa kau mengerti yang aku katakan?” tanya dokter
bernama Nato itu.
“Diamlah, dokter. Aku ini pengawal pribadi mereka
berdua. Sudah jadi tugasku menjaga mereka berdua. Termasuk menjaga prinsip dan
juga keinginan mereka. Aku tidak akan mengkhianati tuan muda apapun yang
terjadi. Lebih baik aku mati!” Dion membentak dokter yang sudah mulai menjahit
tangan kirinya.
Dokter Nato mengeluh kalau ia memerlukan meja
operasi atau setidaknya lampu yang lebih terang. Dion mengambil ponselnya lalu menghidupkan
lampu blitz. Setelah pandangannya lebih baik, dokter itu mulai bekerja dengan
cepat. Kening Dion berkerut melihat hasil obrasan dokter Nato yang hampir
selesai. Ia berdecih malas melihat bentuk tangan kirinya yang mulai membengkak.
“Kalau kau terus bersikap seperti ini, aku akan
menyuntikmu dengan obat tidur. Berhenti menatapku begitu!” Dokter Nato
menggunting benang terakhir dan proses menjahit luka di tangan kiri Dion
setelah memperhatikan tubuh Dion.
“Nyonya muda ingin menabrakkan dirinya ke dinding
gua. Aku hanya menjadi bantalannya saja. Tidak sakit juga,” kata Dion santai
seolah lebam itu bisa hilang ketika ia mandi nanti.
Dokter membungkus tangan Dion dengan plester tahan
air yang paling kuat. Ia juga memaksa memakaikan obat lebam ke tubuh Dion. Bahkan
ada bekas gigitan lagi di lengan kanan Dion dan juga cakaran kuku. Dokter Nato
geleng-geleng kepala dengan luka yang diderita Dion. Seharusnya pria itu sudah
menjerit kesakitan sejak tadi, tapi ia bahkan tidak menunjukkan ekspresi
kesakitan sama sekali.
“Permisi pak. Kapten Bonbon ingin bicara dengan
anda,” pinta salah satu kru kapal dari depan kabin Dion.
Pria itu segera memakai kaos hitam, lalu berjalan
keluar kabinnya tanpa mempedulikan dokter Nato lagi. Padahal luka Dion belum selesai
diobati. Dokter itu hanya bisa pasrah menghadapi Dion yang keras kepala.
Dion segera ke anjungan untuk menemui Kapten
Bonbon. Ketua tim penyelamat juga ada disana. Mereka berdiskusi tentang kemungkinan
mengejar kapal di penculik. Sebuah kapal tampak di depan mereka, ketika Dion
melihat lewat teropong.
“Kita bisa saja mengejar kapal itu, tapi kesehatan
nyonya muda juga sama pentingnya. Jangan sampai kita melibatkan mereka saat
penyergapan. Kapten, kau punya saran?” tanya Dion.
“Apa kau bisa melacak pelacak yang satunya lagi?
Tadi tuan Ello bilang kalau ada dua pelacak. Satunya di laut dan satunya lagi
di pulau. Kami menemukan kalian berdua di pulau. Jadi kemungkinan pelacak yang
satunya ada di kapal itu. Kita bisa meminta patroli laut untuk menangkap
mereka. Bagaimana?” tanya Kapten Bonbon.
Dion segera membuka aplikasi pelacak di ponselnya.
Memang ada pelacak yang bergerak menjauhi kapal mereka tepat di depan mereka. Kapten
Bonbon mengirimkan laporan lewat radio kalau ia melihat transaksi mencurigakan
diatas sebuah kapal yang koordinatnya langsung disebutkan Kapten Bonbon.
“Kapal patroli akan mengejar kapal itu. Kita bisa
kembali dulu untuk menurunkan tuan dan nyonya. Kau mau ikut aku mengejar
mereka?” tanya Kapten Bonbon.
Dion mengangguk, ia tidak akan melepaskan dokter
sialan yang sudah membuat Riri menderita seperti itu.
**
Sementara itu di dalam kabin Ello dan Riri.
Ello menarik nafas panjang usai penyatuannya dengan
Riri. Dokter Nato meminta Ello untuk melakukan kewajibannya sebagai suami Riri
agar wanita itu tidak mengalami kerusakan syaraf. Diusapnya kening Riri yang
mulai menggeliat lagi.
“Yank, kamu udah sadar?” tanya Ello.
“Mas Ello, panas, mas. Hu..hu..hiks.. panas,” lirih
Riri mulai menangis lagi.
Ello mengusap pipi Riri yang langsung menarik
tangannya. Riri menarik tengkuk Ello, lalu mencium bibir suaminya itu. Sesekali
Riri menggigit bibir dan juga tangan Ello.
“Aaooww!!” pekik Ello kesakitan. Ia tidak habis
pikir bagaimana bisa Riri bisa jadi sebuas itu. Mereka sudah bermain sekali
tapi Riri seolah masih belum puas.
“Yank, jangan gigit lagi ya. Aku masukin lagi.
Sabar dong,” pinta Ello berusaha bersikap lembut, tapi Riri malah menerjangnya
dengan tidak sabaran.
“Mas... Ello... Angelo!!” panggil Riri tanpa henti.
Tubuh Riri bergerak liar menuntut Ello memuaskan dirinya. Ello harus
berkonsentrasi agar Riri bisa terpuaskan dulu sebelum tenaganya habis.
**
Tiga jam kemudian, Dion mendekati kabin Ello dan
Riri. Tadi Ello memanggilnya tapi Dion mengulur waktu sampai sepuluh menit
sebelum mengetuk kabin mereka. Pintu kabin terbuka memperlihatkan Ello dengan
tampang kusut yang terlihat sangat lelah.
“Lo ngapain manggil gue?” tanya Dion dingin.
“Kita udah sampai mana? Gue ngerasa kapal udah
berhenti,” kata Ello sambil memberi jalan Dion untuk masuk ke kabinnya.
“Udah sampai dari dua jam lalu. Lah, lo nggak
keluar kamar. Gue minta yang lain nggak ganggu lo dulu. Lo mau pulang sekarang?”
tanya Dion sambil menurunkan baju lengan panjang yang dipakainya menutupi bekas
gigitan dan cakaran Riri.
“Lo babak belur juga? Gue mau nanya kejadian di
gua,” kata Ello.
“Lo yakin mau tahu sekarang? Kayaknya Riri masih
perlu lo. Tuch, dia bangun,” kata Dion sambil menunjuk Riri dengan dagunya.
“Mass!!” jerit Riri memanggil Ello.
“Haduh, gue dah laper gini. Gimana caranya bikin
Riri puas ya?” tanya Ello minta bantuan pada Dion.
“Lo pake tangan kan bisa. Biasanya juga lo kuat
berjam-jam. Ini baru tiga jam. Kalah lo ama gue,” ejek Dion kurang ajar.
Tapi Dion kasihan juga melihat Ello sudah babak
belur. Ia beranjak ke kamar mandi lalu mengisi bathup dengan air dingin. Dion
meminta Ello menggendong Riri masuk ke bathup. Ia memalingkan wajahnya saat
Ello membuka selimut yang menutupi tubuh Riri.
“Lo ikutan masuk sana. Sampai Riri tenang. Gue cerita
dari sini,” kata Dion sambil mengambil kursi lalu duduk membelakangi kamar
mandi yang terbuka.