Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 2


Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 2


Apa Mia akan marah dengan kenyataan itu? Tentu saja tidak. Biar bagaimanapun, Renata bukan putri kandungnya. Kalaupun Reynold ingin menikahi Renata, Mia sama sekali tidak keberatan. Ia hanya memikirkan bagaimana perasaan Renata ketika tahu kalau dirinya bukan putri kandung Alex dan Mia.


“Kapan kalian kembali ke negara A?” tanya Mia mencairkan kegugupan yang melanda Renata.


“Besok pagi, mah. Aku ada interview gelombang kedua. Kalau lolos, aku bisa kerja di perusahaan bonafit, mah,” kata Renata dengan senyum sempurnanya.


Mia mengangguk-angguk, keinginan putrinya untuk bekerja di negara A memang sempat ditentang Alex. Tapi Mia meyakinkan Alex kalau Reynold akan menjaga Renata disana. Lagipula kesempatan bekerja di negara asing itu tidak datang dua kali. Renata bisa banyak belajar tentang bisnis dan attitude dalam pekerjaan disana.


“Rey, kalau calon pacarmu udah jadi pacar, kenalin dong ke oma. Nggak bilang sama mama dech,” tawar Mia.


Reynold mengangguk dengan cengiran khas-nya yang nakal. Sikunya menyenggol lengan Renata sampai gadis itu terbatuk-batuk karena kaget. Mia menahan senyumnya, menggoda mereka berdua sangat menyenangkan. Apalagi ketika tadi Mia melihat Reynold ingin mencium Renata.


Bisa saja memergoki mereka, tapi Mia ingin membantu Ken yang katanya ingin mengerjai Reynold. Sekarang Mia bisa mencari tahu alasan kenapa Ken ingin melakukan hal seperti itu. Bergantian Mia menatap wajah Renata dan Reynold. Keduanya sangat serasi kalau menjadi pasangan. Sama-sama sangat tampan dan sangat cantik. Anak-anak mereka akan jadi anak-anak yang luar biasa.


Memikirkan akan seperti apa wajah anak-anak Reynold dan Renata membuat Mia senyum-senyum sendiri. Tapi membayangkan kemarahan Rara dan Arnold, menghilangkan senyuman Mia. Entah bagaimana cara memberitahu putrinya itu. Apa Rara akan mendengarkan kata-katanya tentang kebenaran kelahiran Renata?


Melihat Mia yang senyum-senyum sendiri, lalu mendadak berpikir keras, membuat Renata menyikut Reynold. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan, ‘tanya gih’.


“Oma, kenapa kesini?” tanya Reynold.


Renata menyikut pinggang Reynold memberi rasa sakit sampai terbungkuk-bungkuk. Pria itu menoleh menatap Renata, minta penjelasan kenapa dirinya harus merasakan sakit seperti itu.


“Tentu saja nyari aku, kak. Masa nanya gitu sich,” protes Renata.


Reynold manyun, ngambek, lebih baik pindah duduk di lantai lagi daripada kena sikut.


“Bentar lagi kan anak oma mau pergi lagi. Wajar dong kalau oma kesini. Kan masih kangen. Emangnya nggak boleh ya, Rey?” tanya Mia memasang ekspresi lucu pura-pura cemberut.


*”Kalau oma nggak kesini\, udah habis bibirnya Renata aku bikin bengkak.”* gerutu Reynold dalam hatinya.


Pria itu hanya nyengir lebar sebelum lanjut merapikan isi koper Renata. Gerakannya terhenti mendengar Mia meminta Renata mengganti bajunya. Dibelakangnya, Renata bangkit dari atas tempat tidur, lalu membuka retsleting dressnya.


“Loh, Ren. Masih ada Reynold disini. Kamu nggak ganti baju di kamar mandi aja?” tanya Mia sambil melirik Reynold yang tetap anteng memasukkan baju ke dalam koper.


“Kak Rey nggak bakalan noleh juga, mah. Kak Rey, ambilin baju gantiku,” titah Renata sebelum menurunkan dress yang dipakainya.


Reynold mengambil baju kaos dan celana pendek Renata, lalu mengulurkannya ke belakang tanpa menoleh. Gadis itu cuek saja memakai kaos dan celana pendeknya tanpa kuatir kalau Reynold akan melihatnya. Bisa di bogem Mia kalau Reynold berani menoleh mengintip Renata.


Lagipula Reynold memang tidak pernah bersikap kurang ajar pada Renata. Dihadapan gadis itu, ia selalu menjaga matanya. Kalau kebetulan melihat Renata sedang ganti pakaian, ia akan segera berbalik membelakangi gadis itu. Mia sangat menikmati berada di kamar Renata hari itu. Ia sengaja berlama-lama agar Reynold tidak punya kesempatan mencium Renata.


“Ren, kamu belum punya pacar, kan?” tanya Mia iseng.


“Belum, mah. Emangnya kenapa?” tanya Renata polos.


“Mama kenalin sama cowok ganteng, mau nggak?” tawar Mia sambil melirik reaksi Reynold.


Sungguh lucu melihat Reynold bolak-balik memindahkan baju Renata yang sudah rapi di dalam koper. Sepertinya fokusnya terpecah karena mendengarkan tawaran Mia pada Renata.


“Siapa, mah?” tanya Renata kepo.


“Itu anaknya om Dion. Namanya Leon. Dia mau ikut Donatello ke negara A juga. Donatello kan mau kerja di perusahaan kak Elo disana. Mereka nanti tinggalnya di mansionnya kakek Michael,” jelas Mia.


“Boleh juga, mah. Boleh kan, kak Rey,” kata Renata menekankan kata-katanya.


Reynold tidak menyahut. Ia selalu menghalangi siapapun pria yang ingin mendekati Renata. Mereka yang berusaha menarik perhatian Renata meskipun hanya dianggap teman saja, akan menyerah karena tekanan yang diberikan Reynold. Renata juga bingung sebenarnya kenapa semua pria yang mendekatinya, akan menjaga jarak ketika pertemuan kedua dan seterusnya.


“Kenapa harus nanya Reynold? Emangnya Reynold nggak ngasih kamu deket-deket sama cowok ya, Ren?” tanya Mia lagi.


“Mereka aja yang minder ketemu aku. Kalah ganteng dan pinter dong,” sahut Reynold sangat percaya diri.


Renata memajukan bibir bawahnya sambil menatap Mia yang terkikik geli. Merasakan firasat yang aneh, Mia tiba-tiba bangkit dari duduknya.


“Mama baru inget ninggalin papamu di kamar tadi. Bentar mama cek dulu ya,” kata Mia hampir berjalan keluar.


“Ngapain sich di cek segala, mah. Papa kan udah gede. Ntar juga nyariin mama kesini. Aku masih kangen sama mama,” kata Renata takut ditinggal berdua dengan Reynold.


“Oh, iya ya. Papamu udah gede, bukan bayi lagi,” kata Mia batal keluar dari kamar Renata.


“Bukan bayi, tapi kalau masih nyusu. Sama aja masih bayi, oma,” sahut Reynold.


Renata menatap Mia seolah bertanya apa maksudnya. Mia mencubit pinggang Reynold karena mencemari otak Renata. Pria itu kegelian di gelitiki Mia sampai minta ampun.


“Rey, mulutmu tuch dijaga. Renata masih polos, belum tahu hal-hal seperti itu. Ngerti nggak,” kata Mia masih sibuk mencubiti Reynold.


“Iya. Ampun, oma. Geli banget! Ampun!” jerit Reynold.


Renata tertawa melihat kelakuan Mia yang mencubiti Reynold. Ia sangat senang karena Mia masih ada bersamanya di kamar itu. Tapi tidak berlangsung lama, Alex beneran datang mencari Mia. Sepertinya bukan hanya Ken dan Kaori saja yang ingin melewati malam pertama pernikahan.


“Mia, sini. Dari tadi aku cariin, taunya disini,” panggil Alex dari depan kamar Renata.


“Iya, mas. Ini lagi nemenin Renata kemas-kemas. Mas mau apa?” tanya Mia sambil menghampiri Alex.


Pria yang sudah jadi kakek dan hampir punya buyut itu, hanya menatap Mia tanpa mengatakan apa-apa. Sambil tersenyum manis, Mia balas menatapnya juga.  Sebelum menutup pintu kamar Renata tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Hening. Renata dan Reynold menatap pintu yang sudah tertutup kembali. Perlahan Renata bergeser menarik selimut menutupi tubuhnya sampai ke leher. Saat Reynold menoleh ke belakang, dirinya langsung menutupi  seluruh tubuhnya sampai ke kepala sekalian.


Renata merasakan tempat tidur sedikit bergoyang saat Reynold duduk di pinggir tempat tidur. Selimut yang menutupi kepalanya sedikit tertarik hingga terlihat matanya.


“Aunty, aku nggak minta sekarang. Kapan aunty siap, kita lakukan. Tapi jangan paksa aku cari pacar. Dan aku nggak sudi aunty juga cari pacar,” kata Reynold.


“Kok gitu? Aku kan nggak mungkin jomblo seumur hidup,” protes Renata.


“Kalau kita sama-sama jomblo, mungkin kita bisa bersama,” kata Reynold serius.


Renata menggeleng, baginya kata-kata Reynold sangat tidak masuk akal. Reynold mengukung Renata dengan kedua tangan kekarnya. Ia menempelkan keningnya ke kening Renata.


“Kak Rey, jangan bicara sembarangan. Kakak tahu itu nggak mungkin,” kata Renata dengan pipi merona.


“Kalau nggak mungkin, kenapa aunty mau aku cium? Apa urusan aunty, aku punya pacar atau nggak?” tanya Reynold menekan Renata.


Mata Renata terbelalak kaget, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Reynold. Kalau debaran jantungnya sekarang bisa dikatakan perasaan lain terhadap pria itu, bagaimana bisa terjadi.


”Sejak kapan aku berdebar gini kalau dekat kak Rey. Renata, dia adalah ponakanmu. Anaknya kak Rara. Jangan jatuh cinta padanya!” batin Renata meronta-ronta.


“Kak Rey, aku mau ke toilet. Minggir dong,” kata Renata ingin mengelak.


Reynold menyingkir dari atas tempat tidur dan membiarkan Renata masuk ke kamar mandi. Merasa lelah dan ingin tidur, Reynold beranjak keluar dari kamar Renata. Ia masuk ke kamar Reymond yang sekamar dengan Roy. Keduanya menoleh menatap Reynold yang langsung berbaring di atas tempat tidur tanpa mengatakan apa-apa.


Saat Renata keluar dari kamar mandi, ia celingukan mencari dimana Reynold. Pria itu menghilang lagi tanpa mengatakan apa-apa.


“Sejak kapan hubungan kami jadi aneh begini. Apa sebaiknya aku pindah dari apartment kak Rey ya?” gumam Renata.


Tapi gadis itu menggeleng, bukan ide yang baik untuk menghindari masalah. Sebaiknya Renata menanyakan dulu maksud kata-kata Reynold. Kalau sampai pria itu punya perasaan padanya, Renata harus memberi pengertian pada Reynold kalau hubungan mereka tidak bisa berlanjut.