
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 19
Hari belum berganti saat Ken menerima telpon dari Alfian. Saat ini hanya keluarganya yang bisa menjaga emosi Renata. Kening Ken mengerut ketika menyadari mansion tempat Renata berada sangat dekat dengan mansion miliknya. Mansion mewah itu tidak terlihat karena berada di kawasan paling jauh dari pintu masuk. Ken dan Kaori tiba dengan cepat. Kecemasan tampak di wajah cantik Kaori.
Alfian yang menyambut kedatangan Ken dan Kaori, tertegun menatap wajah Kaori. ‘Kenapa Renata ada
disini?’ Pikirnya bingung. Semakin hari, wajah Kaori memang semakin mirip dengan Renata. Tidak heran karena mereka bersaudara kandung.
“Alfian, kenapa kamu menatap istriku seperti itu?” tanya Ken tidak suka.
Pria itu gelagapan, ia menggeleng lalu meminta maaf dengan sopan. “Maafkan saya, Tuan Ken. Saya kira Nyonya ini adalah Renata,” ucap Alfian tegas.
Ken dan Kaori saling pandang lalu tersenyum sekilas, membuat Alfian memikirkan hal lain. Alfian segera mempersilakan keduanya untuk menunggu sebentar di sofa ruang tengah. Setelah pelayan menghidangkan sajian dan teh hangat, tiba-tiba seseorang masuk dengan terburu-buru.
“Dimana dia?! Dimana Renata?!” pekik Reynold yang langsung menarik kerah jas Alfian.
“Kak Rey, jangan emosi!” pekik Kaori kaget melihat Reynold terlihat sangat marah.
“Kaori? Dimana Renata? Aku coba hubungi dia tapi orang lain yang ngangkat telponnya. Seharian ini aku nyari dia kemana-mana,” jelas Reynold.
“Trus kenapa kamu bisa tahu dia disini?” tanya Ken telak mengusik perhatian Reynold.
“Aku meretas ponselmu,”aku Reynold dengan suara kecil.
Ken terdiam, memahami kenapa ponselnya mendadak tidak mau bekerja seperti kehendaknya. Rupanya ponakan kecilnya ini meretas ponselnya untuk tahu keberadaan Renata. Senyum sinis menghiasi bibir Ken, ia belum mau mengatakan kebenarannya pada Reynold.
"Tidak sekarang, ponakanku sayang. Aku masih ingin bermain-main denganmu." Ken menyeringai jahil dalam hatinya.
"Tuan-tuan dan Nyonya, silakan ikut saya ke kamar Renata," ucap Alfian memecah kesunyian diantara mereka.
Mereka bertiga beranjak mengikuti langkah Alfian yang memimpin di depan. Setelah mencapai tangga teratas, mereka melihat dua pelayan baru saja keluar dari sebuah kamar.
"Ada apa? Apa Renata sudah mau makan?" tanya Alfian.
Salah satu pelayan itu membungkuk lalu mengatakan kalau Renata kembali muntah-muntah. Mereka baru saja membantunya bersih-bersih. Reynold yang tidak sabar lagi, berjalan cepat mendekati pintu lalu membukanya dengan tidak sabaran.
"Renata!" panggilnya dengan suara yang membuat Renata mengelus dadanya kaget.
"Kak Rey!" ucap Renata dengan wajah merengek. Kedua tangannya terentang ingin dipeluk pria itu, tapi mendadak Renata menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Renata menggeleng, ia merasa belum cukup bersih untuk disentuh Reynold.
"Renata, apa yang terjadi? Ini aku, Reynold. Hei, sayang," panggil Reynold sambil menarik selimut yang menutup tubuh Renata.
"Jangan kesini, kak. Aku kotor," ucap Renata dengan air mata yang mulai berlinang.
Reynold mengepalkan tangannya, Renata seperti membangun tembok besar di sekelilingnya. Saat dirinya menyamar sebagai direktur FoRena Group, Renata justru lebih mudah mengeluarkan emosinya.
"Renata, jangan acuhkan aku. Aku mencintaimu," bisik Reynold yang hanya bisa didengar Renata.
Deg! Debaran jantung Renata membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Mendapat perlakuan kasar dari Abdi meninggalkan perasaan trauma pada Renata. Ia takut ditinggalkan dan dibiarkan sendirian. Kini Reynold menyatakan perasaannya, apa memang tulus atau untuk menjaga perasaannya saja? Renata membuka sedikit selimutnya, ia menatap wajah super tampan Reynold yang menjadi incaran para wanita seksi di luar
sana. Apa yang akan dilakukan Reynold kalau tahu Renata sudah dicium pria lain? Renata ingin tahu reaksi Reynold.
"Kak, aku... pria itu menyentuh tubuhku dan... menciumku dengan paksa. Kak, aku... merasa kotor," lirik Renata terbata-bata.
Reynold masih diam ditempatnya semula, Renata menunduk kecewa. Reynold pasti marah padanya yang tidak bisa menjaga diri. Duk! Tiba-tiba Reynold jatuh berlutut di hadapan Renata.
“Kak, apa yang kakak lakukan?!” pekik Renata kaget. Ia berusaha bangun untuk menarik Reynold, tapi kepalanya mendadak pusing. Dirinya belum makan apa-apa, hanya air putih yang sempat masuk ke dalam lambungnya. Itupun sempat ia muntahkan juga.
“Maafkan aku, Renata. Aku tidak bisa menjagamu. Tolong maafkan aku,” lirih Reynold gemetar. Suaranya serasa tercekik saat bicara, membuat Renata terpana melihat reaksi Reynold.
“Kak Rey,” lirih Renata sedih. Kedua tangan Renata terulur ke depan, ia ingin memeluk Reynold meski kepalanya pusing lagi.
Keduanya berpelukan erat dengan Renata yang masih saja terus terisak. Kaori hampir melangkah masuk ke
dalam kamar itu, tapi Ken menahan istrinya.
“Sayang, biarkan mereka berdua dulu. Kita tunggu dibawah saja,” ucap Ken lalu menuntun Kaori yang hanya bisa mengangguk.
Alfian menatap kedua sosok yang menjauh sebelum mengintip ke dalam kamar. Ia tersenyum kecil melihat
kemesraan bosnya dan Renata. Ada banyak rahasia yang ia baru tahu sekarang, tapi belum cukup memahami semuanya. Biarlah waktu yang akan menjawab rasa penasarannya. Perlahan Alfian menutup pintu kamar Renata dan beranjak menyusul Ken dan Kaori.
Reynold melepaskan pelukannya lalu menangkup pipi Renata dengan kedua tangannya. Diusapnya air mata yang membasahi kedua pipi gadis itu dengan ujung jempolnya. Keduanya menatap dalam, seolah mengatakan perasaan satu sama lain. Reynold menunduk lalu mencium bibir pucat Renata. Gadis itu mendorong Reynold, binar matanya tampak ketakutan. Malu dan merasa tidak pantas, Renata menggeleng pelan.
Dagunya terangkat dengan cepat, menyisakan nyeri di tengkuknya. Pria dihadapannya kembali mencium
“Ja—ngan—meno—lak—ku—Re—na—ta. Lu—pa—kan.” Reynold mencoba bicara disela-sela ciuman mereka yang mulai membara.
Renata mulai fokus menerima sentuhan Reynold. Kepalanya sudah semakin pusing, dada berdegup kencang, dan nafas yang semakin menipis. Perutnya terasa geli dengan banyak kupu-kupu yang beterbangan. Renata tidak berani membuka matanya, ia melihat bayangan Reynold ada dua.
“Ach... geli...mmmppp...”Renata mengerang ketika tangan Reynold menyentuh perutnya.
Pria itu masih menciumnya, seolah kehausan dan menemukan sumber air pada bibir Renata. Rambutnya sudah berantakan karena jambakan Renata. Sungguh, Reynold tidak mau berhenti sekarang. Dirinya masih sadar dan bisa menahan diri untuk tidak membuka pakaiannya sama sekali. Tapi ia tidak melihat keadaan Renata yang hampir polos dihadapannya.
“Re—na---ta,” bisik Reynold.
Gadis itu tersanjung mendengar namanya dipanggil dengan suara seksi nan menggoda. Renata menjerit
kecil ketika rasa sakit menyerang luka di tubuhnya. Bibir mungilnya mendesis terdengar seksi di telinga Reynold. Pria itu berusaha menghapus jejak yang ditinggalkan Abdi. Ketika dirasa cukup, Reynold menegakkan tubuhnya. Mata hitamnya menatap tajam kedua mata Renata yang masih terpejam.
“Ren, aku mau lihat punggungmu,” pinta Reynold lalu membalik tubuh Renata dengan cepat.
Ada lebam yang cukup besar di punggung Renata, sepertinya terbentur sangat keras. Alih-alih mengusap
lebam itu, Reynold mengecup ringan seluruh punggung Renata. Tubuh gadis itu gemetar, bukan karena ketakutan. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya ingin mendesak keluar. Semakin mendesak seiring semakin gencarnya Reynold menciumi punggungnya.
“Kak!! Ach!!” pekik Renata nyaring.
Tubuh Renata menegang sampai melengkung ke belakang sebelum melemas dengan cepat. Bruk! Renata
menutup wajahnya dengan bantal. Perutnya masih terasa geli, ribuan kupu-kupu tadi mulai berhenti bergerak. “Apa yang barusan? Aku kenapa?” Hati Renata bertanya-tanya. Ia tidak pernah merasakan pelepasan saat puncak kenikmatan diraihnya. Seluruh tubuhnya terasa sangat rileks, bahkan pusing kepalanya mulai berkurang.
“Ren? Kamu nggak apa-apa?” tanya Reynold kuatir.
Renata hanya sanggup menggeleng, wajahnya terasa sangat panas. Jangan-jangan setelah sakit kepala, ia demam sekarang. Suasana di sekitarnya menjadi sangat panas membakar. Renata berkeringat, tubuhnya terasa lembab dan tidak nyaman. Reynold mengusap kasar wajahnya, sudah tidak bisa mundur lagi. Dirinya harus terang-terangan menyatakan perasaannya pada Renata sekarang.
“Renata, lihat aku. Please. Aku harus bicara penting,” pinta Reynold.
“Kak, bi—bisakan kakak merem dulu. Aku mau duduk,” sahut Renata malu.
“Sudah, Ren. Aku janji nggak akan ngintip. Kamu duduk pelan-pelan,” ucap Reynold.
Renata melirik ke belakang, Reynold memejamkan matanya sambil mengulurkan kedua tangannya. Renata
bangkit perlahan lalu duduk di hadapan Reynold. Diliriknya pakaiannya yang berserakan di sekitar tempat tidur. Renata melihat ada bekas memerah di tubuhnya menutupi luka yang ditinggalkan Abdi.
“Kak, kenapa lukanya ditambah lagi. Sakit, kak,” rengek Renata sebelum menarik selimutnya mengerubungi dirinya.
“Maafkan aku, Ren. Aku hanya ingin menghapus jejak pria itu dari tubuhmu,” kata Reynold masih memejamkan matanya.
“Apa jejaknya sudah terhapus semua?” tanya Renata.
Reynold membuka matanya, saat bertemu pandang, Renata refleks menunduk. Tangan Reynold meraih
dagu Renata lalu menariknya agar pandangan mereka sejajar. Senyum menenangkan terbit di sudut bibir Reynold. Hanya anggukan kepala Reynold, mampu menerbitkan senyum di bibir Renata.
“Renata, mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Terlepas dari status keluarga kita, aku hanya ingin
mengatakan kalau aku mencintaimu, Renata. Sejak pertama kali aku melihatmu di dalam boks bayi saat usiaku tujuh tahun. Aku sempat bertanya kenapa malaikat bisa jatuh ke dunia? Apa karena negeri diatas awan sana sudah penuh dengan malaikat? Tapi aku paham sekarang. Kamu memang malaikat yang nakal, pencuri
hatiku,” ucap Reynold sungguh-sungguh.
Renata hanya bengong terpesona mendengar kata-kata Reynold. Pria itu sampai melambaikan tangannya
untuk menyadarkan Renata. “Ren, aku memang ganteng. Jangan ngeliatin gitu. Nanti ilermu netes,” canda Reynold.
“Kak Rey!!” jerit Renata keki.
Suara tawa Reynold terdengar dari dalam kamar itu. Pelayan yang bertugas menguping, segera memberi
tahu Alfian kalau mereka berdua sedang bercanda di dalam kamar. Alfian memerintahkan pelayan untuk membawakan makanan ke kamar Renata. Ken dan Kaori yang masih menunggu, tersenyum satu sama lain. Memang hanya Reynold yang bisa menenangkan Renata. Mengembalikan keceriaan gadis itu dalam sekejap.
“Ken, apa tidak sebaiknya kita beri tahu saja sama mereka. Tentang itu,” kata Kaori memberi kode karena Alfian ada di dekat mereka.
“Aku masih belum puas, sayang. Aku mau lihat sampai sejauh mana dia berusaha. Aku saja mati-matian berjuang untuk mendapatkanmu. Masa dia mau enaknya saja,” ucap Ken keras kepala.
Alfian yang mendengar kata-kata keduanya, hanya bisa diam berpikir. Sejak bertemu dengan Kaori, ia
merasakan ada sesuatu yang aneh. Firasatnya memang sangat kuat. Tidak sedikit Alfian membantu FoRena Group terhindar dari masalah karena instingnya yang tajam. Kali ini Alfian merasa ada rahasia besar yang tersimpan sangat rapat. Rahasia tentang Kaori dan Renata.