Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Pergi dari rumah


DM2 – Pergi dari rumah


“Hii...”jengit Kinanti jijik.


“Gak bau, Kinanti. Inikan punya anakmu


sendiri.”tegur Gadis. Gadis membersihkan baby Kaori dan mengganti popoknya. Ia kembali


memberikan susu pada bayi itu. “Lihat, begitu caranya menjaga bayi.”


“Sepertinya kamu lebih cocok jadi ibunya


daripada aku.”tutur Kinanti.


Gadis menghela nafasnya, “Biar bagaimanapun


kamu tetap ibu kandungnya. Kamu harus belajar mengurus putrimu sendiri.”


“Buat apa? Kan ada mb Roh.”kata Kinanti cuek.


“Mb Roh itu pengasuh si kembar. Disini ada


sedikit orang yang membantu, kalau sikapmu seperti ini, mereka bisa kabur. Kamu


harus merawat baby Kaori sendiri.”


Kinanti cemberut, ia belum mengerti gimana


caranya merawat bayi. Kalau dia bisa menghubungi Endy, dirinya tidak perlu


susah-susah begini.


“Kalau kau berpikir untuk menghubungi Endy,


silakan saja. Tapi segera kemasi barangmu dan bawa Kaori pergi dari sini.”kata


Gadis tajam.


Kinanti menghentakkan kakinya, ia tidak


ingin pergi dari sana. Rio bahkan belum sembuh, setidaknya dia masih punya


Kaori untuk membantunya mengambil hati orang tua Rio. “Aku akan buktikan aku


bisa mengurus Kaori sendiri.”kata Kinanti tersulut emosi. Gadis tersenyum, ia


meletakkan bayi Kaori kembali ke atas ranjang, lalu keluar dari sana.


Malam itu, Gadis terbangun dari tidurnya.


Ia mendengar tangisan Kaori yang tidak kunjung diam. Gadis bangkit dari


berbaringnya, ia keluar kamar mendekati kamar Riri. Pintu kamar tiba-tiba


terbuka, Gadis melihat Kinanti menangis bersamaan dengan bayi di gendongannya.


“Gadis...”rengek Kinanti. Gadis menahan


senyumnya melihat ingus keluar dari hidung Kinanti.


“Kamu kenapa ikutan nangis? Kaori


kenapa?”tanya Gadis belum mau menggendong Kaori.


“Dia gak mau diem. Aku gak bisa tidur.


Gadis, tolong aku.”rengek Kinanti lagi.


Gadis mengambil alih Kaori dalam


gendongannya. Bayi itu segera tenang saat Gadis menimangnya. “Mana


susunya?”pinta Gadis.


Kinanti memberikan botol susu Kaori, Gadis


melihat gumpalan susu yang sudah basi di botol itu. “Ini susu kapan?”tanya


Gadis.


“Susu yang tadi belum habis.”


Gadis masuk ke dalam kamar Riri, ia meminta


Kinanti membuat susu baru. “Susu bayi hanya bisa bertahan 2 jam di suhu


ruangan. Buang kalau sudah lewat 2 jam. Masa kamu gak baca petunjuknya di dus


susu?”tanya Gadis.


Kinanti tidak menjawab, ia membuatkan susu


lagi untuk Kaori. Gadis menerima botol susu baru, ia mendekatkan ujung dot ke


mulut Kaori yang langsung membuka mulutnya. “Bayi umur segini harus sering


minum. Minimal tiap 2 jam harus dikasi minum susu. Kalau nggak, dia bisa kena kuning


nanti.”


Gadis menoleh karena Kinanti tidak


menjawabnya. Ia mendengus kesal melihat Kinanti sudah tertidur pulas.


“Hei, bangun. Kinanti, bangun. Enak banget


kamu tidur. Jagain ini bayimu.”Gadis mengguncang tubuh Kinanti sampai hampir jatuh


dari ranjang.


“Aku ngantuk!”teriak Kinanti.


Untung saja bayi Kaori tidak terbangun lagi


mendengar suara keras Kinanti. “Emang kamu aja yang ngantuk. Urusin nich


bayimu.”


“Gantian ya. Aku ngantuk banget nich. Aku


tidur dulu, gantian sama kamu.”


Gadis menggeleng, dia sudah meletakkan bayi


Kaori yang tertidur lagi disamping Kinanti. Membiarkan Kinanti mengurus bayi


itu sendiri.


Kondisi itu terus berlangsung selama


beberapa hari berikutnya, Gadis hanya terbangun saat mendengar tangisan Kaori


di tengah malam agar Mia tidak ikut terbangun. Akibatnya dibawah mata Kinanti


Kinanti mulai stres mendengar suara Gadis


yang terus terdengar di telinganya. “Kinanti, kasi susu Kaori. Kinanti, ganti


pokoknya, dia hanya kencing. Kinanti, cuci botol susunya harus bersih.


Kinanti... Kinanti... Kinanti...”


“Aku gak mau lagi! Aku udah gak tahan lagi


terus begini!”pekik Kinanti menjambak rambutnya.


“Pelankan suaramu, kamu mau Kaori bangun?


Kamu kenapa?”tanya Gadis.


“Aku belum siap punya bayi. Aku gak bisa


jadi ibu, aku belum siap. Itu lagi, setiap hari melihat Rio hanya duduk diam


tanpa bicara seperti patung. Aku gak bisa hidup begini terus, Gadis.”


“Apa maksud kamu? Kaori sudah lahir, dia


itu tanggung jawab kamu. Kamu kan ibunya. Kamu harus siap jadi ibu.”kata Gadis.


“Aku gak mau! Harusnya aku dan Rio bisa


merawat Kaori sama-sama, tapi ini aku sendirian. Aku gak sanggup lagi!”teriak


Kinanti.


Suara keras Kinanti membangunkan baby


Kaori, bayi itu menangis kencang. Gadis mendekati boks bayi Kaori, mengambil


bayi itu dengan lembut, menimangnya dalam pelukannya.


“Kinanti, tenanglah. Rio akan sembuh. Dia hanya


perlu waktu.”kata Gadis. “Lagipula kita sudah sepakat untuk hidup sama-sama.


Aku...”kata-kata Gadis terpotong.


“Aku bukan kamu, Gadis. Sejak tinggal disini,


aku mengharapkan kebahagiaan seperti saat Kaori bercerita tentang saat bersama


Rio. Aku ingin merasakan pelukan Rio seperti dia memeluk Kaori. Aku ingin dia


menciumku seperti dia mencium Kaori. Tapi aku tidak pernah mendapatkannya. Rio


sudah berubah jadi orang lain, dia tidak seperti yang diceritakan Kaori dulu.”


“Apa kamu sudah gila?! Kamu gak bisa maksa


perasaan seorang seperti itu. Itu bukan cinta.”


“Anggap aku gak cinta sama Rio. Aku hanya


terobsesi memilikinya. Aku kesal sama Kaori, aku benci dia. Cucu kesayangan


kakek dan nenek.”cerca Kinanti tanpa sadar. “Aku gak bisa hidup disini. Endy


selalu memberiku kemewahan. Aku bahkan tidak pernah terlambat makan. Sekarang,


gara-gara bayi ini... Aku capek!”jerit Kinanti frustasi.


Kinanti menoleh menatap lemarinya, ia mengambil


koper besarnya, mengeluarkan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam sana.


Setelah isi lemarinya kosong, Kinanti menutup kopernya. Gadis yang masih


menimang bayi Kaori, tidak bisa mencegahnya.


“Kamu mau kemana? Kinanti, Kaori


membutuhkanmu. Setidaknya demi dia, tetaplah disini. Atau bawa dia bersamamu.


Kamu ibu kandungnya. Kalian orang tua kandungnya.”kata Gadis.


“Aku gak bisa, Gadis. Aku mau pergi dari


sini. Aku gak bisa ngajak Kaori, Endy belum bisa terima keadaan Kaori yang buta.”


“Tapi... dia anakmu...”kata Gadis sedih. “Kalian


tega sekali.”


“Aku gak akan kembali lagi kesini, Gadis.


Kau bisa bilang pada Kaori kalau kamu ibunya. Aku bisa gila kalau terus disini


sebentar saja.”


Gadis berusaha membujuk Kinanti agar tidak


pergi, ia masih menimang bayi Kaori yang menangis mendengar suara keras


Kinanti. Bagaimana bisa Kinanti tega meninggalkan Kaori seperti ini? “Lepaskan,


Gadis. Tolong jaga Kaori untukku. Aku akan kembali ke cinta lamaku, Endy selalu


menungguku kembali.”


“Kau masih berhubungan dengan dia? Tapi


kenapa dia gak mau terima Kaori? Ini anak kandungnya sendiri.”kata Gadis


menunjukkan Kaori yang masih menangis.


Kinanti mengelus kepala Kaori, “Aku takut


mama Endy tidak akan bisa menerima keadaan Kaori. Aku gak bisa membawanya,


Gadis. Dia akan aman disini.”


“Tolong, jangan pergi, Kinanti. Aku


mohon.”pinta Gadis. “Bawa juga Kaori kalau kamu mau pergi. Aku akan membujuk


semua orang untuk tidak menaruh dendam padamu dan Endy. Tolong jangan


tinggalkan Kaori disini.”pinta Gadis.


*****


#Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.