Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Teori tanpa dasar


DM2 – Teori tanpa dasar


“Jangan dihukum dong. Harusnya aku dapat


hadiah. Hmm. Eh, kok kayaknya ada yang aneh ya?”tanya Gadis memikirkan sesuatu.


“Apa yang aneh?”tanya Rio membuka kancing


baju yang dipakai Gadis.


“Aku selalu hamil waktu kamu gak sadar.


Jadi next kalau mau hamil lagi, aku harus bikin kamu gak sadar dulu dong.”kata


Gadis mengatakan teori yang tidak mendasar.


“Masa sich?”tanya Rio membuka pengait bra


Gadis.


“Dulu waktu kamu perkosa aku, aku langsung


hamil kan? Trus waktu kamu masih depresi, belum pulih banget, kita melakukannya


dan aku hamil juga.”jelas Gadis yang gak sadar kalau Rio melucuti pakaiannya.


“Yang terakhir bukan karena kamunya yang


kepengen banget? Waow, kok tambah mengembang dengan baik ya.”kata Rio mengagumi


tubuh Gadis yang polos dibawahnya.


“Hiii...Rio, bajuku mana? Kamu mau


ngapain?”Gadis bisik-bisik takut membangunkan Alex dan Mia.


“Aku mau lihat, dah lama gak pegang juga.


Makanya kamu jangan berisik, ntar papa sama mama bangun.”


“Gak bisa nunggu sampai kita pulang ya? Aku


janji dech kalo dikamar gak pake baju.”kata Gadis berusaha menghentikan niat


Rio.


Rio tidak menanggapi Gadis, ia mulai sibuk


melakukan apa yang terlintas di pikirannya tapi ia masih menahan dirinya untuk


tidak melakukannya sebelum menemui dokter kandungan Gadis. Gadis menutup


mulutnya agar tidak bersuara.


Rio menatap Gadis lagi, menyeka peluh yang


menetes di keningnya. Ia memeluk Gadis, memintanya tidur lagi. Gadis yang sudah


terbuai kenikmatan karena ulah Rio, hanya menurut memejamkan matanya lagi.


Keesokan harinya, Mia terbangun dalam


dekapan Alex. “Mas, bangun. Udah jam berapa sekarang?”tanya Mia sambil


mengambil ponselnya. Ponsel Mia menampilkan jam 6 pagi. Mia mengulurkan


tangannya keatas, merenggangkan tubuhnya yang sedikit pegal. Kepalanya menoleh


melihat ke bed Rio.


“Mas, Rio mana?!”tanya Mia panik. Alex


langsung terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya sebelum melihat bed Rio


kosong.


“Loh, Rio-nya mana?”tanya Alex balik. Mereka


hanya fokus melihat bed Rio, tanpa sadar kalau putranya itu sudah pindah tidur


ke bed istrinya.


“Apa mungkin di kamar mandi?”tanya Alex.


Mia langsung bangun mencari Rio di kamar mandi tapi gak ada siapapun di dalam


sana. Ketika ia berbalik, Mia melihat Alex sedang menatap bed Gadis. Ia


mendekat dan melihat Gadis sedang tidur dalam pelukan Rio.


“Nich anak, malah nyari charger


disini.”kata Alex. “Tuch liat, kayaknya Gadis gak pake baju ya. Bangunin gih.


Suruh pake baju dulu. Aku mau mandi ya.”


Mia mengangguk, “Iya, mas. Ntar lagi juga


Rara dateng bawain baju ganti.”


Setelah Alex masuk ke kamar mandi, Mia


membangunkan Gadis dan Rio. “Gadis, Rio. Bangun. Ayo, bangun.”


Gadis menggeliat duluan, ia memicingkan


matanya melihat sosok Mia ada di depannya. “Ma... mama. Pagi mah.”kata Gadis


malu-malu seperti pengantin baru kepergok habis malam pertama.


Gadis merapatkan selimutnya menutupi


bahunya, ia bangkit dari berbaringnya mencari pakaiannya yang dilemparkan Rio


ke bawah bed.


“Pake bajumu dulu, Dis. Bisa sendiri?”tanya


Mia senyum-senyum gak jelas.


Gadis mengangguk, masih malu-malu. “Rio,


bangun.”Gadis mengguncangkan tubuh Rio perlahan. “Sayang, bangun dong. Aku mau


pake baju. Lepasin tanganmu.”


Giliran Rio yang menggeliat, membuka


matanya menatap punggung Gadis yang masih terbuka.


“Hiii...”Gadis terpekik merasakan bibir Rio


menyusuri punggungnya. “Rio, stop. Ada mama.”lirih Gadis malu. Wajah Gadis


sangat merah, ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


geleng-geleng kepala. Biar bagaimanapun dirinya pernah juga merasakan perasaan


seperti itu saat baru pertama menikah. Mertuanya dulu sangat suka menggodanya


dan Alex.


“Loh, Rio udah sembuh ya?”tanya Mia melihat


Rio duduk dan perlahan turun dari bed Gadis. Gadis yang ingin mengambil


pakaian, dicegah Rio. Pria itu mengambilkan pakaian Gadis, membantunya


berpakaian lagi meski dengan tangan masih diinfus.


Setelah Gadis berpakaian kembali, Rio


berbalik menghadap Mia. Ia merentangkan tangannya ingin memeluk mamanya itu.


“Iya, mah. Rio udah sembuh.”ucap Rio sambil


tersenyum lebar.


Mia beranjak memeluk putranya itu dengan


erat. Rio sangat kurus sampai Mia bisa melingkarkan tangannya dengan baik di


tubuh Rio.


“Mama sangat bersyukur, nak. Akhirnya kamu


sembuh. Gadis juga sudah hamil. Akhirnya kalian bisa bahagia bersama Kaori.”kata


Mia.


“Kaori?”tanya Rio tidak mengerti.


Mia menatap Rio dan Gadis bergantian. “Apa


kamu gak inget Kaori? Putri kalian?”tanya Mia.


“Mah, Rio gak bisa ingat kejadian setahun


ini. Pelan-pelan, mah. Rio, Kaori itu anaknya Kinanti sama Endy. Dia sudah jadi


putri kita sekarang.”kata Gadis berusaha menjelaskan pada Rio.


“Maksudmu anak yang dikandung Kinanti waktu


itu?”tanya Rio. Ia memegangi kepalanya lagi. Mia menuntun Rio duduk di kursi


dulu.


“Iya, Rio. Anak yang diakui Kinanti sebagai


anakmu. Nyatanya anak kandungnya dengan Endy. Kinanti pergi dari rumah


meninggalkan putrinya karena tidak tahan melihat kondisimu waktu itu. Kinanti


tidak membawa Kaori, Rio. Dia sudah jadi putri kita sekarang.”jelas Gadis.


Rio terdiam, tiba-tiba ia menggeleng, “Dia


bukan putriku.”ucap Rio dingin. “Seharusnya dia pergi sama ibu kandungnya.


Kenapa harus jadi putri kita?”


Gadis terdiam, sepertinya Rio masih perlu


waktu sampai bisa menerima Kaori.


“Lagian kenapa namanya Kaori? Nama sebagus


itu untuk anak wanita jahat seperti dia masih terlalu bagus.”kata Rio lagi.


“Bagaimanapun juga bayi itu tetap


ponakannya Kaori kan?”kata Gadis hati-hati.


Situasi yang tadinya hangat berubah dingin


setelah Rio mendengarkan kebenaran tentang bayi Kaori. Keberadaan bayi itulah


yang membuatnya depresi, membuat Gadis memintanya menikahi Kinanti. Suatu hal


yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam pikirannya meskipun mereka belum


punya anak sekalipun.


“Rio, mama yang mengambil keputusan mengangkat


Kaori jadi anak kalian. Kedekatan Gadis sama bayi itu membuat mama memutuskan


begitu. Kamu harus melihat bagaimana senang Gadis merawat Kaori.”kata Mia


mencoba membujuk Rio.


Rio terdiam. Ia tidak mau melihat siapapun.


Entah apa yang ia pikirkan saat itu. Tapi Gadis merasakan kalau Rio tidak akan


bisa menerima kehadiran Kaori dengan mudah.


Ceklek! Pintu ruang rawat inap Rio terbuka.


Rara masuk membawa tas besar, ia menyapa semua orang.


“Hai, Rara sudah datang!”katanya dengan


lantang. Rara bingung kenapa tidak ada yang membalas sapaannya. Mereka hanya tersenyum


canggung kecuali Rio yang terlihat melamun. “Loh, Rio udah sembuh?” Mendengar


namanya dipanggil, Rio menoleh menatap Rara. Ia tersenyum merentangkan


tangannya kearah Rara. Rara segera menyambut pelukan Rio. “Akhirnya kamu


sembuh, dik.”


“Iya, kak. Sembuh 100%.”saut Rio.


”Tapi dia tidak bisa menerima kehadiran


Kaori. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah sangat menyayangi Kaori seperti


putriku sendiri. Aku tidak akan sanggup berpisah dengannya.” batin Gadis


sedih.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.