Duren Manis

Duren Manis
Hamil lagi


Beberapa minggu berikutnya, Mia mulai merasa tubuhnya tidak enak. Ia berpikir kalau dia memang akan sakit karena cuaca yang berganti akhir-akhir ini. Alex yang melihat perubahan pada bentuk tubuh Mia, memintanya banyak beristirahat.


Alex : "Kamu istirahat dulu ya. Nanti Bianca kusuruh kesini."


Mia : "Iya, mas. Mmm... Mas pulang jam berapa?"


Alex : "Biasa jam 5 kalo gak ada janji meeting. Kenapa?"


Mia : "Sini dulu dech."


Alex yang sudah rapi dan wangi, mendekat pada Mia yang tersenyum manis. Sekali tarik, Alex jatuh di samping Mia.


Mia mencium bibir Alex, sambil mengacak-acak rambut dan pakaian Alex. Alex yang kebingungan, ikutan mengacak-acak pakaian Mia juga.


Alex : "Sayang, sabar... Aku harus kerja..."


Mia : "Iihh... Itu kalimatku. Sebel."


Alex tersenyum geli melihat Mia ngambek. Ia membujuk Mia dengan cara menciumi tengkuknya hingga Mia kegelian.


Mia : "Geli, mas... Ampun..."


Alex : "Kamu minta jatah nich?"


Mia : "Kamu kan mau kerja!"


Alex : "Aku bisa minta Romi mundurin jadwal 2 jam."


Mia : "Gak nyampe 2 jam..."


Alex : "Trus??"


Mia tersenyum pada Alex yang mau menuruti keinginannya dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi sesuai dengan khayalan Mia.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Mia melambaikan tangan pada Alex yang akhirnya berangkat kerja setelah tertunda 1 jam. Ia masuk kembali ke dalam rumah sambil senyum-senyum.


Nenek dan mb Minah yang melihat Mia tersenyum cerah, langsung menggodanya,


Nenek : "Ehem... Yang telat bangun..."


Mia : "Apa sih, bu..."


Mia tersenyum malu. Ia mendekati dapur dan hampir masuk kesana, sebelum mencium bau sesuatu yang menyengat.


Mia : "Bau apa sich ini?"


Mb Minah : "Saya lagi goreng teri, mb. Buat makan siang nanti."


Mia : "Teri...? Hummph... Hoeekk..."


Mia balik badan dan masuk ke kamar mandi umum disana. Nenek meminta mb Minah mematikan kompor dan menyusul Mia.


Mia memuntahkan sarapannya yang belum tercerna dengan baik. Ia mencium bau teri dari baju mb Minah dan kembali muntah.


Mia : "Haduh, mb... Bau banget... Hoeekk."


Mb Minah mencium bajunya dan menyadari bajunya bau ikan teri. Mb Minah keluar dari kamar mandi, ia berlari ke dalam kamarnya untuk ganti baju dan menyemprotkan sedikit parfum.


Nenek : "Minah! Kamu kemana sich?"


Nenek memanggil mb Minah yang berlari keluar kamar mandi meninggalkan Mia yang masih muntah-muntah.


Mia masih muntah-muntah saat mb Minah kembali ke kamar mandi. Mia tidak mencium bau teri di goreng lagi dan ia berhenti muntah.


Mb Minah : "Mb Mia ngidam lagi ya."


Mia : "Ngidam?"


Mb Minah : "Iya, mb. Hamil lagi."


Mia : "Gak mungkin, mb. Bulan lalu saya datang bulan kok."


Mb Minah : "Masa sich? Atau mb Mia masuk angin ya?"


Mia : "Nah, itu mungkin. Saya kecapean kerja."


Mb Minah : "Kalau gitu saya buatin teh jahe ya. Mau dipijat gak?"


Mia : "Dipijat? Gak usah mb. Saya mau teh jahenya. Sama sarapan lagi. Lapar."


Mia keluar dari kamar mandi dibantu mb Minah. Nenek yang masih duduk di tempatnya semula, menyarankan Mia ke rumah sakit saja.


Mia : "Saya cuma perlu istirahat, bu."


Mia duduk di meja makan. Mb Minah segera membuatkan teh jahe dan juga menghidangkan sarapan untuk Mia.


Nenek : "Masi mual?"


Mia : "Uda baikan, bu."


Nenek : "Kalau masi mual, telpon Alex ya. Suruh antar ke rumah sakit."


Mia : "Iya, bu. Mia mau istirahat aja."


Setelah sarapan lagi, Mia masuk ke kamarnya. Ia mengeluh pusing dan berbaring diatas ranjang. Sampai waktunya makan siang, Mia baru bangun. Itupun ia dibangunkan mb Minah.


Mia mengambil ponselnya dan melihat 10 missed call dari Alex dan chat yang banyak menanyakan keadaannya. Mia menelpon Alex,


Mia : "Ya, mas..."


Alex : "Kamu kemana aja, sayang. Kamu gak pa-pa kan? Ibu bilang kamu muntah-muntah."


Alex : "Kamu mau dibawain apa? Aku otw pulang."


Mia : "Mau martabak."


Kening Alex mengkerutΒ  mengingat dimana ada penjual martabak tengah hari bolong gini.


Alex : "Aku coba cariin ya. Boleh nego yang lain gak? Soto ayam misalnya?"


Mia membayangkan soto ayam dan tiba-tiba... Hoeekk...!!


Mia berlari ke kamar mandi, muntah-muntah disana sampai mb Minah masuk ke kamarnya. Alex yang mendengar suara Mia muntah-muntah, segera mempercepat laju mobilnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Alex berlari masuk ke dalam rumah, ia langsung masuk ke kamarnya dan mendapati dokter sedang memeriksa Mia. Kepala Mia diperban dan ia tampak kesakitan.


Alex : "Kenapa? Mia, kenapa kepalamu berdarah?"


Nenek : "Tadi jatuh di kamar mandi, waktu muntah-muntah."


Alex : "Mia sakit apa dokter?"


Dokter : "Masi saya cek. Dari gejalanya sich sepertinya masuk angin. Tapi saya gak yakin. Mia bisa berdiri? Ke toilet sebentar dan tampung sedikit air seni di wadah ini."


Alex : "Ayo, aku gendong."


Mia digendong Alex ke kamar mandi. Alex membantu Mia menjalankan permintaan dokter. Setelah memberikan wadah itu ke mb Minah, ia membantu Mia keluar dari kamar mandi.


Alex membaringkan Mia ke atas ranjang dan melihat dokter membuka test pack yang diberikan mb Minah. Di rumah itu ada persediaan test pack sejak pernikahan Mia dan Rara.


Dokter membaca petunjuk sekilas dan mencelupkan test pack itu ke dalam wadah berisi air seni Mia.


Tanda garis merah muncul diujung test pack dan hanya satu. Setelah menunggu beberapa saat, garis satunya lagi muncul.


Alex hampir berteriak senang saat melihat hasil test pack itu. Nenek dan mb Minah juga tersenyum bahagia.


Dokter : "Dari hasil test pack ini, Mia positif hamil. Saya tidak kasi resep obat ya. Cukup dijaga lukanya tetap kering. Untuk periksa kandungan, tolong secepatnya ke dokter kandungan."


Alex : "Iya, dokter. Makasi dokter."


Setelah membereskan urusan pembayaran dan mengantar dokter keluar dari rumah mereka, Alex berlari masuk ke dalam kamar.


Ia memeluk Mia dengan bahagia,


Mia : "Mas, tolong rahasiakan dari anak-anak ya. Kita tunggu bayi ini lebih besar."


Alex : "Tapi sayang... Ngidammu gimana? Cepat atau lambat pasti ketahuan."


Mia : "Aku mau tinggal di apartment, mas. Sampai bayi ini cukup besar dan lebih kuat. Boleh?"


Alex : "Aku ikut."


Mia : "Iya, mas. Boleh ya bu?"


Nenek : "Yang penting kamu dan bayinya sehat. Lakukan saja yang menurutmu terbaik."


Alex : "Tapi kalau di apartment, kamu sendirian disana. Kalau aku kerja, siapa yang jagain kamu?"


Mia : "Aku berani sendiri, mas. Lagian Bianca bisa datang, kan jarak apartment sama rumah gak jauh."


Alex : "Aku tetep khawatir, sayang."


Mia : "Aku gak boleh stress, mas. Kata dokter kandunganku agak lemah dan aku harus selalu tenang."


Alex : "Trus kamu masih mau kerja dengan keadaan gini?"


Mia : "Aku..."


Alex : "Aku cuma khawatir sama kamu. Terserah bagaimana keputusanmu nanti. Tapi aku gak bisa membiarkan kamu sendiri. Gimana kalau jatuh lagi?"


Mia terdiam, ia belum memikirkan lebih jauh saat mengambil keputusan tadi. Ia menatap Alex yang masih menatapnya. Nenek dan mb Minah sudah keluar dari sana, membiarkan suami istri itu bicara dari hati ke hati.


Alex : "Bisa kau pikirkan ini nanti saja? Kita tidak usah memberitahu semua orang. Cukup kita, ibu dan mb Minah saja yang tahu."


Mia : "Kalau Rara tanya gimana?"


Alex : "Ya, kita kasi tahu saja dan minta Rara tidak membocorkannya pada siapapun."


Mia : "Ya sudah, mas. Mungkin aku terlalu cepat ambil keputusan."


Mia balik badan hendak berbaring lagi.


Alex : "Kamu marah, sayang?"


Mia : "Gak, mas. Aku ngantuk. Kepalaku sakit."


Alex : "Istirahat ya. Mau aku ambilkan sesuatu?"


Mia menggeleng. Ia sudah memejamkan matanya dan Alex tetap duduk di sampingnya sampai Mia benar-benar tertidur lelap.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲