
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 11
Lama-lama kakek Martin jadi gerah juga melihat Ken
yang bersikap manis pada Kaori. Mengusap sudut bibir gadis itu dengan tisu atau
mendekatkan cangkir teh ke bibir Kaori.
“Ehem! Sampai dimana kita? Ach, iya. Kaori, apa
hobimu?” tanya kakek Martin.
“Saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan
mendengarkan musik dan membaca buku, tuan besar,” sahut Kaori dengan tenang.
Pembicaraan mereka berdua terus berlanjut membahas
buku apa yang biasa dibaca Kaori. Meskipun buta, pengetahuan Kaori juga tidak
minim. Ia bisa menceritakan tentang buku yang sedang dibacanya saat ini dengan
mudah. Ketenangan dan kedewasaannya semakin membuat kagum Ken dan kakek Martin.
Sayang sekali pembicaraan mereka harus terputus
saat seseorang menghampiri mereka bertiga. Kakek Martin harus ke ruang kerjanya
untuk menjawab conference call penting.
“Ken, bawa Kaori ke kamar nenek Martha ya. Disitu
banyak buku yang bisa dibaca Kaori. Kaori, kakek tinggal sebentar ya. Nanti
kita bicara lagi saat makan malam,” kata kakek Martin.
“Baik, tuan besar,” sahut Kaori sopan.
“Baik, kek,” sahut Ken sedikit bernafas lega.
Kalau sudah seperti ini, mereka harus tetap di
rumah mewah itu. Kakek Martin tidak akan melepaskan siapapun keluar dari
rumahnya tanpa perintah darinya.
Ken benar-benar membawa Kaori ke kamar nenek
Martha. Nenek Martha adalah saudara kandung kakek Martin yang juga terlahir
buta seperti Kaori. Setelah menikah, ia tidak tinggal lagi di rumah mewah itu.
Tapi kamarnya tetap dijaga dengan baik. Bahkan tidak sembarangan orang bisa
masuk kesana kecuali atas persetujuan kakek Martin.
“Kaori, ini kamar nenek Martha. Aku agak bingung
sebenarnya. Kenapa kakek mengijinkan kita masuk kesini,” kata Ken sambil
mendorong pintu terbuka.
“Apa kita tidak boleh masuk? Sebaiknya jangan
masuk,” kata Kaori sebelum Ken menariknya masuk ke dalam kamar itu.
Wangi lavender tercium saat Kaori memasuki kamar
nenek Martha. Lavender adalah wangi yang disukai Kaori. Ken langsung membawa
Kaori mendekati rak buku di dekat jendela. Di pinggir jendela itu diletakkan
tempat duduk yang bisa untuk berbaring juga. Nenek Martha biasa duduk disana
membaca buku.
“Kamu mau baca buku apa, Kaori?” tanya Ken.
“Mmm, ada buku tentang cinta, nggak?” tanya Kaori
setelah berpikir sejenak.
“C—cinta? Kamu lagi jatuh cinta?” tanya Ken mulai
gugup.
“Mungkin...,” sahut Kaori dengan senyum manisnya.
Ken bukannya mencari buku yang dimaksud Kaori, dia
malah mendorong gadis itu sampai terduduk di pinggir jendela. Kaori menggenggam
keras tongkatnya, ia menunggu apa yang akan dilakukan Ken berikutnya. Dengan
satu tangannya, Ken menyingkirkan rambut Kaori yang menutupi wajahnya. Rambut
itu tidak mau diam di belakang telinga Kaori.
Gadis itu memiliki rambut yang tebal dan sangat
indah seperti matanya. Ken berkali-kali menyingkirkan rambut Kaori tapi rambut
itu kembali menutupi wajah gadis itu. Kaori tersenyum lebar, nyaris tertawa
merasakan gerakan Ken. Sampai akhirnya rambut Kaori mau diam di belakang
telinganya, sehingga Ken bisa melihat wajah cantik Kaori yang masih belum
berhenti tersenyum.
“Rambutmu lebat sekali ya. Tebal tapi halus
sekali,” kata Ken di dekat Kaori.
“Iya, Ken. Kadang susah ngaturnya, berat juga,”
ucap Kaori sambil mencium ujung rambutnya yang panjang.
Ken menarik tangan Kaori yang memegang ujung
rambutnya. Pria itu ikut mencium ujung rambut Kaori, sampai Kaori tersipu
dibuatnya.
“Ken, kamu terlalu dekat,” bisik Kaori.
Bisikan Kaori membuat Ken menarik dagu gadis itu
agar menghadap padanya. Wajah Kaori seketika pucat, ia belum pernah sedekat itu
dengan pria manapun. Hembusan nafas Ken di wajah Kaori, membuat gadis itu gugup
lalu tidak sengaja menjatuhkan tongkatnya. Prak! Tongkat Kaori terjatuh
membentur lantai.
Keduanya tercekat, kaget. Kaori refleks meraba-raba
udara di depannya. Ken segera mengambil tongkat Kaori, lalu menggenggamkan
tongkat itu ke tangan gadis itu lagi. Helaan nafas ringan Kaori membuat Ken
tersadar kalau tujuan mereka kesana adalah untuk mengambil buku.
Ken menyusuri rak buku mencari buku tentang cinta.
Ia menyebutkan satu persatu judul buku itu sampai Kaori meminta buku yang
disebutkan Ken, ‘Kata Cinta Sepanjang Masa’. Ken duduk disamping Kaori yang
membuka perlahan satu persatu halaman buku itu.
“Mau kubacakan?” tanya Kaori.
“Ya,” sahut Ken.
Kaori membaca sebaris kalimat dengan hati-hati,
‘Cinta kasih adalah perasaan hati, yang harus diungkapkan dengan hati, bukan
hanya dengan rayuan atau pujian.’ Kemudian lanjut yang kedua, ‘Hadirmu membawa
cinta, memberi bahagia, dan juga rasa rindu yang tiada pernah ada akhirnya.’
Padahal Kaori hanya membaca apa yang tertulis di
buku itu, tapi Ken jadi baper karenanya. Suara Kaori yang merdu, bagaikan
nyanyian burung di pagi yang cerah. Hembusan angin yang masuk dari jendela yang
terbuka, menyibak rambut Kaori, menghantarkan wangi shampo ke hidung Ken.
Kaori menghentikan membaca buku itu, ia ingin ke
toilet. “Ken, boleh tahu dimana kamar mandinya?” tanya Kaori sambil meletakkan
buku di sampingnya.
Kaori menahan tangan Ken yang ingin menuntunnya
keluar dari kamar itu. “Ken, nggak ada kamar mandi yang diluar ya? Nggak harus
ke kamarmu kan?” ucap Kaori yang merasa tidak nyaman.
“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Ken.
“B—bukan gitu. Dikit sich. Maaf, Ken,” kata Kaori
sambil tersenyum.
Ken tetap membawa Kaori ke kamarnya. Kaori sempat
menahan langkahnya sebelum masuk ke kamar Ken. Pria itu menjelaskan kalau ia
tidak akan melakukan sesuatu tanpa persetujuan Kaori.
“Disini kamar mandinya. Aku antar masuk ya,” kata
Ken, setelah mereka sampai di depan pintu kamar mandi
Mau tidak mau, Kaori mengangguk. Ken mendekatkan
Kaori ke toilet dan arah menuju wastafel. Lalu arah kembali ke pintu keluar.
Kaori mengangguk sekali lagi dan Ken melangkah keluar dari kamar mandi sambil
menutup pintu kamar mandi.
Ken menunggu Kaori sambil berjalan mondar-mandir di
depan pintu kamar mandi. Tingkahnya sudah seperti seorang ayah yang sedang
menunggu kelahiran putranya. Butuh waktu lama bagi Kaori untuk menggunakan
kamar mandi. Selain belum terbiasa, ia kebingungan mencari pintu keluar.
Kaori malah berjalan mendekati shower. Ia meraba
dinding shower dan mengira kalau itu pintu keluar dari kamar mandi. Ketika
Kaori menemukan kran shower, gadis itu mengira kalau itu adalah handle pintu.
Saat Kaori menekannya, air dingin langsung mengguyur Kaori hingga rambutnya
basah.
“Kyaa!!!” jerit Kaori kaget.
Tangannya meraba-raba mencari kran shower untuk
menghentikan air yang terus membasahi tubuhnya, dan ia hampir menghidupkan kran
air panas. Ken menghentikan Kaori tepat waktu, ia mematikan kran air dengan
cepat lalu menuntun Kaori yang sudah basah keluar dari kamar mandi.
Tubuh Kaori menggigil terkena AC, Ken segera
mengambil handuk, lalu menggosok kepala Kaori dengan lembut. “Hatsyuu!!” Kaori
mulai bersin-bersin.
“Kaori, buka bajumu,” pinta Ken.
Kaori langsung menyilangkan tangannya di depan
dada. Ken menepuk keningnya yang tidak bersalah. Ia menjelaskan pelan-pelan
kalau Kaori harus mengganti pakaiannya atau gadis itu akan masuk angin. Ken
mengambil bathrobe, lalu meletakkannya di dekat Kaori yang sudah duduk di sofa.
“Kaori, ini ada bathrobe. Aku akan keluar dulu,
kamu ganti pakai ini dulu ya. Sampai bajumu kering lagi,” ucap Ken.
Kaori menahan Ken, ia mengatakan kalau Ken cuma
perlu membalik badannya. Gadis itu takut akan menghancurkan sesuatu karena ia
tidak terbiasa dengan kamar Ken.
“Ken, aku percaya sama kamu. Kamu cukup balik badan
aja sampai aku selesai.” Kaori berharap keputusannya benar.
Ken berdiri membelakangi Kaori, ia berusaha untuk
tidak kepo dan akhirnya menoleh ke belakang. “Kaori, tadi kamu kesini sama
siapa?” tanya Ken.
“Itu, sama pengacara tuan besar. Ken, sepertinya
kakekmu sangat berkuasa ya. Aku dengar tadi kalau perusahaan opa hampir
bangkrut kalau aku tidak ikut kesini,” ucap Kaori yang masih sibuk menurunkan
dress-nya.
“Apa?! Apa pa... opamu baik-baik saja?!” tanya Ken
berusaha tidak membalik badannya.
“Iya, sepertinya begitu. Waktu aku bilang mau ikut,
aku dengar opa sangat sedih. Ken, sebenarnya kenapa aku dibawa kesini?” tanya
Kaori.
“Kamu udah selesai pakai bathrobe?” tanya Ken.
“Be—belum, jangan balik badan dulu, Ken,” ucap
Kaori mulai ketakutan.
Ken mengepalkan tangannya, bukan karena dilarang
balik badan, tapi ia geregetan menunggu Kaori selesai ganti baju. Kalaupun Ken
berbalik dan melihat Kaori sekarang, gadis itu tidak akan tahu. Ken hanya ingin
tetap bersikap gentle dengan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Nggak, Kaori. Kalau kamu tidak ijinkan, aku tidak
akan melakukannya. Meskipun aku ingin sekali balik badan. Hehe...,” ucap Ken
mencoba mencairkan suasana.
Sebuah pukulan ringan mengenal kaki Ken. Kaori
memakai tongkatnya untuk mencari keberadaan Ken. “Kenapa, Kaori?” tanya Ken
lagi.
“Dimana tadi bathrobe-nya?” tanya Kaori yang
kebingungan sendiri.
“Tadi aku taruh di sampingmu. Mungkin jatuh. Boleh
aku lihat?” tanya Ken tidak bermaksud kurang ajar.
“A—aku cari sendiri. Haatssyuu!!” Kaori kembali
bersin.
Ken membalik tubuhnya dengan cepat lalu mengambil
bathrobe di tempat semula dan langsung memakaikan bathrobe itu pada Kaori.
Wajah keduanya merona, sentuhan Ken pada lengannya membuat Kaori merinding.
“Maaf, Kaori. Kamu bisa demam kalau terlalu lama.
Ayo, kita keringkan rambutmu.” Ken mengajak Kaori duduk di tempat tidurnya. Ia
mengambil hairdryer di dalam laci lalu menghidupkannya.
Kaori merasakan hawa panas dari hairdryer
pelan-pelan mengeringkan rambut panjangnya. Ken mengeringkan rambut Kaori
dengan lembut, kemudian mengambil sisir untuk merapikan rambut Kaori. Setelah
kering, Ken menyimpan hair dryer itu kembali ke laci. Ia mendekati sofa dan
mengambil buku yang tadi dibawanya untuk diberikan pada Kaori.
“Kaori, sambil nunggu, kamu baca buku lagi ya. Aku
akan minta pelayan mengeringkan bajumu. Apa cuma ini yang basah?” tanya Ken sambil mengambil dress Kaori.