Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Masa yang lalu


DM2 – Masa yang lalu


Tidak hanya sekali, setiap kali selesai,


Rio akan bertanya apa Gadis akan menarik kata-katanya. Tapi Gadis selalu


menggeleng. Jeritan, erangan, lenguhan Gadis dan Rio memenuhi kamar itu.


Penghuni rumah yang lain tidak akan mendengar apa yang sedang mereka lakukan di


kamar itu. Peredam suara yang dipasang Rio, mengerjakan tugasnya dengan baik.


Rio tidak melepaskan Gadis sedetikpun. Ia


terus mendesak, membuat Gadis menggila memanggil namanya dengan suara serak.


Setiap Gadis memejamkan matanya ingin tidur, Rio tidak membiarkannya.


“Aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai


kau tarik kata-katamu lagi.”


“Ampun, Rio... Sudah... aku ngantuk sekali.”mohon


Gadis, dia sudah tidak menghitung lagi  berapa kali mereka melakukannya. “Ampun...”


“Tarik kata-katamu, bilang kau tidak akan


membiarkan aku menikah dengan wanita lain!”


“Aku gak bisa... Rio... jangan lagi...”


Akhirnya Rio berhenti ketika hari hampir


berganti. Gadis sudah tidak bisa membuka matanya lagi, kakinya gemetar hebat.


Bahkan ia sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya tanpa meringis.


Rio memeluk tubuh Gadis, “Kenapa kamu


sangat keras kepala? Kamu tega ingin aku menikah lagi. Aku sangat mencintaimu,


Gadis.”


”Aku lebih mencintaimu, Rio. Aku gak mau


kamu menderita karena aku. Aku akan pergi setelah bisa bangun. Oh, badanku


sakit sekali. Dasar suami pemaksa. Aku hampir gila menerima semua sentuhanmu


malam ini.”


Keduanya terlelap sangat kelelahan setelah


permainan cinta sepanjang malam. Rio menangis dalam tidurnya, ia sungguh tidak


mau menikah lagi. Ia hanya ingin bersama Gadis seumur hidupnya. Tapi istrinya


itu justru memintanya menikah lagi.


Hati Rio hancur mendengarnya, ia memang


egois karena menutup mata terhadap keinginan Gadis untuk mempunyai anak. Menulikan


telinganya mendengar rengekan Gadis yang menginginkan anak darinya. Apa yang


bisa Rio lakukan? Kandungan Gadis lemah setelah penganiayaan yang dialaminya.


Dokter mengatakan Gadis kemungkinan tidak bisa hamil.


Sekarang Gadis tidak mau mengadopsi anak,


malah meminta Rio menikah, menghamili wanita lain. Ada istri yang mau


menyerahkan suaminya pada wanita lain. Rio marah, sangat marah sampai


melampiaskan hasrat emosinya yang membara pada Gadis. Ia ingat bertanya 10 kali


tapi jawaban Gadis tetap tidak.


Matahari sudah terbit sejak tadi, kesibukan


di lantai bawah rumah itu bahkan hampir selesai. Mia melirik tangga


terus-terusan. Rey yang sempat menunggu Gadis turun, akhirnya berangkat dengan


Rara.


“Oma, nanti Rey mau dijemput mama Gadis ya.”pesan


Rey.


“Iya, sayang. Tapi kalau mama Gadis sakit,


gimana? Kan gak biasanya mama Gadis belum bangun sampai siang gini.”


“Sakit? Mama Gadis sakit?”cemas wajah Rey


tapi tetep ganteng.  Rara yang melihat


Rey mengkhawatirkan Gadis, tersenyum menenangkannya.


“Kan oma bilang kalau. Hari ini Rey, mama Rara


yang jemput ya. Sekalian kita jemput papa Arnold ke bandara nanti. Kan malemnya


masih bisa ketemu mama Gadis sebelum kita pulang ke rumah baru. Ya, sayang?”bujuk


Rara sambil tersenyum.


“Iya, mah. Oma, opa, Rey berangkat ya.”


Si kembar hanya melambaikan tangan sekilas


pada Mia dan Alex. Pak Yanto mengemudikan mobil menjauh dari rumah Alex.


“Aneh banget, Gadis sama Rio belum bangun


sampai jam segini. Kira-kira kenapa ya, mas?”tanya Mia kepo.


“Gak tau. Apa mereka sibuk itu sampai lupa


waktu?”mulut Alex langsung menebak kearah sana.


“Dih, emangnya mas. Sana berangkat cepetan.”


“Yank, ntar ke kantor ya. Kita main


dokter-dokteran lagi. Bawa itu, bajumu yang kayak jaring.”bisik Alex mesra.


“Mas, aku lagi masa subur sekarang. Mas


akhir-akhir ini gak mau pake pengaman, ntar aku hamil lagi, gimana? Malu sama


anak-anak, mas.”rengek Mia kesal.


“Kasi Gadis sama Rio aja, kalo kamu hamil. Biar


mereka yang ngurus. Kalo gak dateng nanti siang, malem ini kamu gak boleh


tidur.”ancam Alex sambil mencium bibir Mia tanpa ampun.


Mia menerima ciuman Alex sambil berpikir


emang bisa gitu. Trus anaknya ntar manggil dia oma dong, bukannya mama. Mia


sibuk dengan pikirannya sendiri. Alex malah keasyikan mencium Mia, membuat


ibu-ibu kompleks yang baru kembali dari belanja, menggoda mereka.


“Haduh, ibu Mia sama bapak Alex, pagi-pagi


udah bikin suasana panas ya.”


“Iya, loh. Lupa kalo masih pagi.”


Mia mendorong Alex, melepaskan ciumannya


“Awas gak dateng.”ancam Alex lagi.


“Iya, mas bawel banget sich. Sana berangkat.


Ati-ati di jalan ya.”


Mia melambaikan tangannya pada Alex, ia


berbasa-basi sedikit pada ibu-ibu kompleks sebelum kembali ke dalam rumah.


Di meja makan, Mia melihat Rio sudah duduk


untuk sarapan. Ia terlihat lesu kurang tidur.


“Rio, Gadis mana? Tumben kalian bangun


siang.”


“Gadis gak akan bangun sampe sore, mah.”


Mia jadi khawatir dengan keadaan Gadis, “Apa


maksud kamu, Rio? Gadis sakit?”


“Dia membuatku kesal, aku menghukumnya dari


semalem. Mah, nanti tolong bawain makanan ke kamar ya. Rio mau ke kantor dulu.


Ada meeting, ntar om Ilham marah kalo gak dateng.”


“Ntar dulu, Rio. Gadis bikin kesal gimana?”


“Mama tanya sendiri sama dia. Kalo ada


apa-apa, mama telpon Rio ya. Bye, mah.”


Mia hanya bisa membiarkan Rio pergi, ia


melirik jam dinding diatas kamar Rara. Sejam lagi dia akan membawakan makanan


ke kamar Rio.


Rio sampai di kantor Arnold tepat waktu,


meeting hampir dimulai oleh Ilham. Rio mengangguk pada Ilham, lalu menggantikannya


dengan cepat. Satu setengah jam kemudian, meeting berakhir. Rio hampir kembali


ke ruangannya saat Ilham memanggilnya.


“Ya, om?”


“Rio, sekretarismu yang baru sudah siap


bertugas hari ini. Nanti aku suruh dia ke ruanganmu ya. Habis itu aku mau


keluar dulu. Mau ketemu client.”


“Ya, om. Nanti kak Arnold juga mau datang.


Tapi gak tau mampir apa gak. Hari ini gak ada schedule meeting lagi kan?”


“Nggak sich. Tapi kerjaanmu selesaiin dulu.


Minta bantuan sama sekretarismu juga. Hari ini harus selesai, biar besok gak


gantung waktu serah terima sama Bu Rara.”


“Kayaknya gak sebanyak itu dech.”Rio


melotot melihat ke dalam ruang kerjanya, dia hanya terlambat datang ke kantor


setengah jam, tapi meja kerjanya sudah penuh berkas. “Om, jam berapa aku pulang


ntar kalo gini?”


“Makanya cepat kerjakan. Nanti om bantu


pulang meeting.”


Rio cuma bisa terima nasib. Ia duduk di meja


kerjanya, mulai memeriksa berkas itu. Tok, tok, tok.


“Ya, masuk.”


Seseorang masuk ke ruang kerja Rio, ia


menyapa Rio dengan ramah,


“Selamat pagi, pak Mario. Saya Kinanti,


siap melaksanakan tugas.”


Rio menengadah dan terpana melihat sosok


Kinanti. Gadis ini sangat mirip dengan Kaori. “Kaori?”panggil Rio tanpa sadar.


Gadis itu celingukan melihat ke kanan dan ke kiri, “Bapak manggil saya? Nama


saya Kinanti, pak. Bukan Kaori.”


Rio tersadar kalau Kinanti memang bukan


Kaori, suara mereka juga jauh berbeda. Hanya postur tubuh, rambut dan juga


wajah mereka yang mirip.


“Tapi kenapa bapak bisa tahu nama sepupu


saya?”lanjut Kinanti kemudian


“Sepupu? Kamu punya sepupu bernama


Kaori?”tanya Rio kepo.


“Iya, pak. Tapi sayang dia sudah meninggal


sekitar 8 tahun lalu.”


“Apa Kaori yang kamu maksud ini punya kakak


perempuan?”


“Maksud bapak kak Katty? Iya, memang punya.


Darimana bapak tahu?”


“Dunia memang sempit ya. Duduklah. Ada


perlu apa?”


“Oh, maaf pak. Saya diminta melapor kesini.


Kata HRD saya akan jadi sekretaris Pak Mario.”jelas Kinanti.


“Kamu sekretarisku yang baru? Kalau gitu


kamu bisa tanya tugasmu sama Pak Ilham nanti. Sepertinya dia masih meeting.


Untuk sekarang, tolong buatkan aku kopi.”perintah Rio.


“Baik, pak.”


Kinanti keluar dari ruang kerja Rio, Rio


meletakkan pulpennya. Ia memijat kepalanya yang sakit mengingat cinta


pertamanya lagi.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.