Duren Manis

Duren Manis
Demam tinggi


Keesokan paginya, Mia menatap penuh minat pada kedua suami istri yang tidur di ruang keluarga. Posisi Rara sudah berbalik membelakangi Arnold dan tangan Arnold memegang perut Rara.


Pelan-pelan Rara terbangun, ia ingin ke toilet.


Rara : "Aduch..."


Mia : "Kenapa, Ra?"


Rara : "Kebelet, mah."


Mia segera membantu Rara berdiri dan menuntunnya masuk ke kamar. Setelah meyakinkan Rara akan baik-baik saja di dalam sana, Mia keluar dari kamar Rara.


Ia ingin menyiapkan sarapan sekaligus makan duluan. Setiap malam Mia disedot habis oleh si kembar yang rutin ia beri minum 2 jam sekali. Pagi ini ia terbangun karena kelaparan dan membiarkan Alex tertidur bersama si kembar.


Setelah memutuskan membuat nasi goreng untuk sarapan yang lain, Mia mulai menyiapkan bahan-bahannya. Mb Minah yang sudah bangun juga ikut membantu Mia.


Mia : "Saya sarapan duluan ya mb. Lapar banget."


Mb Minah : "Iya, mb. Semalem saya denger si kembar nangis kenceng banget."


Mia : "Itu adiknya. Kalau kakaknya harus nunggu lama banget baru nangis."


Mereka menyelesaikan memasak dan Mia mulai makan sarapannya. Nenek baru keluar dari kamarnya dan langsung duduk di meja makan.


Mia : "Ibu, Mia sarapan duluan ya."


Nenek : "Iya, makan yang banyak. Siapa itu yang tidur di ruang keluarga?"


Mia : "Itu Arnold, bu."


Nenek : "Rara masih marah?"


Mia : "Sepertinya nggak, bu. Mereka berdua tidur disitu semalaman. Tadi pagi Mia liat kok."


Nenek : "Ooo..."


Mia menyelesaikan sarapannya, ia segera kembali ke kamar dan mengecek si kembar. Ia juga ingin membangunkan Alex yang harus ke kantor untuk meeting.


Tapi baru saja dia beranjak dari dapur, Mia melihat Rara sudah siap berangkat ke kantor.


Mia : "Ra, ini masih terlalu pagi. Kamu mau kemana?"


Rara : "Rara ada meeting pagi-pagi, mah. Clientnya mau pergi hari ini. Kami harus ketemu di dekat bandara."


Mia : "Kamu belum sarapan, Ra. Sarapan dulu."


Rara : "Gak sempat, mah. Kak Jodi uda nunggu didepan."


Mia : "Mama bungkus ya. Kamu gak bangunkan Arnold?"


Rara : "Biarin aja mas Arnold tidur. Rara juga gak mau ngomong sama dia."


Mia membungkus sarapan untuk Rara yang sudah berjalan duluan ke pintu keluar. Ia bahkan tidak melirik Arnold yang masih tidur.


Mia menyusul Rara keluar. Tampak Jodi sudah menunggu dengan pintu mobil terbuka.


Jodi : "Pagi, mama Mia."


Mia : "Pagi, Jodi. Gak mampir dulu?"


Rara : "Kami buru-buru, mah. Makasih ya, mah."


Mia memberikan kotak bekal dan botol minum Rara pada Jodi.


Rara masuk ke dalam mobil tanpa komentar lagi. Jodi sedikit bingung, ia menatap Mia yang hanya mengangguk.


Jodi segera masuk ke dalam mobilnya dan mereka segera berangkat.


Ketika Mia masuk ke dalam rumah, Arnold belum juga bangun. Padahal suara-suara saat Rara berangkat tadi, cukup keras terdengar.


Mia melewati Arnold dan masuk ke kamarnya. Ia melihat Alex sudah bangun dan sedang menatap baby Rava yang juga sudah bangun.


Alex : "Sayang, baby Rava mau ngobrol nich."


Mia : "Mas, Arnold kasian deh. Tadi aku ngliat mereka tidur di ruang keluarga. Tapi Rara bangun duluan dan buru-buru berangkat kerja."


Alex : "Trus sekarang Arnold mana?"


Mia : "Dia masih tidur. Coba ntar mas liat dia ya."


Alex : "Iya, mas mandi dulu. Foto dong baby Rava. Matanya kayak kamu."


Mia : "Iya dong. Baby Reva baru kayak mas."


Saat melewati ruang keluarga, ia mendengar nafas Arnold sedikit aneh. Alex mendekati Arnold, ia melihat keringat membasahi kening Arnold dan ia tampak menggigil.


Alex : "Arnold, bangun. Arnold?"


Alex mengguncang tubuh Arnold. Ia memegang dahi Arnold dan merasakan tubuh Arnold panas tinggi.


Alex segera kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Mia : "Kenapa, mas?"


Alex : "Arnold panas tinggi. Aku telpon dokter dulu."


Mia tidak bisa beranjak karena sedang menyusui baby Rava. Belum lagi baby Reva tampak mulai menggeliat dan bersiap-siap menangis kencang.


Alex keluar dari kamar dan memanggil mb Minah,


Alex : "Mb Minah, tolong mb. Tolong ambilkan kompres. Arnold panas tinggi."


Nenek segera mendekati Arnold dan memegang keningnya.


Nenek : "Panas sekali. Alex, telpon dokter."


Alex : "Sebentar, bu. Belum nyambung nich."


Mb Minah sudah membawa baskom berisi air dingin dan handuk kecil.


Nenek segera mengompres kening Arnold. Alex tampak bicara dengan dokter di telpon.


Alex : "Dokternya akan datang sebentar lagi."


Alex menelpon lagi, kali ini menelpon Romi.


Alex : "Romi, bisa kau undur meetingnya?"


Romi : "Gak bisa, Lex. Mereka harus kembali siang ini juga. Ada apa?"


Alex : "Arnold sakit. Aku masih nunggu dokter."


Romi : "Aku bisa pindahkan tempat ketemunya ke dekat bandara. Tapi kau harus segera sampai."


Alex : "Aku usahakan. Dokternya baru datang. Nanti aku telpon lagi."


Alex menyambut dokter yang baru sampai dan membawanya ke ruang keluarga.


Dokter segera memeriksa Arnold,


Dokter : "Apa dia tidur disini semalaman?"


Nenek : "Iya, dokter."


Dokter : "Saya akan suntik obat penurun panasnya. Kalau sampai 2 jam belum turun juga panasnya, bisa segera dibawa ke rumah sakit ya."


Alex : "Dia kenapa, dokter?"


Dokter : "Mungkin tadi malam udaranya terlalu dingin. Dari gejalanya sepertinya kelelahan dan masuk angin."


Alex mengurus pembayaran dokter itu dan mengantarnya ke depan.


Nenek : "Kamu harus telpon Rara, Lex. Keadaan Arnold sampai begini."


Alex : "Alex coba chat ya, bu. Rara kan lagi meeting."


Alex mengirimkan chat pada Rara, ia menunggu 1 menit, 5 menit, 10 menit.


Ting! Suara notif chat masuk ke ponselnya. Alex segera membuka chat itu.


Ternyata Romi mengirimkan lokasi terbaru dan penundaan meeting 1 jam. Alex melihat daftar chat, Rara bahkanΒ  membaca chat terakhirnya tadi subuh.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲