
Elo sudah selesai masak, ia menghidangkan masakannya diatas meja bar.
Elo : "Ri, makanannya uda jadi nich. Mau makan sekarang?"
Riri : " Eh, iya kak. Mah, Riri tutup dulu ya. Mau makan dulu sama kak Elo."
Mia : "Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam ya."
Riri : "Iya, mah."
Riri meletakkan ponsel dan buku yang dipegangnya di atas karpet. Ia berpikir sejenak sebelum mendekati Elo.
Elo : "Jangan takut. Aku gak gigit kok. Uda suntik rabies juga."
Riri : "Bukan gitu, kak. Aku mau buka hoodie ini dulu."
Riri membuka hoodie yang membungkus tubuhnya dan melipatnya dengan rapi. Ia meletakkan hoodie itu diatas tempat tidur Elo dan berjalan mendekati meja bar.
Aroma harum ayam sayur dan juga potongan sosis menggugah selera makan Riri. Elo mengambilkan sedikit nasi untuknya.
Elo : "Kalau mau tambah lagi, jangan malu-malu ya. Ayo, makan."
Elo menyendokkan ayam sayur dan sosis ke piring Riri. Ia juga menuangkan air putih untuk Riri.
Riri : "Makasi, kak. Kakak gak makan?"
Elo : "Ini aku baru mau ambil nasi. Makan aja."
Riri mulai mengambil sesendok ayam sayur dan memakannya. Rasa gurih dari bumbu ayam memenuhi setiap jengkal lidahnya. Ia menyendokkan sesuap lagi dan kembali menikmati rasa yang sangat enak.
Riri : "Enak banget, kak."
Elo : "Masa sich? Aku ngrasa kurang garam deh."
Riri : "Pas banget kok. Gimana cara buatnya?"
Elo : "Itu pake bumbu jadi aja. Kasi lada garam, selesai."
Riri : "Kok kayaknya gampang banget."
Elo : "Yang penting itu bumbunya."
Riri : "Bumbunya beli?"
Elo : "Gak, dibuatin mama. Hehe."
Riri : "Oh, mama Ratna juga bisa masak?"
Elo : "Mama loh punya catering, itu hobby mama. Masak makanan enak."
Riri menghabiskan isi piringnya. Ia ingin tambah lagi, tapi malu pada Elo.
Elo : "Ini, nasi lagi. Masih mau kan?"
Riri : "Kok tahu sich, kak?"
Elo : "Kamu jilatin sendok ampe segitunya. Gih, habisin ayamnya. Gak enak kalo disisain."
Riri mengambil sedikit nasi lagi dan menghabiskan sisa ayam sayur di piring. Elo senyum-senyum menatap Riri yang memghabiskan masakannya.
Riri : "Kak, jangan liatin kayak gitu. Aku malu. Makanku banyak ya."
Elo : "Itu artinya kamu sehat dan suka makan masakanku."
Riri : "Kakak mau masakin aku tiap hari?"
Elo : "Gak mau."
Riri : "Kok gitu, kak?"
Ada nada kecewa dalam kata-kata Riri membuat Elo tersenyum.
Elo : "Aku gak mau masakin kamu tiap hari terus anterin ke rumahmu atau ke kampus."
Riri cemberut mendengar kata-kata Elo,
Elo : "Aku belum selesai ngomong. Aku mau masakin kamu tiap hari asal..."
Riri : "Asal apa, kak?"
Elo : "Asal kamu mau jadi istriku."
Uhuk! Uhuk! Riri tiba-tiba keselek air minum. Elo buru-buru mengambilkan tisu karena airΒ juga keluar dari hidung Riri.
Elo : "Maaf, Ri. Aku cuma bercanda."
Riri : "Uhuk! Kakak boong?"
Elo : "Eh, maksudku gak gitu. Tapi beneran kok."
Riri : "Uhuk! Uhuk! Kakak nich ngomong apa sich."
Elo : "Aku serius kalau soal mau kamu jadi istriku. Maaf aku buat kamu kaget."
Elo menepuk-nepuk punggung Riri yang masih batuk-batuk. Riri memejamkan matanya mencoba menghentikan batuknya.
Saat ia membuka matanya lagi, Elo sedang menatapnya sangat dekat. Riri tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Elo.
Glegaarr!! Mereka dikagetkan suara petir yang menggelegar di langit. Elo langsung menarik dirinya dari depan Riri dan buru-buru membereskan piring kotor.
Elo : "Ri, kalau mau ke kamar mandi, disana ya."
Riri memilih ngibrit ke dalam kamar mandi. Ia terpesona melihat desain kamar mandi Elo yang nyaman.
Dan lagi-lagi ada rak buku didalam sana. Penuh buku-buku ringan yang mengundang tawa.
Untuk sesaat Riri asyik membaca referensi semua buku disana dan mengambil beberapa buku yang ingin ia baca.
Di dalam kamar mandi itu juga ada cermin besar dan buku untuk menulis. Sepertinya Elo lebih banyak mendapat inspirasi saat dirinya ada di dalam kamar mandi.
Riri mematut dirinya di depan cermin itu. Andai kamar mandinya dirumah kayak gini, pasti seru banget. Dia bisa bersantai di bath up berendam air hangat sambil membaca buku.
Elo : "Ri? Kamu baik-baik aja?"
Riri gak sadar dirinya sudah kelamaan di dalam kamar mandi sampai-sampai Elo terpaksa mengetuk pintu kamar mandi.
Riri : "Sebentar, kak."
Elo : "Lama juga gak pa-pa. Aku kira kamu kenapa-napa di dalam sana."
Riri sebenarnya ingin mencoba berendam sambil membaca buku yang dipegangnya. Tapi ia takut Elo akan berpikir macam-macam nanti. Mungkin lain kali.
Riri memikirkan kemungkinan lain kali Elo akan membawanya kesini lagi atau tidak. Sekarang saja Riri sudah ketakutan dan pastinya Elo tidak akan membawa Riri ke apartmentnya lagi.
Perlahan Riri membuka pintu kamar mandi. Ia melihat Elo telanjang dada di depan lemarinya. Elo tampak sedang memilih baju di tumpukan kaosnya.
Riri : "Kak..."
Elo menoleh, dan langsung menutupi tubuhnya dengan tangannya.
Elo : "Sory, Ri. Aku ganti baju. Bentar, bentar."
Elo menyambar kaos dan langsung memakainya. Kebalik dong kaosnya. Riri yang melihat Elo seperti tercekik bajunya sendiri, tidak bisa menahan tawanya.
Riri : "Hihihi... Kebalik tuch, kak."
Elo cepat-cepat melepas kaos itu dan membaliknya dengan cepat. Ia terlihat ngos-ngosan ketika melakukan itu.
Riri berjalan melewati Elo, duduk kembali ke tempat ia tadi membaca buku. Kali ini Riri membaca buku yang ia ambil dari kamar mandi. Sesekali ia terkekeh geli.
Elo : "Kamu baca apa?"
Riri : "Itu, kak buku di kamar mandi. Kayaknya lucu, emang lucu sih."
Elo duduk bersandar di kaki tempat tidur. Cukup jarak yang ia buat agar Riri tidak ketakutan lagi.
Elo : "Sejak kapan kamu suka baca, Ri?"
Riri : "Kapan ya? Sejak SD mungkin. Waktu papa beliin buku banyak banget karena bingung sama buku anak-anak."
Elo : "Oh gitu. Trus kapan mulai nulis online?"
Riri : "Baru beberapa bulan, kak. Awalnya iseng aja, sekarang uda mulai dapet hasilnya."
Elo : "Wah, hebat. Aku juga baru mulai nulis buku. Mau lihat buku yang kutulis?"
Elo bangkit dari duduknya, mengambil buku di rak paling kanan. Ia mengambil dua buku dari sana.
Elo : "Nich, mungkin baru semester depan bisa kamu pake referensi. Coba baca."
Riri membuka buku itu dan melihat daftar isinya.
Riri : "Iya, kak. Ini semua mata kuliah semester depan."
Elo menunjukkan beberapa inti materi mata kuliah yang biasa dibahas dosen di kampus mereka. Riri mendengarnya dengan antusias sambil melihat-lihat isi buku itu.
Elo : "Jadi, mata kuliah yang sulit gak ada lagi dah. Kalau mau baca buku ini."
Riri : "Kakak gak coba pasarkan buku ini di kampus?"
Elo : "Pegawai mana boleh jualan, Ri. Bisa kena pungli nanti."
Riri : "Ya bikin promosi gitu, kak. Biar banyak yang beli. Promosi isi buku ini gitu."
Elo menatap Riri yang antusias dengan bukunya. Kali ini ia ingin mencoba lagi mencium Riri. Saat mereka bertatapan lagi, Elo memajukan wajahnya dan mencium bibir Riri.
Elo merasa sangat aneh, ia menjauhkan kepalanya dan melihat Riri menutup bibirnya dengan tangannya. Elo tersenyum lebar, ia mendekat lagi dan mencium tangan Riri berulang kali.
Elo : "Sini..."
Elo duduk bersandar di belakang Riri dan menarik tubuh pacarnya itu agar bersandar padanya. Riri sudah hampir protes tapi Elo kembali bicara tentang bukunya.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²