
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 46
“A—apa maksudnya itu?” celetuk Renata di belakang Ken.
Nenek Almira menatap Renata bersama Ken yang sudah berbalik. Ken segera menarik tangan Renata dan berbisik padanya. Ia mencoba bicara cukup keras untuk didengar Renata saja.
“Tidak sekarang, aunty. Selesai pesta ini, kita akan bicara. Sama Kaori juga,” bisik Ken cepat.
“Jadi, Kaori juga sudah tahu? Kaori tahu kalau dia bukan anaknya kak Rio?” tanya Renata lagi dengan tubuh gemetar.
Ken terdiam, sepertinya Renata tidak mendengar bagian pertama yang dikatakan nenek Almira tentang Ken adalah putra Alex. Ken harus memastikan lagi apa yang sebenarnya sudah didengar Renata sebelum bicara
dengan gadis itu.
“Iya, aunty. Tapi sabar ya, tunggu selesai pesta dan orang-orang sudah pulang. Kita akan bicarakan ini,” kata Ken menenangkan Renata yang cukup shock.
Reynold yang melihat Ken menarik-narik tangan Renata, segera mendekati mereka berdua. Pria itu hampir melabrak Ken kalau tidak melihat wajah Renata yang pucat pasi. Ken memberi tanda pada Reynold agar
mengajak Renata keluar dari tempat pesta.
“Gue jelasin ntar. Jangan bikin kekacauan sekarang. Ini secret. Please,” kata Ken.
Reynold mengangguk, ia juga tidak mau membuat kacau pesta pernikahan Kaori dan Ken. Ken menyodorkan lengan Renata yang masih di pegangnya tadi pada Reynold. Pria itu menuntun Renata keluar dari tempat pesta. Alih-alih membawa Renata masuk ke dalam rumah Alex, Reynold menuntun Renata masuk ke mobil mewahnya dan pergi dari sana.
Beberapa orang yang memergoki Ken, Renata, dan Reynold yang sepertinya bersitegang tadi, mulai kepo dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi Ken dengan cepat memberitahu mereka kalau Renata tiba-tiba pusing
dan dibawa Reynold untuk beristirahat. Untung saja Kaori masih asyik berdansa dengan kakek Martin, istrinya itu tidak menyadari apa yang sudah terjadi.
Di dalam mobil, Reynold melirik Renata yang tetap diam mematung seperti boneka manekin di toko. Meskipun mobil bergerak dengan kecepatan yang cukup tinggi, Renata tidak bereaksi apa-apa. Bingung memilih tempat yang bagus untuk bicara, Reynold membawa Renata ke rumahnya. Rumah itu sedang sepi karena pemiliknya sedang di rumah Alex dan pelayannya sedang sibuk membersihkan rumah.
“Aunty, sampai kapan mau diem gini?” tanya Reynold setelah mobil berhenti di garasi mobil.
Renata hanya menoleh dengan tatapan kosong, wajah Renata masih tetap pucat. Reynold keluar dari mobil lalu berjalan memutari mobil. Ia membuka pintu penumpang dan menuntun Renata keluar dari mobil itu. Melihat kondisi Renata yang tidak memungkinkan untuk bicara, Reynold menggendong gadis itu.
Pandangan Renata masih saja kosong seolah ia baru saja mendengar sesuatu yang mengejutkan. Reynold membawa Renata masuk ke rumahnya dan langsung menuju kamar pria itu. Setelah membuka pintu kamarnya dengan cepat, Reynold mendudukkan Renata di atas tempat tidurnya.
“Aunty kenapa sich? Cerita dong,” bujuk Reynold.
“Kenapa?” gumam Renata tanpa sadar.
“Apanya?” sahut Reynold bingung.
Renata menatap Reynold yang berlutut di depannya. Gadis itu menyentuh pipi Reynold dan mengelusnya.Reynold tersenyum untuk menenangkan Renata, tapi sepertinya itu tidak cukup. Hal yang mengejutkan tiba-tiba terjadi, Renata menunduk lalu mengecup kening Reynold.
Mata Reynold membulat sempurna, apa yang sebenarnya terjadi pada Renata? Sikap aunty-nya itu tidak seperti biasanya. Renata sangat menjaga batasannya sebagai seorang gadis yang sudah dewasa. Apalagi kalau berhubungan dengan lawan jenis, Renata akan meminimalisir sentuhan. Kecuali kalau Reynold memang perlu untuk memeluknya demi sandiwara mereka di depan wanita-wanita yang mengejar Reynold.
Kalaupun sampai harus mencium pipi Renata, Reynold hanya akan menempelkan pipinya pada pipi Renata. Tindakan Renata barusan sangat mengejutkan Reynold. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan Renata dan Reynold penasaran ingin tahu tentang hal itu.
“Aunty, bilang ada apa? Kalau aunty nggak bilang, aku juga nggak tahu harus gimana,” ucap Reynold.
“Mereka ada hubungan saudara, tapi boleh menikah? Saudara kandung. Adiknya menikahi kakaknya,” gumam Renata semakin tidak jelas.
Reynold menjambak rambutnya, ia benar-benar bingung mendengar kata-kata Renata. Siapa menikah dengan siapa? Mana ada adik menikahi kakaknya sendiri. Tapi Reynold juga ingin menikah Renata. Padahal jelas-jelas
hubungan mereka adalah tante dan keponakan.
“Aunty, ngomongin siapa sich? Yang menikah kan Kaori dan Ken, mereka tidak ada hubungan saudara. Kaori itu anaknya om Rio, sedangkan Ken anaknya tuan Endy. Nggak ada hubungannya,” kata Reynold mencoba
menjelaskan sesuatu yang sudah jelas.
“Bukan! Kaori itu anaknya tuan Endy! Mereka bersaudara! Ken dan Kaori itu adik kakak!” jerit Renata.
Reynold sampai terduduk di lantai saking kagetnya. Ia tidak memikirkan tentang kata-kata Renata, tapi kenyataan kalau Ken dan Kaori bisa menikah, meskipun mereka bersaudara. Jadi seharusnya ia juga bisa menikahi Renata. Senyum merekah di bibir Reynold, ia tidak peduli hal lain asalkan bisa menikah dengan Renata.
“Kak Rey, pernikahan mereka tidak benar. Saudara tidak boleh menikah. Kita harus memberitahu kak Rio dan papa Alex!” pekik Renata mulai panik.
Reynold menahan tubuh Renata yang hampir bangkit dari pinggir tempat tidur. Tidak mungkin rasanya kalau opa Alex sampai tidak tahu yang sebenarnya. Reynold berusaha meyakinkan Renata kalau mereka harus
menunggu sampai pesta usai.
Renata mengangguk, ia merasakan Reynold mendorong tubuhnya hingga terbaring diatas tempat tidur. Usapan lembut di keningnya membuat Renata memejamkan mata. Tubuhnya tersentak perlahan seperti teringat sesuatu. Renata memalingkan wajahnya dan bergeser sedikit menjauh dari Reynold.
“Aunty kenapa lagi? Jangan dipikirkan yang tadi. Sebentar juga pestanya selesai. Aunty bisa istirahat dulu disini,” kata Reynold.
“Kak Rey, boleh aku tanya sesuatu? Tapi kakak harus jawab,” pinta Renata tanpa menoleh pada Reynold.
“Tanya apa, aunty? Lihat sini dong,” bujuk Reynold.
Renata menggeleng, ia tidak akan sanggup menanyakan hal ini kalau mereka bertatapan. Hembusan nafas berat terdengar dari Renata. Ia masih ragu ingin bertanya sesuatu hal yang cukup membuatnya penasaran selama ini. Renata takut mendengar jawaban Reynold nantinya. Takut jawaban itu akan merubah cara pandang Renata terhadap Reynold.
Selama ini Renata hanya menganggap kalau Reynold adalah keponakan besarnya. Pria itu selalu menjaganya dan bersikap sangat manis. Apalagi ketika mereka tinggal bersama dalam satu apartment. Meskipun
berbeda kamar, mereka bertemu setiap hari. Renata juga tidak mengerti apa sebenarnya pekerjaan Reynold. Pria itu selalu punya waktu untuknya dan lebih terlihat seperti pengangguran. Kapanpun Renata memerlukannya, Reynold akan segera datang dengan cepat.
“Kak, apa sebenarnya pekerjaan kakak?” tanya Renata.
“Aku kan IT di perusahaan Steven. Aku bukan pekerja kantoran yang setiap hari harus ke kantor, aunty. Jam kerjaku bebas tapi punya target,” ucap Reynold berusaha menjelaskan.
“Seharusnya kakak punya banyak waktu luang kan? Kenapa kakak nggak cari pacar?” tanya Renata lagi.
“Ya, tapi aku belum menemukan seorang wanita yang mau menerimaku apa adanya. Bukan karena apa pekerjaanku, bukan karena fisikku, atau apapun yang sudah kumiliki sekarang. Seseorang yang tulus seperti mama dan secantik Kaori,” kata Reynold mulai menjurus.
“Apa kakak menyukai Kaori? Maksudku suka yang seperti itu?” tanya Renata nggak peka.
Reynold menepuk keningnya, bagaimana bisa ia menyukai istri orang. Pria itu membela dirinya dengan mengatakan kalau ia menyukai wanita secantik Kaori. Renata menyahut kalau standar Reynold terlalu tinggi. Akan sulit membantu pria itu mendapatkan seseorang yang cocok.
“Apa aunty berencana mencarikan aku pacar?” tanya Reynold mulai kesal.
“Siapa tahu ada temanku yang cocok kan. Jadi aku... maksudku kak Rara juga bisa tenang,” sahut Renata.
Reynold mengepalkan tangannya, ia sangat kesal pada Renata yang ingin menjodohkannya dengan wanita lain. Apalagi Renata mengatakan semua itu tanpa menatapnya sama sekali.
“Aku akan cari pacar kalau aunty mau cium aku,” ucap Reynold asal.
Reynold menelan salivanya setelah ia mengucapkan kata-kata itu karena emosi sesaat. Sudah terlanjur terucap, biarkan basah sekalian. Reynold menegaskan kalau ia akan mencari pacar setelah Renata mencium
bibirnya sampai Reynold puas.
Renata memalingkan wajahnya menatap Reynold dengan mata terbelalak. Ia tidak percaya mendengar permintaan seperti itu dari Reynold.
“Apa kakak sudah gi....” kata-kata Renata terpotong kata-kata Reynold berikutnya.
“Sulit kan melakukannya. Begitu juga aku. Aku hanya ingin bersama the one and only. Ini menyangkut hati, Renata. Kita tidak bisa hanya mencoba bersama orang ini, bersama orang itu. Sekali kita membuka kesempatan, itu harus ada feel. Sorry to say, aku bukan tipe orang yang suka bermain-main dengan banyak wanita sebelum memutuskan bersama siapa pada akhirnya,” ucap Reynold serius.
Renata tertegun saat Reynold menggenggam tangannya ketika mengucapkan kata-kata terakhirnya. Pria itu menekankan kata-katanya sambil menatap dalam mata Renata.
“Kak, kalau aku melakukannya, kakak mau cari pacar?” tanya Renata ragu-ragu.
“Renata, apa kamu ngerti dengan kata puas yang aku inginkan? Kalau aku belum puas, kamu tidak boleh berhenti menciumku,” kata Reynold mulai dag dig dug. Pria itu menahan ekspresi wajahnya tetap serius.
Renata mengambil bantal lalu menimpuk wajah Reynold. Gadis itu jadi malu sendiri mendengar kata-kata Reynold. Sejujurnya ia tidak berpengalaman ciuman, tapi karena sering nonton film yang ada adegan
ciumannya, Renata sedikit paham bagaimana melakukannya.
Reynold duduk di hadapan Renata, ia mengambil bantal yang menimpuk wajahnya barusan, lalu balas menimpuk Renata. Gadis itu melotot ingin membalas Reynold lagi tapi pria itu sudah mengukungnya dengan
kedua tangan kekarnya.
“Tenang, Renata. Aku nggak akan menciummu kalau kamu nggak ijinkan. Memangnya selama kita tinggal bersama, aku pernah melakukan hal-hal yang tidak pantas? Tapi Renata, bisa kan kamu ngerti gimana perasaanku?” tanya Reynold sambil menyolek dagu Renata.
Visual Renata
Visual Reynold