
Jangan pergi
Gadis : “Apa hanya anak ini alasan kau ingin bersamaku?”
Rio : “Ya, hanya karena anak itu. Aku belum menemukan alasan yang lainnya.”
Gadis mengalihkan pandangannya dari Rio, ia menahan
air matanya agar tidak jatuh lagi. Baru saja ia membuka hatinya untuk pria itu
lagi. Mengharapkan sedikit saja rasa cinta dari Rio yang tidak pernah
mencintainya tapi perhatian yang Rio berikan hanya karena janin dalam kandungan
Gadis.
Kali ini Gadis benar-benar akan melupakan Rio. Ia
akan mengikuti keinginan Rio sampai mamanya datang nanti. Ketika mamanya
kembali, Gadis akan mencoba meminta perlindungan pada mamanya. Dan kalau
mamanya juga tidak menginginkan dirinya juga, Gadis akan pergi jauh dari mereka
semua.
Rio melihat Gadis mengelus pinggangnya lagi.
Rio : “Kau perlu minyak? Aku akan minta ke mama.”
Gadis : “Iya. Minyak kayu putih yang tadi. Aku mau
pijat pinggangku.”
Rio keluar dari kamar Riri dan turun ke lantai
bawah. Ia bertanya pada Mia tentang minyak kayu putih dan mengatakan kalau
Gadis ingin memijat pinggangnya yang sakit.
Mia : “Oh, jangan dipijat. Wanita hamil gak boleh
dipijat. Cukup di usap saja. Seperti ini.”
Mia memberikan contoh dengan mengusap lengan Rio
yang mengangguk mengerti.
Rio kembali ke kamar Riri, ia membuka pintu tanpa
mengetuk dan melihat Gadis sedang mengusap foto seseorang. Gadis menyembunyikan
foto itu di balik bantal dan menatapnya.
Rio : “Mama bilang wanita hamil gak boleh dipijat.”
Gadis : “Trus gimana caranya? Pinggangku pegal.”
Rio : “Angkat kaosmu. Berbalik.”
Gadis : “Aku saja. Kamu kasi contoh.”
Rio : “Aku kasi contoh langsung. Kau bisa lakukan
sendiri habis itu.”
Mau gak mau Gadis membalik tubuhnya dan mengangkat
sedikit kaosnya. Hanya sedikit sampai Rio harus mengangkat sendiri kaos Gadis.
Tubuh Gadis menegang, Rio melihat Gadis menggigil sampai memeluk lengannya
sendiri.
Rio : “Apa kamu masih takut sama aku?”
Gadis : “...Iya. Aku gak nyaman cuma berdua sama
kamu.”
Rio : “Maaf. Aku gak akan melakukannya lagi. Aku
cuma mengancammu tadi.”
Rio menyelesaikan mengusap pinggang Gadis dengan
cepat. Ia menarik kaos Gadis menutup lagi. Rio meletakkan minyak kayu putih
diatas meja. Ia melirik bantal diatas tempat tidur. Sebenarnya ia kepo foto
siapa yang dipegang Gadis tadi. Tapi ia tidak mau Gadis semakin marah padanya
dan tidak mau bicara dengannya lagi.
Rio : “Kau perlu sesuatu yang lain?”
Gadis : “Aku mau tidur saja.”
Gadis berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur
Riri. Rio menarik selimut menutupi tubuh Gadis sampai ke perutnya. Gadis
tersentak saat Rio memegang perutnya lagi. Mengusap perut Gadis dengan lembut,
membuat gadis mulai mengantuk dan tertidur.
Rio menatap wajah Gadis yang sudah tertidur lelap.
Tangannya terulur menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Gadis.
Keceriaan wanita itu sudah sepenuhnya hilang berganti beban yang sangat berat
sampai-sampai dalam tidur pun keningnya masih mengkerut.
Rio mengambil foto dibawah bantal itu. Ia
terbelalak melihat itu foto dirinya dan Kaori. Foto pertama mereka saat selfie
bersama. Tapi wajah Rio bahkan tidak tampak jelas di foto itu, hanya terlihat
foto Kaori yang tersenyum manis. Rio membalik foto itu dan melihat tulisan
dibaliknya.
‘Maafkan aku, Kaori. Selamat jalan, kekasih cinta
pertamaku. Semoga aku bisa melupakanmu, Mario.’
Rio meletakkan foto itu kembali ke tempat semula.
Dengkuran halus Gadis membuat Rio juga mengantuk. Ia duduk di bawah dengan
kepala bersandar pada pinggir tempat tidur. Ia meringis saat pipinya tidak
sengaja tertekan. Matanya menatap wajah Gadis, perlahan mata Rio mulai terpejam
dan tertidur.
*****
Ketika Rio terbangun, ia tidak melihat Gadis di
dekat situ juga menghilang.
Rio : “Gadis? Gadis, kamu dimana?”
Rio keluar dari kamar Riri, ia turun ke lantai
bawah. Dilihatnya mamanya duduk di ruang keluarga sedang bersama adik
kembarnya.
Rio : “Mah, Gadis mana?”
Mia : “Loh, bukannya dia diatas? Gak ada turun
tuch.”
Rio : “Gadis! Gadis!”
Rio berlari ke seluruh rumah tapi tidak menemukan
Gadis, setiap orang yang ia temui mengatakan tidak melihat Gadis. Rio berlari
ke depan, ia mencari sandal Gadis tadi tapi tidak menemukannya di tempat
sepatu.
Rio mencari sampai ke dekat jalan besar di dekat
rumahnya, tapi tidak terlihat sosok Gadis dimanapun.
Rio : “Gadis!”
Ia bertanya pada setiap orang di jalanan yang ia
lalui apa ada yang melihat ciri-ciri wanita seperti Gadis. Tapi semua orang
yang ia temui menggeleng. Rio mencoba menelpon Gadis, sambungan telponnya
diangkat.
Rio : “Gadis, kamu dimana?”
Gadis : “Rio, jangan telpon aku lagi. Aku mau
pergi.”
Rio : “Kamu dimana?! Jangan berani-berani pergi
bawa anakku!”
Gadis : “Ini anakku! Gak ada hubungannya sama
kamu.”
Rio : “Gadis! Kembali ke rumahku sekarang!”
Gadis : “Gak mau. Selamat tinggal, Rio.”
Rio meradang ketika sambungan telponnya di putuskan
sepihak oleh Gadis. Ia mencoba menelpon lagi, tapi sepertinya Gadis memblokir
nomor HP-nya. Rio berteriak kesal. Ia berlari cepat kembali ke rumah Alex.
Ia masuk ke dalam rumah, mengambil kunci mobilnya
dan melajukan mobilnya kencang menuju rumah Gadis. Penjaga rumah Gadis
mengatakan kalau Gadis belum pernah pulang sejak sebulan yang lalu. Penjaga
mengatakan kalau Gadis sudah ng-kost dekat kantornya.
Tidak mau kehilangan waktu, Rio memacu mobilnya lagi
menuju stasiun kereta api terdekat dengan rumahnya. Ia melihat konter HP dan
membeli nomor baru. Rio mencoba menelpon Gadis lagi. Wanita itu mengangkat
telponnya dan terdengar suara kereta yang mau berangkat.
Rio juga mendengarnya, ia tidak bicara apa-apa pada
Gadis. Wanita itu hanya mengucapkan halo terus-menerus. Dan sambungan terputus
lagi. Rio menelpon Gadis sekali lagi. Matanya menyapu sekeliling stasiun yang
saat itu sedikit sepi. Beberapa penumpang tampak menunggu kereta mereka.
Rio melihat seorang wanita sedang berjalan hampir
masuk ke kereta di seberang sana, itu Gadis. Rio melihat jembatan penyebrangan
tak jauh dari tempat ia berdiri. Rio berlari menaiki tangga dan menyeberang ke
jalur sebelah. Tapi saat ia hampir mencapai tangga turun, kereta yang
ditumpangi Gadis tiba-tiba sudah mulai berjalan.
Segerombolan orang yang mau menyeberang juga,
tiba-tiba menghalangi jalan turun Rio. Ia di desak sampai menempel pada dinding
jembatan. Saat Rio sampai di lantai seberang, kereta sudah tidak terlihat lagi.
Rio menelpon Gadis lagi, saat Gadis mengangkatnya,
Rio memohon padanya untuk kembali.
Rio : “Gadis, aku mohon kembalilah. Aku tidak akan
menganggumu. Tolong jangan pergi. Jangan tutup telponku. Gadis, kembalilah.”
Gadis : “Rio, aku harus pergi. Kamu gak akan
bahagia bersamaku. Biarkan aku pergi ya.”
Rio : “Kamu jahat! Kamu juga mau ninggalin aku
seperti Kaori. Aku mohon kembalilah!”
Gadis : “Aku gak bisa bersamamu. Aku janji akan
menjaga anak ini dengan baik.”
Rio : “Kamu gak bisa hidup sendirian. Bagaimana
kalau terjadi sesuatu?”
Gadis : “Aku bisa jaga diri, Rio. Kamu juga harus
jaga diri baik-baik ya.”
Rio : “Jangan pergi, Gadis! Aku menyayangimu!”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).