
Dokter baru selesai memeriksa Rara dan mendiagnosa ia menderita anemia. Tekanan darahnya cukup rendah sehingga ia harus istirahat total.
Selang infus tampak menjuntai dari tangan Rara. Ia harus diinfus juga agar segera pulih. Rara kecapean memikirkan pekerjaan dan juga kondisi Arnold.
Arnold melihat wajah Rara yang pucat. Jodi juga sedih melihat kondisi Rara.
Jodi : "Aku bawa makanan kalau kamu lapar."
Arnold : "Aku gak lapar."
Jodi : "Kamu harus makan, bro. Demi Rara, siapa yang jaga dia kalau kamu sakit?"
Arnold : "Kan ada kamu."
Jodi : "Ngaco. Kamu kan suaminya. Sudah tugas kamu jaga dia."
Jodi mendekati meja tempat ia menaruh makanan tadi. Satu persatu ia mengeluarkan bungkus makanan dan membukanya.
Bau sup ayam menguar di sekitar kamar. Arnold menoleh melihat Jodi membuka bungkus nasi dan juga lalapan.
Tiba-tiba Rara terbangun dan memegang tangan Arnold.
Arnold : "Sayang, kamu uda bangun?"
Rara : "Bau apa ini, mas? Enak banget. Aku laper."
Arnold : "Jodi bawa makanan. Kamu mau makan apa?"
Arnold bergeser agar Rara bisa melihat makanan diatas meja.
Rara : "Aku mau sup ayamnya, mas."
Jodi yang mendengarnya langsung membawakan sup ayam dan nasi ke hadapan Rara.
Jodi : "Nich, suapin Rara. Kamu mau makan apa?"
Arnold : "Kenapa? Kamu mau nyuapin aku?"
Jodi : "Dih, ogah."
Rara tersenyum melihat keakraban Jodi dan Arnold. Arnold mulai menyuapi Rara makan sampai sup ayam itu habis.
Rara : "Huufh... Enak banget. Aduch, mau pipis lagi."
Arnold : "Kamu bisa bangun?"
Rara : "Bisa kok kayaknya..."
Rara masih sedikit pusing, ia mencoba bangun tapi hampir jatuh kalau Arnold tidak memeganginya.
Jodi melihat hal itu dan langsung membantu menggendong Rara.
Jodi : "Sory, bro. Aku gendong ke kamar mandi, kamu bantu dia di dalam ya."
Arnold menatap Jodi yang menggendong Rara ke dalam kamar mandi. Sedetik itu ia merasa sangat tidak berguna jadi suami.
Ia menahan dirinya dari menolak bantuan Jodi karena kondisinya tidak memungkinkan menggendong Rara saat ini.
Setelah mendudukkan Rara di closet, Jodi keluar dari kamar mandi. Gantian Arnold yang masuk membantu Rara.
Sambil menunggu di depan kamar mandi, Jodi menghubungi suster dan meminta disediakan perawat khusus untuk keduanya.
Apalagi kondisi Rara sedang tidak baik dan Jodi harus segera kembali ke kantornya.
Arnold membuka pintu kamar mandi dan memegangi Rara berjalan keluar.
Jodi : "Bisa?"
Arnold : "Iya, uda mendingan."
Jodi : "Aku harus balik ke kantor. Ntar ada suster yang bantuin disini. Kalian kalo perlu apa-apa bisa minta tolong dia ya."
Arnold : "Sorry ngrepotin, bro."
Jodi : "Gak masalah, bro. Aku pergi dulu."
Arnold : "Hati-hati di jalan ya..."
Jodi : "Hii... Jangan ngomong gitu.. geli..."
Ketika mau keluar dari kamar Arnold, seorang suster sudah berdiri di depan pintu.
Jodi : "Oh, kamu yang dikirim untuk bantu disini? Masuk aja."
Suster itu masuk ke dalam kamar dan Jodi segera pergi dari sana.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Rara sudah merasa lebih baik setelah diinfus satu botol. Suster menelpon dokter dan infusnya bisa dicabut.
Tapi ia masih merasa mual hingga kembali muntah-muntah. Sore itu dokter datang lagi untuk mengecek keadaannya.
Dokter meminta Rara melakukan test darah untuk memastikan penyakitnya. Dan hasilnya akan keluar sekitar dua jam lagi.
Sambil menunggu Rara tertidur di pelukan Arnold. Ponsel Rara sampai terjatuh ke tangan Arnold.
Arnold membuka ponsel Rara dan melihat isi chatnya dengan Ilham. Rara meminta Ilham mengirimkan update pekerjaan setiap hari.
Arnold tersenyum melihat kinerja Rara yang meningkat pesat.
Ada juga chat dari Jodi menanyakan nomor kamar rawat inap Arnold. Yang dijawab Rara dengan jelas. Hanya itu tanpa basa-basi. Arnold mengelus kepala Rara.
Rara menggeliat dan berbalik memunggungi Arnold. Arnold juga merasa lelah dan tertidur sambil memeluk Rara.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Rara membuka matanya perlahan, seseorang mengguncang tubuhnya perlahan. Ia melihat suster dan dokter di hadapannya.
Saat ia menoleh kesamping, wajah tampan Arnold menyambutnya.
Rara : "Iya, dokter."
Dokter : "Hasil pemeriksaannya sudah keluar. Selamat ya, anda dinyatakan positif hamil."
Rara : "Hamil?"
Dokter dan suster saling pandang melihat reaksi Rara. Ia belum sepenuhnya bangun, jadi antara otak dan telinganya belum terkoneksi dengan baik.
Rara : "Saya hamil??!!"
Dokter : "Iya, bu. Usia kandungannya masih sangat muda. Baru 6 minggu. Besok ibu bisa menemui dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Rara : "Makasih dokter."
Rasa haru, bahagia, kaget, terkumpul jadi satu saat suster menyerahkan hasil pemeriksaan Rara yang positif hamil.
Ia mulai menangis mencoba menyeimbangkan rasa yang berkecamuk di dadanya. Suara tangisannya membuat Arnold terbangun.
Arnold : "Sayang? Kamu kenapa? Dimana yang sakit?"
Arnold terlihat sangat khawatir. Rara menarik tangan Arnold memegang perutnya.
Arnold : "Sakit disini? Aku panggil suster ya?"
Rara menggeleng, ia belum bisa bicara karena sesenggukan. Arnold melihat hasil laporan pemeriksaan lab di tangan Rara dan membacanya.
Arnold : "Sayang, ini maksudnya positif apa ya?"
Rara menunjuk perutnya dengan dagu. Arnold masih gak paham juga.
Rara : "Aku... ha... mil..."
Arnold : "Apa? Kamu ngomong apa?"
Rara : "Hamil, mas."
Arnold : "Siapa yang hamil? Kamu? Benaran kamu?"
Rara melihat kalau Arnold juga meneteskan air matanya melihat hasil pemeriksaan Rara.
Keduanya saling berpelukan sangat bahagia, karena setelah usaha beberapa bulan, akhirnya Rara bisa hamil.
Arnold : "Kita harus rayakan."
Arnold turun dari atas tempat tidur rumah sakit dan hampir menggendong Rara.
Rara : "Mas, pinggangmu..."
Arnold : "Oh, iya. Aku lupa. Sayang, kamu hamil."
Rara : "Ya, mas. Baru 6 minggu. Kita harus berhati-hati."
Arnold : "Hati-hati? Ok, kita akan hati-hati. Sekarang kita ngapain?"
Rara : "Makan, mungkin?"
Arnold : "Ach, iya makan. Mau pesen apa?"
Rara tersenyum bahagia melihat antusias Arnold mengetahui dirinya hamil. Ia ingin mengabari Mia dan Alex tapi menunggu kondisi Mia stabil dulu.
Ia takut mamanya akan jadi memikirkan dirinya yang sedang tidak sehat daripada memikirkan dirinya sendiri.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Tak lama pesanan makanan Arnold datang juga. Rara menatap penuh minat pada sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya.
Arnold : "Ayo, makan."
Arnold mengambil nasi goreng yang ingin dimakan Rara. Ia mengira Rara ingin makan capcay dan nasi saja.
Wajah Rara langsung merajuk menatap Arnold.
Arnold : "Mau?"
Rara : "Iya. Mas makan capcay aja."
Arnold mengalah memberikan makanannya untuk Rara. Istrinya itu memakan nasi gorengnya dengan lahap.
Arnold tersenyum melihat Rara menghabiskan nasi goreng itu. Ia bahkan baru makan separuh nasi capcay.
Arnold : "Pelan-pelan, sayang. Nanti kamu tersedak."
Rara : "Aku laper, mas. Uhuk! Uhuk!"
Arnold : "Neh, kan. Minum dulu."
Arnold menepuk punggung Rara yang masih batuk-batuk. Rara mengusap bibirnya yang basah kena air minum.
Rara : "Mas, peluk..."
Arnold : "Kamu manja sekarang ya."
Rara : "Pokoknya peluk."
Arnold mendekati Rara dan memeluknya erat. Pelukan yang dalam seolah mereka baru bertemu setelah sekian lama berpisah.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²