Duren Manis

Duren Manis
Belum selesai main


Belum selesai main


Sementara itu di rumah Pak Brian...


Keadaan Elena bisa dibilang cukup


menyedihkan. Ia di rantai di ranjang dengan rantai yang cukup panjang dan tidak


boleh keluar kamar selangkahpun. Pak Brian rupanya sangat menyukai Elena dan


membiarkannya tetap tinggal bersamanya dengan segala kemewahannya.


“Aku bosan sekali di dalam sini. Bahkan


ponsel juga gak dikasi bawa.”Elena melihat keluar jendela, Pak Brian baru saja


pulang.


“Astaga, dia sudah pulang, aku belum


mandi.” Elena masuk ke kamar mandi dan bergegas mandi. Ia cepat-cepat memakai


lingeri dan berpose seksi diatas tempat tidur.


“Ach, kau sudah siap rupanya. Ayo, kita


mulai lagi.”Pak Brian tidak menghukum Elena secara langsung. Ia membuatnya


menderita dengan mengurungnya di dalam kamar dan ketika Pak Brian kembali,


Elena harus mati-matian berjuang membuat Pak Brian puas atau ia akan dibiarkan


kelaparan seharian.


Sehari dua hari, Elena masih sanggup


menghadapi Pak Brian. Tapi hari-hari berikutnya mulai terasa berat bagi Elena karena


Pak Brian mulai mengkonsumsi obat yang membuatnya sanggup bertahan sampai


berjam-jam.


Sekalinya Elena dibiarkan kelaparan, ia


menjadi gila. Ia melakukan apa saja yang disuruh Pak Brian demi mendapatkan


makanan. Secara tidak langsung Pak Brian membuat Elena menjadi budaknya. Budak


yang tidak akan bisa berpikir sendiri lagi.


Apa hukuman buat Elena termasuk kejam ya?


Author ngeri sendiri membayangkannya.


*****


Balik lagi ke pengantin baru kita,


Setelah pernyataan cinta Rio yang ia lontarkan


kepada Gadis, Gadis memeluk Rio dengan sangat erat. “Aku juga sangat


mencintaimu, Rio.”


“Kita harus bahagia sama-sama ya. Sampai


kapanpun kau milikku. Semua ini milikku.”


Rio menunjuk tubuh Gadis dengan dagunya.


Gadis mengangguk tersenyum sangat bahagia, ia mulai mencium Rio duluan.


“Sekarang kita tidur yuk. Aku dah ngantuk.”


“Masih terlalu awal kalau kita tidur


sekarang. Lihat jam-nya.”


Gadis melirik ke atas nakas, baru jam 9


malam. Ia memegangi perutnya yang terasa lapar lagi. “Oh, pantesan aku laper.


Tapi dimana kita bisa dapat makanan?”


“Coba aku telpon ke bawah.”


Rio menelpon operator dan disambungkan ke


restauran. Tapi belum sempat memesan, seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


Rio melihat Gadis hampir beranjak dari atas tempat tidur dan menghentikannya.


“Tunggu, sayang. Nanti saya telpon lagi ya. Makasih.”


Rio menutup telponnya, menarik Gadis masuk


lagi ke bawah selimut. “Biar aku yang liat. Kamu tunggu sini.”


Gadis hanya menurut dan menutup seluruh


tubuhnya dengan selimut lagi. Rio memakai bathrobe dan membuka pintu kamar.


“Selamat malam, tuan Rio. Saya diminta mengantar makanan untuk tuan dan


nyonya.”seorang pelayan berdiri di depan pintu.


“Siapa yang ngirim?”tanya Rio sedikit


curiga.


“Ny. Ratna, tuan. Silakan dikonfirmasi


dulu. Saya hanya menjalankan perintah.”


Gadis memberi tahu Rio kalau Ratna


mengirimkan pesan akan ada yang mengantar makan malam mereka. Rio membiarkan


pelayan itu masuk dan memberikan tips padanya. Setelah menutup pintu, Rio


meminta ponselnya pada Gadis.


Rio mengirimkan chat balasan untuk Ratna


dan mengucapkan terima kasih atas segala yang telah diberikan Ratna untuk pesta


pernikahannya. Ratna segera membalas dan mengatakan agar Rio tidak perlu


sungkan padanya.


“Ayo, kita makan. Habis itu lanjut


lagi.”ajak Rio pada Gadis.


Gadis yang sedang memakai bathrobe menoleh


sebal pada Rio, “Bisa gak sich, kita istirahat aja. Aku capek, Rio.”


“Aku belum capek. Kamu diem aja kalo gitu.”


“Idih, mana enak main kalo aku diem aja.”


pada Gadis.


Gadis mulai mengejar Rio, hendak mencubit


pinggangnya. Rio tertawa-tawa menghindari kejaran Gadis, mereka membuat kelopak


bunga yang bertebaran di beberapa tempat di kamar hotel itu jadi bertebaran


kemana-mana.


“Rio, sini gak! Awas ketangkep ntar ya.”


“Sini, coba kejar aku. Gak bisa kan.”


Gadis yang merasa tidak bisa mengejar Rio,


akhirnya diam mematung di pojokan sambil bersidekap. Ia pura-pura ngambek dan


berhasil memancing Rio mendekatinya lagi.


“Sayang, ngambek ya. Jangan marah dong. Aku


kan cuma bercanda.”


Gadis dengan cepat membalik tubuhnya dan


mencubit pinggang Rio keras-keras.


“Addoowww!! Ampun!! Gadis, stop. Geli


banget!!”


“Rasain! Siapa suruh nakal.”


Rio menangkap kedua tangan Gadis,


menyudutkan wanita yang sangat dicintainya itu ke dinding kamar. “Rio...”


“Aku lapar sekali.”ucap Rio dengan suara


serak. Gairahnya kembali bangkit melihat bathrobe Gadis hampir terbuka


sebagian.


“Ayo, kita makan dulu.”ajak Gadis.


Gadis menatap Rio yang tidak mau melepaskan


tangannya. “Rio, tanganku lepasin dong. Katanya mau makan.”pinta Gadis.


“Aku mau makan kamu dulu.”


Rio mencium bibir ranum Gadis, melesakkan


lidahnya mengabsen ke dalam mulut wanita itu. Gadis terlena dengan ciuman Rio


yang memabukkannya. Ciuman Rio pindah ke leher putih mulus Gadis, ia


menambahkan tanda cinta lagi disana.


“Rio...”lenguh Gadis yang merasa geli di


lehernya. Desahan Gadis semakin keras saat ciuman Rio pindah ke dadanya. Kedua


tangan Rio berpindah menyentuh punggung Gadis, memisahkannya dengan dinginnya


dinding kamar yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka.


Sedetik kemudian, Rio membalik tubuh Gadis,


memberi tanda cinta di punggungnya yang terbebas dari balutan bathrobe yang


kini teronggok di bawah mereka.


“Rio...”mendengar namanya terus dipanggil,


Rio semakin bersemangat menyentuh Gadis. Emosinya bergejolak ingin mendengar


jeritan Gadis yang selalu membuatnya ingin lagi dan lagi.


“Sayang... Gadis...”bisik Rio mesra di


telinga Gadis membuatnya berdegup kencang. “Kamu  gak boleh tidur malam ini.”


Gadis hanya mengangguk, sentuhan Rio


membuatnya tidak bisa fokus berpikir lagi. Hasratnya lebih mendominasi tubuhnya


sekarang. Gadis bahkan tidak sadar kalau Rio sudah menyatukan tubuh mereka


lagi.


Keduanya terjebak dalam indahnya penyatuan


yang sah dalam status mereka sebagai suami dan istri. Berlomba meraih


kenikmatan yang lebih lagi. Sampai kaki Gadis tidak kuat lagi menopang berat


tubuhnya. Rio merangkul pinggang Gadis, menahan tubuh istrinya agar tidak


jatuh.


Dengan lembut, Rio menggendong tubuh Gadis


membaringkannya diatas tempat tidur mereka. Rio kembali mendekati Gadis, tidak


membiarkan jarak mereka berjauhan sedetik saja. Hembusan nafas panas Rio,


menggetarkan tubuh Gadis membuatnya kembali melenguh.


Semakin keras sampai Gadis menjerit


menjambak rambut Rio. Keduanya saling menatap sambil mengatur nafas yang tidak


beraturan. Melihat Rio tersenyum dengan mata sayu berkabut gairah, membuat


Gadis yakin permainan mereka sudah selesai sampai disini dan dia bisa tidur


dengan tenang.


“Rio, aku mau tidur ya.”


“Udah kubilang malam ini kamu gak boleh


tidur. Kita belum selesai mainnya.”


Gadis menoleh melihat arah pandangan mata


Rio yang terus tersenyum. Tubuhnya melemas seketika menyadari Rio sangat serius


dengan kata-katanya.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.