Duren Manis

Duren Manis
Lamaran online


Jodi menoleh


menatap Katty, Katty menggeleng sambil menatap matanya. Wanita itu dengan cepat


menoleh menatap papanya dan mencoba bicara,


Katty : “Pah...


Katty...mau...”


Papa Katty : “Kamu


mau apa?” Katty tercekat dan menelan salivanya.


Katty : “Katty mau


nikah secepatnya sama Jodi. Tolong papa mau terima video call dari papanya


Jodi!”


Katty berkata


dengan sangat cepat dan lantang, ia menatap papa dan mamanya, menunggu reaksi


orang tuanya. Di luar dugaan, papa Katty menjawab dengan santai,


Papa Katty : “Ya,


papa terima...”


Deg! Deg! Deg!


Jantung Katty bergemuruh melihat reaksi papanya. Kenapa papanya gak


marah-marah? Kenapa papanya gak berteriak seperti biasanya? Papanya terlihat


lebih kurus dan tua dengan keriput dibawah matanya.


Apa papanya setua


itu? Pak Anton bahkan tidak terlihat setua papanya. Tiba-tiba Katty ingin


menangis, ia kembali meringkuk di samping Jodi. Air matanya hampir mengalir dan


ia tidak ingin dilihat menangis oleh papanya.


Jodi : “Saya telpon


sekarang ya, om.”


Papa Katty hanya


mengangguk dan Jodi melakukan sambungan v-call dengan papanya.


Jodi : “Halo, pah.


Ini papa dan mama Katty. Om, ini papa dan mama saya.”


Anton : “Selamat


malam, pak. Saya Anton dan ini istri saya. Kami orang tuanya Jodi.”


Papa Katty : “Selamat


malam, pak. Saya Hendra, ini istri saya.”


Anton : “Maaf


sebelumnya karena kita belum bisa ketemu langsung. Tapi saya harap ini tidak


mengurangi kesan pertama pertemuan kita ini.”


Papa Katty : “Saya


mengerti, Pak Anton.”


Anton : “Mungkin


bapak sudah mendengar dari Jodi tentang lamaran kami terhadap Katty, putri


bapak dan ibu. Jadi bagaimana jawaban bapak dan ibu?”


Papa Katty : “Maaf


sebelumnya saya mau bertanya, apa bapak tahu sampai sejauh mana hubungan mereka


berdua.”


Anton : “Kalau


maksud bapak, mereka tinggal bersama, kami sudah tahu, pak.”


Papa Katty : “Baik,


kalau begitu kami terima lamaran ini.”


Anton : “Bagus


sekali. Kami akan kembali secepatnya, jadi kita bisa bertemu secara langsung,


pak Hendra.”


Papa Katty : “Kami


tunggu kedatangan bapak dan ibu. Selamat malam.”


Anton : “Selamat


malam, pak.”


Jodi menekan tombol


merah, mengakhiri sambungan video call itu. Ia menatap papa dan mama Katty


dengan senyum mengembang. Tapi Katty justru menangis di belakang punggungnya.


Jodi : “Sayang,


kamu kenapa nangis?”


Katty : “Gak...


hiks... hiks...”


Katty tidak bisa


mengendalikan dirinya saat mendengar papanya menyetujui pernikahannya dengan


Jodi. Ia menangis di punggung Jodi, tidak membiarkan siapapun melihatnya.


Jodi : “Sayang,


sini aku peluk.”


Katty : “Gak mau...


biarin... gini...”


Papa Katty :


“Biarkan saja, Jodi. Kalian makan disini ya. Mama sudah masak makanan kesukaan


Katty.”


Jodi : “Baik, om.


Terima kasih. Katty, ayo makan dulu.”


Katty : “Ntar...”


Jodi : “Om dan


tante, makan saja duluan. Saya tunggu Katty tenang dulu.”


Papa dan mama Katty


beranjak ke meja makan dan makan duluan disana. Sementara Jodi meraih Katty


dalam pelukannya.


Jodi : “Kamu


kenapa, sayang? Kamu gak pa-pa, kan?”


Katty : “Aku


ngrasa... durhaka banget... Kamu lihat papaku? Papa gak... setua itu saat...


terakhir aku pergi... dari rumah ini. Sekarang papa... keliatan tua banget.”


Jodi : “Sayang,


masih belum terlambat kalau kalian bicara baik-baik sekarang. Lupakan semuanya.


Mulai dari awal lagi sama papamu.”


Katty : “Aku takut,


Jodi. Takut... mendengar bentakan... dan teriakan lagi. Aku gak sanggup lagi.”


Jodi : “Pelan-pelan


ya. Kita cari tahu apa mau papamu. Jangan menentangnya lagi. Kita sudah dapat


restunya sekarang. Tinggal...”


Katty : “Tinggal


apa?” Katty mengusap air matanya dan menatap Jodi. Ia sudah lebih tenang saat Jodi


memeluknya.


Jodi : “Tinggal


buatin cucu yang banyak.”


Katty : “Mesum...”


Jodi : “Sayang,


kita makan yuk. Aku lapar nich.”


Katty : “Gak


berani...”


Jodi : “Ayo, temani


Katty pasrah


ditarik Jodi masuk ke dalam, mereka langsung melihat papa dan mama Katty baru


selesai makan malam.


Mama Katty : “Katty,


makan dulu. Mama masak makanan kesukaan kamu loh.”


Katty : “Iya, mah.”


Mama Katty : “Nak


Jodi, ayo makan dulu.”


Jodi : “Iya, tante.”


Jodi duduk di dekat


papa Katty dan mencoba mengobrol dengannya. Katty makan dalam diam dan tidak


menanggapi apapun selama makan malam mereka.


*****


Setelah makan malam


usai, papa dan mama Katty beranjak ke dalam kamar mereka, meninggalkan Jodi dan


Katty masih duduk di meja makan.


Jodi : “Dimana


kamarmu?”


Katty : “Disana.”


Katty menunjuk pintu pertama setelah mereka masuk ke ruang makan.


Jodi : “Ayo kita


istirahat.”


Katty : “Maksudmu?


Kita mau pulang kan?”


Jodi : “Kita tidur


di kamarmu malam ini.”


Katty : “Tapi


papaku...”


Jodi : “Kamu itu


mikir apa waktu makan malam tadi. Apa kamu gak dengar? Papamu meminta kita


menginap malam ini dan aku gak mungkin tidur di kamar lain, kan.”


Katty : “Tapi aku


gak enak. Kamu tidur aja di kamarku, aku tidur di kamar Kaori.”


Jodi : “Ribet amat.


Aku gak akan minta jatah disini. Terlalu berisik, kasian papa sama mamamu


nanti.”


Katty memukul


lengan Jodi yang sudah nyengir mesum sambil menatapnya.


Jodi : “Kecuali kau


memintanya dengan manis, aku akan melakukannya dengan perlahan dan gak berisik.”


Katty : “Jodi! Kamu


genit!” Jodi tertawa melihat Katty melotot padanya.


Jodi : “Nah, gitu


dong. Kucing liarku uda balik lagi. Aku suka kamu yang begini, galak dan seksi.”


Katty : “Hentikan bermulut


manis! Aku malu dengernya.”


Jodi : “Biasanya


kau akan langsung menyerangku kalau aku menggodamu. Kenapa sekarang malu?”


Katty : “Kamu lupa


kita dimana?”


Jodi : “Nggak. Ini


rumah mertuaku. Dan kau sedang menggodaku sekarang.”


Katty : “Menggoda


darimana?”


Jodi : “Menunjukkan


kamarmu. Ayo kita tidur.”


Katty tidak bisa


berbuat apa-apa saat Jodi menarik tangannya dan membuka pintu kamar Katty. Katty


melihat sekeliling kamarnya yang tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu.


Hanya lebih rapi dan bersih. Jodi melihat sekeliling, ia duduk di atas ranjang


dan mulai membuka pakaiannya sambil menatap Katty.


Katty : “Apa


maksudnya itu?”


Jodi : “Aku hanya


menggodamu. Apa kau tergoda?”


Katty : “Tidur


sana. Aku mau ganti baju dulu.”


Jodi : “Kalau gitu


aku gak jadi tidur. Cepat buka.”


Katty : “Issh...”


Katty mengambil


piyama tidurnya di lemari dan mengganti pakaiannya di depan Jodi yang


mesam-mesem kegirangan. Bekas ciumannya semalam masih terlihat jelas di


beberapa bagian tubuh Katty.


Jodi : “Banyak


banget, apa aku seganas itu?” Jodi menunjuk tubuh Katty.


Katty : “Kamu


memang ganas, sayang.”


Jodi : “Sini dong,


sayang. Kita bobok yuks. Mimik cucu.”


Katty tersenyum


geli mendengar Jodi merayunya. Ia malah beranjak mendekati pintu kamar dan


hampir keluar,


Jodi : “Kamu mau


kemana?”


Katty : “Mau ambil


susu dulu. Kamu mau?”


Jodi : “Aku mau


yang itu...” Tunjuk Jodi ke dada Katty yang dibalas Katty dengan memeletkan


lidahnya.


Katty keluar dari


kamarnya, ia menuju dapur untuk mengambil segelas susu hangat. Saat itu ia melihat


bayangan seseorang yang sedang berdiri di dekat meja dapur sambil menatapnya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲