
DM2 – Membujuk Rey
Gadis membalik buku itu dan melihat itu
buku milik Rava. Jadi Reva memberikan buku Rava agar dia punya alasan keluar
dari kamar. “Hais, anak itu. Bandel banget sich.” Reva yang beralasan ke toilet
terlihat sedang duduk di ruang keluarga, asyik bermain game.
Rara yang sejak awal mengintip Gadis dan
Rey, duduk bersama mamanya di ruang keluarga. Mia sedang menonton game yang dimainkan
Reva. “Mah, sepertinya keputusanku pindah kesini belum tepat ya.”
“Kenapa gitu?” Mia menoleh ke kamar
anak-anak sebentar,”Apa karena Rey? Kasi dia waktu, okey.”
Rara menggeleng, “Karena Gadis, mah. Aku
ini sudah jadi ibu tapi bukan ibu yang sebenarnya. Sejak Rey lahir, aku hanya
bersamanya saat malam. Bahkan menitipkannya disini selama 5 tahun. Apa yang
kuharapkan, mah?”
“Kalau pikirmu gitu, tebus sekarang.
Mumpung Rey masih kecil, kasi dia kasih sayang yang belum dia rasakan dari
kamu, Ra. Dan untuk Gadis, dia masih punya si kembar. Hmm, Rey sudah 7 tahun,
kenapa kamu gak punya anak lagi?”
“Mas Arnold, mama tahu sendiri kan.
Kesehatannya gak terlalu baik. Rara udah usaha buat terus tapi gak jadi-jadi.
Padahal Rara sengaja gak pake KB.”
Mia mengelus sayang kepala Rara, “Coba
program, banyak cara kan sekarang. Inseminasi, Bayi tabung.”
“Mah, apa tuch bayi tabung?”celetuk Reva
kepo.
“Kamu belum cukup dewasa kalau mama jelasin
sekarang.”saut Mia mencubit hidung Reva.
“Kapan Reva dewasa?”tanya Reva lagi.
“Hmm... Kapan ya? 12 tahun lagi.”saut Mia.
“Oh...”
Reva kembali asyik bermain game. Rey dan
Rava keluar dari kamar, bergabung dengan mereka. Gadis mengekor di belakang
mereka. Rey bersandar pada tubuh Rara, tapi tangannya memegang tangan Gadis.
Gadis dan Rara saling pandang, tersenyum menatap Rey.
“Rey, besok papa datang. Malamnya, kita
nginep di rumah baru ya?”
“Apa mama Gadis boleh ikut?”
Gadis menatap Rey, tanpak sedih harus
berpisah secepat itu. “Rey, kalo mama Gadis ikut kesana, nanti papa Rio
sendirian disini.”
“Rey disana kan sama papa Arnold sama mama
Rara.”lanjut Gadis lagi.
Rey tampak sedih, ia bergeser memeluk Gadis
dengan erat, “Mama gak suka sama Rey lagi?”
Kali ini Gadis tidak bisa membendung air
asin yang meluncur turun dari sudut matanya. Ia memeluk Rey juga, Rara yang
melihatnya jadi tidak tega.
“Rey...”
“Rey harus ikut sama mama Rara ya. Mama
Gadis sayang banget sama Rey, mama Gadis kan masi bisa antar Rey ke sekolah,
jemput Rey juga. Masih bisa nemenin Rey buat PR.”
“Iya, Rey. Rey masih boleh pulang kesini
ketemu oma, opa, mama Gadis, papa Rio, om kembar juga.”
“Hais, bukan om, tapi abang kambar.”saut
Rava mengulurkan tinjunya pada Rey.
“Abang, tetep aja om, tau.”saut Rey
mengulurkan tinjunya juga. Mata beningnya menatap kedua wanita yang duduk di
samping kanan kirinya. “Rey ikut sama mama Rara, tapi dalam seminggu Rey mau
nginep disini 2 kali, tidur sama mama Gadis. Ya, mah?” tanya Rey mencoba
negosiasi dengan Rara.
“Oh, ya ampun. Anak ini udah bisa nego sama
persis kayak mas Arnold. Iya, sayang. Mama ijinin. Terserah Rey aja.”
“Ya, mama Gadis?”tanya Rey menoleh pada Gadis.
“Iya, sayang. Rey kalo nginep sini tidur
sama mama Gadis.”
“Gak bisa gitu!”protes Rio yang baru datang
bersama Alex.
pertemuan bisnis dengan beberapa pengusaha lainnya.
“Kenapa Rey harus tidur sama mama Gadis,
Rey kan punya kamar sendiri.”kata Rio lagi. Dia sangat suka mengusili Rey yang
terlalu dingin sama persis seperti Arnold.
“Mama Gadis, papa Rio nakal.”rengek Rey.
Hanya sama Gadis, Rey bisa merengek seperti itu.
“Sini, sayang. Mama Gadis peluk.”
“Hei, lepasin mama Gadis, Rey!” Rio
bergerak menarik-narik Rey. Mia serasa dejavu melihat kejadian itu.
“Hadeh, gak anak gak bapaknya sama aja
ternyata.” Rio yang kesal tidak berhasil menarik Rey dari pelukan Gadis, mulai
melirik Mia. Alex melihat gelagat itu, ia duluan memeluk Mia.
“Pah!”
“Apa?! Sana peluk istrimu. Jangan
peluk-peluk istri papa.”
Rio duduk manyun melihat papa dan Rey
mendominasi wanita yang ia cintai dan sayangi.
Gadis memeluk Rey cukup lama sampai Rey
mulai mengantuk. Rara menuntun Rey masuk ke kamarnya, setiap malam sejak Rara
kembali, Rey tidur bersama Rara dikamarnya. Gadis terus menatap Rey sampai anak
itu masuk ke kamar Rara.
“Gadis, ayo kita tidur.”ajak Rio.
Gadis mengangguk, ia mengikuti Rio naik ke
lantai 2. Setelah bersih-bersih, keduanya naik ke tempat tidur mereka. Keduanya
diam larut dalam pikiran masing-masing.
“Rio, besok kak Arnold datang. Mereka mau
bawa Rey tinggal di rumah baru. Rey bakalan jauh dari kita.”
“Cepat atau lambat pasti bakalan gini,
Gadis. Kamu harus sabar ya.”
“Rio, aku capek gini. Kita belum juga
dikasi anak sampai sekarang. Sebentar lagi kita sama-sama kepala 3. Kamu gak
mau punya anak sendiri?”
“Aku mau, Gadis. Tapi aku kan uda sering
bilang sama kamu dan aku akan bilang lagi. Mau punya anak atau tidak, aku akan
terus selamanya sama kamu. Aku akan mencintai kamu selamanya. Aku berjanji akan
terus menjagamu, melindungimu dari apapun di dunia. Kita bisa adopsi anak untuk
kita berdua. Apa kamu sudah siap?”
“Rio, masalahnya ada di aku. Kamu masih
bisa punya anak dengan wanita lain.”
“Kamu ngomong apa?!”teriak Rio.
“Rio, aku mau kamu nikah lagi.”
“Apa kamu udah gila!!”jerit Rio.
Gadis merasakan lengannya diremas Rio
dengan keras. Pria itu mendorongnya terbaring diatas ranjang mereka. Bret!
Bret! Sekali sentakan, piyama tidur Gadis terbuka lebar. Rio menarik piyama itu
terlepas, melemparkannya sembarangan.
“Ngomong lagi. Kamu suruh aku nikah lagi?
Kamu harus dihukum. Sampai kamu tarik kata-katamu lagi.”
“Tapi... Rio...”
Gadis meringis kesakitan, Rio mencium,
menggigit, menyesap leher dan dada Gadis hingga tersisa tanda-tanda kemerahan
yang banyak sekali. Kedua tangan Gadis ditahan diatas kepalanya dengan sebelah
tangan Rio, tangan satunya meraba area sensitif Gadis. Tubuh keduanya sudah
sama-sama polos.
Rio menyatukan tubuh mereka sedikit kasar,
membuat Gadis merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan selama
pernikahannya dengan Rio. Mulutnya mengerang keras, punggung melengkung dengan
keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
Tidak hanya sekali, setiap kali selesai,
Rio akan bertanya apa Gadis akan menarik kata-katanya. Tapi Gadis selalu
menggeleng. Jeritan, erangan, lenguhan Gadis dan Rio memenuhi kamar itu.
Penghuni rumah yang lain tidak akan mendengar apa yang sedang mereka lakukan di
kamar itu. Peredam suara yang dipasang Rio, mengerjakan tugasnya dengan baik.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.