Duren Manis

Duren Manis
Berbagi ngidam


Rara dan Arnold


sedang berada di ruang tunggu rumah sakit. Siang itu jadwal periksa Rara dan


bayinya. Rara tampak meringis sesekali memegangi bawah perutnya. Perutnya sudah


semakin besar dan kakinya juga ikut membengkak.


Arnold : “Sayang,


kamu gak pa-pa?”


Panggilan Arnold


untuk Rara membuat beberapa ibu hamil yang sedang menunggu di ruang tunggu


menatap mereka dengan pandangan iri. Beberapa ibu ada yang bisik-bisik dengan


pasangan masing-masing. Ada juga yang ngomong sendiri mengagumi sosok Arnold yang


super tampan.


Ibu-ibu di belakang


Rara bahkan berkata, apa mungkin Arnold mau mengelus perutnya agar anak di


dalam kandungannya bisa ganteng seperti Arnold. Rara spontan melirik ke


belakang dan disambut senyuman canggung ibu-ibu tadi.


Rara : “Ya kali anaknya


mirip mas Arnold. Bibitnya aja beda. Tiap kesini pasti gitu aja.”


Arnold : “Sayang,


jangan pedulikan omongan mereka. Kamu laper?”


Rara : “Mas nich,


tiap kali nanya aku laper mlulu. Liat nich badanku uda bulat gini, masih


kurang?”


Arnold : “Sayang, jangan


galak gitu dong. Tambah cantik dech.”


Rara : “Bulet gini


dibilang cantik.”


Arnold : “Mau jadi


bulat, gak bulat, kamu tetep yang tercantik disini.”


Arnold menunjuk


dadanya. Kalo Rara lagi normal pasti langsung klepek-klepek. Masalahnya hormon


kehamilannya membuat Rara lebih sensitif. Dia banyak gak sukanya, gak suka


kalau ada wanita yang memuji Arnold ganteng, gak suka denger kata-kata yang


mengarah ke gendut, bulat dan lainnya.


Rara : “Besok-besok


aku pergi periksa sama Ilham aja.”


Arnold : “Loh, kok gitu,


sayang. Aku kan juga pengen lihat debay.”


Rara : “Gak suka


mas dibilang ganteng. Pokoknya mas gak boleh keliatan ganteng.”


Arnold : “Mas


ganteng dari lahir, sayang. Trus gimana?”


Rara : “Mas harus


pake topeng.”


Arnold : “Topeng


apaan?”


Arnold sudah memaklumi


kelakuan Rara yang aneh sejak kehamilannya. Ia berusaha bersabar karena Rara


sedang mengandung bayi mereka. Dan sekarang Arnold harus pakai topeng, dirinya


bahkan tidak menoleh saat mendengar seseorang memujinya tampan. Tapi Rara tetap


saja kesal.


Rara : “Topeng


monyet!”


Rara melipat


tangannya di depan dada, wajah cemberutnya terlihat menggemaskan di depan


Arnold. Ia menatap Rara penuh cinta, membuat ibu-ibu di belakang mereka semakin


iri.


Arnold : “Sayang,


kita jalan-jalan habis ini ya.”


Rara : “Kemana?”


Arnold tersenyum


melihat Rara terpancing, ia tampak berpikir sejenak, membuat Rara semakin


penasaran.


Rara : “Kemana,


mas?”


Arnold :


“Sepertinya kita perlu membeli perlengkapan bayi. Sudah hampir 8 bulan kan?”


Rara : “Oh, iya ya.


Aku lupa, mas.”


Arnold : “Kita ke


mall, sekalian beli BH baru. Nanti aku bantuin nyobanya.” Bisik Arnold di


telinga Rara.


Arnold mengelus


punggung Rara menarik sedikit BH yang sedang dipakainya. Wajah Rara merona


membuat Arnold ingin mencium Rara saat itu juga. Tiba-tiba suster memanggil


Rara masuk ke ruang periksa.


*****


Selesai


memeriksakan kandungan dan juga kondisi Rara yang baik-baik saja, Arnold


menuntun Rara keluar dari ruang periksa dokter kandungan dan membawanya ke


ruang tunggu di depan apotek. Arnold menebus vitamin Rara.


Saat itu, Rara


bertemu dengan Jodi dan Katty yang hari itu keluar dari rumah sakit. Katty


duduk di kursi roda yang didorong Jodi.


Jodi : “Rara?


Ngapain disini? Kamu sendiri?”


Rara : “Hai, kak.


Aku habis periksa kandungan. Kak Katty apa kabar? Sudah sehat?”


Katty : “Iya, Rara.


Sudah berapa bulan hamilnya?”


Rara : “Sudah masuk


bulan 8, kak.”


Katty : “Bentar


lagi dong lahirnya.”


Jodi mengedarkan


pandangan ke sekitar dan melihat Arnold berdiri di depan apotek. Ia membiarkan


kedua wanita hamil itu mengobrol, dan berjalan mendekati Arnold.


Jodi : “Yo, bro.”


Arnold : “Bro.


Ngapain disini?”


super tampan berdiri di depan apotek saja sudah seperti surga bagi petugas


medis dan pengunjung disana. Ditambah lagi dengan sosok Jodi yang tidak kalah


gagahnya. Petugas medis yang melayani Arnold tadi sampai bengong melihat visual


keduanya.


Arnold dan Jodi


mengobrol sambil sesekali melihat ke arah kedua ibu hamil yang sekarang tampak


sedang berpelukan.


Arnold : “Kenapa


mereka pelukan?”


Jodi : “Sepertinya


Katty sudah ngasih tau Rara.”


Arnold : “Ngasi tau


apa?”


Jodi : “Aku juga


akan jadi papa sebentar lagi, bro.”


Arnold : “Katty


hamil?! Akhirnya kau melepas status homo, bro.”


Jodi : “Sialan lo.


Tapi kalo sama kamu, aku mau kok.”


Arnold : “Stress lo


ya. Jauh-jauh... Mbak, cepetan dong. Mana obatnya?”


Jodi menggoda


Arnold di depan petugas medis yang langsung ilfeel melihat mereka berdua.


Ganteng-ganteng tapi kok...


*****


Setelah Arnold


mendapatkan vitamin untuk Rara, mereka kembali menghampiri Rara dan Katty.


Katty tampak sedang mengunyah sesuatu, menyisakan kotak kosong di pangkuannya.


Jodi : “Kamu makan


apa?”


Katty : “Buah


dikasi Rara. Aku lagi pengen buah potong, pas banget Rara bawa.”


Jodi : “Kenapa gak


panggil aku?”


Katty : “Kelamaan. Anakmu


maunya sekarang.”


Rara : “Gak pa-pa,


kak. Di mobil masih ada sekotak lagi, kok.”


Katty : “Oh ya? Arnold,


cepat ambil. Aku masih mau lagi.”


Jodi garuk-garuk


kepala, bayinya suka sekali merepotkan orang lain.


Rara : “Mas,


ambilin kotak buahnya lagi sana. Aku tunggu sini.”


Jodi mengambil


kotak di tangan Katty dan mengendus kotak itu, setelah Arnold berjalan menuju parkiran


mobilnya.


Jodi : “Hmmp...


hmmpp... bau apaan sich ini?”


Rara : “Itu salad


buah, kak. Ada kejunya.”


Jodi sudah tidak


menanggapi Rara lagi, ia celingukan mencari toilet dan melesat berlari masuk ke


dalam sana. Katty tertawa melihat Jodi lari terbirit-birit karena tidak bisa


menahan mualnya.


Rara : “Kak Jodi


ngidam, kak?”


Katty : “Iya, aku


yang hamil, dia yang morning sick. Kalo ngidam kayaknya sama-sama dech. Hehe...”


Anisa yang tadi


membantu Guntur membawa barang-barang Katty ke dalam mobil, tampak berjalan


mendekati mereka.


Anisa : “Katty,


ayo. Mobilnya uda di depan.”


Katty : “Ntar,


tante. Jodi masih ke toilet. Tante, kenalin ini Rara, dia kakaknya Rio. Masih


ingat kan? Pacarnya Kaori.”


Anisa : “Oh, halo


Rara. Saya Anisa, tantenya Katty.”


Anisa menyalami


Rara.


Rara : “Halo,


tante. Kok  bisa kenal Rio?”


Anisa : “Iya, dia


nganter Kaori nengok Katty waktu ini.”


Rara


manggut-manggut. Arnold segera kembali membawa kotak salad yang lain dan


langsung memberikannya pada Katty.


Katty : “Makasih,


Arnold. Sebaiknya aku cepat makan ini, atau Jodi akan muntah-muntah lagi kalo


nyium baunya.”


Arnold : “Jodi


mana?”


Katty : “Ke toilet,


muntah.”


Arnold : “Coba aku


liat dulu.”


Rara, Katty dan


Anisa duduk bersama berbagi salad buah sambil ngobrol lagi. Menunggu Arnold dan


Jodi keluar dari toilet. Sementara Guntur kebingungan sendiri menunggu bos-nya


yang tak kunjung keluar dari lobby rumah sakit.


🌻🌻🌻🌻🌻


Arnold perhatian


banget ya sama Jodi. Jangan-jangan...


Jangan lupa vote


dong, author uda up kasi semangat lewat like dan vote dong. Gratis kok...


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).