
Satu hal yang belum diketahui Mia kalau hari ini adalah hari ulang tahun Alex. Si kembar, Rara, nenek dan mb Minah sudah menyiapkan kejutan sederhana untuk Alex setelah ia pulang nanti.
Setiap tahun setelah Selvi meninggal, Alex tidak pernah mau ulang tahunnya dirayakan secara besar-besaran. Cukup makan malam sekeluarga saja sudah cukup untuk Alex.
Rara dan si kembar berharap, ulang tahun Alex kali ini bisa kembali dirayakan seperti sebelumnya. Rara sengaja tidak memberitahukan Mia untuk menyempurnakan kejutan mereka. Meskipun mungkin Mia akan ngambek setelah ini.
Kejutan kali ini Rara menyiapkan sebuah kue yang ia buat sendiri dengan buah-buahan kesukaan Alex. Hasilnya cukup bagus untuk pemula seperti Rara. Si kembar juga membantu Rara menghias kuenya sehingga ada beberapa bagian yang ancur.
Nenek dan mb Minah sudah memasak makanan kesukaan Alex untuk melengkapi kejutan mereka malam itu.
Mia dan Alex baru sampai di rumah sekitar jam 7 malam. Mereka masuk bersama ke dalam rumah yang sepi. Mia memanggil Rara dan si kembar tapi tidak ada jawaban.
Mia : "Mas, kok tumben sepi ya. Anak-anak pada kemana? Biasanya jam segini mereka lagi nonton TV."
Alex : "Lagi istirahat kali. Mau mandi dulu?"
Mia : "Ibu juga gak jawab panggilanku. Aku cek ke kamar dulu ya."
Mia mengetuk pintu kamar nenek dan tidak menemukan siapapun di dalam sana. Di dapur juga sepi, padahal rumah dalam keadaan tidak terkunci.
Alex yang berdiri di ruang keluarga tiba-tiba dikejutkan kehadiran seluruh anggota keluarga yang muncul dari ruang sebelah.
Semua : "Surprise...!!!"
Rara membawa kue ulang tahun yang dihiasi lilin dan kembang api. Alex tersenyum melihat kejutan untuknya. Mia yang mendengar ribut-ribut di ruang keluarga segera berjalan kesana.
Nyanyian happy birthday memenuhi rumah itu. Mia tampak kebingungan, ia menatap Alex dan seluruh anggota keluarga bergantian. Mau gak mau Mia ikut bertepuk tangan bersama yang lain.
Diam-diam Mia mengecek ponselnya, bagaimana dia bisa tidak tahu ulang tahun Alex. Mia baru ingat kalau dia tidak pernah menanyakannya. Mereka baru kenal beberapa bulan dan menikah sebelum ulang tahun mereka masing-masing.
Alex memanggil Mia, ia ingin menyuapi Mia dengan kue buatan Rara.
Alex : "Mia, sini."
Alex merangkul pinggang Mia saat Mia menggigit kue ulang tahunnya. Ia mencium pipi Mia, ulang tahunnya kali ini hidupnya kembali lengkap dengan kehadiran Mia dan calon anak mereka.
Alex : "Makasi, sayang."
Alex meminta Rara dan si kembar mendekat, ia memeluk mereka semua termasuk Mia.
Alex : "Kalian adalah kado terindah sepanjang hidup papa."
Alex mencium pipi anak-anaknya dan saat berhadapan dengan Mia, ia mencium bibirnya di depan semua orang.
Si kembar sampai berteriak heboh melihat adegan itu.
Mereka makan malam bersama sambil mengobrol hangat seperti biasa. Kali ini si kembar tidak mendominasi Alex, mereka membiarkan Mia bersama Alex.
Setelah makan malam, Alex dan Mia duduk di dalam kamar mereka.
Mia : "Mas, maaf aku gak tahu hari ini ulang tahunmu. Aku gak nyiapin kado juga."
Alex memegang pipi Mia, mendekatkan hidung mereka.
Alex : "Kamu dan dia adalah kado terindah tahun ini. Apalagi yang aku inginkan?"
Mia : "Tapi tetep aja aku gak enak, mas. Aku bahkan gak tahu tanggal lahir nenek, si kembar, mb Minah."
Alex : "Kita memang terlalu cepat menikah sampai lupa berbagi hal penting seperti ini ya."
Mia : "Iya, mas. Dan lagi kenapa Rara gak kasi tahu aku."
Alex : "Mungkin dia gak mau membuatmu ikutan sibuk. Aku memang gak mau merayakan ulang tahunku setelah Selvi pergi. Biasanya kami hanya makan malam di rumah seperti tadi. Tanpa kue, tanpa lilin."
Mia : "Oh, gitu. Jadi... Apa yang kau inginkan sekarang, mas?"
Mia : "Iya."
Alex : "Aku ingin malam ini kamu ngikutin apapun keinginanku."
Mia melihat seringai mesum dari bibir Alex siap menerkam dirinya.
Mia : "Mas, jangan aneh-aneh. Aku lagi hamil."
Alex : "Gak akan. Pertama, ayo kita mandi bareng."
Malam itu, mereka habiskan dengan percintaan yang panas dan lama sesuai dengan keinginan Alex. Tubuh Mia bergetar beberapa saat sebelum lemas di sisi Alex.
Alex : "Sayang, makasi."
Mia : "Masih mau lagi, mas?"
Alex : "Kamu nantangin aku?"
Mia : "Biasanya lebih dari 2 ronde."
Alex : "Aku gak mau kamu kecapean, sayang. Ayo kita tidur. Besok pagi kita bisa melakukannya lagi."
-----
Bianca melangkah mundur menjauhi pria tinggi di hadapannya. Pria itu memberi kode pada orang-orang di belakangnya untuk masuk.
Bianca : "Ngapain kamu kesini, X? Papa nyuruh apa?"
Pria dihadapan Bianca itu adalah pengawal pribadi khusus untuk menjaga keselamatan anggota keluarga papa Bianca.
X : "Aku datang membawa hadiah, nona."
Bianca melihat seseorang dibawa masuk dalam keadaan tangan dan kaki terikat dan kepalanya ditutupi kain hitam.
Bianca : "Siapa dia?"
X : "Hadiah kecil yang dikirim papa nona dengan pesan, semoga suka."
X memberi tanda untuk meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Bianca yang kebingungan bersama seseorang yang duduk di depannya.
Ragu-ragu Bianca menarik kain hitam dari kepala orang itu. Matanya melotot kaget melihat siapa orang di balik kain itu.
Bianca : "Ilham??!! Apa yang terjadi sama kamu?"
Bianca membuka ikatan tali di tangan dan kaki Ilham, mulut Ilham bahkan di lakban. Ia membuka lakban itu dengan hati-hati agar tidak melukai bibir Ilham.
Ilham seperti orang yang tidak sadar untuk beberapa saat. Sepertinya X sudah membiusnya. Bianca mengguncang tubuh Ilham untuk menyadarkannya.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------