Duren Manis

Duren Manis
Bos Arnold


Guntur tiba di


kantor pagi itu, ia berjalan tergesa karena sedikit terlambat. Jodi yang sudah


datang duluan, berdiri di depan ruang kerja Guntur yang kosong. Ia hampir


menghubungi Guntur ketika orangnya tiba-tiba nongol di belakangnya.


Jodi : “Telat


banget. Tumben. Semalam ngapain aja?”


Guntur : “Pak,


jangan bercanda dech. Saya gak ngapa-ngapain.”


Jodi : “Trus


lamaranmu gimana? Berhasil?”


Guntur mulai


senyum-senyum mengingat kejadian kemarin malam,


*****


Flash back...


Anisa yang sudah duduk


di ruang tamu mulai diinterogasi ayah dan ibunya.


Ayah : “Jadi tadi


Guntur sudah bilang mau melamarmu.”


Anisa : “Trus, ayah


bilang apa?”


Ayah : “Kamu suka


sama dia?”


Anisa : “Ayah kok


nanya gitu?”


Ayah : “Anisa,


jawab ayah.”


Anisa : “Guntur


orangnya baik, kok yah. Dia juga seiman. Dia kerja sama temen dekatnya Katty


loh.”


Ayah : “Ayah cuma


tanya kamu suka gak sama Guntur.”


Anisa : “Su...


suka, yah.”


Wajah Anisa


memerah, ia malu sekali mengakui perasaannya pada Guntur. Ia memang menyukai


Guntur sejak mereka dekat disekolah dulu. Tapi ia baru menyadari perasaannya


lebih dari sekedar teman sekarang.


Ibu : “Apa kau


mencintainya, nak?”


Anisa : “Anisa akan


belajar mencintainya, bu. Hati Nisa bilang dia orang yang tepat untuk Nisa.”


Ibu : “Kamu yakin?”


Anisa mengangguk


sambil tersenyum malu.


Guntur : “Beneran?”


Anisa menatap ke


pintu masuk, Guntur berdiri disana, ia juga menatap kedua orang tuanya yang


senyum-senyum gak jelas.


Anisa : “Bu,


Ayah... Anisa dikerjain ya.”


Ayah : “Kami kan


harus tahu, kamu terpaksa atau tidak. Kalau sudah sama-sama suka, ya kita bisa


apa ya kan, bu.”


Ibu : “Iya, yah.


Akhirnya Nisa kita laku juga ya.”


Anisa : “Bu! Anisa


bukannya gak laku...” Anisa cemberut mendengar kata-kata ibunya.


Ayah : “Guntur,


ingat hari Minggu ya.”


Guntur : “Baik, om.


Saya akan datang bersama orang tua saya. Sudah malam, saya permisi pulang, om,


tante. Nisa.”


Anisa mengantar


Guntur sampai ke dekat mobilnya.


Anisa : “Tadi kamu


sembunyi ya?”


Guntur :


“Sebenarnya aku menelpon ayahku, aku tanya mereka kalau aku akan melamarmu hari


Minggu dan mereka senang sekali. Waktu aku mau masuk lagi, aku dengar


pengakuanmu. Jadinya ya lanjut nguping.”


Anisa : “Idih. Orang


tuamu setuju sama aku?”


Guntur : “Iya. Aku


selalu cerita kalau aku sedang menunggumu waktu ditanya kapan aku nikahnya.”


Anisa : “Trus kalau


aku uda nikah sama orang lain, gimana?”


Guntur : “...Kamu


pasti mengundangku.”


Anisa menghela


nafas dan mengangguk.


Anisa : “Benar juga


ya. Kita kan teman SMA, pasti aku akan mengundang kalian semuanya.”


Guntur : “Jadi, kita


akan mengundang teman SMA kita?”


Anisa : “Kita


undang semua. Pasti seru.”


Keduanya saling


pandang sambil tersenyum satu sama lain.


Guntur : “Masuklah.


Aku pulang ya.”


Anisa : “Hati-hati


di jalan ya, Guntur... mas...”


Guntur terpana


mendengar Anisa memanggilnya dengan mesra dan malu-malu. Ia meminta Anisa masuk


dan menunggu sampai Anisa menutup pintu rumahnya. Guntur menjalankan mobilnya


pulang ke rumahnya sendiri.


Flash back end...


*****


Jodi : “Jadi,


lamaranmu diterima?”


Guntur : “Belum


sich, pak. Saya kan baru nglamar Minggu besok. Tapi ada peluang hasilnya akan


diterima.”


Jodi : “Bagus.


Harus optimis.”


Jodi ingin membahas


pekerjaan dengan Guntur ketika ponselnya berdering. Kening Jodi mengkerut


melihat Rara menelponnya, Jodi menekan tombol record pada ponselnya sebelum


menerima panggilan itu.


Jodi : “Halo, Ra?


Ada apa?”


Rara : “Kak, bisa


minta tolong?”


Jodi : “Minta


tolong apa?”


Rara : “Gimana


caranya ngembaliin semua aset mas Arnold atas nama dia? Termasuk jabatan


direkturnya juga.”


Jodi : “Perlu tanda


tanganmu aja sich. Apa kamu sudah ketemu pengacara Arnold?”


Rara : “Harus


pengacara itu ya? Gak bisa yang lain?”


Jodi : “Kalau pakai


pengacara Arnold, dia kan sudah punya semua dokumen yang kamu perlukan. Jadi


kamu gak perlu repot.”


Rara : “Oh iya,


kak. Kalau gitu, aku coba kontak pengacara itu.”


Jodi : “Ra, kenapa


kamu mau ngembaliin semua aset Arnold?”


Rara : “Dari awal


aku nikah sama mas Arnold karena aku memang cinta, bukan karena aset-nya. Aku


juga gak ngerti kenapa sebelum mas Arnold operasi, dia mengalihkan asetnya atas


Jodi : “Bukannya


bagus ya. Kalau kalian pisah, dia auto miskin dan kamu bisa hidup tenang dengan


kekayaannya.”


Rara : “Kak, bisa


serius sedikit.”


Jodi : “Maaf,


kebiasaan jadi jahat soalnya. Hehe... Ehem, bukannya bagus ya kalau semuanya


atas nama kamu. Dengan jabatanmu sekarang, kamu bisa jadi bosnya Arnold.”


Rara : “Maksud


kakak?”


Jodi : “Ya, karena


kamu pemegang saham utama dan jabatan direktur yang kamu pegang, kalau Arnold


kerja sama kamu, kan kamu yang jadi bosnya.”


Rara : “Ooo... Tapi


kak, aku capek jadi direktur. Tanggung jawabnya itu loh berat banget.”


Jodi : “Bukannya


selama Arnold sakit, kamu bisa mengurus perusahaan dengan baik?”


Rara : “Ya, sih.


Tapi dengan kondisiku sekarang, perutku semakin besar dan berat, kak.”’


Jodi : “Sebentar


lagi kan lahir, bersabarlah.”


Rara : “Tapi beneran


cuma perlu tanda tangan mas Arnold, kan ya?”


Jodi : “Iya.”


Rara : “Makasih,


kak.”


Jodi mendengar


hasil rekamannya tadi dan mengirimkannya pada Arnold. Gantian Arnold yang


menelponnya,


Arnold : “Bro, Rara


nelpon kamu.”


Jodi : “Ya, gitu


dech. Kasian dia, tarik lagi jabatannya gih.”


Arnold : “Gak bisa,


bro. Aku mengaturnya baru bisa dialihkan setelah 5 tahun berlaku.”


Jodi : “Gila kamu!


Terus gimana Rara? Kasian lagi hamil gitu harus kerja keras.”


Arnold : “Aku sudah


mengaturnya dengan Ilham. Rara tidak perlu rutin ke kantor, kalau ada meeting,


aku yang berangkat.”


Jodi : “Bagus kalau


gitu. Eh, ngomong-ngomong kamu miskin dong sekarang.”


Arnold : “Bacot.


Aku bahkan lebih kaya sekarang, apalagi ada kamu.”


Jodi : “Aku? Kok


bisa?”


Arnold : “Kamu lupa


transferanmu setiap hari ya?”


Jodi : “Astaga!


Kita partner, okay. Aku bukan bos-mu.”


Arnold : “Sejak


kapan yang invest jadi anak buah.”


Jodi : “Anjay! Kena


lagi aku.”


Arnold : “Kamu


marah??” Suara Arnold dibuat semanis mungkin membuat Jodi merinding.


Jodi : “Stop it.


Aku gak suka dengernya.”


Arnold tertawa


ngakak di seberang sana. Jodi langsung menutup telponnya. Ia membayangkan kalau


Katty mungkin bisa luluh dengan cara Arnold, tapi sepertinya Jodi belum


seikhlas itu untuk mengalihkan asetnya atas nama Katty.


Jodi menatap Guntur


yang berdiri di depannya, sudah siap menerima perintah.


Jodi : “Gimana


menurutmu kalau aku memberikan sahamku di perusahaan ini pada Katty?”


Guntur : “Bapak


yakin?”


Jodi : “Kalau aku


lakuin itu, trus dianya ninggalin aku gimana dong?”


Guntur : “...Saya


rasa Ibu Katty bukan tipe yang suka dengan hal-hal seperti itu.”


Jodi : “Trus gimana


caranya? Kamu enak, sekalinya bilang suka, langsung mau nikah. Aku?”


Guntur : “Coba cara


lain ngrayu-nya, pak.”


Jodi : “Caranya?”


Guntur : “Bikin


prank bapak pura-pura bangkrut.”


Jodi : “Dia gak


akan percaya. Katty itu koneksinya bagus, pasti langsung ketahuan.”


Guntur : “Kalau


prank nikah sama orang lain?”


Jodi : “Aku harus


cari dimana wanita yang mau pura-pura menikahiku? Begitu mereka tahu statusku,


mereka akan jadi gila dan mulai mengejarku. Ogah.”


Guntur : “Kalo


prank sakit, trus umur gak panjang lagi, gimana?”


Jodi : “Ngaco, kamu


doain saya cepat mati.”


Guntur jadi


geregetan melihat bosnya itu tidak mau menerima satu pun idenya. Bahkan gak


survey dulu gitu. Siapa tahu salah satu idenya ada yang berhasil pada Katty.


Guntur : “Pak, saya


bingung sama Bu Katty, kenapa gak mau nikah sama bapak. Maksud saya, bapak kan


sempurna untuk jadi seorang suami.”


Jodi : “Katty


bilang kalau dia gak berani nikah sama aku. Alasan status sosial keluarga yang


beda jauh dan dia ngrasa gak sepadan denganku.”


Guntur : “Trus


kenapa bapak bisa tinggal bersama?”


Jodi : “Hubungan


kami itu hubungan yang saling menguntungkan. Dia memerlukan uangku, aku


memerlukan tubuhnya.”


Guntur : “Apa bapak


mencintai ibu Katty?”


Jodi : “...Ya, aku


sangat mencintainya. Aku gak tau kapan rasa ini datang, tapi yang jelas, aku


gak bisa jauh darinya.”


Guntur : “Apa ibu


Katty mencintai bapak?”


Jodi : “Aku gak


tahu...”


Guntur : “Kalau


seperti itu masalahnya, Anisa bisa membantu bapak untuk mencari tahu.”


Jodi : “Kau benar.


Hanya itu yang perlu kutahu dan aku akan bisa menikahinya. Kau jenius!”


Guntur tersenyum


melihat bosnya kembali bersemangat. Semoga saja Anisa bisa membuat Katty mengatakan


isi hatinya terhadap Jodi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲