Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Dihukum


DM2 – Dihukum


Mia melirik Jodi yang sibuk ngdumel dalam


hati, wajahnya menegang dan matanya hanya fokus melihat jalanan. Mia tersenyum


geli sendiri, ia sudah mengirim chat pada Alex agar tenang saja menunggunya di


kantor.


Sampai di kantor, Jodi sudah hampir minggat


setelah Mia turun, tapi mobilnya dihadang security kantor Alex yang berbadan


besar. Jodi dengan sangat terpaksa mengikuti Mia naik ke lantai tempat Alex


sudah menunggu mereka.


Mia menahan senyumnya melihat Jodi memucat,


“Kamu kenapa pucet gitu?”


“Gak tau aku bakalan selamat gak dari sini.


Kasian Katty kalo sampe jadi janda. Aku kan juga pengen nambah anak lagi.”sesal


Jodi.


Sejak dulu, Jodi selalu menghindar kalau


sudah bersangkutan dengan Mia. Tapi entah kenapa dia malah menawarkan mengantar


wanita itu pulang tadi. Jodi menyesali kebodohannya hari ini.


“Ngomong ngaco, kamu. Palingan mas Alex


cuma mau ngobrol soal Kinanti. Ini sangat serius, Jodi. Kita harus kerja sama


kalau mau tahu kebenarannya.”


Jodi mengangguk mendengar penjelasan Mia,


setidaknya ada Mia yang membelanya kalau Alex serius dengan ucapannya.


Ketika mereka sampai di depan pintu ruang


kerja Alex, Romi sudah menunggu mereka. “Ayo, masuk.”ajak Romi.


Jodi sempat mundur beberapa centi, tapi Mia


sudah menarik lengannya masuk ke ruangan Alex. Alex semakin kesal melihat Mia


memegang lengan Jodi ketika melihat mereka masuk. Jodi beringsut menjauhi Mia,


berdiri di belakang Romi yang bingung melihat tingkahnya.


“Sayang. Aku sudah datang.”sapa Mia pada Alex.


“Sini, sayang.”panggil Alex. Ia menarik


pinggang Mia agar duduk di pangkuannya.


Romi memutar bola matanya, ia memilih


keluar dari ruangan Alex. Jodi hampir menyusulnya, tapi Alex menghentikan Jodi.


“Duduk.”perintah Alex.


Jodi menurut, duduk di sofa, masih


mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu. Disaat seperti ini dia ingin


Katty menelponnya, menyuruhnya pulang sekarang juga. Jodi menunggu dengan


gelisah, waktu berjalan 10 menit tanpa tanda-tanda dirinya akan diajak bicara.


Tiba-tiba Jodi menyadari Alex sudah berdiri


di dekatnya, “Ampun, ommm!!!”teriak Jodi sambil menutupi wajahnya dengan


lengan.


“Kamu kenapa? Stress?!”bentak Alex.


Jodi mengintip dari celah lengannya, Alex


hanya berdiri di depannya tidak melakukan apa-apa. Sementara Mia entah dimana. Alex


duduk di samping Jodi, menepuk pundaknya. “Cepat cerita, beneran tadi yang kamu


liat itu Kinanti?”tanya Alex.


“Iy...”Jodi menarik nafasnya dalam.


“Kau ini seperti habis nglariin istri


orang.”sindir Alex tajam.


“Justru saya yang dilariin, om. Eh, maaf


om.”Jodi nyengir lebar pada Alex. “Memang dia Kinanti, om. Bajunya sama, tas


dan sepatunya juga.”


“Wajahnya sama?”tanya Alex lagi.


Jodi terdiam, ia baru sekali melihat


Kinanti saat turun dari mobil. Ia hanya memperhatikan pakaian dan tasnya saja.


Lagian siapa yang kebetulan memakai pakaian dan tas yang sama di waktu yang


bersamaan kecuali... Jodi menoleh cepat menatap Alex.


“Apa mungkin ada yang menyamar jadi


Kinanti?”tanya Jodi, seperti baru menyadari sesuatu.


“Itulah yang dipikirkan Mia juga. Gak mungkin


ada satu orang yang bisa berada di dua tempat berbeda di waktu yang bersamaan.


Kalau gak kembar, berarti ada yang nyamar.”


“Tapi dia beneran mirip Kinanti. Persis


banget kalau dari jauh, om.”ujar Jodi yakin.


Jodi celingukan mencari Mia yang beneran menghilang


dari ruangan itu, “Om, Mia kemana ya?”


“Ngapain kamu nanya-nanya istriku?”


“Ehe, aku mau pamit pulang, om. Nanti


dicariin Katty, aku gak boleh pulang telat soalnya.”


segitunya?”


“Hehe, aku pernah tidur diluar gara-gara


gak pulang ontime, om. Gak enak banget. Banyak nyamuk.”


“Ya, udah sana pulang. Lain kali ijin dulu


kalo mau bawa Mia pergi.”


“Iyain aja dech biar cepet. Mending aku


buru-buru pulang sebelum tersakiti disini.”


“Mianya dimana, om? Saya mau pamitan.”kata


Jodi masih menunggu Mia.


“Dia lagi dihukum. Cepetan pulang


sana!”usir Alex.


Jodi kabur secepatnya dari sana, entah


definisi apa yang tepat untuk kata-kata dihukum dalam kamus Alex. Hanya Alex


dan Mia yang tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Di apartment Kinanti,


Kinanti mengetuk-ngetuk kukunya di meja, ia


sudah sampai sejak tadi tapi Endy bahkan belum juga datang ke apartmentnya.


“Katanya mau kasi kejutan, sampe sini


beneran terkejut gak ada orangnya. Mending aku tidur.”


Kinanti membuka pakaiannya, masuk ke bawah


selimut. Ia paling suka tidur di ranjangnya yang besar dan selalu hangat. Tentu


saja Endy memesannya khusus untuk Kinanti. Semua yang ia miliki saat ini adalah


pemberian Endy. Apartment mewah, hadiah mahal, cinta yang melimpah dari Endy,


Kinanti justru ingin mengejar Rio.


Semuanya gara-gara obsesinya pada kekasih


Kaori itu. Kaori, sepupunya yang sempurna. Bahkan kakek dan neneknya juga


sangat menyayangi cucunya itu. Padahal Kinanti juga cucu mereka. Kinanti


menatap dingin laci nakas di samping tempat tidurnya. Ia menarik laci itu dan


mengeluarkan sebuah figura berisi foto orang tuanya.


Diusapnya foto itu dengan wajah dingin


tanpa ekspresi. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya meskipun mereka menikah


tanpa restu kakek dan neneknya, mereka berdua hidup bahagia sampai Kinanti


lahir. Kinanti tidak pernah akrab dengan kakek dan neneknya, mereka masih belum


bisa menerima anak perempuan mereka lebih memilih papanya dan meninggalkan


mereka.


Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam


kecelakaan, kakek dan nenek Kinanti menyalahkannya atas kematian anak


kesayangan mereka. Kinanti yang saat itu baru masuk ke SMA, benar-benar


terpuruk. Untung saja ada Endy yang selalu membantunya. Endy yang membayar


semua kebutuhan Kinanti.


Memanjakan wanita itu dengan kemewahan dan


kenyamanan selama menjadi kekasihnya. Meskipun Endy sangat manja pada mamanya,


tapi ia juga sangat mencintai Kinanti. Cinta buta yang tidak memikirkan apapun


hanya ingin menyenangkan kekasihnya saja.


Ceklek! Pintu kamar terbuka, Endy masuk ke


kamar itu lalu menghampiri ranjang tempat Kinanti sudah terbaring hampir


terlelap.


“Sayang, aku datang.”bisik Endy di telinga


Kinanti.


Kinanti membuka matanya dengan malas, ia


kembali memejamkannya karena sudah sangat mengantuk. “Yakin nich gak mau liat kejutannya.”tutur


Endy.


Kinanti membuka matanya lagi, ia melihat


Endy menggoyangkan paper bag di tangannya. Masih menahan kantuknya, Kinanti


duduk di ranjang, ia membiarkan selimut melorot hingga ke pinggangnya.


“Ach, sayang. Kau sudah siap rupanya.”


“Hmm? Apa?”Kinanti melirik ke bawah, ia


menarik selimut menutupi tubuhnya. “Aku mau tidur. Jangan mesum dech! Cepetan


kasi, apa itu?”


Endy memberikan paper bag itu, ia


melepaskan pakaiannya juga sebelum bergabung dengan Kinanti masuk ke bawah


selimutnys. Kinanti membuka paper bag itu, matanya terbelalak menerima sebuah


kotak beludru yang cukup berat.


“Ini  buat aku? Apa ini?”tanya Kinanti penasaran.


“Buka aja.”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.