
Silahkan Dibaca.
......................
Padang Pasir Siliyan, Desa Seren.
Para penduduk dan Para bandit saling bertarung satu sama lain. Para penduduk dengan cepat membunuh berbagai bandit. Sedangkan, para bandit sendiri hanya berhasil melukai para penduduk.
Keduanya terlihat imbang, masing-masing dari mereka saling mengayunkan dan mengeluarkan serangan masing-masing.
***
Di sisi Li Mo.
Li Mo mengeluarkan senjata miliknya yaitu pedang, sedangkan Ketua Bandit mengeluarkan Roh Elemen miliknya yaitu Kalajengking.
Ketua Bandit berubah dan mengayunkan ekornya ke arah Li Mo, dia mengayunkan ekornya tersebut dengan sangat cepat.
Li Mo sendiri sudah tahu serangan tersebut. Dia dengan mudah menghindari dan menebas tepat perut dari Ketua Bandit.
“Tringg...” Ketua Bandit menyeringai, tubuhnya keras. Berbeda dengan tubuh manusia normalnya.
Li Mo tidak menunjukkan ekspresi terkejut, dia tetap datar dan fokusnya tinggi. Dia sudah menyadari akan hal itu, bagaimanapun juga analisis pertarungan adalah hal pertama.
Ketua Bandit sedikit mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka Li Mo tidak terkejut sama sekali. Namun, dia tidak peduli dan mengayunkan tangannya yang sudah berubah menjadi capit yang tajam.
Li Mo melakukan Backflip dengan cepat. Dia kemudian mengeluarkan Roh Elemen yaitu adalah batu. Ketua Bandit yang melihat itu mengejek dengan hina.
“Hanya seonggok batu memangnya bisa untuk apa?” Li Mo tidak peduli akan pernyataan dari Ketua Bandit. Dia hanya memiliki satu pemikiran yang telah diajarkan oleh buku tingkat pertama.
‘Tidak ada yang sampah, hanya yang ada adalah orang tak berguna yang serakah tanpa tahu apapun.’
Li Mo menerbangkan batu miliknya, kemudian dia berkata dengan pelan. “Kemampuan pertama, Serbuan Batu Kecil.”
Batu miliknya seketika bercahaya dan menjadi berbagai batu kecil. Kemudian, Li Mo mengayunkan tangannya ke depan.
“Wush..Wush..Wush...” berbagai batu kecil melesat dengan cepat menuju ke arah Ketua Bandit.
Ketua Bandit menyeringai, dia tidak merasakan bahaya dari batu tersebut. Dia melebarkan, seperti siap menerima seluruh serangan tersebut.
Ketua Bandit percaya akan tubuhnya yang sangat kuat dan keras. Dia tidak menganggap batu kecil tersebut mengancam.
Namun, ketika batu mengenai tubuhnya, secara terus menerus. Dia merasakan tubuhnya seperti retak.
“Ting..Ting..Krakk..” Ketua Bandit melebarkan matanya, dia ingin melindungi bagian retak tersebut. Namun, berbagai batu terus menghujani dirinya.
“Pyarr...Jleb..Jleb..Jleb..” tubuh yang keras hancur seketika, berbagai batu menusuk tubuhnya terus-menerus. Ketua Bandit berteriak dengan keras, dia benar-benar kesakitan sekarang.
***
Beberapa menit kemudian.
Serangan Li Mo berhenti, terlihat berbagai debu menutupi pandangan Ketua Bandit. Angin kencang menerpa debu tersebut dan seluruh debu menghilang.
Terlihat Ketua Bandit yang memiliki tampilan mengenaskan, seluruh tubuhnya mengeluarkan banyak darah. Bahkan, ekor kebanggaannya hancur.
Namun, dia masih hidup dan bernafas seperti orang tengah kelelahan. Tatapan miliknya menjadi tajam dan menatap ke arah Li Mo tersebut.
Ketua Bandit benar-benar marah sekarang, terlihat iris matanya yang berwarna merah darah dan berkobar dengan liar.
“Beraninya kau melukaiku!” Ketua Bandit berteriak dengan liar. Aura berwarna merah hitam menyebar dengan liar, itu adalah Aura tingkat Elemen penuh.
Li Mo tertekan, itu jelas. Dia hanya berada di tingkat Kebangkitan Alam Bintang 2. Dia sekarang terlihat jongkok, menahan tekanan aura tersebut.
Berbagai bandit yang merasakan tekanan Ketua Bandit, segera menatap ke arah Ketua Bandit tersebut.
Mereka semua melebarkan matanya melihat kondisi Ketua Bandit yang begitu parah. Mereka menatap ke arah Li Mo, seluruhnya tidak menyangka bahwa pria yang dulu mereka tindas, dapat melukai Ketua dengan parah.
Para penduduk tidak peduli, mereka percaya bahwa Li Mo bisa mengatasi hal itu. Mereka dengan cepat, menyerang kembali Para Bandit yang lengah.
Wajahnya juga ditutupi oleh cangkang tersebut. Dia benar-benar berubah menjadi manusia setengah Kalajengking tingkat kedua.
“Mode kedua : Kalajengking Merah.”
Ketua Bandit menatap ke arah Li Mo, dia berkata dengan nada marah. “Matilah kau, Li Mo!”
Ketua Bandit melesat dengan cepat menuju ke arah Li Mo. Namun, dia perlahan-lahan mulai melambat dan akhirnya berhenti di tempat.
Ketua Bandit merasakan tubuhnya tidak bisa dia kendalikan, hal itu membuatnya melebarkan matanya. Dia benar-benar tidak menyangka akan kejadian tersebut.
“Hehehe, Hahahaha..” Ketua Bandit mendengar suara tawa liar di depannya. Dia menatap ke arah Li Mo, dia mengerutkan keningnya dan meraung dengan marah.
“Bajingn, apa yang kau lakukan pada tubuhku!” Ketua Bandit benar-benar merasa bahwa tubuhnya tidak bisa bergerak, karena ulah dari Li Mo.
Li Mo menatap dengan dingin, seringai tajam di wajahnya terlihat. Baru kali ini, Ketua Bandit bergetar melihat tatapan dari Li Mo tersebut.
Li Mo perlahan mendekat dengan pelan. Namun, setiap langkahnya membuat Ketua Bandit merasakan bahaya yang mengerikan.
“Tidak...Tidak, jangan kesini.” Ketua Bandit terlihat ketakutan sekarang. Li Mo terus berjalan dan Ketua Bandit terus berteriak ketakutan.
Tiba di dekat Ketua Bandit, Li Mo memegang tubuh dari Ketua Bandit. Seketika, cangkang merah Ketua Bandit hancur tanpa sisa.
Li Mo kemudian mengeluarkan pedang yang sudah dia siapkan. Pedang itu, terdapat cairan berwarna ungu kebiruan.
“Kau tahu, darah dan tanaman ginha, dapat membuat seseorang merasakan neraka melalui ilusi.” Ketua Bandit bingung, tetapi dia seketika paham dan melebarkan matanya.
“Jan- Arhhhh...” Ketua Bandit belum selesai memohon, dia telah disayat dengan kejam oleh Li Mo.
Pandangan Ketua Bandit berubah, dia melihat padang pasir yang luas dengan matahari tepat sepuluh meter dari tanah.
Ketua Bandit merasakan panas tersebut, dia berteriak dan terus menggeliat di tanah. Bukan menurun, tetapi semakin panas.
***
Di luar, Li Mo menatap Ketua Bandit yang menggeliat dan menggila di tanah. Dia menyeringai, sambil mengangguk.
“Ini adalah hukuman yang cocok untukmu, cairan itu akan berhenti berfungsi di saat kamu mati, jika tidak begitu. Cairan itu akan berhenti 10 tahun kemudian.
Para penduduk juga sudah selesai membunuh para bandit dengan mudah. Mereka memanfaatkan kelengahan para bandit tersebut.
***
Xiao Fan yang berada di atas tembok, menatap ke arah pertarungan tersebut. Dia kemudian, mengibaskan tangannya. Berbagai benang melesat menuju ke arah Kalajengking besar.
Xiao Fan tidak peduli dengan pertarungan, dia lebih tertarik dengan Kalajengking besar tersebut.
Xiao Xia menatap ke arah Kalajengking besar yang di tarik oleh Xiao Fan. Dia bingung, apa yang ingin dilakukan tuannya tersebut.
“Apa yang ingin Tuan lakukan?” Han Yusi bertanya dengan nada sopan. Dia sekarang tahu bahwa orang di depannya bukan orang normal.
Xiao Fan yang mendengar pertanyaan sopan dari Han Yusi tersenyum, dia kemudian menjawab, “Hanya penasaran akan sesuatu.”
Han Yusi menatap ke arah Xiao Xia, sementara Xiao Xia yang di tatap hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu apapun.
Kalajengking besar berhenti tepat di depan Xiao Fan. Monster itu terlihat sangat ketakutan berhadapan dengan Xiao Fan secara langsung.
“Seperti dugaanku, kamu berbeda dengan rata-rata Monster lainnya.” Xiao Fan benar-benar tertarik sekarang. Dia bisa menyimpulkan hal itu, ketika menggunakan Mata Qi.
“Kamu akan menjadi...”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.