
Silakan Dibaca.
Xiao Xia menghilang kembali, ia menyerang Tetua ketiga yang kehilangan tangan kanannya tersebut.
Tetua ketiga tidak tinggal diam, ia mengalirkan Qi miliknya dan menahan rasa sakit di tangan kanan miliknya. Pedang yang semula berada di tanah, ia ambil dengan tangan kiri.
Namun, saat Tetua ketiga berdiri sambil memegang pedang, siluet lintasan cahaya melesat dan mengenai tubuhnya.
Tetua ketiga terkejut, ia merasakan rasa sakit di tubuhnya. Matanya terus mencari di mana lokasi Xiao Xia tersebut, pikirannya kacau dan panik.
Tetua keenam yang melihat lintasan laju Xiao Xia, ia menghilang dan mengayunkan pedang miliknya tepat di lintasan Xiao Xia tersebut.
Xiao Xia sedikit menyusutkan matanya, ia tahu bahwa yang bisa mengetahui lokasinya hanya orang yang memiliki elemen angin dan petir.
Hal itu karena, kedua elemen tersebut berpusat ke arah kecepatan. Cahaya juga termasuk. Namun, Xiao Xia menyangkal hal itu karena, elemen cahaya tidak sembarang orang memilikinya.
Xiao Xia merasakan hembusan angin ketika pedang milik Tetua keenam melintas dan ingin menebas dirinya tersebut.
Xiao Xia menekan kakinya, ia memutar tubuhnya mengarah ke pedang tersebut. Belati yang berada di tangan kanannya dengan cepat bergerak maju ke depan menghentikan pedang tersebut.
Dingg..
Xiao Xia tidak berhenti begitu saja, ia memutar belati kiri dan melesatkan belati tersebut tepat kaki Tetua keenam tersebut.
Tetua keenam terkejut, ia tidak menyangka bahwa Xiao Xia memiliki respons yang sangat cepat, naluri tersebut sangat tajam.
Tetua keenam merasakan rasa sakit di kakinya, ia melihat bahwa sebuah belati tengah menancap di kakinya. Tetua keenam melebarkan matanya, tetapi ia mendengar suara samar yang dingin di belakangnya.
“Pertarungan tidak artinya ketika lawan lemah... Jalanmu hanya satu...”
Jlebb..
“Mati...”
Tetua keenam tertusuk tepat jantung miliknya, ia melebarkan matanya dan seteguk darah keluar dari mulutnya tersebut.
Xiao Xia merasakan bahaya di belakangnya, ia paham bahwa ada yang menyerangnya dari belakang dengan kekuatan penuh.
“Mati!”
Xiao Xia melompat, ia berbalik dan melihat sebuah tebasan horizontal menyerang tempat ia berdiri sebelumnya. Pedang itu tidak hanya menyerang tempat sebelumnya, tetapi pedang juga menebas tubuh Tetua keenam menjadi dua.
Xiao Xia melihat pelakunya sekilas, ia benar-benar tidak menyangka bahwa penyerangnya ialah Tetua kelima yang sudah memulihkan bahunya yang tertusuk.
Tetua kelima terkejut, ketika melihat Xiao Xia menghindar serangan tercepatnya. Namun, yang paling mengguncang hatinya ialah, ia baru saja menebas salah satu temannya menjadi dua.
“Sungguh kejam, membunuh temannya sendiri.”
Suara Xiao Xia membuat Tetua kelima terdistorsi. Tubuhnya gemetar, ia pucat dalam sekejap. Pedang yang berada di tangannya terjatuh, kedua tangan yang berlumuran darah Tetua keenam membuat Tetua kelima kehilangan kendali.
“Aku... aku membunuh temanku sendiri.”
Xiao Xia tidak peduli dengan Tetua kelima yang berubah menjadi orang tak terkendali. Tatapannya sekarang, tertuju ke arah Tetua ketiga yang terduduk tak berdaya ketika melihat temannya menjadi gila dan mati satu persatu.
Xiao Xia mendekat ke arah Tetua ketiga dengan langkah santai. Namun, bagi Tetua ketiga langkah tersebut seperti sosok malaikat maut yang perlahan-lahan mendekat ke arahnya.
Tetua ketiga tidak bisa tidak gemetar ketakutan, tubuhnya terus mengucurkan keringat dingin, wajahnya pucat dalam sekejap. Tanpa sadar, ia mendorong tubuhnya untuk mundur.
“Jangan... Jangan mendekat.”
Trauma, teror, berbagai pikiran tersebut membuat Tetua ketiga benar-benar berubah menjadi orang yang terbelakang mental.
Xiao Xia sendiri menikmati, hal itu karena dirinya memiliki Roh Elemen Kelelawar Api Abu. Makhluk yang paling menyukai, rasa takut makhluk lain.
Xiao Xia tiba di depan Tetua ketiga yang gemetar dan tidak bisa mendorong untuk pergi kembali.
Xiao Xia mulai menusuk paha milik Tetua ketiga. Hal itu, membuat Tetua ketiga menjerit dan bergerak dengan penuh rasa sakit. Namun, tenaga miliknya tidak sekuat Xiao Xia tersebut.
Xiao Xia sendiri menyeringai, ia terus menusuk belati tersebut di kedua paha dan kaki Tetua ketiga.
Namun, Xiao Xia tetap menyeringai dan mengeluarkan berbagai jarum besar yang dirinya beli ketika dalam perjalanan kembali ke tempat Xiao Fan berada.
Xiao Xia menusukkan jarum besar tersebut di berbagai tempat tubuh Tetua ketiga. Merasakan rasa sakit kembali, Tetua ketiga terbangun dan menjalani rasa sakit terus-menerus.
Jarum sudah terpasang di seluruh tubuh Tetua ketiga. Jarum tersebut tidak membuat Tetua ketiga mati begitu saja.
Xiao Xia berbalik, ia melihat Tetua kelima yang sudah menjadi gila. Dirinya perlahan mendekati Tetua kelima tersebut.
Xiao Xia menyadari bahwa Tetua kelima memiliki elemen kecepatan selain Angin, yaitu Petir.
Xiao Xia tiba di dekat Tetua kelima. Melihat ada seseorang Tetua kelima menatap ke arah Xiao Xia dengan mulut seringai tak jelas.
“Kata Tuan, obat ini akan mengendalikan tubuh seseorang selama 2 jam.”
Xiao Xia mengeluarkan pil berbentuk garis-garis melingkar. Warna pil tersebut kuning sedikit kecoklatan.
Xiao Xia dengan ringan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Tetua kelima tersebut.
Selepas menelan pil tersebut, Tetua kelima memiliki mata yang kosong. Xiao Xia mengangguk puas, kemudian dirinya memerintahkan satu kalimat.
“Alirkan petirmu ke arahnya!” perintah mutlak tersebut terdengar di telinga Tetua kelima. Pria yang dipanggil Tetua kelima mengangguk, tatapannya tetap kosong dan mengambil pedangnya.
Tetua kelima perlahan-lahan mendekat ke arah Tetua ketiga, sementara pria yang didekati terbaring pingsan di tempat.
Xiao Xia mengikuti dari belakang, ia ingin melihat Tetua ketiga yang berteriak sambil mengejang-ngejang. Matanya berbinar-binar dan tangannya terlihat ingin melihat hal tersebut.
Tiba di dekat Tetua ketiga, Tetua kelima mengarahkan pedangnya tepat di salah satu jarum besar yang terpasang di tubuh Tetua ketiga tersebut.
Tetua kelima dengan ringan mengalirkan Qi membungkus pedang tersebut, kemudian ia ubah menjadi elemen petir yang ia miliki.
Bzzt Bzzt.
Tetua ketiga terkejut, ia merasakan sengatan yang begitu kuat. Bahkan sengatan tersebut sangat mengenai titik-titik di mana dirinya lengah.
“Arhhhh...” Tetua ketiga menggeliat-geliat mirip seperti cacing yang kepanasan. Dirinya ingin pingsan, tetapi sengatan terus melaju ke tubuhnya.
Jarum besar yang menusuk lebih mengerikan ketika terkena aliran listrik. Tetua ketiga merasa bagian dirinya yang terkena jarum besar serasa ingin meledak.
Xiao Xia memasang ekspresi senang ketika melihat Tetua ketiga menggeliat dan titik yang dirinya tanam dengan jarum besar mulai perlahan-lahan membesar dan kacau dari dalam.
Duar... Duar... Duar...
Berbagai titik di jarum besar, seketika meledak satu persatu. Xiao Xia tersenyum melihat hal itu. Sementara Tetua kelima yang sepenuhnya sadar, ia menatap ke arah temannya yang hancur lebur.
Gemetar, ia gemetar kembali. Betapa terguncang hatinya ketika melihat dua rekan setempatnya, mati di tangannya.
“Ti-Tidak, aku membunuh kembali...” Gemetar, takut, itulah yang dirasakan Tetua kelima tersebut.
Xiao Xia sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat efek pil ternyata bisa hilang ketika orang tersebut bertemu dengan ledakan.
Tetua kelima, kemudian sadar lagi dan merasakan ada seseorang di belakangnya. Dirinya tahu, siapa itu...
Tubuhnya gemetar dan pedang miliknya terangkat sambil berbalik, ia melihat seorang perempuan cantik yang sedang tersenyum ke arahnya.
Menegang, tubuhnya menjadi kaku dan beku ketika melihat senyum tersebut. Bagi Orang lain itu adalah senyuman normal. Namun, bagi Tetua keempat itu ialah...
Senyuman Iblis.
[To be Continued.]
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.