Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 241 - Musuh Sudah Dekat


Silakan Dibaca.


Dalam ruangan yang begitu luas, terdapat dua orang tengah melakukan aktivitas mereka masing-masing. Satu orang tengah tertidur dan yang lainnya tengah duduk menstabilkan Qi murni yang berada di tubuhnya.


Beberapa menit telah berlalu, Xiao Fan yang tengah menstabilkan Qi murni. Perlahan-lahan mulai membuka matanya. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dan tanpa sadar semburan aroma khas perempuan masuk ke lubang hidungnya.


Aroma khas perempuan tersebut, sangatlah khusus karena setiap perempuan memiliki aroma khas mereka masing-masing.


Xiao Fan memandang ke arah Lin Hua yang tengah terbaring di atas ranjang. Senyum di wajahnya seketika mekar, ketika melihat perempuan tersebut. Xiao Fan mulai berdiri dari duduknya, tatapannya terpaku di cermin.


Xiao Fan melihat sendiri tubuhnya tanpa sehelai kain. Otot-otot yang kekar dan tubuh berisi membuatnya berdecak kagum akan keindahan tubuhnya sendiri.


“Benar-benar tampilan yang dapat menarik para wanita!”


Pernyataan Xiao Fan bukanlah sombong, melainkan itu adalah kenyataan. Jika ada perempuan yang melihat tubuhnya, mereka akan gugup dan memerah tanpa sadar. Tubuh para perempuan seketika akan memanas, meskipun tampilan awal mereka sangat dingin.


Xiao Fan membuka almari ruangan. Mengambil pakaian hitam, Xiao Fan segera memakainya dengan cepat dan rapi. Dirinya tidak mandi, hal ini terkait erat akan tubuhnya yang selalu bersih dan mengeluarkan aroma yang menyegarkan.


Selesai berpakaian, Xiao Fan melangkah keluar dari ruangan. Tepat saat dirinya membuka pintu, sosok pelayan pribadi sudah siap sedia di luar.


Xiao Fan sedikit mengerut ketika melihat pelayan tersebut, dia tidak menyangka ada seseorang di luar ruangan. Xiao Fan seketika mengingat bahwa dirinya tidak menyalakan kembali persepsinya, semenjak di ruangan.


“Salam, Tuan Muda!” pelayan membungkuk hormat kepada Xiao Fan.


“Ya,” jawab Xiao Fan. “Apakah kamu berada di luar sejak kemarin malam?”


Mendengar pertanyaan tuan mudanya, pelayan menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Hamba tiba di tempat, pagi dini hari. Sementara untuk malam hari, Hamba beristirahat di ruangan sebelah.”


Xiao Fan tertegun ketika mendengar penjelasan pelayan tersebut. Senyum kecil seketika tampak di wajahnya, kemudian dia mengibaskan lengannya tanda bahwa sudah cukup untuk memberikan dirinya penghormatan.


Pelayan mengerti isyarat tangan tersebut, dia meluruskan punggungnya. Tatapan matanya tertuju ke arah tuan muda yang berada tepat di depannya. Semakin lama dirinya memandang, dia akhirnya menyadari ada sesuatu yang berbeda di wajah tuan muda tersebut.


“Apakah ada sesuatu di wajahku?” tanya Xiao Fan memandang ke arah pelayan sambil tersenyum lembut. Wajah pelayan seketika memerah dan nafasnya dalam sekejap memburu. Namun, dia segera sadar dan mulai menstabilkan emosinya.


“Tidak ada, Tuan Muda,” jawab pelayan tersebut, kemudian dia mengingat sesuatu dan mulai memberitahukannya kepada tuannya itu. “Hamba baru saja ingat, Kepala Keluarga meminta Tuan Muda untuk merawat Nona yang di dalam. Hamba akan mengambil makan terlebih dahulu di dapur.”


Xiao Fan mengangguk mendengar penjelasan pelayan itu. Dirinya sendiri tetap akan merawat Lin Hua meski tidak ada yang memintanya pun. “Sebelum kamu menyiapkan makanan, bisakah kamu memanggil Yun Shie kemari. Biarkan dirinya yang menjaga Nona yang berada di dalam tersebut.”


Pelayan tertegun, akan tetapi dirinya segera menyadarinya dan mengangguk patuh. Pelayan segera memberikan penghormatan sebentar dan berjalan pergi menuju ke kamar Yun Shie berada. Perintah Tuan Muda harus dirinya lakukan terlebih dahulu.


Xiao Fan melihat kepergian pelayan, senyum di wajahnya seketika mekar. Apa yang dalam pikirannya kali ini adalah reaksi Yun Shie ketika melihat Lin Hua masih hidup dan berbaring di tempat tidur.


Xiao Fan menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan menuju ke arah ruangan Lan Yansho berada. Dirinya ingin menentukan kapan waktunya memasuki Makam Kuno.


***


Itu benar, Kerajaan Dou. Setiap sisi wilayah kecuali perbatasan dengan Kerajaan Tian. Semuanya dibakar tanpa ada memperhatikan apa itu yang tengah di bakar.


Entah itu hutan, kota, maupun desa. Semuanya terlalap oleh api merah. Seluruh informasi terkait pembakaran tersebut ditutup sehingga tidak ada yang tahu. Bahwa Kerajaan Dou kini telah dibakar habis.


Sosok bayangan hitam muncul di langit, sayap hitam lebar muncul di punggungnya. Tanduk empat sisi melekat di kepalanya. Itu benar, sosok bayangan tersebut ialah Raja Iblis.


“Yang Mulia, pasukan iblis di berbagai tempat sudah membakar seluruh kehidupan di Kerajaan Dou. Juga, dua setan merah yang ditugaskan untuk membunuh perempuan itu. Berakhir dengan kegagalan!”


Raja Iblis itu memandang ke arah lautan api di depannya. Tenang dan aliran udara terhirup masuk melalui hidungnya, berikutnya keluar secara perlahan melalui mulutnya.


“Perempuan itu ... Abaikan saja, kali ini kini fokus menghancurkan Kerajaan Dou terlebih dahulu. Kemudian, mencegah berbagai orang datang ke wilayah Kerajaan Dou agar tidak ada yang tahu bahwa tempat ini akan menjadi pangkalan kedua pasukan iblis nantinya!”


Raja Iblis menyeringai dengan lebar. Sosok yang berada di belakangnya mengangguk dan pergi melintasi bayangan. Raja Iblis sama sekali tidak peduli, dia mengepalkan tangannya dan dirinya sudah bermimpi bahwa Benua Shansu akan menjadi miliknya.


“Masing-masing Raja Iblis memiliki wilayah mereka sendiri. Hal ini sangatlah menarik, dengan begini sebelum melangkah ke Alam kedua. Para iblis sepenuhnya sudah siap jika terjadi sesuatu nantinya!”


Raja Iblis memandang ke depan, dia menunggu api besar di Kerajaan Dou menghilang sebelum dirinya pergi menuju ke wilayah yang cocok nantinya.


***


Di lautan lepas, sosok bayangan muncul dan berdiri di atas lautan. Di sekitarnya sama sekali tidak ada makhluk lainnya, hanya dirinya sendiri.


Lautan di sekitarnya sangatlah tenang tidak ada gerakan angin sama sekali. Bahkan riak sedikit pun tidak ada, hanya menampilkan langit yang biru dan ada beberapa awan putih melintas.


Sosok bayangan itu mirip dengan manusia, hanya saja tidak memiliki rambut, tangannya mirip tentakel. Kaki bayangan tersebut juga seperti tentakel. Akan tetapi, bentuk tentakel tersebut tidak lunak. Melainkan keras, seperti potongan besi yang sangat kuat.


Sosok itu ialah Khultu, monster yang akan keluar ketika sesuatu akan terjadi terhadap alam yang dirinya tempati tersebut.


Menatap ke arah Utara, Khultu sedikit menajam. Arah yang berada di pandangan Khultu ialah Benua Shansu, tepatnya daratan Longling berada.


“Manusia itu seharusnya berada di sana. Juga iblis ini benar-benar mengibarkan bendera perang kembali.”


“Sepertinya sudah waktunya untuk kembali dan memerintahkan para monster untuk membantu para manusia melawan Iblis.”


Cahaya dingin melintas di mata Khultu, berikutnya dia menyelam ke dalam air. Hal yang terjadi selanjutnya ialah, angin kembali normal seperti wilayah lainnya.


To be Continued.