Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 255 - Monster Lahar


Silakan Dibaca.


"Aku berada di mana ini?" Xiao Fan memandang sekitar, ia hanya melihat tanah hitam dengan aliran lahar yang terus mengalir dari gunung terdekat.


Tidak ada tumbuhan maupun kehidupan normal di tempat tersebut. Xiao Fan selesai mengamati lingkungan. Ia memejamkan matanya sebentar dan mulai mengaktifkan mata qi.


Sejauh ia memandang, semuanya sama. Tidak ada hal yang berbeda kecuali bentuk dan tekstrur lokasi tersebut.


Xiao Fan mulai berjalan menuju ke depan. Ia mencari makhluk hidup yang bersarang di tempat itu. Dalam perjalanan, kewaspadaan dirinya lebih ditingkatkan daripada biasanya.


Hal ini karena, ia berada di wilayah asing. Di mana tidak ada satupun petunjuk kecuali beberapa contoh kasar seperti apa yang dirinya lihat sekarang.


Beberapa meter ke depan, ketika Xiao Fan melintasi jalan lahar kecil. Ia segera menghentikan langkah kakinya. Tatapan Xiao Fan menyipit menatap tajam ke arah tanah di depannya.


"Datang!" Tepat saat suara Xiao Fan jatuh. Lahar meletus ke atas, membentuk air mancur. Xiao Fan secara refleks mundur ke belakang beberapa langkah.


Memandang ke arah lahar yang naik, Xiao Fan seketika menyadari tempatnya. Ia kini tengah berpetualang di tempat sejenis alam bawah neraka. Atau bisa dibilang alam nether.


Alam nether ialah alam yang berada jauh di bawah tanah. Alam ini memiliki tanah hitam, pepohonan yang mati, serta tanpa ada cahaya matahari sama sekali.


Alam nether sendiri disinari dengan lahar yang melintas di sela-sela tanah. Konon lahar tersebut, selalu menelan tanah hitam. Meskipun di telan, tanah hitam tidak akan berkurang dan tetap kokoh dengan suhu yang normal.


Xiao Fan menyimpulkan bahwa dirinya berada di alam sejenis alam nether karena fakta tersebut. Namun, Xiao Fan sadar bahwa di tempatnya itu lahar serasa panas meskipun tidak disentuh. Hal inilah yang menjadi perbedaan alam nether dan tempatnya sekarang berada.


Xiao Fan melihat bahwa letusan sudah menghilang. Ia melintas dengan cepat, gerakannya bagaikan hantu menerobos pilar lahar yang muncul tepat di tanah yang ia pijak sebelumnya.


Tak butuh waktu lama, Xiao Fan berhenti di tanah yang terlihat sedikit luas. Ia juga melihat bahwa saluran lahar tidak sekecil sebelumnya.


"Sepertinya tempat ini cocok untuk beristirahat." Xiao Fan mengembangkan senyumnya. Ia benar-benar tertarik dengan alam yang telah dirinya masuki tersebut.


Xiao Fan ingin mengetahui rahasia apa yang berada di balik alam yang ia masuki sekarang.


Belum juga, Xiao Fan duduk. Tanah di bawahnya bergetar hebat. Xiao Fan menyadari hal itu, ia tidak melompat ke tempalt lainnya. Nalurinya mengatakan, bukanlah lahar pilar yang mengelilinginya. Namun, suatu makhluk penghuni lahar tersebut.


Tepat dengan apa yang dikatakan Xiao Fan. Lahar yang panas naik mengelilingi tanah yang menjadi pijakannya. Xiao Fan memandang dengan tajam dan pedang sudah berada di genggamannya.


Selanjutnya, terdengar raungan keras. Diikuti dengan beberapa sosok makhluk magma masuk ke dalam tanah yang dipijak oleh Xiao Fan. Para makhluk ada sekitar sepuluh, bergerak layaknya mengepung lawan.


Makhluk itu memiliki tinggi dua kali dari tinggi Xiao Fan. Ia memiliki dua tanduk domba. Dua lengannya runcing dan tajam dengan dua jari. Kakinya mirip dengan singa.


Xiao Fan yang melihat monster-monster itu, seketika mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia belum pernah bertemu dengan monster tersebut.


'Mengapa aku tidak mengetahui mereka atau ingatanku memang tidak mengingat tentang mereka.'


Xiao Fan menggelengkan kepalanya, senyum tipis terbentuk di wajahnya. Ia sama sekali tidak takut dengan monster-monster tersebut. Meski, ia sama sekali tidak bisa mendeteksi tingkatannya.


Xiao Fan tidak terlalu terkejut dengan kemunculan monster itu. Ia mengangkat pedang, mencoba menahan tamparan yang mengarah ke arahnya itu.


Pedang dan tangan saling berbenturan. Xiao Fan mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka kekuatan lawan lebih tinggi dibandingkan dirinya. Beruntung, Xiao Fan menanggapi tamparan dengan serius. Jika tidak, ia akan terlempar ke belakang kuat-kuat.


Xiao Fan yang berhasil menahan tamparan tersebut, sama sekali tidak tenang. Ia segera melompat mundur beberapa meter, kemudian mendarat dengan stabil. Dengan pandangan yang terarah ke monster di depannya.


Xiao Fan mengatur nafasnya, kestabilan pernapasan sangatlah diperlukan. Ia sendiri tidak dapat memanggil roh elemen, yang menandakan bahwa kekuatan itu telah disegel.


Pedang Xiao Fan menyala putih, ia menebas segera ke depan menciptakan tebasan terbang yang luas. Arah tebasan itu ialah monster yang sebelumnya menyerang.


Monster yang melihat tebasan terbang sama sekali tidak merasakan ancaman. Ia mengayunkan lengannya dan menampar tebasan tersebut.


Namun, saat lengan bertemu dengan tebasan. Hal yang tak terduga terjadi. Tebasan menghilang sementara lengan monster tertebas sampai tengah-tengah lengan.


Xiao Fan menatap itu dengan penuh minat. Ia berdecak kagum akan monster tersebut.


"Jika satu dilepas di Alam rendah, pasti menimbulkan masalah yang serius." Xiao Fan mulai memikirkan hal itu, entah mengapa senyum tipis seketika terbentuk di wajahnya.


Namun, Xiao Fan segera menggelengkan kepalanya. Kemudian, pandangannya kembali terarah ke monster yang berlari ke arahnya. Hal ini membuat alis Xiao Fan mengerut, karena sebelumnya monster tersebut dapat menghilang. Namun, sekarang terlihat berlari kecil.


Xiao Fan menjadi serius, di benaknya muncul pertanyaan yang sama terus-menerus. Namun, ia segera mengabaikannya dan fokus untuk gerakan musuh selanjutnya.


Monster yang berlari perlahan-lahan mulai menjadi cepat, tangan dan kakinya mulai bersinar. Xiao Fan yang melihat pemandangan tersebut, segera mengetahui apa yang ingin dilakukan monster tersebut.


"Jadi, begitu ... Mengapa aku tidak bisa merasakan nafas dan tingkatannya." Xiao Fan berkata seolah-olah ia telah dicerahkan melalui gerakan monster tersebut.


Xiao Fan tidak menunda waktu lama, ia melompat pendek dan melesat dengan cepat ke arah monster di depannya. Tanah sebelumnya ia pijak, kini hancur membentuk lubang yang diisi oleh lahar.


Xiao Fan mengetahui, akan tetapi ia tidak terlalu peduli. Karena fokusnya kini terarah terhadap lengan yang sebelumnya ia tebas menggunakan qi putih.


Pedang pendek yang berada di genggamannya kini mulai dilapisi qi. Xiao Fan dalam sekejap tiba di belakang lengan monster tersebut. Kemudian, terdengar suara tebasan yang begitu kuat.


Tepat saat Xiao Fan berbalik, lengan monster itu jatuh ke tanah. Namun, kejadian selanjutnya benar-benar membuat Xiao Fan tersenyum.


Monster yang lengannya terpotong sama sekali tidak berteriak. Ini adalah fakta yang Xiao Fan temukan, serta satu hal lagi yaitu kelemahan yang dimiliki oleh monster tersebut.


"Tebakanku benar-benar tepat. Aku tidak menyangka struktur tubuhnya sangatlah membuka mata."


Xiao Fan mengayunkan pedang ke bawah. Sinar cahaya dingin melintas di matanya, lalu ia berkata dengan ringan.


"Waktunya penyelesaian..."


To be Continued.