
Silakan Dibaca.
Dengan jatuhnya suara sosok tersebut. Tianheng mulai mengalirkan Qi miliknya ke dalam pedang. Tatapannya menajam dan nafasnya mulai tenang.
Pedang bersinar emas, kemudian dengan lambaian lembut. Tebasan melesat ke arah sosok yang menjadi pemimpin dari para Iblis.
Melihat tebasan mengarah kepadanya, sosok tersebut sama sekali tidak bergerak. Ia hanya menatap datar dan berikutnya, sosok iblis lainnya menghalangi tebasan tersebut.
Dentang!
Suara keras terdengar, kulit iblis tersebut sama sekali tidak terluka. Bahkan terlihat mengkilap layaknya besi yang memantulkan cahaya.
Tebasan menghilang, hal ini tidak membuat Tianheng marah. Ia tidak bergerak dan para prajurit mulai bergegas menuju ke arah Iblis. Begitu juga sebaliknya, kedua kubu pada akhirnya pecah.
Boom! Boom! Boom!
Ledakan demi ledakan terus terdengar, kali ini pihak Tianheng mengalami tekanan karena jumlah Iblis melebihi dari harapan mereka.
Dihitung secara samar, Iblis mengerahkan sekitar 15 juta pasukan. Sementara di kubu Tianheng, hanya berjumlah 5 juta.
Masih terpaut tiga kali dari jumlah nyata. Namun, Tianheng tidak gentar karena ia tahu bala bantuan pasti akan datang beberapa menit lagi.
Tianheng masihlah berdiri menatap para prajuritnya yang membunuh dan dibunuh lawan. Wajahnya tetap tenang, ekspresinya sama sekali tidak berubah.
Ia dingin, tatapannya langsung tertuju ke arah sosok yang tak lain Raja Iblis, Zhou Dan.
Tianheng menunggu turunnya Raja Iblis tersebut. Namun, semakin berlalunya waktu. Ia tidak menemukan bahwa Raja Iblis turun dari langit sama sekali.
Ia tetap di udara sambil memandang bosan ke arah para iblis yang membantai pasukan.
Tianheng mengatupkan bibirnya, ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara berkala. Ia dengan keras menekan tanah dan selanjutnya menghilang dalam sekejap meninggalkan bekas tanah retak.
Kecepatan Tianheng tidak main-main. Dalam satu menit ia membantai dua puluh Iblis. Ia sama sekali tidak pandang bulu, pedangnya terus berlanjut dan semakin menebas, darah biru menyelimuti pedangnya.
Raja Iblis mengerutkan keningnya ketika melihat Raja lawan yang menyerang para iblis, ia tidak menyangka bahwa Raja manusia benar-benar menyerang iblis-iblis kecil.
Raja Iblis segera melesat ke arah Tianheng. Kedekatan tersebut, dirasakan oleh Tianheng. Ia mundur menghindari apa yang akan dilakukan musuhnya.
Boom!
Ledakan keras terjadi ketika Raja Iblis sudah mendarat di tanah, debu menutupi sekelilingnya. Membuat para pasukan berhenti sebentar.
Debu tertiup oleh angin kencang. Memperlihatkan Raja Iblis yang tengah memadatkan energi membentuk bola sebesar bola tenis.
Raja Iblis yang tak lain Zhou Dan, mengayunkan serangan tersebut. Kemudian, bola melesat sangat cepat menuju ke arah Tianheng berada.
Jarak mereka tidak kurang dari lima puluh meter. Hanya dalam satu detik, bola sudah muncul tepat di depan mata Tianheng.
Respons Tianheng cepat, ia mengangkat pedangnya dan menebas ke arah bola tersebut. Namun, saat bola menyentuh pedang. Mulailah terjadi keanehan dari bola tersebut.
Terlihat sinar yang begitu menyilaukan. Tianheng merasakan bahaya dari pancaran sinar tersebut. Tidak ada pilihan lain, ia segera melompat ke belakang.
Boom!
Ledakan keras terjadi menimbulkan gelombang kejut yang cukup kuat. Gelombang yang menyebar ke segala arah, menerpa prajurit manusia maupun Iblis untuk menyingkir dari area pertempuran dua raja.
“Kau beruntung manusia, selanjutnya tidak ada!”
Dua tangan bersilang di depan dada. Kilauan cahaya melintas di matanya. Zhou Dan, melafalkan sesuatu dan ia berkata dengan pelan.
“Sinar Pembunuh!”
Desisan angin terdengar sangat keras. Berbagai bola kecil yang terbentuk di sekeliling Zhou Dan melesat dengan cepat ke arah Tianheng berada.
Menghadapi serangan tersebut, Tianheng tidak ragu. Pedang ia genggam dengan erat, nafas mulai berirama secara teratur.
Kondisi ini jarang ada yang bisa. Karena kondisi tersebut sangatlah spesial dibandingkan lainnya.
“Trik yang sama, tidak akan berpengaruh kepadaku!”
Tianheng melesat maju menghadapi berbagai bola kecil tersebut. Di saat jarak kurang beberapa sentimeter, Tianheng segera muncul di belakang bola kecil tersebut diiringi dengan dentuman ledakan yang keras.
Boom! Boom!
Zhou Dan melihat Tianheng dengan ekspresi sedikit serius. Ia mengeluarkan pedang miliknya, pedang panjang berbentuk bulan sabit. Namun, di bilah pedangnya sama sekali tidak beraturan.
Zhou Dan melesat ke arah Tianheng. Keduanya bertemu dan mereka mengayunkan pedang satu sama lain. Momentum ketika dua pedang berbenturan sangatlah dahsyat.
Boom!
Langit yang gelap kini menghilang, digantikan dengan lubang yang besar di antara kegelapan langit.
Para pasukan, entah itu iblis maupun manusia menatap ke arah langit. Terlihat seolah-olah awan tertelan naik membentuk lingkaran yang memberikan kecerahan matahari.
Ekspresi mereka horor, bagaimanapun juga benturan kuat. Dapat menghilangkan awan membentuk lingkaran yang besar.
Hal ini, membuat para pasukan sedikit mandek. Mereka menenangkan pikirannya dan dalam sekejap, mata mereka menajam.
“Bunuh Iblis!”
“Bunuh Manusia!”
Gelombang pertempuran kedua mulai terjadi kembali. Begitu juga dengan Zhou Dan dan Tianheng. Keduanya juga terus saling menyerang, setiap benturan sama sekali tidak ada celah untuk mengirim luka.
Boom! Boom!
Keduanya tidak berada di satu tempat, mereka bertempur. Namun, menjauh dari para pasukan. Hal ini karena perang keduanya berbeda dengan perang para pasukan.
“Mengapa kau menguasai, Kerajaan Dou? Iblis!” teriak Tianheng dengan keras.
“Apa, hanya Kerajaan sampah. Pantas untuk dihancurkan! Terlebih lagi, kami tetaplah kami!” jawab Zhou Dan sebelum melompat ke belakang.
“Kuberitahu satu hal, Raja Tian. Iblis tetap Iblis, ini tidak bisa disangkal! Bagaimana kita bertindak, selalu sesuai dengan aturan Iblis!” kata Zhou Dan sambil memandang ke arah Tianheng.
“Jadi...” Tianheng menghela nafas panjang, sebelum mengatur pernafasannya kembali. “Iblis benar-benar akan melakukan perang dunia.”
“Itu benar, kau sangatlah tepat Raja Tian. Aku tidak menyangka bahwa ada yang cerdas sekarang!” tawa Zhou Dan pelan sambil memasang postur menyerang kembali.
Tianheng tidak lengah. Api keemasan berkobar dengan ganas. Tianheng memasuki mode pertamanya, yaitu tampilan api.
Zhou Dan tidak terlalu peduli, ia mengayunkan pedang ke bawah. Kemudian, sejumlah energi melapisi pedang setengah bulan tersebut.
Ketika keduanya sudah siap untuk menyerang, mereka tidak perlu memberikan isyarat. Karena seorang ahli pedang, dapat merasakan insting penyerang.
Boom!
Zhou Dan dan Tianheng melesat, meninggalkan kawah kecil di tanah. Mereka berdua menghunuskan pedang ke depan dan selanjutnya, pedang saling berbenturan.
Boooom!
***
Dekat dengan perbatasan...
Terlihat hutan yang luas. Pohon-pohon berdiri dengan bangga dan dedaunan hijau maupun kuning lepas dari pohon tersebut.
Perasaan ini sangatlah menenangkan, namun derap langkah berat terdengar di jalan hutan tersebut. Suaranya kasar dan teratur dengan rapi.
Terlihat, berbagai prajurit melintas menuju ke arah perbatasan dengan cepat. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu terhadap muridnya tersebut.
“Percepat, kita harus membantu Raja!”
“Hidup Raja Tian!”
“Hidup Raja Tian!”
To be Continued.