
Silakan Dibaca.
Lin Hua memandang ke atas, sosok laki-laki yang sangat akrab terlihat di depannya. Namun, dia tahu bahwa kali ini kemungkinan sebuah bayangan sebelum kematian datang.
Udara dingin perlahan-lahan menghilang, menandakan bahwa kekuatan Lin Hua telah habis. Matanya perlahan-lahan terpejam dan senyum tipis terbentuk di wajahnya, kali ini dia tidak bisa membela lagi untuk melawan Sabit dan Rantai.
“Sabit, perempuan itu sudah lemah. Giliran kita menghancurkannya,” kata Rantai sambil menyeringai lebar. Terlihat di wajahnya, dia sangat tidak sabar untuk mencicipi rasa dari perempuan itu.
Sabit menyeringai, akan tetapi dia segera mengubah wajahnya menjadi jelek. Hal ini karena penciumannya yang tajam, tengah menangkap aroma kehadiran sosok lainnya.
“Rantai, kita kedatangan tamu lainnya!”
Rantai yang melangkah ke depan seketika berhenti. Tatapannya beralih ke arah Sabit, berikutnya dia melihat Sabit yang tengah memandang langit.
Rantai mengikuti arah pandangan tersebut. Dirinya menemukan sosok laki-laki yang tengah berdiri di atas langit dengan tatapan dingin ke arah dirinya dan Sabit.
Entah mengapa perasaan dingin melintas di benaknya, Rantai merasakan bahwa dirinya seperti ditatap oleh seekor monster yang sangat kuno nan buas.
Bukan hanya Rantai, Sabit pun juga merasakan hal tersebut. Punggung mereka berdua berkeringat dingin, tanpa sadar keduanya melangkah mundur.
Xiao Fan memandang dengan dingin, tangannya terangkat, jarinya bergerak dengan lihai. Siluet benang emas melintas dan melingkar di perut Lin Hua, kemudian perempuan itu terangkat ke atas langit.
“Bajing*an! Perempuan itu adalah mangsa kami! Berani merebutnya berarti kau siap untuk mati!” raung marah Sabit.
Dia tidak peduli tentang betapa kuatnya Xiao Fan tersebut. Dirinya adalah Serigala kuno, sama sekali tidak takut akan bahaya yang menghadang.
Cakar mengembang dan semakin menguat, kemudian Sabit menekuk kakinya. Lalu, dia melesat ke atas sambil mengayunkan cakarnya yang kuat tersebut.
Xiao Fan memandang dengan datar, kemudian jarinya bergerak ringan dan berbagai benang-benang emas melintas menuju ke arah Sabit berada.
Sabit merasakan bahaya, akan tetapi dia tidak peduli. Hanya seutas benang saja, mengapa dirinya takut. Sabit mencemooh cara bertarung Xiao Fan tersebut.
Namun, apa yang tidak dirinya sadari ialah Rantai mengendalikan rumput merah naik menyerbu ke arah Sabit.
Xiao Fan menarik sudut mulutnya membentuk senyuman. Sabit sedikit mengerut ketika melihat senyum Xiao Fan tersebut. Seolah-olah dirinya telah memasuki perangkap yang telah dibuat oleh Xiao Fan tersebut.
Berikutnya, Sabit yang mengayunkan cakarnya. Melebarkan matanya, penuh rasa terkejut. Dia merasakan gerakannya terhenti dan punggungnya seolah-olah telah ditancap sesuatu yang berduri.
Sabit melirik ke belakang dan melihat rumput merah panjang tengah menyerangnya. Pikirannya seketika kosong, Rantai yang telah dia anggap saudara mengkhianati dirinya.
‘Tidak, tidak mungkin. Rantai tidak akan mengkhianatiku. Namun, mengapa dia menyerangku?’ berbagai pikiran melintas di benak Sabit.
Xiao Fan tidak terlalu peduli dengan Sabit yang terus berpikir. Jarinya bergerak dan lusinan benang emas mulai melilit tubuh Sabit tersebut. Berikutnya, benang emas semakin mengerat membuat tubuh Sabit terdapat bagian yang tenggelam.
“Arhhh! Bajing*an, lepaskan diriku!” raung Sabit kesakitan dan penuh akan amarah.
Xiao Fan tidak peduli, berikutnya dia mengendalikan tubuh Sabit untuk melawan Rantai yang sudah berada di bawah kendalinya tersebut.
Sabit seketika mengerti mengapa Rantai menyerangnya. Dia melihat sekarang, Rantai tengah menangis tanpa bersuara. Jelas orang yang Sabit anggap saudara kini terluka karena menyerangnya.
“Rantai, larilah! Tubuhku tidak bisa dikendalikan!” Sabit berteriak keras, berharap bahwa Rantai melarikan diri.
Xiao Fan yang melihat adegan tersebut sama sekali tidak tersentuh, entah mengapa dia menyeringai dan berikutnya jari jemarinya bergerak dengan lihai. Xiao Fan mengendalikan keduanya untuk saling membunuh satu sama lain.
Rantai melancarkan berbagai rumput merah ke arah Sabit. Namun, Sabit melesat dengan putus asa ke arah Rantai. Cakarnya terbuka lebar dan berikutnya, dia tiba di depan Rantai sambil mengayunkan cakarnya dengan cepat.
Suara koyakan daging membuat Sabit melebarkan matanya. Memori barusan seketika menusuk hatinya yang paling dalam.
“Tidak... Tidak, hentikan!” Sabit gemetar kali ini, tangisnya pecah ketika melihat Rantai yang berlumuran darah di tanah. Sabit jelas merasakan bahwa Rantai berada di ambang hidup dan mati.
Rantai yang bersimbah darah, memandang ke arah lukanya. Berikutnya dia beralih memandang ke arah Sabit yang dirinya anggap sebagai saudara.
“Siapa yang menyuruhmu untuk berbaring?”
Suara malas terdengar di telinga keduanya. Sabit memandang ke arah Xiao Fan, dia tahu bahwa dirinya kali ini salah. Apa yang mereka provokasi bukanlah manusia, melainkan sosok iblis yang mengerikan.
“Kumohon, hentikan Tuan!” lirih Sabit, dia benar-benar putus asa kali ini.
Xiao Fan memandang ke arah Sabit dan Rantai. Melepaskan keduanya? Xiao Fan tersenyum menghina, bagaimana dirinya bisa melepaskan seseorang yang telah melukai orang yang disayang.
Apalagi Xiao Fan jelas tahu. Bahwa melepaskan keduanya sama saja melepaskan binatang buas yang telah menerkam banyak nyawa orang yang tidak bersalah.
Xiao Fan tidak peduli dengan permohonan Sabit. Dia mengendalikan Rantai yang terluka, hal ini membuat Rantai berteriak dengan keras karena rasa sakit tubuhnya ketika digerakkan.
“Arhhh!”
Sabit memandang ke arah Rantai, akan tetapi tubuhnya kembali bergerak dan mengayunkan cakarnya tepat perut Rantai tersebut. Sabit seketika mengalami trauma berat, dia benar-benar ketakutan. Air matanya terus mengalir melihat darah Rantai yang keluar bagaikan air terjun.
“Wahh, Rantai!” Sabit meraung dengan keras. Berikutnya, matanya seketika melebar ketika merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Tanpa sadar pandangannya terarah ke bagian tempat yang terluka tersebut.
Terlihat rumput merah menancap ke arah perutnya, tembus sampai belakang tubuhnya.
Xiao Fan berbalik dan berikutnya jarinya bergerak kembali, membuat Sabit dan Rantai saling membunuh satu sama lain kembali.
“Waktunya pergi, benang emas itu akan berhenti bergerak ketika dua orang itu sudah tidak memiliki nyawa.” Xiao Fan berkata dengan ringan, kemudian memeluk Lin Hua dan melintas dengan cepat menuju ke arah kediaman Lan berada.
***
Di sisi lain, Lan Yansho yang mendengar Xiao Fan pergi menuju ke hutan. Tidak bisa untuk duduk tenang, dia merasakan sesuatu telah terjadi di hutan tersebut.
“Hitam, perintahkan sepuluh Bulan Malam untuk mengecek apa yang terjadi di hutan. Jika kalian melihat Xiao Fan terlibat sesuatu yang merepotkan, bantu dia!”
“Dimengerti, Kepala Keluarga!” Sosok manusia menghilang di kegelapan dan berikutnya, Lan Yansho berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Lan Yansho melangkah ke arah depan dan tepat saat dirinya tiba di halaman. Lan Yansho merasakan sesuatu mendekat dari atas langit.
“Anak ini...”
To be Continued.