
Silakan Dibaca.
Tatapan Yu Ling dingin, membuat pemuda yang ditatapnya mulai merasakan ketakutan. Yun Che mengatupkan bibirnya, dia menatap ke arah Yu Ling penuh kebencian. Rencana telah gagal, dan yang membuat kegagalan ialah perempuan di depannya.
“Kalau tidak ada, maka matilah!”
Tangan Yu Ling bergerak menyamping, kepala Yun Che lepas dari tubuhnya dan berguling di tanah. Darah menyembur keluar, membasahi tanah di sekitar.
Yu Ling menatap sebentar, memastikan tidak ada perubahan pada tubuh Yun Che. Dia masih waspada, meski lawan sudah meninggal. Yu Ling melihat tidak ada perubahan, lalu dia berbalik menghilang dari tempatnya berada.
Malam berangsur semakin gelap, para prajurit Yun masih berjaga-jaga kalaupun ada serangan dadakan. Mereka tidak akan lalai kembali seperti sebelumnya. Kali ini ada sekitar sepuluh prajurit dalam satu kelompok.
Kediaman Yun kali ini memasuki siaga dan waspada. Xiao Fan yang berada di ambang pintu taman, menatap empat penyusup yang telah mati berbaring di tanah.
Xiao Fan mendekat dan memegang pedangnya. Perasaan dingin dan haus darah, keluar dari pedang itu. Xiao Fan merasakannya, lalu dia mengarahkan pedang ke arah mayat penyusup.
Energi hitam kemerahan keluar dari salah satu penyusup. Energi melesat masuk ke dalam pedang Xiao Fan. Pedang itu gemetar, seolah-olah dirinya senang dengan rasa darah yang baru saja didapatkannya.
“Pedang terkutuk.. memang berbeda dari pedang lainnya.”
Xiao Fan bergerak kembali, menuju ke mayat lainnya. Sampai akhirnya, keempat mayat telah habis dan berubah menjadi kurus, tanpa darah dan daging di dalamnya. Hanya terlihat kulit yang membungkus tulang yang kehilangan sumsumnya.
Pedang Bulan Darah mulai berhenti gemetar, tanda bahwa dirinya sudah mulai tenang dari sebelumnya. Xiao Fan menyarungkan pedang tersebut, kemudian mengikat di pinggangnya.
Xiao Fan kali ini terlihat seperti seorang pendekar pengelana. Pakaian hanfu abu-abu putih, pedang terukir indah di pinggang, rambut panjang berkibar ke belakang. Kesan itu sangatlah mirip seorang pengelana yang mencari jati dirinya sendiri.
Selesai dengan urusannya, Xiao Fan bergerak kembali menuju ke ruang dirinya beristirahat.
Tak butuh waktu lama untuk Xiao Fan tiba di kamarnya. Sebelum dirinya masuk, sosok hitam melintas di belakangnya dan berdiri sambil menundukkan kepala. Xiao Fan mengetahui siapa itu, dia tidak berbalik dan menunggu sosok itu berbicara.
“Salam, Yang Mulia.”
Shen Yu Ling melakukan penghormatan kepada Xiao Fan, kemudian dia melihat tangan tuannya naik, tanda bahwa dirinya bisa berdiri tegak kembali. Shen Yu Ling mengangguk pelan, kemudian mulai mengatur nafasnya, sebelum berbicara.
Xiao Fan masih setia menunggu. Namun, di detik berikutnya, dia berbalik menatap ke arah perempuan yang dirinya besarkan sejak masih dalam telur. Kilasan ingatan saat bersama Shen Yu Ling, muncul dalam kedipan mata.
“Yang Mulia-“ belum sempat Yu Ling berbicara, Xiao Fan mengangkat tangannya tanda untuk menghentikan perkataan selanjutnya. Yu Ling tertegun dan jantungnya berdetak dengan cepat, takut dirinya melakukan kesalahan.
“Yu Ling, jangan panggil aku Yang Mulia. Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan lainnya?”
Yu Ling sedikit terkejut, namun dirinya segera sadar. Yu Ling menatap ke arah Xiao Fan, dengan mata berkaca-kaca, siap untuk menangis.
Xiao Fan yang melihat wajah Yu Ling seperti itu, dia terkejut. Xiao Fan tidak tahu mengapa Yu Ling ingin menangis.
“Ada apa, Yu Ling?” Xiao Fan tidak bisa untuk tidak khawatir. Bagaimanapun juga, Yu Ling adalah sosok yang selalu berada di dekatnya tanpa ada tanda budak, yang artinya Yu Ling ialah sosok yang penting bagi dirinya.
“Bolehkah, aku memanggilmu Ayah?” Yu Ling menatap Xiao Fan dengan tatapan memohon. Xiao Fan yang melihat tampilan Yu Ling, mulai mengangkat sudut mulutnya membentuk senyuman hangat.
Xiao Fan merentangkan kedua tangannya, lalu dia berkata, “Ya, terpenting kamu menyukainya.”
Yu Ling melebarkan matanya, dia tanpa sadar melangkah maju dan memeluk Xiao Fan dengan erat. Kali ini, Yu Ling akhirnya merasakan kehangatan tubuh dari seorang ayah.
Xiao Fan menepuk punggung Yu Ling dengan lembut. Tubuh Yu Ling memang sudah dewasa, namun dia masihlah anak berusia antara enam sampai tujuh tahunan. Semenjak awal menetas, Xiao Fan sama sekali belum memperhatikan Yu Ling sepenuhnya. Dia merasa bersalah, dan mencoba yang terbaik untuk membuat Yu Ling senang.
Di bawah tepukan halus Xiao Fan, Yu Ling perlahan-lahan melonggarkan pelukannya. Matanya perlahan-lahan mulai menutup, dan akhirnya dia tertidur dengan senyum senang terukir di wajahnya.
Selepas menidurkan Yu Ling, Xiao Fan ingin beranjak pergi dari tempat tidur. Namun, tangan Yu Ling sama sekali tidak bisa lepas dari dirinya. Hal ini membuat Xiao Fan tersenyum tipis, dan duduk di dekat Yu Ling.
Shan Yuan keluar dari alam bawah sadar, dia menatap ke arah Xiao Fan dalam-dalam. Kemudian, senyum di wajahnya perlahan-lahan terbentuk.
“Kamu sudah menghapus keraguan dalam hatimu, bukan?”
Xiao Fan yang tengah termenung, dia segera sadar dan beralih ke asal suara yang dia kenali. Xiao Fan menatap ke Shan Yuan, dia mengangguk dan mulai menjawab pertanyaannya.
“Ya, aku sudah menemukan jawaban tentang hatiku, Pak Tua.. atau bisakah aku memanggilmu, Kakek?”
Shan Yuan sedikit terkejut, mendengar kalimat Xiao Fan. Namun, entah kenapa dalam hatinya, ingin segera menerimanya. Namun, Shan Yuan memilih untuk menggelengkan kepalanya.
“Kakek.. gelar dan sebutan ini, tidak pantas untukku. Ada seseorang yang lebih pantas nantinya, dia kemungkinan besar masih menunggumu, jauh dari tempat ini.”
Shan Yuan menjelaskan penolakannya, namun perkataannya penuh akan misteri.
Xiao Fan yang mendengar Shan Yuan menolaknya sangatlah sedih. Pria tua yang menemani dirinya dari saat hancurnya penghalang Benua Yuansu, sampai sekarang. Benar-benar berkesan dalam hidupnya.
Namun, saat mendengar kalimat paruh kedua Shan Yuan, dia menyusutkan matanya. Entah bagaimana, firasatnya mengatakan bahwa pria tua di depannya tengah merencanakan sesuatu untuk dirinya.
“Seorang yang pantas kusebut kakek..”
Xiao Fan mengulanginya, namun suaranya lebih pelan dan samar dari sebelum-sebelumnya. Shan Yuan tersenyum misterius, kemudian masuk kembali ke alam bawah sadar, meninggalkan Xiao Fan yang tengah berpikir dalam-dalam.
Shan Yuan yang berada di alam bawah sadar, hanya menatap sekilas Xiao Fan sebelumnya. Kilasan ingatan dirinya muncul kembali, namun kilasan yang muncul ialah ketika dirinya berada di suatu Medan Perang bersama sosok yang berdiri tegak dengan senyum lebar tampak penuh percaya diri.
“Apa yang kuinginkan selepas perang ini adalah menemukan cucuku yang terbawa arus dimensi, Shan Yuan.”
“Meskipun dia meninggal dan bereinkarnasi, dia akan berada di lingkaran keturunanku nantinya. Jika kau menemukannya, suatu hari bawa dia ke hadapanku.”
“Aku mempercayakan dirimu, teman.”
Shan Yuan mengingat ucapan pria dalam ingatannya. Hal ini membuat dirinya menutup mata dan senyum tipis terbentuk di wajahnya.
“Sudah beribu-ribu tahun aku mengelana, sampai akhirnya aku tertangkap oleh kekosongan. Kemudian, takdir mempertemukanku dengan cucumu.”
“Suatu saat nanti akan kubawa dirinya ke hadapanmu, teman lama.”
Shan Yuan mengungkapkan isi hatinya, namun tidak akan terdengar oleh siapapun. Dia melangkah masuk kembali ke rumahnya yang berada di alam bawah sadar.
***
Xiao Fan tidak memikirkan kembali perkataan Shan Yuan, kali ini dirinya mulai berbaring di tempat tidur dan memeluk Yu Ling yang berada di sebelahnya.
“Besok, waktunya memulai perjalanan..”
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.