
Silakan Dibaca.
Lan Ling dan An Er tertegun, mereka ingin berbicara namun kata-kata mereka tersangkut di tenggorokan. Keduanya masih linglung, mereka belum pernah melihat pemandang yang begitu mengerikan dalam hidup keduanya.
Pria buronan bergetar, ia terjatuh ke tanah. Kemudian perlahan-lahan bergerak ke belakang, ia ketakutan melihat pemandangan di depannya tersebut. Dalam hidupnya belum pernah mengalami pemandangan mematikan seperti di depannya.
Xiao Fan berbalik, ia kali ini menatap ke arah pemandangan tulang yang naik menghancurkan berbagai orang yang menyergap sebelumnya. Xiao Fan kemudian melangkah dengan ringan melewati tulang-tulang tersebut.
Langkahnya sangat tenang, pandangannya lurus dan mengunci tepat ke arah pria buronan yang tengah gemetar ketakutan di tanah. Xiao Fan perlahan-lahan mendekat, sementara pria buronan berteriak dan bergerak mundur.
“Berhenti.. jangan mendekat!” teriakan putus asa pria buronan tersebut terdengar jelas di seluruh Lapangan yang sunyi tersebut. Pria buronan mundur dan akhirnya tidak dapat mundur kembali karena tepat di belakangnya, pohon besar tengah berdiri dengan kokoh.
Pria buronan tidak bisa berdiri, kakinya mati rasa dan lemah. Ia sudah tidak ada ruang untuk bergerak kembali, dan tepat Xiao Fan sudah berdiri di depannya.
Takut, marah, ngeri, semua emosi miliknya bercampur aduk menjadi satu dalam dirinya. Xiao Fan tidak peduli dengan emosi pria buronan, ia hanya mengayunkan tangannya lurus secara vertikal tepat ke arah tangan kanan pria buronan tersebut.
Slash!
Suara renyah terdengar, pria buronan melebarkan matanya dan menatap ke arah tempat tangan kanannya berada. Ia melebarkan matanya, hatinya terguncang dan rasa sakit tajam di tangan kanannya, ia rasakan.
“Arhhh!” Pria buronan berteriak dengan kencang, ia terbaring di tanah dan berguling-guling terus-menerus karena rasa sakit tajam tersebut. Xiao Fan menatap hal itu dengan ringan, ia bahkan tersenyum lucu melihat pria buronan tersebut.
Lan Ling dan An Er terkejut mendengar suara teriakan dari pria buronan. Mereka berdua tidak bisa melihat, karena tulang-tulang menutupi pandangan mereka berdua. Ketua prajurit juga mendengar suara teriakan itu, ia juga melihat ada kesempatan untuk menyerang ke arah pria berkapak di depannya.
“Mati!” teriak ketua prajurit sambil menghunuskan pedangnya tepat leher pria berkapak tersebut. Pria berkapak telat untuk merespons karena ia khawatir dengan teman satu-satunya itu.
Pedang terhunus dan memotong leher pria berkapak tersebut. Kepala dan badan pria berkapak terlepas dan darah memercik keluar dengan deras. Ketua prajurit sedikit terengah-engah, bukan karena kelelahan fisik, melainkan ia kelelahan mental.
“Aku.. pada akhirnya membunuh manusia.” Ketua prajurit akhirnya pertama kalinya ia membunuh seorang manusia. Namun, seketika ia mengingat akan teriakan pria buronan sebelumnya.
Ketua prajurit ingin pergi menuju ke tempat Xiao Fan, namun ia mengurungkan niatnya dan bergegas menuju ke tempat para prajuritnya berada. Ia masih khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk akan prajuritnya.
***
“Arhh, kumohon ampuni aku.” Pria buronan memohon dengan nada putus asa. Tangan kanannya telah terpotong, kemudian jari tangan kirinya dibuat mainan ke atas dan ke bawah. Setiap gerakan, ia akan berteriak dan selalu terdengar suara tulang bergerak.
Xiao Fan acuh tak acuh, ia masih memainkan jari pria buronan, kemudian Xiao Fan menginjak jari tersebut dengan keras, sampai akhirnya jari tangan kiri pria buronan meledak menjadi kabut darah.
Pria buronan melebarkan matanya, ia sudah tidak kuat akan siksaan dari Xiao Fan tersebut. Meskipun ia berteriak dengan keras, tenaganya perlahan-lahan terkuras dan akhirnya teriakannya berakhir di tenggorokannya.
“Sudahlah, waktunya kamu mati.” Xiao Fan berkata dengan nada bosan, kemudian ia melemparkan jarum yang sangat tipis, jarum itu melesat dan mengenai jantung pria buronan tersebut. Meskipun ia akan mati, namun ia mati dengan bocornya darah dari jantung.
“Arhhh!” Teriakan sekuat tenaga dari pria buronan perlahan-lahan surut, kemudian terlihat jejak darah di sudut mulutnya tersebut. Pria buronan akhirnya jatuh dan terbaring mati di atas tanah.
Xiao Fan memandang sebentar dan merasakan bahwa sumber kehidupan pria buronan telah sepenuhnya menghilang, ia kemudian berbalik dan melintas kembali ke arah tulang, kemudian ia berjalan sambil menghilangkan tulang-tulang tersebut.
Lan Ling dan An Er seketika sadar kembali dari perasaan terkejut, namun pemandangan di depannya tidak akan pernah mereka berdua lupakan selama sisa hidupnya. Terutama pemandangan Xiao Fan yang tersenyum sambil bertanya kepada mereka berdua.
Lan Ling dan An Er memandang ke arah Xiao Fan, kemudian mereka beralih mengikuti apa yang dipandang oleh Xiao Fan tersebut. Mereka melihat ketua prajurit yang tengah bergegas menuju ke kereta.
Lan Ling dan An Er segera sadar, mereka juga pergi menuju ke tempat kereta berada, sedangkan Xiao Fan sendiri berjalan ke arah api unggun. Namun, sebelum ia beranjak pergi, Xiao Fan membakar mayat para penyergap dan kedua pemimpin mereka.
Xiao Fan selesai mengubah mereka menjadi abu, dengan bantuan kemampuan anginnya, abu yang berserakan terbang jauh ke atas langit dan menghilang dari pandangannya. Xiao Fan kemudian, berbalik dan pergi menuju ke tempat api unggun.
***
Di sisi ketua prajurit, ia kembali ke tempat kereta berada. Di sana, ia melihat para anak buahnya tengah terkurung di penjara besi. Mereka semua tertidur dan tidak ada tanda-tanda kematian sama sekali.
Ketua prajurit yang melihat hal itu, menghela nafas lega. Ini adalah pertama kalinya ia menerima misi penting dan pertama kalinya ia memimpin. Jika, kepala keluarga Lan mendengar bahwa prajurit mati dan putri di sandera. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya, dan siap untuk menjalani hukuman.
Namun, ketua prajurit benar-benar berterima kasih akan adanya Xiao Fan, tanpa adanya Xiao Fan, kejadian yang tidak ia inginkan tersebut akan terjadi. Ketua prajurit mengepalkan tangannya dan nyala api terlihat di matanya.
‘Aku harus menjadi kuat.’ Ketua prajurit berkata dalam hatinya, ia benar-benar tidak ingin menjadi lemah dan terus mengandalkan seseorang nantinya.
Lan Ling dan An Er tiba di tempat, ia hanya melihat sangkar penjara besi dan di dalamnya terdapat berbagai prajurit dengan keadaan tidur. Mereka menghela nafas lega, kemudian pandangannya jatuh tepat di arah ketua prajurit yang terduduk di tanah.
Mereka berdua merasakan apa yang dirasakan oleh ketua prajurit. Mereka juga bersumpah untuk menjadi kuat, agar tidak mengulangi kejadian yang sama. Di mana, mereka harus bergantung kepada orang lain.
Xiao Fan tidak mengetahui bahwa dirinya, telah memberikan motivasi tanpa dasar kepada ketiga orang itu. Ia sendiri hanya mengambil daging dan mulai memanggang daging tersebut dengan santai.
‘Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering lapar? Apakah ada sesuatu di dalam tubuhku?’ batin Xiao Fan, ia sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat bahwa dirinya sedang memanggang daging kembali.
Shan Yuan yang berada di dalam Alam Bawah Sadar Xiao Fan, tengah memandang ke arah cahaya pintu di depannya. Ia mengerutkan keningnya dan keluar dari Alam Bawah Sadar Xiao Fan untuk memberitahu Xiao Fan akan hal itu.
“Nak, pintu Alam Langit bersinar, apakah kau tahu penyebabnya?” tanya Shan Yuan, sambil memandang ke arah Xiao Fan yang tengah makan. Shan Yuan menatap Xiao Fan dengan aneh, ia ingat bahwa Xiao Fan sudah memakan banyak daging sebelumnya, namun sekarang ia melihat bahwa Xiao Fan tengah makan kembali.
Xiao Fan yang telah selesai menelan daging tersebut, menatap ke arah Shan Yuan. Ia sedikit terkejut mendengar bahwa pintu Alam Langit bersinar terang. Xiao Fan dengan cepat memasuki Alam Bawah Sadarnya diikuti oleh Shan Yuan.
Xiao Fan memandang pintu Alam Langit dan apa yang dikatakan Shan Yuan benar. Pintu tersebut bersinar dengan terang. Xiao Fan mengerutkan keningnya, ia kemudian maju dan mulai membuka pintunya.
Xiao Fan dan Shan Yuan terkejut melihat apa yang telah terjadi di Alam Langit tersebut. Terlihat berbagai orang yang memakai pakaian putih dan sayap di pundaknya tengah berperang melawan sosok makhluk aneh di seberang.
“Apa..”
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.