
Silakan dibaca.
Kediaman Ko, Xiao Xia dengan lancar dan cepat mengayunkan pedangnya ke arah Tetua kedua. Dirinya benar-benar lebih ganas di bandingkan sebelumnya.
Tetua kedua benar-benar tak bisa untuk tidak terkejut, ia sama sekali tidak berkutik ketika merasakan kekuatan tekanan Xiao Xia yang semakin lama semakin membesar.
Ding... Ding... Ding...
Pedang yang digunakan Tetua kedua perlahan-lahan retak. Tetua kedua menyadari hal itu, ia dengan cepat mundur. Namun, Xiao Xia melintas dan menebas tepat kepala Tetua kedua.
Tetua kedua terkejut, ia dengan cepat memiringkan kepalanya. Namun, pipi kanan miliknya tergores dalam. Di saat Tetua kedua menstabilkan posisinya di tanah, darah segar keluar dari pipinya tersebut.
“Sungguh berbahaya, beruntung aku masih bisa mengelak...”
Keringat dingin menetes dari pelipisnya, Tetua kedua menghela nafas lega. Kemudian, ia menatap ke arah Xiao Xia dengan tajam.
“Perempuan ini... Benar-benar berbahaya, aku harus cari cara mengalahkannya...”
Xiao Xia menatap dalam ke arah Tetua kedua yang sedang memikirkan cara untuk mengalahkannya. Xiao Xia bukan orang yang akan menunggu musuh, ia melambaikan kedua tangannya.
Dua belati yang berlumuran darah mengambang dan saling mendekat, kemudian menjadi satu. Belati menjadi lebih gelap dan aura jahat terus-menerus keluar tanpa ada pencegahan.
Tetua kedua merasakan hal itu, ia menatap ke arah Xiao Xia. Lalu, ia memandang ke arah Belati yang memiliki warna hitam gelap. Tetua kedua menelan ludahnya ketika merasakan aura jahat yang sangat kuat.
‘Apa-apaan Belati itu!’
Tetua kedua merasakan bahaya yang kuat. Dirinya dengan cepat, memutuskan untuk melarikan diri dari Kediaman Ko tersebut.
“Mau melarikan diri...”
“Sayang sekali, nyawamu untuk percobaan Belati baruku...”
Xiao Xia menatap ke arah Tetua kedua yang melarikan diri dengan cepat menuju ke arah gerbang Kediaman Ko.
Xiao Xia dalam sekejap melintas, ia melesat dan hanya terlihat siluet cahaya berkelok-kelok menuju ke arah samping Tetua kedua.
Xiao Xia tiba dan mengayunkan belatinya untuk menebas Tetua kedua.
Tetua kedua menyadari hal itu, ia dengan cepat menghentikan lajunya dan menghindar dengan cara berguling ke samping kiri.
Belati Xiao Xia melesat dan menebas angin yang berada di tempat Tetua kedua sebelumnya berada.
Tetua kedua benar-benar meningkatkan kewaspadaan miliknya. Tangan kanan memegang pedang yang sudah hancur tersebut, meskipun sekarang pendek... Pedang tersebut masih cukup kuat untuk ia bertahan.
Xiao Xia melintas kembali, ia melesat ke arah depan Tetua kedua. Bagi siapa pun, pasti menganggap Xiao Xia bodoh, karena menyerang dari depan.
Namun, semua fakta tersebut dibungkam ketika Xiao Xia mengayunkan belatinya dengan cepat ke arah tangan kanan Tetua kedua.
Slash...
Tetua kedua terkejut, ia sama sekali tidak menyadari bahwa Xiao Xia menyerang tangannya. Pikirannya hanya fokus, bahwa Xiao Xia akan menyerang perutnya.
Namun, semua dugaan tersebut salah. Tetua kedua meringis kesakitan ketika melihat lengan kanannya mengeluarkan darah yang sangat deras.
Xiao Xia melakukan backflip dua kali, ia sudah merasakan serangan sembunyi-sembunyi dari samping. Hal itu, membuat dirinya menaikkan sudut mulutnya.
“Layak untuk Tetua kedua, selepas kutebas tangan kanannya, ia masih mengirimkan serangan dadakan.”
Tetua kedua menghitam, ia menahan rasa sakit tangan kanannya dengan Qi yang tersisa dalam tubuhnya.
‘Qi ku tinggal sedikit, aku benar-benar terpojokkan oleh perempuan ini...’
Selepas ia memuji Tetua kedua, Xiao Xia mengangkat Belatinya, kemudian pandangannya tertuju ke arah Tetua kedua dengan tajam.
Tetua kedua bergidik ngeri ketika melihat dirinya ditatap dengan mata predator oleh Xiao Xia tersebut.
Xiao Xia tidak peduli dengan pikiran Tetua kedua, ia kemudian melintas dengan cepat menuju ke arah Tetua kedua.
Tangan kanan yang memegang Belati, Xiao Xia ayunkan ke bawah. Kemudian, semburan Qi yang kuat muncul dari Belati tersebut.
Slash...
Xiao Xia dalam sekejap muncul di belakang Tetua kedua dengan belati tepat berada di depannya. Pandangan tersebut membeku, sampai detik berikutnya, setetes darah segar terjun dari Belati milik Xiao Xia.
Terjunnya tetesan darah tersebut, bertepatan dengan Tetua kedua yang terjatuh dan berbaring di tanah dengan luka tebasan yang besar.
Darah dengan cepat memenuhi pakaian Tetua kedua tersebut. Sebelum, ia menutup mata. Tubuhnya dalam sekejap gemetar dan akhirnya mati di tempat.
Xiao Xia berdiri, ia mengayunkan belatinya ke samping dan darah yang melekat di belati menghilang.
Xiao Xia memandang ke arah Tetua kedua, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah dinding es yang berada di depannya.
Xiao Xia sedikit tersenyum, kemudian ia melompat dan duduk di dinding es tersebut. Dirinya tidak merasakan dingin, melainkan rasa hangat menyelimuti dirinya.
‘Kenapa ini es tidak dingin?’ Xiao Xia kebingungan. Dirinya tidak mengetahui bahwa apapun yang berhubungan dengan suhu yang dingin, ia akan senang.
Hal itu karena, kelelawar paling suka dengan udara yang dingin. Namun, di saat matahari bersinar, mereka akan merasakan rasa kantuk yang hebat.
Sekarang, Xiao Xia memandang ke arah bawah, di mana pertarungan antara Yu Lin dan Tetua pertama masih berlangsung.
***
Yu Lin terus-menerus mengayunkan pedangnya ke arah Tetua pertama. Hal itu, menyebabkan Tetua pertama terus melakukan perlindungan sambil mengeluarkan keringat di pelipisnya.
Ding... Slash...
Tombak Tetua pertama terbelah menjadi dua, lintasan serangan Yu Lin tidak berhenti dan menebas tepat tubuh depannya.
Semburan darah keluar dari tempat luka yang didapat oleh Tetua pertama tersebut. Luka yang lebar, membuat berbagai darah memberontak untuk keluar.
Yu Lin yang selesai menebas, ia menatap ke arah Tetua pertama dan berkata dengan nada dingin.
“Kau akan mati, ada kata-kata terakhir?”
Tetua pertama mendengar hal itu, meringis kesakitan dan menatap ke arah Yu Lin, ia menghela nafas dan tersenyum ringan.
“Jaga dirimu, Yu Lin...”
Yu Lin mengangguk dan melambaikan tangannya, seketika berbagai salju berkumpul di dekat Tetua pertama. Salju tersebut naik dan menutupi seluruh tubuh Tetua pertama.
***
Xiao Xia melihat bahwa Yu Lin sudah selesai melawan Tetua pertama tersebut. Dirinya tersenyum dan melompat ke arah Yu Lin.
Yu Lin merasakan kehadiran di belakangnya, ia berbalik dan menatap ke arah Xiao Xia yang melompat ke arahnya.
“Selamat, akhirnya balas dendammu terpenuhi.”
Yu Lin mengangguk, kemudian keduanya memandang ke arah Istana Kerajaan Ning.
“Ayo kita pergi ke sana...”
“Un..”
Dua perempuan tersebut melesat menuju ke Istana Kerajaan Ning. Namun, sebelum keduanya melangkah jauh. Keduanya berhenti dan mendengar suara ledakan besar.
Boooommm...
***
Sebelum ledakan terjadi, Istana Kerajaan Ning...
Xiao Jian dan Xiao Jun terus bertarung dengan kesepuluh orang berjubah hitam tersebut. Keduanya mendapatkan lima musuh.
Namun, mereka berdua terlalu meremehkan musuhnya. Keduanya belum memiliki Roh Elemen sama sekali, mereka hanya mengandalkan Qi dan Fisik saja.
Ding... Ding...
Xiao Jian dan Xiao Jun mundur dan menatap ke arah masing-masing musuh mereka.
“Apakah kalian sudah selesai bermain-mainnya?”
“Kau tahu, orang yang tidak memiliki Roh Elemen tidak akan bisa melawan orang yang memiliki Roh Elemen...”
“Matilah dengan tenang, akan kubuat kematianmu tidak menyakitkan!”
Dua di antara sepuluh orang berjubah hitam mengayunkan pedang mereka ke arah Xiao Jian dan Xiao Jun yang tengah kelelahan.
Namun, saat pedang hampir menyentuh keduanya, sesosok berwarna hitam melesat dan menampar pedang tersebut.
Clang...
Pedang terlempar jauh, orang berjubah hitam melompat ke belakang tanpa sadar. Mereka memandang ke arah depan dengan cepat.
“Siap...a?”
Terkejut, kesepuluh orang berjubah hitam tersebut terkejut ketika melihat sosok hitam yang memiliki ukuran panjang 50M, tubuh sosok tersebut besar.
Ssstt...
Sosok tersebut mendesis, kemudian melingkarkan tubuhnya untuk memberikan perlindungan kepada Xiao Jian dan Xiao Jun.
“Dasar Manusia Hina, berani sekali kalian ingin membunuh pengikut Tuanku...”
“Matilah dan jadilah makanan pertamaku setelah Enam Tahun lalu...”
Sosok tersebut akhirnya menampakkan dirinya. Sosok Ular yang selalu berada di Alam Bawah Sadar Xiao Fan...
Shen Yu Ling, tiba dalam pertempuran...
[To be Continued.]
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.