Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 265 - Perang 2


Silakan Dibaca.


Perbatasan Benteng Timur.


Boom! Boom! Boom!


Terlihat berbagai prajurit maupun iblis terus-menerus saling bertempur. Keduanya gigih, sama sekali tidak ada yang mau mengalah.


Namun, jika diperhatikan dengan cermat. Iblis lebih unggul dibandingkan prajurit. Banyak prajurit yang telah meninggal di medan perang.


Tanah yang semula hitam, kini terdapat jejak kemerahan. Iblis terus menyerang dan menekan para prajurit. Moral prajurit terpukul mundur, begitu melihat rekan-rekannya meninggal di tempat.


“Sudah berakhir ... Kita tetap akan kalah!”


“Kita terus ditekan oleh lawan!”


Berbagai prajurit sudah kehilangan semangat juang. Hegemoni perang mereka mulai berkurang dan perlahan-lahan lenyap.


Chu Tianheng yang bertarung dengan Zhou Dan, memperhatikan prajuritnya. Ia khawatir melihat prajuritnya yang mulai dibantai satu persatu. Giginya mengatup dan terus menahan serangan dari Zhou Dan.


“Kau kehilangan fokus, manusia rendahan!” kata Zhou Dan sambil menyeringai.


Ia terus melayangkan serangan tanpa henti. Kecepatannya semakin meningkat dan ia juga berhasil melukai Tianheng, meski itu hanya luka kecil.


Ketika prajurit mulai dibantai. Suara teriakan dan derap langkah kaki berbagai orang mulai terdengar.


“Semuanya menyebar!”


Tianheng yang mendengar teriakan tersebut, sudut mulutnya naik membentuk senyuman. Ia perlahan-lahan mulai mengimbangi serangan Zhou Dan, bahkan melebihinya.


Zhou Dan muram ketika melihat serangannya terpantul dan dirinya terkena serangan terus-menerus. Kecepatan lawan mulai meningkat, hal inilah yang membuat dirinya kewalahan.


“Sialan!”


Zhou Dan tidak bisa untuk tidak mengutuk atas kedatangan bantuan tambahan lawan. “Jangan harap kalian dapat mengalahkan kami, Manusia! Sebanyak apa pun kalian, kami akan tetap menang!”


Nafas Zhou Dan semakin meningkat. Tekanan pedangnya membuat Tianheng mengerutkan keningnya.


Para prajurit yang telah datang juga sama, mereka tertekan dengan nafas Zhou Dan tersebut. Namun, moral mereka tidak mengizinkan untuk menyerah dan tunduk.


“Iblis adalah Iblis! Kalian adalah makhluk yang harus kami musnahkan dari dunia ini!”


Tianheng berteriak dengan keras, para prajurit mengangkat pedangnya dan moral mereka semakin meningkat kembali. Tubuh mereka mendidih dan semuanya bertempur kembali.


Tianheng tetaplah sama, ia terus bertempur dengan Zhou Dan.


Dentang!


“Lawanmu ialah aku! Dan kali ini bersiaplah, karena aku mulai serius!” kata Tianheng dengan tegas.


“Hanya manusia rendahan! Apa yang kau bisa lakukan, selain menggonggong layaknya anjing!” ejek Zhou Dan.


Keduanya saling menguatkan diri mereka masing-masing. Dua pedang yang saling berbenturan, mulai mengeluarkan percikan api.


Zhou Dan mengerutkan keningnya seketika. Bukan karena percikan api, melainkan momentum dirinya yang kalah dari Tianheng. Ia merasakan bahaya jika terus menahan pedang tersebut.


Zhou Dan melepaskan benturan dan melompat ke belakang dengan cepat. Ketika mendarat, ia menstabilkan tubuhnya agar dapat kembali fokus dalam pertempuran.


Tianheng tidak menyangka bahwa Zhou Dan akan memilih melompat mundur. Hal ini membuat Tianheng sedikit terkejut, karena rencana kejutannya berhasil dideteksi oleh lawan.


Tianheng mengalirkan kembali energi qi ke dalam pedang. Ia mengayunkan pedang tersebut dengan cepat dan kuat. Tebasan lebar terbentuk, melayang menuju ke arah Zhou Dan berada.


Zhou Dan merasakan hal itu, sama sekali tidak gentar. Ia mengalirkan energi ke dalam pedang, namun dirinya tidak menyerang, melainkan menunggu serangan Tianheng datang kepadanya.


Tepat saat serangan Tianheng tiba di depannya, Zhou Dan mengayunkan pedangnya. Tebasan qi dan pedang yang dialiri qi mulai berbenturan satu sama lain.


Boom!


Apa yang dipikirkan Tianheng ialah kebenaran. Ketika debu yang menutupi area ledakan menghilang, terlihat Zhou Dan berdiri dengan kokoh tanpa ada luka sama sekali di tubuhnya. Bahkan, pedangnya sendiri masih terisi dengan aliran Qi.


Tianheng melesat dan pedangnya mulai terlapisi kembali dengan qi. Namun, qi yang sekarang berbeda dari sebelumnya. Energi yang dipakai Tianheng kali ini memadatkan qi agar dapat bertahan lama.


Pemakaian tersebut dapat meningkatkan kekuatan tubuh, maupun senjata yang ia pakai. Hal inilah yang menjadi perbedaan antara kedua penggunaan qi tersebut.


Zhou Dan melihat kedatangan lawannya. Ia tidak ingin menunggu saja. Kakinya segera menekuk dan dalam sekali injakkan, tanah di bawah kakinya hancur meninggalkan retakan yang luas.


Zhou Dan melesat dengan cepat ke arah Tianheng. Pedang setengah lingkaran mulai terhunus ke depan. Begitu juga dengan Tianheng. Ia melihat lawannya mendekat, membuatnya segera bersiap.


Jarak mereka semakin menyempit, dua pedang seketika bertemu satu sama lain. Lingkaran energi transparan muncul di depan keduanya.


Booom!


Ledakan keras terjadi ketika energi transparan pecah. Gelombang kejut yang kuat menyapu hampir setengah dari medan pertempuran. Para prajurit maupun iblis, bergidik ngeri dengan pertempuran raja mereka masing-masing.


Tianheng dan Zhou Dan saling menguatkan tangannya masing-masing. Getaran tanah di bawah kaki mereka semakin menjadi, perlahan-lahan tanah di tengah-tengah mereka hancur membentuk kawah.


Namun, semakin mereka menekan serangan. Kawah tersebut semakin melebar, menenggelamkan keduanya ke dalam tanah.


Tianheng dan Zhou Dan mundur beberapa langkah, ketika merasakan gelombang mendorong mereka dengan kuat.


Namun, detik berikutnya. Mata keduanya menjadi ganas dan mereka menghilang kembali, lalu muncul di tengah sambil mengayunkan pedang mereka masing-masing.


Dentang! Dentang! Dentang!


Mereka berdua saling bertukar serangan masing-masing. Tianheng menyerang layaknya lebah, sama sekali tidak menyia-nyiakan setiap langkahnya.


Sementara Zhou Dan sendiri menyerang dengan balasan. Ia menahan, kemudian menyerang dengan kuat. Senjata miliknya tidak dapat bergerak secepat senjata ringan.


Dan juga, ia tahu bahwa pedangnya bukanlah pedang cepat melainkan pedang yang terus bergerak dan menekan lawannya dengan kuat.


Benturan keduanya sangatlah keras, hingga terdengar di tempat para prajurit. Awna hitam di atas keduanya perlahan-lahan mulai menghilang.


Melihat pemandangan tersebut, prajurit dan iblis menelan ludah mereka masing-masing.


“Inikah pertempuran tingkat tinggi.”


“Sungguh mengerikan!”


Dua kubu berhenti sebentar hanya untuk melihat pemandangan tersebut. Selepas itu, mereka bersemangat dan saling menyerang satu sama lain kembali.


Di sisi lain...


Hutan yang luas dekat perbatasan, dua sosok di langit tengah melesat dengan cepat menuju ke medan perang. Kecepatan mereka layaknya bayangan, hanya terlihat buram di mata orang.


Keduanya berbeda jenis kelamin, satu laki dan satu perempuan. Laki-laki memakai pakaian hitam putih, sementara perempuan memakai hanfu merah.


“Tinggal beberapa menit, kita akan sampai, Yin’er!”


Perempuan hanfu merah yang mendengar ucapan laki-laki di sebelahnya, seketika mengangguk dan membalas dengan jelas.


“Kau benar, Xiao Fan!”


Kedua orang tersebut tak lain tak bukan, ialah Xiao Fan dan Long Yuyin.


Selepas perpisahan dengan Yun Shie dan Lin Hua, keduanya terbang cepat menuju ke perbatasan. Hal ini karena keduanya merasakan bahwa perang sudah memasuki fase di mana, penguatan terus terjadi.


“Itu dia!”


“Kami datang, medan perang!”


To be Continued.