
Silakan Dibaca.
Xiao Fan menatap ke dua perempuan yang tengah selesai meningkat. Ia mengangguk diam-diam dan bersuka cita karena melihat ada dua tingkat elementasi baru lagi.
Lin Hua dan Yun Shie membuka matanya, mereka berdua terkejut ketika merasakan nafas Alam Elementasi. Bagi mereka berdua yang pemula di alam tersebut, belum terbiasa sama sekali.
"Kalian berdua, stabilkan terlebih dahulu energi yang meluap itu!"
Xiao Fan memerintahkan keduanya untuk mengendalikan energi yang kacau. Lin Hua dan Yun Shie mengangguk, mereka dengan cepat memasuki lautan bawah sadarnya masing-masing.
Xiao Fan sendiri memandang sebentar, kemudian ia mengeluarkan beberapa kayu dan membakarnya, di dalam ruangan itu. Xiao Fan menunggu kedua perempuan untuk menyelesaikan pengendaliannya.
***
Perbatasan Kerajaan Tian dan Kerajaan Dou.
Terlihat tanah di Kerajaan Dou menghitam. Mereka menamai unsur hitam tersebut cacing malam. Hal ini karena, unsur hitam melebar dengan cara merayap, layaknya cacing yang bermain di tanah.
Para penjaga Kerajaan Tian, melihat hal itu dengan ekspresi penuh ketakutan. Kejadian tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Memandang cacing malam, mereka lebih baik memilih berperang dengan pasukan Dou dibandingkan berurusan dengan cacing malam.
Di kejauhan terlihat, derap langkah kuda mendekat semakin terdengar. Para penjaga memandang ke arah suara tersebut. Mereka melihat berbagai prajurit, dengan dipimpin sosok pemuda yang mengenakan seragam armor penuh.
Para penjaga yang melihat pemuda tersebut seketika melebarkan matanya. Mereka benar-benar terkejut melihat sosok pemuda itu.
"Yang Mulia Tianheng, datang ke perbatasan secara pribadi!"
"Ini ...."
"Semua penjaga turun ke bawah, kita harus menyambut Yang Mulia, segera!!"
Teriakan ketua penjaga terdengar oleh para penjaga. Semuanya bergerak cepat ke bawah, membentuk barisan jalan lurus menuju ke benteng perbatasan.
Chu Tianheng, ia kali ini secara pribadi ingin melihat keadaan Kerajaan tetangga. Laporan dari penjaga perbatasan, membuat dirinya gelisah. Hal ini karena, sebuah fenomena aneh tengah terjadi.
Tanah yang semula coklat mulai menghitam. Chu Tianheng hanya menyimpulkan bahwa tanah tersebut terkutuk. Hal ini pernah ia lihat di buku sejarah di perpustakaan Istana.
"Salam Yang Mulia!"
Para penjaga mulai melakukan penyambutan dengan tegas. Meski penyambutan tersebut terlihat biasa-biasa saja. Namun, Tianheng tidak memperdulikan hal tersebut.
Tatapannya menyapu ke arah para penjaga perbatasan, kemudian ia berkata dengan tegas. "Terima kasih karena telah bekerja keras untuk menjaga perbatasan."
Ketua dari para penjaga, menjawab dengan tegas. "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Kami melakukan ini, demi kehidupan keluarga kami nantinya!"
Tianheng tersenyum, ia sudah tahu akan hal itu. Bagaimanapun juga, ia pernah bergaul dengan para orang-orang yang menjaga perbatasan. Sebelum-sebelumnya mereka ditawari untuk pindah, akan tetapi mereka menolak dengan halus serta menyerahkan alasan yang jelas.
"Bagus, kalau begitu di mana yang kalian maksud cacing malam itu?"
"Ikuti hamba, Yang Mulia. Hamba akan tunjukkan cacing malam tersebut!"
Tianheng mengangguk, kemudian ketua penjaga menatap ke arah para penjaga lainnya. "Semuanya bubar dan pergi melakukan pekerjaan masing-masing."
"Baik, Ketua!" Jawab tegas para penjaga, kemudian mereka semua bubar dan mulai menjalankan aktivitas seperti biasanya.
"Mari, Yang Mulia!" Kepala penjaga berjalan terlebih dahulu, di belakangnya terdapat berbagai prajurit. Namun, mereka segera dibubarkan oleh para kapten prajurit.
Tianheng sendiri, mengikuti kepala penjaga. Naik ke atas tembok perbatasan. Tiba di atas, ia melihat kepala penjaga berhenti dan menunjuk ke arah wilayah Kerajaan Dou.
"Tanah hitam itu ialah cacing malam tersebut, Yang Mulia!"
Tianheng memandang ke arah tanah hitam, seketika pupil matanya menyusut. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Sebuah kutukan yang membuat suatu tanah di wilayah tertentu menghitam dan tidak bisa dikembalikan kembali.
"Ini ... Benar-benar berbahaya, sepertinya ada yang sengaja menaruh kutukan di Kerajaan Dou."
Tianheng mengamati sebentar, ia sudah tahu bahwa tanah kutukan benar-benar sulit untuk diatasi. Namun, Tianheng perlu mencari solusi masalah tersebut.
Dia berpikir dengan keras, sampai akhirnya ia mengingat bahwa Xiao Fan mengatakan tentang iblis yang bersiap untuk berperang. Hal ini membuat Tianheng segera tahu dalang dari penyebab kutukan tersebut.
"Yang Mulia, darurat!"
Tianheng segera berbalik menatap ke arah prajuritnya yang tengah lari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Hal ini menimbulkan perasaan tidak nyaman di hati Tianheng.
"Ada apa, prajurit? Mengapa kamu lari seperti itu?" Tianheng segera bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Benteng di timur tengah diserang oleh lima sosok manusia dengan sayap di belakangnya." Prajurit berkata dengan nada patah-patah, nafasnya berantakan.
Tianheng melebarkan matanya, ia benar-benar terkejut dengan pemberitahuan prajurit tersebut. Seketika, ia memandang ke arah timur.
"Barat ini aman, aku akan berlari ke sana. Bagi dua tim, satu berjaga di tempat dan yang lainnya menyusul diriku!"
Tianheng segera melesat ke arah timur, ia tidak peduli dengan jawaban dari prajurit dan kapten prajurit yang berada di sana. Prioritas utamanya ialah menghentikan serangan dan membunuh orang yang menyerang.
'sosok manusia bersayap ... Sial, ini pasti Iblis! Sebenarnya apa yang dikatakan Xiao Fan kebenaran. Iblis mulai bertindak sehingga Khultu keluar.'
Tianheng meningkatkan kecepatannya, ia harus segera tiba di perbatasan bagian timur.
Sementara itu, di benteng perbatasan bagian timur. Kobaran api melanda tempat tersebut, lima sosok manusia dengan sayap kelelawar melayang di udara sambil memandang ke arah para prajurit yang bingung mencari pelindungan.
"Haha, lihat-lihat. Para manusia benar-benar seperti semut yang mencari tempat perlindungan!"
"Diamlah, Yang Mulia menyuruh kita menghancurkan benteng ini. Agar kutukan tetap berjalan ke sisi seberang!"
"Namun, sekuat apapun serangan kita. Benteng ini sangatlah kokoh, serangan kita semuanya ditolak."
"Itu benar, bagaimana kita menghancurkannya?"
Lima sosok itu ialah Iblis, mereka kini tengah melayang dan terus-menerus mencoba menghancurkan benteng tersebut.
Kapten penjaga dan para penjaga lainnya bersembunyi di balik benteng. Mereka tidak menyangka bahwa benteng sangatlah kokoh dan kuat.
"Lima sosok itu, sepertinya iblis. Kita harus menunggu bala bantuan sebelum melangkah untuk menyerang mereka."
Kapten penjaga memandang ke arah para iblis tersebut. Ia memang takut, akan tetapi dirinya menguatkan tekadnya untuk tetap mengawasi kelima iblis tersebut.
Salah satu Iblis memandang ke arah benteng, ia melihat ada berbagai manusia yang bersembunyi di balik benteng tersebut.
"Tcih, membosankan. Manusia hanyalah makhluk lemah, mereka semua adalah sampah!"
Kapten penjaga dan para penjaga, menahan hinaan tersebut. Mereka tidak meledak karena sudah terbiasa mendengar cacian dan makian dari banyak orang.
"Ayolah, kita pergi. Manusia di sini sanga-"
"Iblis tetaplah iblis, seperti biasanya kalian begitu menjijikkan!"
Iblis yang sebelumnya mengeluh terkejut, ketika melihat sosok manusia memakai jubah merah tengah mengayunkan pedangnya tepat ke arah bahunya.
Iblis tidak merespons, bahunya tertebas dengan kuat. Empat iblis lainnya terkejut, akan tetapi sesuatu dorongan kuat terjadi di perut mereka. Keempatnya melesat terjun ke bawah dan menabrak tanah dengan keras.
Boom!
Selepas menendang keempat Iblis, sosok itu berdiri di ujung benteng. Ia menatap dingin ke arah lima iblis yang masih berlutut di tanah.
"Apakah hanya segini, kekuatan Iblis itu?"
Sosok itu memasang wajah merendahkan ketika melihat lima iblis tersebut. Sosok itu ialah Raja Kerajaan Tian, Chu Tianheng.
Ia tiba tepat waktu dan sorot matanya menajam dan pedang dengan ukiran naga terlihat di punggung bilahnya.
"Mari kita bertarung, Iblis rendahan!"
To be Continued.