Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 60


[Chapter 60.]


[Dikepung.]


[Silahkan Dibaca.]


Ruangan Reruntuhan Kota Yufeng.


Terlihat dua sosok yang tengah saling berhadapan, sosok pertama adalah gadis kecil melayang dengan ringan, sosok kedua adalah seorang pemuda tengah terbang rendah menatap terkejut gadis di depannya.


“Bagaimana kamu mengetahui hal itu?” Pemuda itu bertanya dengan kejutan. Pemuda tersebut ialah Xiao Fan, ia tidak menyangka bahwa gadis kecil mengetahui dirinya yang asli.


“Ya, aku mengetahuinya. Namun, ini adalah pertemuan terakhir kita.” Mendengar kata-kata tersebut, Xiao Fan menjadi serius. Dia menatap tajam ke arah gadis di depannya. Namun, yang dirinya adalah senyuman sedih dari gadis tersebut.


“Apa maksudmu?” Xiao Fan bertanya tanpa melonggarkan kewaspadaan miliknya. Dia tahu bahwa gadis di depannya bukan bermaksud bertarung dengannya, tetapi dirinya perlu waspada jika gadis itu secara tiba-tiba berubah.


Gadis kecil menatap ke arah Xiao Fan. Gadis itu bernama Teng Shi Lan, putri dari kepala Desa Teng. Namun, identitas lainnya sangat rumit dan penuh misteri.


“Aku akan menghilang selepas ini...” Gadis kecil itu berkata dengan nada ringan, kemudian tangannya menunjuk ke arah pintu. “Jika, ada seseorang yang melewati pintu itu, aku akan menghilang. Itu adalah formasi segel yang tersusun.”


Xiao Fan terkejut, ia tahu formasi segel tersebut. Dengan cepat dirinya menatap ke belakang dan melihat dua simbol yang perlahan-lahan akan menghilang.


Xiao Fan melebarkan matanya dan memandang ke arah gadis kecil tersebut dan bertanya, “Kenapa, kamu melakukan hal itu?”


Gadis kecil itu tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan dari Xiao Fan. Dia berkata dengan ringan. “Terima kasih, juga pecahan itu tolong simpanlah, nanti akan bermanfaat untukmu.”


Gadis kecil perlahan-lahan memudar dan butiran air mata keluar dan terbang di udara. “Terima kasih, Xiao Fan. Aku serahkan pecahan itu kepadamu.”


Xiao Fan memahami hal itu dan mengangguk. Kemudian, gadis kecil menghilang sepenuhnya dengan sebuah ucapan yang pelan dan terdengar di telinga Xiao Fan.


“Selamat tinggal, Dewa Angin.” Xiao Fan mendengar itu, ia menghela nafas panjang. Dia benar-benar tidak menyangka ada seseorang yang mengetahui akan dirinya sendiri.


“Lupakan, terpenting adalah pecahan ini. Sepertinya, memiliki rahasia dan masalah besar terkandung di dalamnya.” Xiao Fan tersenyum dengan senang. Dia melambaikan tangannya dan pecahan menghilang.


Xiao Fan kemudian berbalik dan pergi dari dalam reruntuhan. Dirinya tiba di luar reruntuhan dan memandang sekitar, ia kemudian berbalik dan sedikit membungkuk tanda berdoa kepada orang yang meninggal dalam reruntuhan tersebut.


Selesai melakukan hal itu, Xiao Fan berbalik dan pergi menuju ke arah kabut putih di depannya. Dia dalam sekejap keluar dari kabut putih tersebut.


***


Tiba di luar, Xiao Fan menatap sekeliling tempatnya. Dia terkejut, ketika melihat berbagai bekas pertarungan di mana-mana.


Xiao Fan dengan cepat menyebarkan benang miliknya mendeteksi pertarungan yang terjadi di sekitar hutan. Dirinya memejamkan mata dan merasakan daerah sekitar.


Xiao Fan segera membuka kembali matanya, seketika jejak niat membunuh miliknya terlihat. “Lagi-lagi, suruhan dari Bing Sha tersebut.”


Xiao Fan dengan cepat menggunakan kemampuan kelima miliknya, dia berubah menjadi benang dan menghilang dari tempat.


***


Sisi luar hutan Tenfeng, terlihat pertarungan terjadi sangat sengit. Berbagai siluet orang terlihat, mereka saling tukar serangan terus-menerus.


“Dinggg...” benturan dua senjata terjadi, kemudian siluet-siluet tersebut mundur dan berkumpul di masing-masing sisi mereka.


“Siapa kalian?” sosok perempuan dengan pakaian biru putih terlihat. Perempuan itu ialah Lin Hua, dia tidak menyangka bahwa akan di serang oleh beberapa orang asing.


***


Flashback.


Lin Hua dan keempat muridnya tengah duduk sambil menunggu Xiao Fan keluar dari reruntuhan di dalam kabut putih. Mereka beristirahat dan mempersiapkan segala hal untuk jaga-jaga, jika ada penyerangan.


Tak berselang lama, kelima orang itu merasakan ada berbagai orang berjumlah lima belas tengah bergerak dan mengepung mereka secara tiba-tiba.


“Bersiap,” teriak Lin Hua, kemudian para murid mulai mengeluarkan roh elemen mereka masing-masing. Setelah itu, berbagai orang berjubah abu-abu muncul dan mengelilingi mereka.


“Wush..Wush..” Lin Hua memandang ke arah para musuh di depannya tersebut. Dia mengerutkan keningnya dan mengeluarkan roh elemen miliknya.


Musuh1 menatap ke arah kelima orang, dia melihat satu persatu dari guru sampai keempat muridnya. Tatapan miliknya seketika jatuh dan mengunci ke arah Zhu Lin.


Lin Hua menyadarinya dengan cepat ia memberikan perintah, “Semuanya, bunuh mereka dan sisakan satu orang. Kita bertempur habis-habisan!”


Keempat murid mengangguk, Ning Shui tersenyum mendengar hal itu. Dia melompat dan mulai menyerang ke arah para musuh tersebut. Ia senang karena dapat menguji kekuatan miliknya sekarang.


Kedua sisi terus bertarung, tetapi sisi Lin Hua sedikit kewalahan karena menahan jumlah musuh yang banyak. Dia dengan cepat berteriak, “Semuanya, kita pergi ke luar hutan!”


Dengan cepat kelima orang itu melesat keluar ke arah hutan. Mereka hanya bisa membunuh lima orang saja, sedangkan sisanya mengejar mereka dengan cepat.


Target mereka adalah Zhu Lin. Lin Hua selalu menghalangi musuh-musuh tersebut. Namun, yang dirinya tak sangka bahwa musuh menggunakan cara kotor yaitu melemparkan jarum racun pelumpuh.


“Bruk..” Lin Hua seketika terjatuh dengan ekspresi terkejut, dia tidak menyangka bahwa musuh memiliki hal tersebut.


Lin Hua tidak bisa bergerak, dia terbaring di tanah. Sedangkan keempat muridnya, dengan cepat melindungi Lin Hua.


“Guru, apakah kau tidak apa-apa?” Ning Shui segera melesat ke arah Lin Hua dan melemparkan empat kartu di masing-masing sisi. Dia membuat dinding perlindungan dari air, agar musuh tidak bisa mendekati Lin Hua.


Para orang berjubah hitam mengepung mereka kembali, Musuh1 geram dengan kelima orang itu. “Sialan! Karena kalian mengganggu rencana kami, maka mati!”


Sembilan musuh mendengar hal itu, menyiapkan jarum dan melesatkan ke arah dinding air tersebut.


“Blub..Blub..Blub..” Dinding air memperlambat jarum tersebut. Namun, para musuh terus-menerus menghujani dinding air dengan jarum.


“Guakhh...” Ning Shui mengeluarkan seteguk darah, hal itu membuat keempat orang lainnya terkejut. Lin Hua melihat hal itu, dengan cepat menjadi khawatir.


“Murid Shui, apakah dinding air terhubung dengan dirimu?” Lin Hua tidak mendapatkan respons, ia tahu bahwa jawabannya adalah iya. Dia tidak ada pilihan lain, selain berkorban nyawanya.


“Semuanya bawa Murid Shui, keluar dari sini. Tinggalkan aku sendirian...” Lin Hua berkata sambil memaksakan tubuhnya untuk berdiri, Ning Shui melihat itu mencoba menghentikannya.


“Guru Hua tetaplah duduk terlebih dahulu, biarkan murid ini bersama dengan yang lainnya melawan mereka.” Ning Shui berkata dengan keringat keluar sangat deras.


“Biarkan kita bertiga saja yang melawannya, guru Hua dan putri Shui, istirahatlah.” Xiao Ren berkata dalam mode Elang api miliknya.


Xiao Ren benar-benar tidak senang, ketika dilindungi dan tidak bergerak sama sekali. Zhu Lin dan Liu Kai mengetahui maksud dari Xiao Ren, keduanya benar-benar tidak ingin menjadi beban.


“Tapi...” Lin Hua, ingin menyangkal. Namun, melihat tatapan serius dari ketiga muridnya, ia menghela nafas. “Baiklah, jaga Murid Lin. Mereka mengincarnya, pastikan aman. Juga, jaga diri kalian masing-masing.”


Ketiganya mengangguk dan melesat keluar dari dinding air tersebut. Para musuh melihat hal itu, mereka juga melihat target ikut keluar.


Lin Hua dan Ning Shui tetap berada di dinding air, mereka mulai memulihkan kondisi ke dalam puncak. Keduanya harus cepat dan membantu ketiga orang yang tengah bertempur dengan sepuluh orang berjubah hitam.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah mencapai kondisi dapat bertarung, dengan cepat mereka melesat keluar dan ikut dalam pertarungan tersebut.


“Tring...Tring..”


Flashback End


***


Lin Hua menatap ke arah musuh dengan penuh pertanyaan, Musuh1 menatap dengan dingin dan menjawab pertanyaan Lin Hua.


“Kau tidak perlu tahu tentang kami, Jlang!” Musuh1 berkata sambil mengejek. Wajah Lin Hua menghitam, tetapi kedua sisi berhenti seketika, di saat merasakan aura membunuh yang sangat kuat.


“Wushhhhhhh...” Aura yang sangat mengerikan tertuju ke arah para musuh-musuh tersebut. Lin Hua dan keempat muridnya terkejut, tetapi mereka tahu siapa itu.


“Nah, kalian benar-benar berani melukai orang-orangku...” Perlahan-lahan benang terlihat dan membentuk sosok seorang. “Apakah kalian tahu konsekuensinya?”


[Promosi Novel teman.]



[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.