Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 244 - Kerajaan Tian Bergerak


Silakan Dibaca.


Ruang Makam Kuno...


Dentang!


Benturan dua serangan terdengar sangat jelas. Pertarungan Xiao Fan dan Monster di depannya benar-benar terjadi. Satu menggunakan pedang, yang lain kepalan tangan.


Monster yang dilawan Xiao Fan ialah sosok Raja Iblis Hewani, Mino. Monster yang memiliki badan manusia kekar dikombinasikan dengan kepala banteng.


Xiao Fan sendiri tidak menyangka akan melawan salah satu Raja Iblis. Meski itu kelas hewani, akan tetapi kekuatannya hampir setara Raja Iblis nyata.


Xiao Fan mengetahui nama tersebut, ketika membaca tempat patung Mino sebelumnya berada. Di sana terukir sejarah terkait Mino tersebut.


Mulai dari nama, peperangan, kematian dan terakhir pangkat Raja Iblisnya.


Xiao Fan tidak terlalu peduli hal lain, hanya fokus ke arah nama. Dia sekarang tahu lawannya tersebut.


Mino mengayunkan pukulan ke arah Xiao Fan, dia sendiri menyadari bahwa musuhnya sedikit linglung. Meski sebentar, Mino tidak ingin kehilangan kesempatan.


Xiao Fan yang sudah melihat Mino memasuki perangkapnya, dengan kecepatan ringan. Dia memblokir serangan Mino, lalu melayangkan ayunan vertikal ke arah perut Mino.


Ayunan tebal bergerak dengan cepat, Mino tidak bisa merespons dan terkena serangan Xiao Fan. Mino seketika mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya yang tertebas.


Xiao Fan tidak berhenti di situ saja. Dia melambaikan pedangnya berkali-kali, proyektil tebasan merah melesat ke arah Mino dengan cepat.


Mino merespons, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Aura hitam keemasan muncul di tangannya. Dengan pukulan ke depan, proyektil tebasan seketika langsung hancur.


Xiao Fan segera melesat ke samping, efek kehancuran pukulan Mino mencapai tempat dirinya berdiri.


Pedang berayun dengan cepat, Xiao Fan menyerang sambil memutari Mino.


Proyektil tebasan melesat ke arah Mino dari berbagai arah. Mino merasakan hal tersebut, matanya menjadi dingin dan tangannya terulur ke samping.


Di saat jari-jarinya mulai terbuka lebar, sosok kapak besar muncul dari kekosongan.


Mino dengan cepat mengangkat kapak tersebut dan mulai berayun secara memutar. Hal ini membuat proyektil tebasan meledak di udara dalam sekejap.


Boom!


Xiao Fan yang melihat senjata Mino sedikit tertegun, selanjutnya dia melesat dengan cepat ke arah Mino.


Gerakannya berkedip-kedip, seolah-olah bergerak dalam bayangan. Tak butuh waktu lama, Xiao Fan tiba di dekat Mino sambil mengayunkan pedangnya secara vertikal.


Mino merasakan serangan Xiao Fan tersebut. Kapak, dia pegang dengan erat dan melambai ke arah Xiao Fan berada.


Siluet pedang dan kapak melintas, berikutnya dua senjata saling berbenturan satu sama lain.


Dentang!


Xiao Fan melakukan putaran ke belakang, sementara Mino mundur beberapa langkah. Namun, ketika Xiao Fan mendarat di tanah. Mino sudah menyambutnya dengan ayunan kapak.


Xiao Fan merespons dengan cepat, dia memegang gagang pedang secara terbalik. Kapak melintas dan mengenai tepat pedang tersebut.


Dentang!


Kekuatan Mino menghempaskan Xiao Fan ke belakang, akan tetapi Xiao Fan sama sekali tidak terluka. Dia hanya terbang dan berputar, lalu mendarat dengan stabil.


Pertarungan Xiao Fan dan Mino membuat Lin Hua dan Yun Shie terpana. Keduanya benar-benar bersemangat ketika melihat adanya lawan yang dapat mengimbangi teknik berpedang Xiao Fan.


Lin Hua sudah memegang pedangnya, entah mengapa dirinya ingin sangat bertarung dengan Mino tersebut. Namun, sifat tersebut membuat Lin Hua sendiri bingung.


Karena sifat dirinya tidak pernah senang untuk bertarung melawan orang yang kuat. Lin Hua sendiri lebih senang membantu seseorang daripada bertarung.


'Apakah ini akibat malam pertama dengan Xiao Fan kemarin?' batin Lin Hua memikirkan kejadian malam pertama, seketika tubuhnya memerah.


Dia segera menggelengkan kepalanya, akan tetapi dirinya yakin bahwa saat bermain dengan Xiao Fan. Terdapat sifat lain yang mulai tumbuh dalam dirinya sendiri.


"Eh, sebenarnya aku ingin bertarung. Namun, jika adik Shie ingin melawannya, aku tidak akan melawan Mino itu!" Lin Hua menjawab dengan lembut.


Baginya tidak perlu berdebat, siapa yang akan mengalahkan Mino tersebut. Lin Hua lebih senang mengalah dibandingkan keras kepala untuk menghadapi lawan.


"Bagaimana kalau kita berdua melawannya? Lebih aman kita bergandengan tangan daripada sendirian!" Yun Shie mengusulkan pilihan yang netral.


Dia sama saja dengan Lin Hua. Yun Shie sendiri tidak ingin serakah, dirinya lebih senang berbagi. Hal ini karena berbagi lebih menyenangkan daripada memilikinya sendiri.


Lin Hua menarik sudut mulutnya. 'Yun Shie tetaplah Yun Shie, sekalipun satu orang mengalah. Dia tidak ingin melakukan sendirian.'


"Baiklah, itu adalah pilihan yang tepat."


Kemudian, kedua perempuan itu memandang ke arah Xiao Fan. Sementara Xiao Fan yang sedang melawan Mino, merasakan tatapan tersebut.


Sudut mulutnya seketika naik ketika melihat bahwa kedua perempuan di dalam medan pelindung siap untuk bertarung.


Xiao Fan sendiri memandang langsung ke arah Mino, kemudian qi miliknya melonjak sedikit dan melapisi pedangnya.


Xiao Fan menebas dengan ringan ke arah perut Mino. Selanjutnya, dia menghilang dari tempat digantikan oleh Yun Shie dan Lin Hua.


Xiao Fan yang sudah tiba di area pelindung, segera memandang kedua perempuannya melawan Mino tersebut. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, dengan lambaian tangan. Pedang yang dia pegang menghilang dari tempat.


"Bertarunglah, aku ingin melihat perkembangan kalian berdua!"


Yun Shie dan Lin Hua mengangguk ketika mendengar kalimat Xiao Fan tersebut.


"Baiklah!"


***


Kerajaan Tian, perbatasan dengan Kerajaan Dou...


Kini terlihat tanah di perbatasan mulai menghitam. Banyak warga terkejut akan perubahan tanah tersebut. Mereka berlari dari desa menuju kota.


Para warga kali ini membutuhkan sebuah pertolongan. Namun, saat tanah hitam mencapai salah satu warga.


Semuanya melihat dengan mata melebar, warga yang sebelumnya penuh akan daging. Kini sudah berubah menjadi tulang dan kulit.


Pemandangan mengerikan tersebut, membuat para warga bergidik ngeri. Mereka semua berlari putus asa agar terhindar dari tanah hitam.


***


Istana Kerajaan Tian...


Kali ini kerajaan penuh akan prajurit. Semuanya berpakaian rapi dan lengkap, pedang terpasang di pinggang mereka. Ada sekitar 400.000 prajurit telah siaga di luar Kota.


Sosok pemuda menunggang kuda hitam, pemuda itu memandang ke arah perbatasan Dou. Perasaan campur aduk memenuhi pemikirannya.


Pemuda itu menghela nafas panjang, dia memandang ke setiap pasukan dan mulai bergerak ke depan.


"Salam Yang Mulia!"


Itu benar, pemuda tersebut ialah Chu Tianheng. Kali ini dirinya akan turun tangan untuk pergi menuju ke perbatasan. Bagaimanapun juga, kerajaan sebelah benar-benar sunyi dan aneh.


Kejadian tersebut benar-benar belum pernah terjadi. Apalagi kemarin terdapat api yang besar, hal inilah yang membuat Chu Tianheng penasaran dengan apa yang terjadi di kerajaan tersebut.


"Setiap pasukan, mari kita bergerak menuju Kerajaan Dou!"


"Baik, Yang Mulia!"


Derap langkah kaki kuda mulai terdengar. Perang antar dua kerajaan, akan segera dimulai!


To be Continued.