Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 262 - Perang Dimulai


Silakan Dibaca.


Perbatasan Kerajaan Tian dan Dou, ialah benteng yang sangat panjang. Benteng ini kokoh dan dikenal dengan sebutan, Benteng penahan Iblis.


Sebutan tersebut bukan sembarangan. Semenjak berdirinya benteng tersebut, ada berbagai macam sihir terkandung di dalam benteng itu.


Salah satu dari sihir itu ialah sihir penangkal serangan iblis.


Di benteng ini, berbagai prajurit telah berdiri di atas benteng. Barisan mereka rapi, ditambah dengan pakaian armor perak, membuat mereka memiliki momentum kekuatan.


Pandangan prajurit lurus, menatap ke arah tanah hitam di depannya. Tanah itu tepatnya berada di wilayah Kerajaan Dou.


Satu orang tengah berdiri di depan para prajurit, ia memakai pakaian armor emas tanpa pelindung. Jubahnya merah dengan lambang Kerajaan Tian.


Tatapannya tajam seperti elang. Alisnya mengerut ketika mendengar suara aneh dari kejauhan. Rambutnya yang panjang berkibar ke belakang.


“Perang benar-benar akan terjadi! Kerajaan Dou sudah berakhir. Sekarang diganti dengan para Iblis!” kata orang itu pelan.


Laki-laki beramor emas tersebut ialah Raja Kerajaan Tian, Chu Tianheng.


Selepas dirinya membunuh empat Iblis, kini sosok burung terbang ke arahnya dengan berita bahwa Iblis tengah bersiap untuk berperang.


Hal ini membuatnya terkejut dan ia segera memerintahkan kapten prajurit untuk pergi kembali, lalu menyuruh para prajurit datang ke benteng membantu.


Jauh di depan mata Tianheng. Terlihat debu mulai bertaburan di mana-mana, terbawa oleh angin yang berembus pergi.


Di balik debu, terlihat sosok hitam perlahan-lahan bergerak. Mereka tidak sedikit, karena bayangan hitam memenuhi seluruh debu, bahkan langit-langit juga memunculkan berbagai sosok hitam.


Tianheng mengatur nafasnya, ia tidak menyangka iblis lebih cepat datangnya dibandingkan para prajuritnya. Hal ini memberikan Tianheng tekanan tanpa sadar.


Para prajurit yang berada di atas benteng, menatap dengan khawatir ke arah bayangan hitam yang begitu banyaknya.


“Apakah kita bisa menang? Mereka sangatlah banyak!”


“Ada Raja di depan, mengapa kita harus takut!”


“Kau benar, kita kalah jumlah mungkin. Namun, bantuan akan segera datang.”


Para prajurit mulai mendiskusikan tentang menang atau kalah nantinya. Ada yang skeptis dan takut, namun dengan cepat berubah ketika salah satu prajurit mengingatkan bahwa Raja ada di tempat.


Momentum mereka seketika meningkat. Perasaan takut sebelumnya sirna, digantikan dengan hati yang penuh akan rasa semangat untuk berperang.


Tianheng tidak tahu pemikiran para prajuritnya. Karena fokusnya terus ke arah depan dan mengukur tingkatan para Iblis tersebut.


“Semua setengah pejuang bintang lima sampai sembilan... Hanya lima orang yang memiliki Alam Elementasi,” gumam Tianheng, penuh dengan pengertian.


Debu dengan cepat berlalu, menampilkan sosok makhluk berpostur manusia. Namun, dua tanduk terpatri di kepalanya. Senjata yang mereka pakai trisula lancip berwarna hitam.


Mereka memiliki kulit berbeda warna dengan bintik-bintik, di area tertentu. Seringai di wajah para makhluk itu benar-benar menakutkan, ditambah taring yang tajam membuat siapa pun bergidik ngeri.


“Iblis akhirnya datang!” kata Tianheng dengan tenang.


Pedang yang tertanam di tanah, seketika ditarik dan bilah merah bersinar dengan terang. Tajam dan kuat, tersirat di pedang tersebut.


Para prajurit juga sudah bersiap, mereka menuruni tangga dan berbaris rapi di tanah kematian. Meski namanya tanah kematian, tanah tersebut sudah dibersihkan dengan air suci.


“Yang Mulia, apakah kita memulai untuk perang?”


“Tidak, kita akan menunggu. Dan jangan lupa gunakan batu suci, agar kita dapat bergerak dengan bebas nantinya!”


“Baik, Yang Mulia!”


Para prajurit segera memakai kalung yang berisi batu suci di tengahnya. Kalung ini dibuat oleh Bangsawan Lan, dengan batu suci yang memancarkan aura setiap saat. Membuat pemakai dapat dilindungi dari aura jahat seperti tanah kematian.


Di sisi lain...


Kediaman Lan, Kediaman Yun, dan para Bangsawan lainnya juga mulai memberikan pasukan mereka satu persatu.


Ada sekitar empat juta prajurit yang terkirim oleh para Bangsawan. Empat sekte juga mengirim murid yang sudah siap tempur.


Ada sekitar satu juta murid yang dikirim ke dalam perang tersebut. Mereka membawa kebanggaan Sekte masing-masing.


Di dalam istana Kerajaan Tian, sosok perempuan cantik tengah memandang jauh ke arah benteng perbatasan. Sulit baginya untuk tidak khawatir dengan keselamatan suaminya.


“Tianheng, kembalilah dengan selamat!” kata perempuan itu, yang tak lain ialah Yun Qi Er.


Ia sebenarnya tidak ingin peperangan terjadi antar kerajaan. Namun, yang tidak dirinya sangka adalah Iblis sudah bertindak terlebih dahulu.


Satu langkah lebih awal dibandingkan rencana mereka. Adapun masalah lainnya, Yun Qi Er dapat menyelesaikannya dengan cepat.


Dirinya kali ini memohon agar suaminya dapat kembali dengan selamat.


Di sisi lain, tepatnya kediaman Yun...


Seorang pria dengan istri di sampingnya, memandang ke arah perbatasan. Ia tahu bahwa sekarang akan terjadi peperangan besar di sana.


“Andai aku kembali dengan cepat. Mungkin aku bisa membantu menantuku!” kata Pria itu dengan penuh rasa tak berdaya.


“Tenanglah, Sayang. Tianheng pasti dapat mengatasinya. Meski, lawan sekalipun Iblis. Ia bisa menghadapinya,” kata perempuan di sebelahnya dengan lembut.


Meski begitu, hati perempuan sangatlah khawatir terhadap menantunya. Ia tahu Iblis dan tahu kekuatan asli para makhluk tersebut.


Dua orang ini ialah, Yun Shi Han dan Fang Yin. Mereka sangat mengkhawatirkan menantunya yang ikut dalam perang.


Menantu yang mereka khawatirkan ialah Chu Tianheng. Raja dari Kerajaan Tian.


“Yin’er aku tahu kamu khawatir, namun kita tidak tahu apakah nasib berpihak kepada kita atau tidak!”


Fang Yin tertegun, ia kemudian mengingat sesuatu dan memandang kembali ke arah suaminya.


“Sayang, apakah senjata itu akan keluar nantinya?”


Yun Shi Han melebarkan matanya, apa yang dikatakan istrinya benar. Apakah senjata itu akhirnya akan digunakan.


“Tidak mungkin, ini termasuk pusaka kita. Apalagi sekarang lawan kita ialah Iblis. Memang, dengan senjata itu, Iblis akan mudah mati,” kata Yun Shi Han.


“Namun, senjata itu tidak bisa ditarik oleh sembarangan orang. Bahkan aku sendiri tidak bisa menarinya.”


Fang Yin yang mendengar perkataan suaminya, hanya mengangguk setuju. Apa yang dikatakan itu benar, tidak ada orang yang dapat membawa senjata tersebut karena tidak ada kualifikasi sama sekali.


Yun Shi Han juga memikirkan hal itu. Namun, ia segera menyusut dan sadar ada seseorang yang kemungkinan dapat menariknya.


“Bayangan, pergi ke kediaman Lan dan sampaikan kepada cucuku. Ada sesuatu yang perlu didiskusikan.”


Fang Yin mendengar itu tertegun dan sadar. Ia tahu bahwa ada sosok lain yang bisa mengangkat senjata tersebut.


“Yun Shie, kuharap dia dapat mengangkatnya!”


Kembali ke benteng perbatasan...


Chu Tianheng memandang ke depan, di mana barisan Iblis telah berada di posisi mereka masing-masing.


“Raja Tian, menyerahlah dan kami tidak akan menyerangmu!”


Chu Tianheng naik pitam, ia memandang ke arah langit. Di mana di sana duduk sosok orang yang kuat.


“Aku menolak...”


“Kalau begitu terima nasibmu!”


To be Continued.