Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 228 - Perpisahan


Silakan Dibaca.


Bos bandit terbunuh oleh Yun Lan Ran. Hal ini membuat para bandit yang tersisa diam dan senjata yang berada di tangan mereka jatuh ke tanah. Mereka dalam sekejap terduduk lemas, ketika melihat bahwa bos mereka mati.


Para perempuan yang menyerang para bandit berhenti dan memandang datar ke arah para bandit tersebut. Mereka menyimpan senjata kemudian berbalik menuju ke tempat permaisuri Qian berada.


Para perempuan sama sekali tidak ada niat bertarung kembali, hal ini karena lawan tidak ada semangat bertempur sama sekali. Ketika lawan tidak ada semangat untuk tempur menandakan mereka telah kalah.


Yun Lan Ran menatap ke arah para perempuan, kemudian ke arah para bandit. Tatapannya yang tajam mulai melunak. Kemudian, memandang ke arah prajurit Lan. “Kuserahkan sisanya kepada kalian!”


“Dimengerti, Nyonya Yun!” Para prajurit saling memandang kemudian satu persatu mulai bergerak ke arah para bandit. Entah apa yang mereka lakukan selanjutnya, hal ini tidaklah penting bagi Yun Lan Ran.


“Ibu, apakah kamu tak apa?” tanya Yun Shie ketika sudah dekat dengan Yun Lan Ran. Dia memeluknya sambil mengungkapkan perasaan khawatir terhadap wanita tersebut.


“Shie’er, Ibu tidak apa-apa. Hanya saja lawan Ibu tadi lumayan kuat.” Yun Lan Ran membalas pelukan putrinya, dia memeluk sambil mengelus belakang kepala putrinya dengan lembut.


Keduanya berada dalam dunianya sendiri, sementara perempuan lainnya memandang ke arah Xiao Fan yang sebentar lagi memindahkan cawan emas ke batu permintaan roh.


Xiao Fan menambahkan kembali benang untuk menarik cawan emas lebih cepat dari sebelumnya. Dirinya ingin secepatnya melihat apa yang akan terjadi ketika cawan emas berhasil menyentuh batu permintaan roh.


“Sebentar lagi ...” Permaisuri Qian menatap cawan emas yang hampir dekat dengan batu permintaan roh. Dirinya menatap dengan sepasang mata berkaca-kaca.


Perlahan-lahan dan akhirnya cawan emas menyentuh batu permintaan roh. Detik berikutnya, batu permintaan roh dan cawan emas bercahaya cerah. Xiao Fan yang berada di dekat keduanya segera mengaktifkan mata rajanya.


Apa yang dirinya lihat ialah berbagai sosok wanita yang mengambil bayi di cawan emas. Mereka memeluk bayi-bayi tersebut erat-erat seolah sudah lama tidak bertemu. Pemandangan tersebut membuat Xiao Fan tanpa sadar tersenyum.


Permaisuri Qian mulai bercahaya, dia merasakan bahwa tugas miliknya telah tuntas dan para perempuan di kerajaannya dulu akhirnya dapat memeluk bayinya kembali. Permaisuri Qian tentu senang dan dirinya melayang di udara diikuti para perempuan.


Mereka berbaris dan memandang ke arah Xiao Fan dan rekan lainnya. Kemudian permaisuri Qian menundukkan kepalanya diikuti dengan para perempuan di belakangnya tersebut. “Terima kasih, juru selamat.”


Xiao Fan dan yang lainnya tersenyum menerima rasa terima kasih dari perempuan kerajaan sebelumnya. Bagi mereka kecuali Xiao Fan, hal ini adalah langka. Momen yang paling berkesan dalam hidup mereka masing-masing.


Permaisuri Qian dan para perempuan lainnya menegakkan kepalanya dan permaisuri Qian mendekat ke arah Xiao Fan. Senyumnya membuat para laki-laki tergila-gila, akan tetapi untuk Xiao Fan sendiri, senyum itu tidak menimbulkan efek apapun.


“Terima kasih Xiao Fan. Tanpa bantuanmu, aku akan selalu berada di dunia ini tanpa melakukan reinkarnasi kembali.” Permaisuri Qian mengungkapkan isi hatinya. Kemudian dia mendekat dan mengecup bibir Xiao Fan dengan ringan.


“Itu adalah rasa terima kasih dariku, Xiao Fan.” Permaisuri Qian tersenyum dan perlahan-lahan dia mulai menghilang diikuti oleh para perempuan lainnya.


Xiao Fan menatap hilangnya permaisuri Qian dan para pengikutnya tersebut, sudut mulutnya naik membentuk senyuman. “Semoga selepas reinkarnasi, kamu akan bertemu dengan seseorang yang dirimu inginkan.”


Xiao Fan tidak tahu, akan tetapi seseorang yang berada di alam bawah sadarnya mengetahui. Akan tetapi, orang itu tidak akan mengungkapkan fakta tersebut. Hal ini karena dirinya ingin melihat bagaimana reaksi Xiao Fan saat bertemu dengan takdirnya tersebut.


Xiao Fan telah turun ke bawah, Lan Yansho memandang ke arahnya dan Xiao Fan mengangguk. “Tenang, kita buat ulang kembali desa ini. Tidak perlu banyak waktu karena membuat ulang desa sangatlah mudah.”


“Aku percaya dengan dirimu, lantas bagaimana kamu mengatur pekerjaan kami semuanya?” tanya Lan Yansho, akan tetapi jawaban Xiao Fan membuat mereka tercengang dan bingung.


“Kalian tidur saja.” Xiao Fan memberikan jawaban sambil tersenyum penuh percaya diri. Lan Yansho tidak tahu harus membantah bagaimana, jika dia tidak percaya nantinya akan berakhir buruk.


Lan Yansho menghela nafas panjang, lalu dia menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu kuserahkan kepadamu.”


Para perempuan ingin membantu, akan tetapi Lan Yansho sudah mengangkat tangannya tanda untuk diam dan turuti kemauan Xiao Fan. Mereka menunduk dan masuk ke dalam kereta, sedangkan Lan Yansho di luar bersama dengan prajurit lainnya.


Xiao Fan tersenyum melihat mereka semua patuh. Kemudian, dia berbalik dan berkata, “Waktunya membangun desa yang belum pernah ada.”


Xiao Fan memejamkan matanya, kemudian matanya terbuka dengan warna emas. Berbagai benang emas muncul di dekatnya dan mulai bergerak menebas dan menghaluskan kayu. Semua proses yang dilakukan Xiao Fan, sangatlah tertutup karena dirinya membuat benang mengelilingi desa agar tidak ada yang melihat aksinya.


Lan Yansho dan para prajurit terkejut, mereka hanya tersenyum tak berdaya melihat Xiao Fan menutup seluruh lingkup ruang desa.


Xiao Fan terus membuat perumahan di susun dengan rapi, tanah berubah menjadi keras dan jalanan berubah menjadi pecahan batu halus. Desa yang dibuat Xiao Fan benar-benar berbeda dari desa-desa pada umumnya.


Perlahan-lahan suhu mulai merendah dan kabut dingin mulai menghilang. Sinar matahari sudah mulai tampak di ufuk timur. Lan Yansho dan para prajurit mulai membuka matanya dan pandangan pertama yang mereka lihat ialah sebuah desa yang sangat indah.


Mereka mengedipkan matanya berkali-kali. Sampai akhirnya mereka sadar bahwa desa di depannya sangatlah nyata.


“Aku terbangun dan apa yang kulihat sekarang adalah Desa yang sangat indah.” Prajurit berteriak dengan kencang, jelas mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Lan Yansho sendiri memandang sekitar, rumah yang terbuat dari kayu dengan desain yang begitu elegan. Tempat untuk mandi dan mencari air, lantai yang sangat unik karena lantai tersebut terangkat sedikit dari tanah.


Jalanan batu yang halus dengan sekat-sekat papan kayu yang tebal. Setiap rumah memiliki pagar kayu tinggi dan halaman yang luas. Di dekat pagar terdapat tempat untuk menanam bunga.


Lan Yansho yang melihat keseluruhan desa benar-benar dibuat linglung. Entah mengapa, desa tersebut terlihat sangatlah mewah. Bahkan dia sendiri bertanya-tanya apakah di depannya benar-benar desa.


“Bagaimana, desanya sangat bagus, bukan? Meski sebenarnya ini hanya referensi terburuk di otakku.”


To be Continued.