Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 256 - Ujian?


Silakan Dibaca.


Xiao Fan memandang ke arah depan dengan pedang di tangannya. Cahaya putih nan dingin bersinar di pedang pendek miliknya.


Selanjutnya, ia melambaikan pedangnya dan sinar tebasan bergerak lurus menuju ke arah lengan kanan monster yang berdiri di hadapannya itu.


Monster tidak sempat bereaksi, karena luka yang ia derita di lengan kiri memperlambat pergerakan dirinya.


Tebasan mengenai lengan kanan monster. Tidak ada teriakan sama sekali, hanya tetesan lahar yang keluar dari tubuh monster mengenai tanah di bawah.


Xiao Fan menebas kembali. Namun, kali ini ia merasakan bahaya lain di belakangnya. Xiao Fan bereaksi cepat, ia dengan cepat menghindar ke atas dan sinar cahaya merah melintas di tempat sebelumnya ia berada.


Xiao Fan mengerutkan keningnya, memandang ke arah asal sinar cahaya tersebut. Ia melihat sosok monster berdiri di sana dengan tampang yang marah.


Entah mengapa, ketika Xiao Fan melihat itu. Ia merasakan tekanan aneh, namun baginya tekanan tersebut sama sekali tidak berpengaruh dalam pertempuran.


“Apakah akhirnya salah satu dari mereka bergerak?”


Xiao Fan tidak takut, ia melambaikan pedangnya kembali ke arah monster yang menggunakan sinar cahaya sebelumnya.


Tebasan melesat ke arah monster tersebut. Namun, monster bereaksi dengan cepat. Sosoknya menjadi kabur, ia dalam sekejap tiba di depan Xiao Fan sambil mengayunkan kepalan tangannya.


Xiao Fan sedikit melebarkan matanya, ia terkejut. Namun, hanya butuh satu detik baginya untuk kembali normal.


Pedang miliknya melambai kembali dan menahan pukulan tersebut. Namun, saat pukulan mengenai pedang. Xiao Fan merasakan tolakan yang sangat kuat, sehingga mengharuskan dirinya untuk terbang ke belakang.


Xiao Fan yang diterbangkan, seketika melihat satu monster yang ia lawan sebelumnya. Monster itu kini mengayunkan lengan kanannya. Meski lambat, pukulan tersebut tepat dengan waktu kedatangan dirinya.


Xiao Fan sedikit kesusahan dalam menggerakkan tubuhnya. Dia mencoba yang terbaik untuk menghindar maupun menangkis.


Namun, usahanya untuk bergerak sia-sia. Pukulan monster lengan satu sangatlah kuat. Membuat Xiao Fan yang terkena terpental ke bawah dan meledak.


Kawah cekung terbentuk, Xiao Fan yang berada di tengah-tengah kawah segera memecahkan giok pelindung yang ia bawa.


Tirai tipis muncul dan menyelimuti Xiao Fan. Selanjutnya, berbagai lahar mulai keluar dan memenuhi kawah tersebut, sehingga Xiao Fan tenggelam dalam lahar.


Dua monster tetap tenang, mereka masih mengawasi kawah lahar tempat Xiao Fan berada. Keduanya menyadari bahwa Xiao Fan masihlah hidup.


Persepsi keduanya sangatlah tajam, meski terlapisi lahar. Xiao Fan sendiri terbungkus oleh pelindung, membuat ia tidak terkena lahar tersebut.


Tak butuh waktu lama, Xiao Fan muncul. Ia pertama-tama duduk, kemudian berdiri di kawah lahar tersebut. Tatapannya acuh tak acuh fokus ke arah dua monster tak jauh darinya.


“Aku tidak menyangka, akan terjerat dengan kelompok kalian!”


Xiao Fan memegang pedang yang tampak berbeda dari sebelumnya. Bilah pedang merah kehitaman. Pola bulan sabit tercetak di dekat gagang pedang.


Pedang itu pendek namun sangat tajam. Aura kematian sangatlah pekat, menjadi bukti pedang tersebut telah membunuh banyak nyawa.


“Bulan darah, pinjamkan kekuatanmu!”


Itu benar, nama pedang itu ialah bulan darah. Pedang terkutuk yang telah menebas banyak manusia pada zamannya. Pedang ini disegel, karena sama sekali tidak ada yang dapat memegangnya kecuali satu pewaris asli.


Xiao Fan mengayunkan pedang, mencoba untuk menyesuaikan penggunaan pedang tersebut.


Dua monster yang melihat Xiao Fan, segera bertindak. Satu monster menghilang dalam sekejap dan muncul tepat di belakang Xiao Fan.


Tamparan keras menyapu ke arah Xiao Fan. Namun, saat serangan hampir mengenai Xiao Fan. Serangan itu tertahan oleh pedang.


Xiao Fan memandang ke arah tangan raksasa yang ia telah tahan. Berikutnya, ia menghilang dari tempat dan muncul kembali tepat di lengan monster tersebut.


Xiao Fan mengayunkan pedangnya ke bawah, ia tak lupa memberikan sedikit qi terhadap pedang bulan darah.


Ketika pedang berayun, lengan monster terpotong dalam sekejap. Xiao Fan mendarat di lengan yang masih terhubung di tubuh monster.


Selanjutnya, Xiao Fan mulai melompat pendek. Lalu, melesat naik menuju ke arah leher monster tersebut.


Pedang di depannya, lalu tiba di kepala monster itu. Di saat pedang ingin menebas kepala monster. Monster itu mengelak dengan memiringkan wajahnya.


Slash!


Tanduk yang berada di sebelah kanan seketika terpotong. Xiao Fan kini berada di udara, ia mendengus ringan. Kemudian, mengayunkan pedangnya ke bawah.


Monster merasakan bahaya, ia segera berguling ke belakang. Kemudian, monster yang lain muncul sambil mengayunkan kepalan tangan ke arah Xiao Fan.


Xiao Fan sudah menduga akan hal itu. Ia melihat pukulan yang melayang ke arahnya. Meski lambat, Xiao Fan bisa merasakan betapa kuatnya serangan tersebut.


Namun, karena serangan lambat itu. Xiao Fan sudah siap untuk membatalkan serangan. Ia mengangkat pedangnya dan menghilang dari tempat.


Berikutnya, Xiao Fan muncul di atas kepalan tangan. Pedangnya bersinar merah, lalu berayun dengan cepat memotong lengan tersebut.


Slash!


Lengan monster jatuh. Xiao Fan sudah menghilang kembali dan muncul di depan kepala monster yang sudah kehilangan dua tangannya.


Xiao Fan menebas ke arah leher monster. Namun, belum sempat menyelesaikan tebasan. Ia merasakan bahaya dari samping.


Xiao Fan tidak perlu melihat. Ia segera menghindar ke arah langit, kemudian sosok pukulan melesat melewati tempat ia sebelumnya berada.


Melihat serangan tersebut, Xiao Fan sedikit mengerut. Ia tahu bahwa semakin anggota tubuh menghilang pasti akan berkurang kecepatannya. Namun, monster yang ia lawan kini sama sekali tidak berkurang.


“Apakah ada kemungkinan kehilangan lainnya?”


Xiao Fan berpikir sebentar, akan tetapi ia terganggu oleh monster yang kehilangan dua tangannya.


Monster itu membuka mulutnya dan memandang ke arah Xiao Fan. Entah mengapa, ketika melihat tindakan tersebut, Xiao Fan merasakan bahaya.


Tanpa banyak basa-basi, Xiao Fan menghilang dan muncul di tanah kembali. Ia kemudian melihat bola cahaya melesat ke arah langit dan meledak dengan keras.


Boom!


Xiao Fan benar-benar tidak menyangka, bahwa lawan akan memiliki kemampuan seperti itu. Ia sendiri mengira bahwa monster di depannya hanya menggunakan dua lengannya saja.


“Sekarang hanya dua, delapan monster lain belum ikut.” Xiao Fan berkata dengan suara rendah, entah mengapa dia merasa bahwa monster-monster ini seperti penguji.


Xiao Fan menggelengkan kepalanya dan berkata penuh akan keyakinan. “Ujian atau tidak, aku tidak akan peduli. Tujuan sekarang membunuh kesepuluh monster tersebut!”


Xiao Fan menyemangati dirinya kembali dan mulai bergerak menyerang dua monster di depannya.


***


Tak jauh dari lokasi Xiao Fan, di atas gunung terlihat sosok panjang bersayap tengah memantau dengan saksama. Ia menyeringai dan mulai berkata dengan nada suara berat.


“Pewaris kali ini benar-benar berbeda dari lainnya!”


To be Continued.