Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 192 - Pertemuan


Silakan Dibaca.


Ketua Bandit menatap ke arah Xiao Fan dengan amarah. Ia tidak pernah dihina seperti saat ini, meski lawan kuat, harga dirinya jauh lebih besar di bandingkan hal lain.


Ketua Bandit meraung dengan ganas, matanya menyala dan mengunci ke arah Xiao Fan. Detik berikutnya, ia melesat dengan kecepatan penuh menuju tempat Xiao Fan berada.


Xiao Fan memandang ke depan acuh tak acuh. Baginya Ketua Bandit masihlah lemah meskipun ia menyerap tubuh dan darah pasukannya sendiri.


Dalam bidang penglihatan Xiao Fan, terlihat Ketua Bandit yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Xiao Fan mengarahkan pedangnya ke depan.


Ritme dan ayunan yang sangat lembut, membawa tekanan yang kuat kepada Ketua Bandit. Ayunan pedang tenang, di sekitarnya sunyi dan hanya terdengar langkah kaki berantakan milik Ketua Bandit.


Semakin Xiao Fan mengayunkan ke bawah, Ketua Bandit perlahan-lahan mulai merasakan berat yang menekan dirinya untuk terjun ke bawah.


“Serigala Darah? Nama Bandit yang begitu lucu. Bagaimana kalau kalian bertemu Serigala Darah lainnya yang lebih ganas? Yah, mungkin adalah kalian akan kabur sambil kencing.” Xiao Fan menghina lawan sampai menyentuh jiwa lawan.


Ketua Bandit merasakan rasa sakit di dalam tubuh, ia menggerakkan tubuhnya dan meraung membebaskan diri dari tekanan yang di berikan oleh Xiao Fan.


“Bajing*an, lepaskan aku!” Ketua Bandit meraung dengan keras. Ia terus bergerak, namun tekanan yang diberikan oleh Xiao Fan semakin besar.


Xiao Fan memandang ke arah Ketua Bandit dengan datar. Cahaya siluet melintas di iris mata Xiao Fan, kemudian pedang mulai mengambil lintasan menuju ke arah Ketua Bandit.


Xiao Fan berkedip, ia melintas mengikuti ritme pedang dan akhirnya ia menghunuskan pedang tepat leher dari Ketua Bandit. Keseluruhan serangan sangatlah cepat, tidak butuh waktu satu detik, kepala Ketua Bandit terpenggal dan terbang di udara.


“Semuanya selesai, waktunya bergerak menuju ke kediaman Yun berada.” Xiao Fan memandang ke arah jalurnya, ia kemudian menghilang dan melesat dengan cepat menuju ke kediaman Yun.


Di saat Xiao Fan telah pergi, satu bandit yang telah bersembunyi akhirnya keluar dari balik pohon. Ia memandang ke arah seluruhnya rekannya dengan dingin, kemudian tatapannya beralih ke arah tempat Xiao Fan menghilang.


“Jalur itu, kemungkinan besar, jalur menuju ke kediaman Yun.” Bandit itu mengetahui arah tujuan dari Xiao Fan, namun ia melepaskan Xiao Fan dan tidak akan balas dendam.


Ia memiliki pemikiran bahwa Xiao Fan bukanlah orang yang mudah di singgung. Hal itu terbukti sekarang, seluruh rekannya terbunuh dan ketua yang tidak berkompeten mati.


“Lebih baik memulai kehidupan kembali.” Bandit tersebut berbalik dan pergi menuju kota pelabuhan untuk memulai hidup baru.


***


Xiao Fan yang tengah dalam perjalanan menaikkan sudut mulutnya. Seluruh hal yang terjadi di belakang, ia sudah melihatnya. Sesuai aturan lama, orang yang tidak menghalangi tidak akan mati.


Xiao Fan sudah tahu ada satu bandit tersisa, namun ia tidak membunuhnya, karena bandit tersebut sadar akan kekalahan dan menghilangkan egonya.


“Baguslah ia memulai kembali kehidupan barunya.” Xiao Fan berkata dengan ringan, kemudian tatapannya tertuju ke depan dan sinar cahaya melintas di matanya. Detik berikutnya, Xiao Fan menambah kecepatan dirinya.


***


Malam hari.


Xiao Fan berhenti di dekat sebuah danau, ia bermalam di sana dan menunggu pagi hari kembali bersinar. Ia menebas pohon yang tua dan duduk di pohon yang ditebang itu.


Xiao Fan memandang ke arah danau, namun detik berikutnya matanya menyusut ketika melihat sosok perempuan yang tengah mandi di tengah danau.


‘Bagaimana bisa ada seorang perempuan di danau? Juga, kenapa ia mandi di tengah malam seperti ini? Apakah ia tidak takut akan kedatangan monster?’ batin Xiao Fan penuh akan pertanyaan ketika melihat perempuan tersebut.


Xiao Fan tidak terus mengamati perempuan itu, ia mulai mengeluarkan daging monster yang ia kalahkan dalam sepanjang perjalanan. Xiao Fan memanggang daging, selepas itu mulai menikmatinya.


Para pengawal tengah berjaga di sekitar kereta, mereka selalu waspada akan ada serangan dadakan. Sementara itu, di dekat danau satu orang perempuan memandang ke arah perempuan lain yang mandi.


“Nona Lan, sudah waktunya untuk menyelesaikan mandi.” Perempuan itu memanggil perempuan cantik yang tengah mandi di tengah danau untuk menyelesaikan mandinya.


“Sebentar lagi, Kakak An.” Perempuan yang tengah mandi menjawab dengan lembut, ia kemudian membasah tangannya dan mulai menyelam sebentar.


Ketika perempuan itu kembali ke permukaan, rambut panjangnya berayun dari depan ke belakang. Mata perempuan itu indah, hijau mirip seperti batu giok.


Saat sepasang mata tersebut menatap ke depan, perempuan itu menyusutkan matanya ketika melihat api dan seorang laki-laki yang tengah memanggang daging di sana.


Perempuan yang tengah mandi terkejut, ia segera melebarkan matanya dan dengan cepat berenang kembali ke tepi. Perempuan yang berada di tepi, melihat nona mudanya bergegas kembali dengan buru-buru, tidak bisa untuk tidak mengerutkan keningnya.


Perempuan yang mandi tiba di tepi, ia segera mengeringkan tubuhnya dengan cepat dan mulai memasang kembali hanfu hijau yang diberikan oleh perempuan di sebelahnya.


“Nona Lan, kenapa Anda terburu-buru memakai seluruh pakaian Anda?” perempuan itu tidak bisa untuk tidak bertanya melihat Nona Muda yang bertingkah aneh.


“Di seberang ada seorang laki-laki, Kakak An.” Perempuan yang mendengar ucapan dari Nona Mudanya seketika melebarkan matanya. Ia dengan cepat menatap ke arah seberang, matanya menyipit dan melihat seorang laki-laki tengah memanggang daging di sana.


“Nona, Saya akan memanggil beberapa prajurit, kemudian kita datangi laki-laki itu.” Nona Muda itu hanya bisa mengangguk, wajahnya masih memerah malu karena tubuhnya kemungkinan terekspos.


Perempuan yang bersama Nona Mudanya, mulai beranjak pergi memanggil beberapa prajurit. Ketika, ia sudah memanggil prajurit. Perempuan dan Nona Muda tersebut berjalan ke arah seberang, di mana laki-laki itu berada.


***


Xiao Fan yang tengah memanggang daging tidak mengetahui bahwa akan ada masalah baru yang akan datang kepadanya. Namun, apakah Xiao Fan kabur.. tentu saja, tidak.


Xiao Fan sudah mengalami berbagai masalah untuk apa ia melarikan diri dari masalah yang biasa. Baginya masalah adalah makanan sehari-hari yang perlu dimiliki setiap orang.


Sekarang, Xiao Fan menyelesaikan memanggang daging miliknya. Ia menghirup aroma dari daging panggang yang ia buat. Tercium aroma yang menggoda, banyak orang.


“Kematangan sudah cukup, waktunya makan.” Xiao Fan mulai memakan daging miliknya tersebut. Ia juga merasakan kedatangan beberapa orang mendekat ke arahnya.


Xiao Fan tidak peduli, ia tetap makan dan sampai akhirnya ia mendengar suara prajurit. “Siapa Kamu, kenapa kamu berada di sini?”


Xiao Fan tidak menjawab, ia melanjutkan makan. Prajurit yang melihat Xiao Fan mengabaikan dirinya, tidak bisa untuk tidak marah.


Perempuan dan Nona Muda yang melihat pemandangan tersebut, juga marah. Bagaimanapun juga, prajurit adalah cerminan dari tempatnya berasal. Jika, prajurit diabaikan mengartikan bahwa orang itu juga mengabaikan keduanya yang berada di sebelah prajurit. Hal seperti, sulit untuk mereka terima.


“Bajing*an! Beraninya kau..” sebelum prajurit menyelesaikan kalimatnya, Xiao Fan sudah selesai memakan makanannya dan ia mulai menyela prajurit tersebut.


“Apakah kau tidak paham etika seorang bangsawan?”


To be Continued.


Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.