
Silakan Dibaca.
Angin malam bergerak tenang, udara di sekitar perlahan menjadi dingin. Bulan sempurna naik di atas langit yang gelap, diikuti dengan kelap-kelip bintang.
Di hutan dekat kediaman Lan, sosok hitam melintas dengan cepat memecahkan udara di depannya. Berikutnya, sosok itu berhenti di atas batu besar yang halus.
Sosok hitam memandang ke sekelilingnya, malam hari membuat hutan menjadi semakin suram. Namun, kesuraman itu sama sekali tidak memberikan perasaan takut kepada sosok hitam tersebut.
“Lebih baik istirahat terlebih dahulu, perjalanan menuju ke Kota Fuan hanya tinggal beberapa menit lagi.”
Sosok hitam itu duduk, selanjutnya di bawah sinar bulan yang perlahan mendekat. Sosok hitam akhirnya mengungkapkan identitasnya.
Sosok wajah cantik dengan rambut hitam panjang. Pakaian hanfu biru yang dirinya kenakan menambah kesan penuh ketenangan dan perdamaian. Sosok itu ialah, Lin Hua.
Duduk di atas batu halus, Lin Hua mulai menyerap beberapa energi qi dari alam. Dirinya ingin menghangatkan tubuhnya yang tengah berada di udara malam hari.
Adapun tujuan Lin Hua, ialah Makam Kuno yang di mana dapat meningkatkan kekuatan seseorang dalam waktu singkat.
Meski begitu, peningkatan yang akan diberikan hanya bergantung terhadap keberuntungan setiap orang yang masuk.
Lin Hua ingin menjadi salah satu orang yang masuk ke dalam Makam Kuno tersebut. Dirinya memiliki tujuan untuk menjadi lebih kuat, tujuan itu ialah menuju ke Alam tertinggi untuk membantu seniornya.
Lin Hua yang tengah melakukan penyerapan terganggu oleh suara gerakan balik semak tepat di belakangnya. Lin Hua membuka matanya seketika, dia berputar ke belakang dan melihat apa yang mengganggunya tersebut.
Semak terus bergerak menimbulkan kesan yang menegangkan. Lin Hua yang telah mengalami banyak pertempuran, dia segera mengeluarkan pedang miliknya.
Tatapan Lin Hua berangsur menjadi tajam dan dingin, layaknya binatang buas yang tengah menanti mangsanya keluar.
Di bawah tatapan Lin Hua, semak akhirnya berhenti bergerak namun berikutnya dua siluet hitam melesat ke arah Lin Hua dengan cepat.
Lin Hua menyipitkan matanya, kemudian dia jelas melihat dua siluet hitam tersebut. Pedang yang berada di genggamannya berayun ke depan, mencoba menebas kedua siluet hitam tersebut. Namun, ketika pedang tepat di depan dua siluet hitam itu, keduanya bereaksi dan menghindar dengan cara berputar sekali ke atas.
Gerakan tersebut membuat Lin Hua semakin waspada, dia segera mengalihkan perhatiannya terhadap dua siluet tersebut. Berikutnya, di bawah sinar bulan yang terang. Dua siluet itu akhirnya terungkap.
***
Di sisi lain, Xiao Fan yang telah selesai makan. Berjalan kembali menuju ke kamarnya diikuti oleh pelayan pribadi yang disiapkan oleh Lan Yansho. Keduanya berjalan bersama, diiringi angin malam yang berembus dari luar.
Shan Yuan yang berada di dekat Xiao Fan, memandang ke arah sisi lain. Matanya menyipit dan senyum tipis terbentuk di wajahnya. Hal ini menyebabkan kebingungan bagi Xiao Fan yang berada di sebelahnya.
“Apa yang sedang kamu lihat, Pak Tua?”
Xiao Fan bertanya sambil memandang ke arah hutan yang di tatap oleh Shan Yuan. Dirinya penasaran, akan tetapi sama sekali tidak menemukan kelainan di hutan tersebut.
Namun, ketika dia ingin bertanya kembali. Cahaya sekilas terlihat di hutan tersebut. Meski singkat, Xiao Fan jelas menangkapnya. Hal ini membuat dirinya berhenti berjalan dan menatap lurus ke arah hutan di depannya.
Pelayan yang berada di sebelah Xiao Fan juga ikut berhenti dan menatap ke arah Xiao Fan sebelum beralih memandang ke arah hutan.
“Aku akan pergi, laporkan kepada Paman Lan, bahwa aku pergi ke hutan.” Xiao Fan berkata dengan serius. Kemudian, dia melayang dan melesat pergi ke hutan tanpa menunggu jawaban dari pelayan di sebelahnya.
Pelayan melihat kepergian Xiao Fan, dia segera sadar dan bergegas menuju ke arah Lan Yansho berada. Dirinya harus segera melaporkan kejadian tersebut, sehingga tidak ada hal buruk yang terjadi nantinya.
***
Dentang!
Dua pedang saling berbenturan satu sama lain, kemudian dua siluet mundur ke belakang. Lalu, terlihat Lin Hua yang tengah mengeluarkan helaan nafas panjang. Ketika melihat lawannya kali ini.
Lin Hua jelas kewalahan melawan kedua musuh di depannya, hal itu karena kedua lawannya bukanlah sembarangan orang. Apalagi sekarang kemampuan dirinya telah berkurang banyak semenjak turun dari alam tinggi.
Sementara itu, dirinya juga menggunakan klon untuk pergi ke Benua Shansu sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mencari informasi terkait seniornya.
Meski kekuatannya telah pulih, dirinya hanya dapat menghancurkan salah satu dari dua musuh di depannya, akan tetapi karena keduanya menyerang bersama hal ini membuatnya kewalahan.
Lawan Lin Hua kali ini bukanlah orang sembarangan karena lawan dirinya ialah dua setan merah. Sosok pembunuh bayaran yang selalu memakai topeng merah iblis, senjata keduanya ialah sabit dengan rantai yang panjang.
Kode nama kedua orang itu tidaklah sulit, mereka berdua mengambil kode nama dari senjata mereka tersebut. Tujuan keduanya mengambil nama senjata karena agar lebih mudah untuk mengenalnya.
Perbedaan keduanya mudah, hanya tentukan dari tinggi badan mereka. Semuanya akan tahu mana yang kode nama Sabit maupun kode nama Rantai.
“Menyerahlah perempuan, kami menemukan bahwa kepalamu memiliki nilai apalagi tubuhmu.”
Sabit menyeringai dari balik topengnya, dia berpikir untuk melecehkan Lin Hua lebih dari yang lain. Bagaimanapun juga, tampilan Lin Hua sangatlah terkesan cantik melebihi dari perempuan yang pernah dirinya temui.
Rantai sama sekali tidak berbicara, akan tetapi matanya menunjukkan keserakahan tertentu. Tanpa mengatakan apapun, orang pasti tahu niat darinya.
Lin Hua yang mendengar perkataan Sabit, ekspresinya berubah menjadi jelek. Dia memang kewalahan menghadapi keduanya, akan tetapi ritme dirinya dapat berubah ketika menggunakan roh elemen nantinya.
Lin Hua menghela nafas sebentar, kemudian dia ingin menguji kembali apakah dapat menyelesaikan tanpa menggunakan roh elemen. Jika berhasil, dirinya sangatlah senang.
Pedang melambai dengan cepat, tebasan Qi biru melesat ke arah dua pembunuh bayaran tersebut. Tekanan dan nafas dingin keluar dari tebasan Qi, membuat kedua pembunuh bayaran merasakan kengerian tebasan tersebut.
Sabit dan Rantai sama sekali tidak peduli, keduanya menghindar dan melesat ke arah Lin Hua. Gerakan keduanya sangatlah cepat tanpa Lin Hua sadari, mereka berdua tiba di dekatnya.
Dua senjata tajam melayang ke arah Lin Hua. Merasakan dua ancaman, Lin Hua dengan cepat mengayunkan pedangnya untuk menangkis dua serangan tersebut.
Dentang!
Lin Hua terlempar ke belakang beberapa meter, kemudian dia merasakan kehadiran Sabit dan Rantai di dekatnya tengah mengayunkan senjata tajam tepat ke arah lehernya.
‘Cepat...’
To be Continued.