Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 250 - Ribuan Panah Es


Silakan Dibaca.


Ruang Makam Kuno, lantai kedua.


Lin Hua bergerak memutar, ia menatap ke arah Goliath yang terus mengikuti pergerakannya, seolah-olah ia terkunci dan tidak bisa lepas dari pandangan monster tersebut.


Goliath membuat bola racun kembali, ia meludahkan bola tersebut secara terus-menerus ke arah Lin Hua. Namun, gerakan Lin Hua sangat cepat sehingga bola jatuh ke lantai tempat Lin Hua sebelumnya melintas.


Lin Hua berhenti berlari secara tiba-tiba, ia menggunakan langkah es menuju ke arah Goliath. Tubuhnya terus berkedip, akan tetapi setiap tempat yang ia lalui hancur. Hal ini membuat es yang menyelimuti lantai menjadi pecah dan naik ke atas.


Lin Hua memutar tubuhnya dan pecahan es yang naik ke atas mulai mendekat ke arah pecahan lainnya. Satu persatu es mulai terangkai menjadi satu.


Goliath memandang dengan tidak peduli, ia meludahkan kembali bola racun ke arah Lin Hua berada. Namun, sebelum bola mencapai tempat Lin Hua, pecahan es yang naik menghalangi dengan cepat.


Lin Hua mengangguk ketika melihat pecahan es yang sudah bersatu menjadi satu. Ia mengerahkan es tersebut ke arah Goliath dengan kejam.


"Ribuan panah es!"


Berbagai pecahan es yang telah menyatu seketika membentuk panah. Ujung dari panah tersebut sangatlah runcing, sekali mengenai kulit akan menyebabkan mati rasa.


Goliath yang melihat pemandangan tersebut, seketika waspada. Namun, melihat kabut racun yang sudah menyelimuti tempatnya berada, ia menjadi sedikit meredakan kewaspadaan.


Panah es melesat dengan cepat ke arah Goliath. Kabut racun menahan panah es seketika lenyap diikuti dengan lelehan es tersebut.


Dua serangan saling menghilang. Namun, panah es masih berlanjut. Hal ini membuat Goliath terkejut, ia segera bereaksi dengan cepat. Perasaan bahaya sudah ia rasakan. Ia ingin pergi ke kanan, akan tetapi dirinya melihat panah es melesat ke arahnya.


Goliath ingin pergi ke kiri, panah es sudah menyambut di sisi tersebut. Tepat di belakangnya sendiri, juga terdapat panah es. Goliath akhirnya menyadari, bahwa ia sudah dikepung oleh panah es yang diciptakan oleh Lin Hua tersebut.


Xiao Fan yang berada di kejauhan melihat taktik Lin Hua, benar-benar kagum. Ia tidak menyangka bahwa Lin Hua memiliki pemikiran seperti itu, dalam hatinya ia memuji kepintaran Lin Hua.


Yun Shie sendiri menarik sudut mulutnya membentuk senyuman. Ia yakin bahwa Lin Hua pasti bisa mengatasi monster tersebut.


Bang! Bang!


Ledakan demi ledakan terus terdengar di tempat Goliath berada. Kabut uap seketika menutupi pemandangan yang terjadi di dalamnya.


Lin Hua segera mundur ke belakang, ia tidak ingin menyerang ketika ada halangan penglihatan. Meski ia bisa menggunakan mata qi, akan tetapi penggunaan tersebut membuat persediaan qi terakhir di tubuhnya menghilang.


Kabut uap mulai perlahan-lahan menghilang, terlihat patung es berbentuk Goliath tengah berdiri di tengah-tengah ruangan.


Lin Hua tidak bisa memastikan apakah monster itu masih hidup, atau sudah mati. Ia juga mengamati tubuh Goliath, apakah serangan yang ia luncurkan barusan dapat melukai Goliath.


Lin Hua menarik sudut mulutnya, ketika melihat adanya berbagai luka kecil dan besar di sekujur tubuh Goliath. Hal ini membuktikan bahwa serangan Lin Hua sebelumnya benar-benar efektif melawan Goliath.


"Apakah sudah berakhir?" Yun Shie bertanya kepada Xiao Fan. Namun, Xiao Fan jelas menyadari bahwa Goliath masih dalam kekalahan bukan kematian. Hal ini karena melihat tubuh yang rusak dan pembekuan yang dapat menghentikan luka menjadi serius.


"Sepertinya, karena melihat serangan Lin Hua yang berhasil melukai penuh Goliath. Itu bukanlah luka biasa," kata Xiao Fan sambil mengamati seluruh tubuh Goliath tersebut.


Lin Hua yang masih mengamati Goliath, terkejut ketika melihat Yun Shie menghampirinya dengan raut wajah senang. Hal ini membuat Lin Hua menaikkan alis kanannya, seolah-olah bingung mengapa Yun Shie senang.


Mendengar pernyataan Yun Shie, ia menatap ke arah Xiao Fan yang mendekat. Kemudian ia melihat bahwa laki-laki itu mengangguk tanda apa yang diucapkan Yun Shie ialah kebenaran.


Lin Hua terduduk di tanah, nafasnya naik turun secara berlebihan. Ia hanya dapat memikirkan serangan gabungan tersebut. Meski konsumsi besar, ia tidak peduli. Hanya satu teknik tersebut yang ia miliki untuk membunuh Goliath.


"Selamat, tetapi teknikmu terlalu memakan banyak energi qi."


Xiao Fan langsung mengungkapkan kekurangan yang dimiliki oleh Lin Hua selepas memujinya. Lin Hua yang mendengar hal itu mengangguk, apa yang dikatakan memang benar adanya.


Lin Hua sendiri menyadari akan hal itu, akan tetapi ia sama sekali belum menemukan serangan tunggal yang benar-benar menekan lawan. Hal inilah mengapa dirinya pergi ke makam kuno.


Xiao Fan menatap Lin Hua yang mengerti akan kekurangannya. Ia tersenyum ringan, kemudian mengeluarkan gulungan dengan motif es.


"Ambil ini, pelajarilah!"


Lin Hua menatap ke arah gulungan yang diberikan oleh Xiao Fan. Ia tertegun dan menerima gulungan tersebut. Lin Hua sangat yakin dan percaya dengan Xiao Fan, ia mulai membuka gulungan tersebut.


Tak butuh waktu lama untuk Lin Hua menyelesaikan membaca teknik tersebut. Sampai akhirnya, ingatan terkait teknik yang diberikan Xiao Fan, melintas di pikirannya. Hal ini membuat Lin Hua melebarkan matanya.


"Adik Fan, apakah ini jiwa tulisan?"


Xiao Fan mengangguk, memang benar apa yang dibaca oleh Lin Hua ialah jiwa tulisan. Di mana setiap orang yang membacanya akan sepenuhnya memiliki ingatan pengguna sebelumnya.


"Bukankah ini terlalu berharga?"


"Sama sekali tidak, lebih berharga nyawamu dibandingkan benda tersebut. Aku bisa membuat banyak, sementara nyawamu hanya satu dan aku tidak bisa membuatnya lebih."


Mendengar kalimat Xiao Fan, Lin Hua memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tersipu akan pernyataan Xiao Fan tersebut.


Yun Shie tersenyum, memang benar apa yang Xiao Fan ucapkan. Satu nyawa tidak akan bisa digantikan dengan gulungan ilahi. Sebanyak apapun harta, sama sekali tidak berharga ketika nyawa tiada.


Di saat ketiganya tengah berbicara satu sama lain, pintu batu mengarah ke lantai tiga bawah mulai terbuka. Hal ini membuat ketiganya memandang ke arah pintu tersebut.


"Apakah kamu baik-baik saja, Hua'er?"


"Aku kehabisan qi kembali."


Xiao Fan mendengar hal itu, ia mengeluarkan pil pemulihan kembali. Kemudian, ia serahkan kepada Lin Hua. Yun Shie juga menginginkannya, Xiao Fan sama sekali tidak masalah. Ia memberikan pil tersebut dan kedua perempuan itu langsung menelannya.


Semburan energi qi mulai meluap dan memenuhi seluruh kolom qi mereka berdua. Lin Hua dan Yun Shie segera duduk bersila, entah mengapa keduanya merasakan ambang terobosan. Mereka ingin menerobos dan dalam sekejap, keduanya menerobos dengan lancar.


Xiao Fan menyipitkan matanya dan berkata dengan ringan.


"Alam Elementasi tahap satu dan dua ...."


To be Continued.